Topbar widget area empty.
Wawancara Pagi Wawancara Pagi Tampilan penuh

Wawancara Pagi

Puisi Joe Hasan

 

 

Utang

Oleh: Joe Hasan

 

berdebar jantung tak beraturan

ketika namaya disebut

perlahan cerita mengambang di udara

si bapak sedang di dalam kamar

terbaring lemah

mengingat satu nama saja

 

utang tetaplah utang

begitu katanya

kujelajahi kisahnya

ia hampir lumpuh

mungkin tak pandai mendengar lagi

suaranya tengelam sudah

ingatannya utuh

matanya menatap kosong

aku ikut berdebar

 

bisikannya membawa hadist

jantung semakin berbunyi

ia memaafkan utang

untuk kuburnya di samping rumah

aku mencari kesadaran

perawat bingung

ingin menyentuh siapa

lalu hening

lalu tangis

 

Bau-Bau, 2 Mei 2020

 

 

 

 

Wawancara Pagi

Oleh: Joe Hasan

 

hari sudah mendung

hanya beberapa orang saja disini

kukira kita akan bicara nanti

tapi sayang

sinyal putus

lelaki menelepon dari Kalimantan

katanya teman lama

bagaimana mungkin

penipu kian merajalela kini

topeng dipakai kemana-mana

suara terselip di tenggorokan

seperti bercerita

meminta waktu

untuk wawancara sebentar

 

aku tak bawa baju

hanya sepotong kain

untuk nanti kupakai

untuk menghapus kenangan

kau terus saja bicara

nanti kita sambung lagi

hari sudah memutus

sampai jumpa di lorong lain

 

Surabaya, 27 September 2019

 

 

 

 

Rindu

Oleh: Joe Hasan

 

panorama di atas bukit

kau hitung satu-satu

aku lelap sejenak

sembari menulis yang pernah kutinggalkan

di matamu yang sendu

 

apakah kau rindu bertatap

aku pun

berdua saja

takdir tak pernah salah memilih jalan

kita yang terlanjur berfirasat

dan entah dari mana timbulnya rindu

sedang kau masih di telapak tuhan

anganku terlalu tinggi

kau hadir mengetuk puisiku

malam ini

 

Bau-Bau, 6 Mei 2020

 

 

 

  

Rindu yang Mengembang

Oleh: Joe Hasan

 

rindu yang mengembang

bersujud pada kaki

padang pasir tak lagi  luas

anak-anak menyembah tawa

 

selempang juara terbelah dua

yang satu terlilit kencang munafik

suaraku hilang

menyulut api yang mengalir

cerita masih bising

waktu berjalan lurus

aku akan pulang

dua jam lagi

untuk bertanya tentang uang haram

dimana akan berujung

rindu yang tanpa tuan

 

Surabaya, 30 Januari 2020

 

 

 

 

Rayap

Oleh: Joe Hasan

 

rayap di dapur

membangun rumah

sudah bertahun

tanpa ada yang mengusik

waktunya telah habis

semakin beranak pinak disana

ayam-ayam di luar sudah tak sabar

mereka berkelahi

kadang dengan cermin

oh, hariku lelah

aku masih harus di karantina

meski bukan di kamar lagi

 

kakiku pendek

langkah terbata-bata mencari simpanan

saatnya untuk buka laptop

panggilan itu meradang

aku menyembunyikan rasa

hanya itu satu-satunya keahlianku

biarlah. nanti kita bertatap

aku memilih menyerah

apalagi untuk  melawan rasa

 

rayap di dapur

masih meraja

siang makin matang

kujemur saja mereka

ideku tiba-tiba menguar

lambung berteriak pelan

iya, hari ini cukup

di tempat lain

rayap menatap sinis

 

Bau-Bau, 21 April 2020

 

 

Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Kini Berdomisili di Surabaya, Jawa Timur.  Beberapa puisinya pernah dimuat di media lokal dan nasional.

 

Photo by Alex Andrews from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*