Topbar widget area empty.
Pasar dan Monopoli Para Elite cover Monopoli Tampilan penuh

Pasar dan Monopoli Para Elite

Esai Romi Afriadi

 

 

Melihat situasi pasar hari ini, kita akan memperoleh banyak gambaran bagaimana keadaan ekonomi masyarakat. Keluhan barang naik dan harga yang membumbung tinggi, sementara jumlah pendapatan kian menurun menjadi wacana yang tampak seragam di mana pun tempat, hingga berakibat pasar cukup lesu dalam transaksi jual beli. Meski tidak bisa dijadikan tolok ukur secara global, tetap tak bisa dibantah bahwa pasar adalah petunjuk yang nyata untuk melihat kesejahteraan masyarakat. Semakin hiruk-pikuk pasar, itu tandanya semakin membaik urusan ekonomi.

 

Ke mana lagi orang-orang hendak membelanjakan uangnya jika bukan ke pasar? Pasar di sini artinya sebagai sesuatu yang umum dan luas. Entah itu pasar tradisional, supermarket, atau apa pun tempat yang menggelar transaksi. Yang jelas, pasar merupakan indikator yang mampu mengecek keadaan ekonomi, apakah sedang baik-baik saja atau justru bermasalah.

 

Suka atau tidak, ekonomi kita memang masih sangat jauh dikatakan baik, dilihat dari pandangan orang awam pun, sangat banyak contoh yang bisa didedahkan untuk mendukung pernyataan itu. Angka kemiskinan yang tak kunjung turun, persaingan kerja yang tinggi, juga pendapatan per kapita yang tidak sesuai. Disaat yang bersamaan, para elite menimbun kekayaan. Lalu apa yang terjadi? Kesenjangan antara si miskin dan kaya semakin terlihat menganga, akibat persebaran ekonomi yang tidak merata.

 

Seperti dikutip dalam salah satu artikel di CNBC Indonesia. Dalam laporan tahunan Oxfam saat menghadiri pertemuan rutin World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss awal tahun 2020, Oxfam merupakan organisasi nirlaba dari Inggris yang fokus pada masalah kesenjangan sosial. Ketimpangan antara si kaya dan si miskin kian menjadi. Sesuai dengan salah satu fakta yang disampaikan. Dari hanya 2.153 orang jumlah miliuner dunia, harta kekayaannya melebihi uang yang dimiliki 4,6 milyar warga dunia yang miskin. Maka, jangan heran pepatah lama yang dinyanyikan raja dangdut itu “Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin” makin berbunyi nyaring.

 

Sebagai negara dengan penduduk terbesar ke 4 di dunia, masalah ketimpangan ini juga mendera bangsa kita. Seperti kebanyakan permasalahan di Indonesia dalam segala bidang memang selalu kompleks, termasuk bidang ekonomi, seakan itu jadi khas yang layak untuk dibanggakan dan diwariskan.  Para pemangku jabatan kerap berpegang teguh dengan pernyataan “Negara kita ini luas, terdiri dari banyak pulau yang menyebar di 34 provinsi. Tidak bisa menyandingkan permasalahan dengan bangsa lain, karena cakupan wilayah mereka yang lebih kecil.” Sebaliknya mereka lupa. Dalam tanah, laut, dan hutan di Indonesia terkandung banyak kekayaan. Minyak yang melimpah ruah, timah, nikel, atau bahkan emas. Hutan yang luasnya tak terjangkau mata, penuh keanekaragaman hayati. Begitu pun laut yang menyimpan berjuta spesies bernilai tinggi. Harus diakui, kita masih gagal memanfaatkan itu untuk mendongkrak perbaikan ekonomi.

 

Lalu kita juga menyalahkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang rendah. Tapi apa iya, dari sekitar 267 juta jiwa penduduk Indonesia saat ini tidak ada yang berpotensi? Jangan-jangan kita masih silau dengan kehebatan hal-hal yang berbau asing. Asing itu pasti pintar dan benar, agaknya sebagai bangsa bekas jajahan, pikiran kita masih belum merdeka, tidak percaya dengan potensi diri, sehingga masih bergantung pada pihak asing dalam membangun ekonomi yang kuat.

 

Atau apakah urusan ekonomi bukanlah bagian yang penting untuk diperhatikan? Tentu ini tidak bisa diremehkan, karena ini menyangkut urusan perut. Banyak perang terjadi bermula dari urusan perut, otak boleh saja berfungsi sebagai indra pemikir yang menggerakkan tubuh secara keseluruhan, tapi jika perutnya kosong, otak tak akan optimal dan berfungsi jernih.

