Topbar widget area empty.
Death Valley – S2.Eps3 deathvly Tampilan penuh

Death Valley – S2.Eps3

S2.Eps3 Anak Pedang

Ahmar sudah berada di camp saat Bidar melangkah masuk, temannya itu terlihat tidak bergairah. Ahmar mengamati peta sambil sesekali melihat catatannya, ketika Bidar masuk ia tanpa menoleh mulai berbicara.
“Sama saja, tak ada yang berbeda, sebaran mineral di kawasan ini seragam, sepertinya aku harus menunda eksplorasi dan melapor ke pusat”

Bidar yang sudah duduk dan akan membuat catatan di meja kerja Ahmar menghentikan aktifitasnya dan memberikan perhatian kepadanya. “Bukan batu, hanya sebuah gundukan…” Bidar berhenti bicara seperti mengingat sesuatu yang mungkin terlewatkan.
Ahmar menoleh dan melihat perubahan wajah Bidar, ia kemudian mendekat dan duduk di depannya. “Ada sesuatu yang khusus yang kau temukan di sana?” selidiknya.

Bidar mengalihkan pertanyaan Ahmar. “Ya… yang pasti… lembah ini mungkin tidak lagi menjadi misteri” pancing Bidar.

“Apa? Hey.. apa maksudmu?” Ahmar bersemangat dan menyimpan catatannya.

Bidar mengisahkan dengan pelan. “Mungkin belum semua terungkap, tapi aku menemukan beberapa benda yang aku yakini milik orang yang hilang”. Ahmar terperanjat mendengarnya, tapi isyarat tangan Bidar menahannya untuk bertanya. “Mereka dimangsa, seekor ular besar, sejenis pyton”. Ahmar menutup mulut dengan kedua tangannya. “Tapi ular itu tak lagi jadi masalah sekarang, .. sudah mati.” lanjt Binar. Ahmar menggoyang jari telunjuknya ke arah Bidar dengan maksud menerka. Bidar mengerti maksud temannya tapi ia mengalihkan dengan menerangkan hal lain “Kau tahu.. di kaki bukit itu ada lorong yang menjadi sarangnya, lorong itu tak terlihat karena adanya gundukan yang kita kira sebuah batu besar”. Terlintas sebuah pikiran di kepala Bidar “Sepertinya ada yang khusus dengan gundukan itu, tapi.. ntahlah.”

“Apakah kau… masuk ke dalam lorong dan berhadapan dengan ular itu di sana?” tanya Ahmar menduga dengan penuh rasa penasaran.
Bidar menjawab “Ya… tas, sepatu, tongkat dan sobekan kain semua aku temukan di dalam sana dan…” Ahmar menyela “Kau gila! Nekad! Bisa saja kau…”. Bidar segera menyambung perkataannya “..dan aku melihat ular itu sudah mati …. masih baru… belum membusuk”.
“Aneh..!” seru Ahmar ragu.

“Sebenarnya ada hal lain yang jadi perhatianku…” kemudian Bidar menyodorkan gadgetnya. Ahmar melongo saat melihat foto pedang itu dengan takjub! Bidar memperhatikan perubahan mimik wajah temannya itu dengan geli.

“Ini juga kau temukan di sana?” tanya Ahmar tak percaya.

“Ya, di dalam terowongan itu ada ruangan cukup besar, dan pedang itu tertancap di sana” terang Bidar. “Benda yang mirip bandul itu… adalah anak pedang yang tersimpan di dalam gagang. Pedang itu besar sekali, sangat berat, anak pedangnya saja sudah berat, apalagi….Eh!… apa mungkin material yang kalian cari itu bisa jadi sejenis dengan bahan pembuat pedang?”

“Sepertinya tidak!” sergah Ahmar masih mengamati foto pedang itu penuh kagum, bahkan ia belum meggeser foto untuk melihat anak pedang yang sebut Bidar. “Aku juga sempat terpikir seperti itu, tapi.. kalaupun pedang ini terbuat dari meteorit atau logam berat asing, bukan itu yang kami cari. Lagi pula.. hey!! Lihat tulisan ini seperti aksara kuno!” saat jarinya menggeser tampilan ke foto anak pedang, Ahmar terdiam dan memperhatikan dengan seksama foto itu, sementara Bidar mengangguk dan kembali asik dengan pikirannya.
Ahmar mengambil catatannya dan menulis dengan teliti simbol-simbol yang tersusun simetris sambil bergumam “Matrik..”.

