Topbar widget area empty.
Koperasi, Mitra Ketahanan Keuangan Keluarga esai ketahanan keluarga Tampilan penuh

Koperasi, Mitra Ketahanan Keuangan Keluarga

Esai Christantiowati

 

Literasi keuangan bagi ketahanan kesejahteraan keluarga dipermudah lewat koperasi simpan pinjam dan serbausaha. Aman nyaman dengan “saham perusahaan sendiri.”

 

Ada tiga hal utama yang dicontohkan tentang pengelolaan keuangan oleh ibu sejak saya masih kanak-kanak. Pertama, bayar lunas, jangan berutang untuk semua hal yang kita beli. Kedua, mencicil hanya boleh dilakukan pada kebutuhan utama yang tak mungkin kita beli secara tunai – rumah, misalnya. Ketiga, meminjam uang, hanya boleh ke koperasi, dengan jaminan gaji tetap demi membentuk dana darurat agar hidup lebih aman nyaman.

 

Jadi, sejak dini, saya sudah dibiasakan hidup sesuai kondisi keuangan. Pantang ambil barang dulu, bayar pas sudah punya uang, misalnya. Sebagai orangtua tunggal, pegawai administrasi di rumah sakit swasta, dengan gaji UMR, ibu disiplin mengelola keuangan. Menyisihkan gaji tiap bulan untuk tabungan atas nama ibu sendiri dan masing-masing tiga anaknya.

 

Saat bapak meninggal kala kami balita, rumah baru saja berdiri semi permanen. Dindingnya setengah tembok, setelah gedhek. Dalam beberapa tahun, ibu berhasil mencicil bangunan rumah kami menjadi tembok penuh dengan meminjam ke koperasi kantor. Saat urusan rumah beres, ibu meneruskan meminjam ke koperasi untuk dana darurat. Jaga-jaga ada keperluan besar, biaya sekolah atau kesehatan yang tak ditanggung kantor, misalnya. Kelak, hal ini terbukti sangat bermanfaat untuk membiayai operasi nenek saya.

 

Pengelolaan keuangan yang sehat dan bermitra dengan koperasi, saya terapkan saat bergabung dengan Kompas-Gramedia. Setelah tiga bulan menjadi pegawai tetap, pada 1996, saya memenuhi syarat menjadi anggota Koperasi Gemah Ripah yang bergerak dalam Simpan Pinjam (sejak 1982) dan Serbausaha (sejak 1985). Setelah simpanan pokok, dan simpanan wajib yang dipotong langsung dari gaji bulanan, saya teratur menabung simpanan sukarela. Saya senang, seperti memiliki saham pada perusahaan pertama. Sehari-hari saya pun berbelanja di unit usaha kelontong di Palmerah Barat, dengan harga lebih murah dari pasaran.

 

Saat pembagian deviden pada 1997, saya menyadari, betapa kecil jumlah yang saya terima dibanding teman-teman lain. Bagaimana agar dapat banyak? Manfaatkan fasilitas pinjaman! Kita boleh meminjam yang besarnya tiga kali jumlah simpanan. Namun, melihat jumlah simpanan, sangat tak berarti kalau saya meminjam saat itu. Saya pun meningkatkan simpanan sukarela dengan target mulai meminjam pada tahun berikutnya.

 

Ternyata, pada 1997-1998, Indonesia memasuki masa yang sama sekali tak terduga. Krisis moneter (krismon). Nilai rupiah jatuh. Saya menunda meminjam – saat itu gaji boleh dibilang sekadar numpang lewat. Yang menjadi perhatian saya, di masa banyak perusahaan mem-PHK, Kompas-Gramedia justru memberi subsidi-kemahalan-harga. Tambahan yang sungguh melegakan. Rahasianya: Kompas-Gramedia sama sekali tak punya utang. Dana daruratnya bisa dipastikan cukup untuk bertahan meneruskan usaha, dan menenteramkan pegawai – kekayaan utama perusahaan – untuk terus bekerja dengan tenang. Saya bersyukur bisa bekerja yang menerapkan prinsip sama dalam pengelolaan keuangan, seperti yang ibu ajarkan.

 

Pada 1999, dengan membaiknya situasi kondisi perekonomian negara, termasuk gaji-bonus-THR dari perusahaan yang meningkat secara berarti, saya mulai meminjam dari Koperasi Gemah Ripah. Saya manfaatkan maksimal: meminjam tiga kali simpanan, dan melunasi dalam tiga bulan. Lunas, meminjam lagi, bergulir seterusnya. Hasil pinjaman ini semuanya masuk tabungan, saya manfaatkan untuk membentuk dana darurat.

 

Berapa jumlah ideal dana darurat yang mesti kita siapkan? Para perencana keuangan menyarankan: minimal tiga, enam, dua belas bulan. Bertahun kemudian saya dapati saran dari penulis Andrea Hirata: dua puluh empat bulan. Mengapa? Itu lama rata-rata sarjana baru lulus menganggur dulu sebelum mendapat pekerjaan. Baiklah.

 

Untuk apa saja dana darurat itu? Kompas-Gramedia sudah menyediakan fasilitas pinjaman tanpa bunga untuk memiliki perlengkapan kerja – kamera, komputer, telepon genggam, motor, mengontrak rumah, membeli rumah dan renovasi rumah. Juga menanggung biaya kesehatan sekeluarga. Jadi, saya memanfaatkan dana darurat untuk peningkatan diri – antara lain, mengambil kursus scuba diving (menyelam), membeli peralatan dan biaya perjalanan selam ke tempat-tempat terindah di Aceh-Papua – investasi sangat berharga pada kemajuan karier profesional fungsional dan kebahagiaan pribadi. Saya juga memanfaatkan dana darurat untuk mencicil pembiayaan ibadah umrah dan haji, yang, Alhamdulillah, berhasil saya jalankan pada 2013 dengan ONH-plus.