 

Dalam rangka itulah, pasar perlu digerakkan agar ekonomi umat lebih menggeliat. Mengembangkan ekonomi bisa dimulai dari pasar, kita punya bahan baku melimpah, sudah selayaknya kita mencoba berdikari sebelum bahan baku itu tandas tak bersisa. Atau sebenarnya kita sudah tidak punya urat malu? Sehingga barang impor terus didatangkan untuk memenuhi perut rakyat, dan kekayaan kita terus dinikmati bangsa asing. Tanah kita yang dijuluki tanah surga itu terus dikikis, laut-laut terbentang luas itu dicuri ikannya, hutan kita yang disebut paru-paru dunia itu terus di tebang untuk dibangun perkebunan milik segelintir orang berkuasa.

 

Puluhan tahun terjadi, tidak ada perubahan berarti sebagai sebuah bangsa, seolah alam kita itu memang disiapkan untuk para pencuri yang punya duit dan jabatan, alih-alih rakyat yang membutuhkan. Kekayaan alam itu bak sebuah barang lelang yang akan dilepas pada penawar tertinggi. Lalu para elite pura-pura kisruh, sibuk mencari alibi tentang apa yang salah dalam perkembangan ekonomi.

 

Jika bahan baku yang sedemikian banyak ini tak pernah dicecap rakyat, bagaimana mungkin akan tercapai kesejahteraan ekonomi seperti yang digaungkan selama ini? Saya heran, kenapa bangsa kita terus memelihara kepura-puraan seperti pemain drama. Para elite jabatan mengaku sudah bekerja maksimal, tapi perubahan tak jua datang. Lantas, pada siapa sebetulnya rakyat menggantungkan harapan?

 

Semacam ada monopoli yang menggerakkan pergerakan pasar-pasar kita hari ini, barang didikte kecukupannya, harga disetel, anehnya yang melakukan itu bukan pemerintah. Para pejabat terkait hanya berkoar tentang kestabilan harga dan kecukupan bahan. Sesekali turun ke lapangan, diliput media, wajahnya terpampang di televisi, koran, atau liputan Online. Tapi situasi tak berubah.

 

Para pemimpin kita terlalu banyak berkelit soal pembangunan ekonomi ini, berbagai program dirancang tapi berujung pada proyek untuk mengenyangkan perut sendiri. Para orang-orang terdekat sibuk menjilat, meminta jatah agar kebagian persenan. Tampaknya mental bobrok itu memang susah menyingkir sehingga rakyat juga yang menderita.

 

Jika sistem itu tidak berubah, alamat ekonomi kita akan semakin terperosok jauh, jatuh dalam kubangan kesengsaraan. Sebagai sebuah bangsa yang besar, kita juga punya banyak faktor untuk penunjang kemajuan ekonomi. Masalah terbesarnya, apa kita mau beranjak dari situasi muram ini, bersikap mandiri, dan melepaskan kepentingan dari monopoli pasar para kaum elite?

 

Pemimpin saat ini harus berani mendobrak tatanan kehidupan roda ekonomi yang berjalan miring. Bukan malah diam sambil mencicipi kenyamanan dengan fasilitas yang diberikan negara, lalu abai pada tugas, pokok, dan fungsinya sebagai pengayom. Hentikanlah sandiwara konyol dengan berpura-pura tidak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi dilapangan. Sebagai pemimpin yang punya wewenang dan otoritas tinggi, sudah sepatutnya para cukong dibasmi dari peredaran pasar.

 

Ekonomi tidak akan pernah berkembang selama pemimpinnya masih memberi jalan para kaum bermodal itu mengembangkan sayapnya. Pemimpin jangan lagi sibuk rapat mencari solusi dan permasalahan apa yang menimpa ekonomi kita hingga sampai tersendat. Toh, kita sebetulnya sama-sama tahu penyebabnya.Jangan bawa rakyat untuk terus berada dalam lingkaran setan. Rantai kebobrokan sistem ekonomi itu harus diputus, agar di masa depan kita bisa berlari dan mengambil ancang-ancang menuju perekonomian yang sehat.

 

 

Romi Afriadi dilahirkan di Desa Tanjung, Kampar, Riau 26 November 1991. Menamatkan studi di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau. Penulis lebih banyak menulis cerpen yang beberapa diantaranya dimuat di media online. Esai merupakan bidang lain yang hendak dipelajarinya. Saat ini, penulis tinggal di Desa Tanjung dengan mengabdi di sebuah sekolah Madrasah Tsanawiyah, dan menghabiskan sebagian waktu dengan mengajari anak-anak bermain sepakbola di sebuah SSB, sambil sesekali tetap menulis apa saja yang menurutnya penting. Penulis bisa dihubungi lewat email: romiafriadi37@gmail.comatau akun Facebook: Romie Afriadhy.

 

(Serial Esai Koperasi dan Ekonomi Rakyat Dekopinda Labuhanbatu)

 

Photo by Suzy Hazelwood from Pexels

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*