“Matrik?” Tanya Bidar tertarik.

Ahmar tidak langsung menjawab, sampai simbol terakhir selesai ditulis baru ia mulai bicara. “Satu .. dua .. tiga …… tujuh jenis simbol menyusun matrik ini, semua ada 32 simbol, masing-masing simbol melambangkan sesuatu, biasanya angka atau koordinat, tapi sepertinya ini melambangkan benda atau tanda tententu, harusnya … ada suatu aturan untuk memahami bagaimana posisi titik-titik sebarannya sehingga terbentuk sebuah …”
“Peta?” tebak Bidar.

“Ya… sekarang aku ragu jika benda ini dari zaman kuno, konsep matrik itu saja baru ditemukan …” belum sempat Ahmar menjelaskan, Bidar lalu menyambut dengan semangat “Ada sebaran kotak kecil di permukaan gagang, mungkin kau bisa mencocokkan posisi simbol-simbol itu di sana!”

Ahmar menatap Binar dengan antusias lalu segera melihat kembali foto pedang dengan seksama “Ya, kau benar, aku akan memprint foto ini dahulu supaya lebih jelas” ujar Ahmar. Ahmar mengirim foto itu ke laptop lalu menggabungkan foto-foto itu menjadi satu tampilan penuh, sementara Bidar tampak mengamati aksara kuno dan menulisnya di selembar kertas. Ahmar menemukan dua simbol utuh pada gagang pedang, dan ternyata dua simbol itu adalah simbol tunggal sementara simbol lain masing-masing berjumlah lebih dari satu, ia menggunakannya sebagai patokan, dari sana ia menemukan pola urutan sehingga dapat menempatkan semua simbol sesuai sebaran kotak kecil pada gagang. Ia lalu memprint hasilnya dan meletakkannya di atas meja.

“Kita belum tahu simbol-simbol ini melambangkan apa tapi jelas ini sebuah peta dan motif selain kotak kecil pada gagang ini seperti sebuah penampakan dari atas sebuah tempat. Tempat ini dikelilingi oleh simbol yang sama, dan ada dua simbol tunggal, di tengah dan di bagian pinggir. Sisanya tersebar sebagai tanda atau tempat” Ahmar mencoba menjelaskan analisanya.

“Jika simbol-simbol terluar itu melambangkan air, karena sepertinya begitu, berarti ini sebuah pulau, kota atau tempat di sebuah pulau, mungkin menjelaskan dari mana pedang itu berasal.” Ringkas Bidar.

“Ada satu cara untuk memastikannya, …tulisan kuno itu… tentu menjelaskan sesuatu” sambung Ahmar. Ahmar teringat kepada temannya yang mungkin bisa membantu mereka. “Bagaimana kalau kita menanyakannya kepada temanku, Lisa, ia saat ini ikut proyek pemugaran di salah satu makam faraoh di Mesir, seorang arkeolog.”

“Boleh, itu tentu sangat membantu, kau memang bisa diandalkan Ahmar!” jawab Bidar.

Ahmar mengambil foto tulisan kuno yang ditulis Bidar dan mengirimnya kepada Lisa. “Yup! sudah! Kita tunggu apa responnya!”. Untuk sesaat Ahmar melupakan pekerjaannya dan memandang Bidar dengan penuh tanya. “Sepertinya engkau selalu dekat dengan sesuatu yang misterius, kau belum menceritakan semua tentang oasis, lalu misteri lembah ini datang… dan sekarang … misteri membawamu kembali atas penemuan pedang pusaka!” Ahmar menggeleng-geleng kepala tak henti. “Kau berhutang banyak penjelasan kepadaku, tapi aku senang kau menarikku ke dunia misteri ini”.

Bidar menjawab “Aku hanya ingin kau melihat sendiri oasis itu, dan tentang lembah ini… bukankah engkau yang lebih dulu ke sini? Aku hanya…” Keduanya terdiam saat notifikasi pesan masuk, pesan itu dari Lisa, Ahmar membaca pesan itu dengan suara keras “Hey, sejak kapan kau tertarik dengan artefak kuno? Pedang apa yang sedang kau cari?”