 

Saya menabung dengan basis dolar Amerika – belajar dari Krismon, bahwa banyak pembiayaan dipatok dengan dolar Amerika, termasuk untuk biaya perjalanan penyelaman, perjalanan keluar negeri, ibadah umrah dan haji. Setiap terkumpul tabungan lima juta rupiah, saya tukarkan dengan dolar Amerika, tak peduli berapa kurs-nya saat itu. Cara ini terbukti bermanfaat saat saya mesti melunasi ONH-plus yang pada 2013 sebesar 9.000 dolar Amerika. Saat itu satu dolar Amerika setara sepuluh ribu rupiah. Bila saya membeli dolar Amerika saat itu, berarti saya mesti merogoh kocek sembilan puluh juta rupiah. Namun karena sudah mencicil menabung dolar Amerika, saya hanya mengeluarkan tujuh puluh juta rupiah untuk ONH-plus.

 

Saya disiplin tak berutang, dan meminjam uang hanya pada Koperasi Gemah Ripah. Sejumlah teman lebih suka meminjam pada sebuah bank pemerintah dekat kantor, yang menurut mereka bisa meminjamkan dana lebih besar, dengan bunga lebih kecil. Saya tak merasa membayar bunga lebih besar. Toh, saya meminjam pada lembaga yang saya memiliki saham (simpan pokok, simpanan wajib, simpanan sukarela), dan bunga itu kembali pada saya dalam bentuk deviden setiap tahunnya. Saya juga bebas was-was tak bisa mengembalikan pinjaman, bebas was-was jika tak berhasil melunasi pinjaman, jaminan harta saya akan disita.

 

Saya pun disiplin, tak luluh atas rayuan dan permohonan belas kasihan dari teman yang mencoba meminjam fasilitas pinjaman uang dari Koperasi atas nama saya, namun uangnya mereka yang pakai. Jika mereka tak mampu, apalagi tak mau bayar, saya rugi dua kali. Uang pinjaman bukan saya yang pakai, saya pun terpaksa melunasi pinjaman pada koperasi. Tentu saja ada bagian dari penghasilan yang kita sisihkan untuk zakat, berderma sesuai kewajiban yang digariskan agama yang kita anut, dan sejumlah lain yang kita bagikan sesuai kemurahan hati.

 

Saya disiplin hanya menjadi anggota koperasi yang berdiri di bawah naungan perusahaan tempat saya bekerja. Selain Gemah Ripah, ada satu lagi koperasi dalam lingkungan Kompas-Gramedia. Sejumlah rekan menjadi anggota di dua koperasi ini. Saya merasa cukup dengan keanggotaan di Gemah Ripah.

 

Saya bersyukur memiliki ibu yang mengajarkan dan mencontohkan mengelola penghasilan secara bijak. Berikan pada orang hal yang telah menjadi haknya saat itu juga, tak perlu menunda. Kalau bisa membayar tunai, mengapa harus mencicil? Mengeluarkan uang sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Meminjam boleh saja, kalau ada perlunya. Tak sayang mengeluarkan uang untuk menguasai salah satu cara terbaik menikmati hidup – belajar menyelam, menjelajah, mempelajari banyak hal baru – karena kita akan mendapat lebih dari yang kita keluarkan. Dijamin!

 

Saya disiplin untuk tahu kapan bisa memanfaatkan fasilitas pinjaman secara maksimal, dan kapan harus berhenti. Dengan segala pertimbangan, saya sudah bersiap-siap untuk resign (mengundurkan diri) sebagai pegawai tetap yang nyaris 20 tahun saya jalani di Kompas-Gramedia, beberapa tahun sebelum akhirnya sah pada Oktober 2014. Saya terakhir meminjam pada Koperasi Gemah Ripah pada awal 2014. Semua simpanan saya di Gemah-Ripah lumayan untuk menambah bekal saya menjalani kehidupan baru sebagai penulis dan editor lepas.

 

Sekali lagi, disiplin mengelola keuangan pribadi dan keluarga adalah kunci untuk hidup aman nyaman. Apalagi sebagai freelancer, pekerja lepas, yang digambarkan oleh rekan yang jauh lebih dulu menjalaninya, kadang penghasilan kita jauh lebih besar daripada saat menjadi pegawai, tapi kadang juga free (baca: kosong). Jadi, dana darurat saat itu berguna untuk mantab (makan tabungan). Dana darurat yang disiplin saya bentuk saat menjadi pegawai tetap bermitra dengan koperasi.–

 

 

Christantiowati. Lulus dari Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Sastra UI pada 1993 dengan skripsi yang kemudian dibukukan: Bacaan Anak Indonesia Tempo Doeloe: Kajian Pendahuluan Periode 1908-1945 (Balai Pustaka, 1996). Mulai mengerjakan sejumlah proyek pengolahan koleksi perpustakaan sejak mahasiswa, sempat bekerja paruh waktu membuat sistem pengelolaan arsip Divisi Penerbitan di Pustaka Utama Grafiti (Tempo Group) pada 1991-1992, bergabung dengan Klub Perpustakaan Indonesia yang bergerak di kegiatan pembinaan perpustakaan sekolah dan minat baca (1993-1994), lalu menjalani profesi impian sebagai wartawan berbagai media (Tabloid Citra, Infometro, Warta Kota, Gramedia Majalah Online, Intisari, National Geographic Traveler-NatGeo Indonesia di Kelompok Kompas Gramedia (1995-2014), dan terus menjelajah sebagai penulis dan editor lepas hingga kini. Emai: christantiowati@gmail.com

 

Photo by Bich Tran from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: