Topbar widget area empty.
Death Valley – S2.Eps2 deathvly Tampilan penuh

Death Valley – S2.Eps2

S2.Eps2 Lorong Gelap

Bidar kembali ke camp saat Ahmar sedang menempel peta bawah tanah di dinding. Bidar membantu memegang peta itu untuk memudahkan temannya memotong selotip. Saat Bidar mengembangkan peta itu ke dinding Ahmar melihat gelang perak melilit di lengan kiri Bidar. “Gelang yang unik” tanggap Ahmar. “Kau buat sendiri? Baru kali ini aku melihatnya”.

“Ya, sangat unik, ada rahasia di balik gelang perak ini, mungkin nanti aku ceritakan padamu”. Ahmar tidak menyadari bahwa itu adalah ular gelang perak penghuni Oasis yang dijemput Bidar. “Kau sudah memutuskan zona mana eksplorasi berikutnya?” Bidar bertanya setelah peta itu sudah terpasang.

“Ada dua pilihan, ke Selatan atau ke Timur, Zona Selatan lebih luas tapi bukit kecil yang kau lihat itu ada di Timur” kata Ahmar

“Bagaimana kalau aku membantumu mengamankan bukit kecil itu, kau bisa mengerahkan sekuriti ke Selatan” tawar Binar.

“Terima kasih, ide yang baik, tapi aku merasa kita akan menemukan sesuatu di Timur, karena tampaknya kau bersemangat sekali. Jangan-jangan ada hal lain yang menarik perhatianmu, mungkin misteri Death Valley?” selidik Ahmar yang ditanggapi Bidar dengan senyum simpul. “Aku tahu kamu” kata Ahmar tertawa. “Baiklah, kami akan ke Selatan”.

Seorang diri Bidar kembali ke bukit kecil tempat lorong itu tersembunyi. Bidar tidak ingin mengambil resiko yang bisa mencelakakan sahabatnya. Saat tiba di mulut lorong, Gelang Perak yang melilit lengan Bidar bergerak,  reflek naluri akan keberadaan musuh. Bidar menurunkan lengannya perlahan, tanpa perintah Gelang Perak meluncur cepat lalu merayap masuk ke dalam lorong. Tak lama menunggu Bidar mendengar desisan keras menggema, kaki bukit bergetar, debu-debu jatuh di atas lorong, lalu suasana hening kembali.

Bidar membungkukkan badannya lalu merangkak masuk menyusuri lorong sempit, sorot senter membantunya untuk menyibak kegelapan. Lorong itu berbentuk kurva sepanjang 10 meter lalu berakhir  di sebuah ruangan cukup luas dan cukup tinggi bagi Bidar untuk berdiri. Ular itu luar biasa besarnya, teronggok kaku tanpa daya. Di antara bangkai ular sinar senter terpantul silau menghantam benda logam. Gelang Perak ada di sana dengan tubuh yang sudah bersih, tak jauh darinya teronggok sebuah pedang besar penuh debu tebal tertancap di lantai.

Bidar jongkok lalu mengeluarkan buah tin di lantai, Gelang Perak dengan lincah masuk dan menghilang ke dalam buah tin, tubuh pipihnya cukup tipis untuk melingkar di dalam sana. Bidar kembali mengamati sekeliling ruangan dengan senternya. Bidar menemukan benda-benda tak asing yang biasa digunakan manusia seperti sepatu, tas, tongkat dan sobekan kain. Atap ruangan itu pun tak luput dari perhatian Binar, ia menemukan celah lubang yang sudah tertutup tanah dari atas, cukup lama sinar senter itu menyorot ke celah yang tak alami itu. Lalu sorot lampu diarahkan ke lantai di sana tempat pedang berdebu tadi tertancap. Celah lubang di atap ruangan itu tepat berada di atas pedang besar yang tertancap dalam.

“Bagaimana mungkin? Pedang ini menerobos atap lalu tertancap di sini? Kekuatan sebesar apa yang membuat hal itu bisa terjadi?” Bidar heran dan penasaran. Dengan berjongkok Binar membersihkan pedang dari debu tebal dengan teliti dan sabar. Mimik wajahnya takjub, pedang itu sangat indah, tak berkarat sama sekali, gagangnya panjang sehingga bisa digenggam dengan dua tangan, sebuah kristal hijau menembus sisi lainnya menyatukan bilah pedang dengan gagangnya. Bidar menyentil bilah pedang yang kedua sisinya tajam, sangat keras, tak berdenting, tertanam dalam di lantai. Pedang itu tak bergeming saat Bidar mencabutnya, mencoba lagi, meningkatkan kekuatan, digoyang-goyang, tapi tetap saja tidak tergeser atau terangkat sedikitpun.

Bidar mengakhiri usahanya menarik pedang itu. Ia menggunakan kamera dan mengambil beberapa foto. Gagangnya memiliki motif yang unik tidak teratur, setiap detil tak terlewatkan Bidar. Setelah mengambil foto, Bidar menyentuh dan meraba gagang pedang, merasakan ulir-ulir dari motif dan simbol secara berulang-ulang. Kening Binar tiba-tiba berkerut lalu jemarinya menekan sesuatu dan “klik!” suara padu mekanis dari gagang pedang berbunyi, dengan teliti Bidar menarik tutup gagang pedang, mengangkatnya. “uff, berat sekali!!” Bidar melihat benda yang tersembunyi di gagang pedang, berbentuk silinder piramid yang padu, seperti bandul dengan panjang kurang dari sejengkal. Lebih takjub lagi Bidar melihat pada anak pedang itu tulisan terukir dengan aksara mirip aksara kuno, di sebelahnya deretan simbol-simbol simetris tersusun rapi. Bidar mengabadikan setiap detil anak pedang itu dengan memfotonya. Setelah cukup puas dan yakin telah merekam setiap detail, Bidar mengembalikan anak pedang itu kembali ke dalam gagang pedang.

Bidar membuka tangan kirinya ke arah Gelang Perak, ular itu memanjat tangan Bidar lalu melilit lengannya. Bidar berdiri, menghela nafas sambil matanya menatap pedang tertancap. “Sepertinya engkau harus menunggu lebih lama lagi untuk mendapatkan tuanmu, mungkin juga kau akan selamanya ada di sini, tak ada orang cukup besar dan berotot kuat yang bisa merangkak kemari, kau terlalu berat untuk dibawa bepergian, lagi pula .. kau bukan tipeku” senyum Bidar sambil menepuk sabuk pedang yang melilit pinggangnya. Rahasia pedang itu lebih menarik buat Bidar dari pada memiliki pedang itu, lagi pula ia sesungguhnya tidak menyukai kekerasan, pedang itu selain besar juga sangat tajam, berbahaya sekali. Bidar merangkak keluar dan meninggalkan tempat itu.

Penulis: Garuda Bonar

Berikutnya: S2.Eps3 Anak Pedang

Rama Hartian
Ditulis oleh Rama Hartian

Admin @Apajake.id

( 5 Followers )
X

Follow Rama Hartian

E-mail :*