Kedua sahabat itu saling pandang. “Aku jawab apa?” tanya Ahmar. “Dia sepertinya bisa membacanya, coba tanya apa makna utuh tulisan itu?” tanya Bidar.

“Bukan aku Lisa, aku cuma bantu teman kok! Jadi kau bisa membacanya? Bisa paparkan secara rinci?” Ahmar mengirim pesan itu kepada Lisa.

“Tit-tit” … “Kau belum menjawabku! kau tahu… tulisan ini sepertinya lebih tua dari yang ku lihat di sini tapi aneh… sepertinya justru lebih sempurna! Dari mana sih temanmu mendapatkannya? Apa dia pemburu harta karun? Dia menemukan artefak? Beri tahu aku!” balas Lisa.

Setelah membacakan pesan Lisa, Ahmar berkata “Maaf, dia memang suka banyak tanya, tapi aku bisa percaya padanya, bagaimana menurutmu?”

“Tak apa, kirim saja foto anak pedang itu padanya, bagian yang ada tulisan kunonya” pinta Binar. Ahmar lalu melakukan sesuai arahan temannya.

“Tit-tit” … “Gila!! Bagaimana mungkin! Artefak sebaik ini dibuat sebelum masa faraoh? Berapa usianya? Sudah kau cek? Aih! Pedang apa sebenarya yang kalian cari?” demikian pesan Lisa yang dibacakan Ahmar.

Bidar menggaruk-garuk kepala geregetan, bukannya memberi tahu arti tulisan itu malah ia bertanya macam-macam. Ahmar mengerti perasaan temannya karena iapun mulai dongkol, ia mengambil inisiatif mengirim pesan lagi kepada Lisa. “Lisa yang baik, aku mengerti rasa penasaranmu karena kami pun sebenarnya tak banyak tahu tentang itu, karena itu kami membutuhkanmu, makna tulisan kuno itu tentu akan sangat membantu”

“Tit-tit” …”Ok! Beri tahu aku jika kalian sudah bisa menjelaskannya ya! menarik sekali! Luar biasa! Tunggu… aku kirim rinciannya.” Ahmar tersenyum “Dia akan mengirim rinciannya” katanya kepada Bidar.

“Tit-tit” Ahmar membuka pesan Lisa tapi kali ini Ahmar tidak membacakannya, ia meletakkannya di meja supaya mereka berdua bisa melihatnya bersama-sama pesan itu berbunyi “Jika ingin menemukan pedang pusaka, cari sarungnya, pelajari rahasianya”

“Sarung??” kedua sahabat itu berseru bersamaan. “Lusi jelas tahu ini tentang pedang tapi tak tahu kita sudah menemukan pedangnya, apa ia salah mengartikan sarung? Mungkin maksud sebenarnya anak pedang yang tersarung di gagang? Atau peta itu petunjuk untuk menemukannya?” Ahmar menyusun pertanyaan bertubi-tubi. Dalam hati Ahmar bersyukur tidak mengirim foto anak pedang lain yang ada matriknya, bisa-bisa Lisa akan mencecarnya dengan seribu pertanyaan.

“Mungkin arti tulisan itu bukan menemukan… tapi mendapatkan! anak pedang tentu tak mencari anak pedang, jadi.. mungkin memang ada sarung pedangnya, tapi di mana mencarinya? Tak mungkin peta itu dibuat untuk mencari sarung pedang yang harusnya selalu bersama kan?” cetus Bidar. “Sepertinya aku memang melewatkan sesuatu, ya… gundukan itu!” Mereka berdua kembali saling tatap, tapi kali ini dengan sorot mata penuh gairah, jika hari masih terang, mungkin mereka sudah bergegas ke gundukan dekat lorong sempit.

Penulis: Garuda Bonar
Berikutnya: S2.Eps4 Sarung Pedang

Rama Hartian
Ditulis oleh Rama Hartian

Admin @Apajake.id

( 5 Followers )
X

Follow Rama Hartian

E-mail :*