Topbar widget area empty.
Death Valley – S2.Eps4 deathvly Tampilan penuh

Death Valley – S2.Eps4

S2.Eps4 Sarung Pedang

Esok harinya Bidar dan Ahmar sudah berada digundukan itu, mereka sudah mempersiapkan semua peralatan dan perlengkapan yang diperlukan untuk melakukan penggalian. Gundukan itu mencapai tinggi dua meter sehingga menutupi pandangan ke pintu lorong.

Ahmar mengambil detektornya untuk memastikan apakah memang ada sesuatu yang tertanam di sana. Ia menghidupkan alat tersebut dan mulai berputar mengelilingi gundukan lalu memanjatnya hingga ke atas. Pada titik tertentu alat detektornya berbunyi lebih rapat, Ahmar mengamati layar detektornya, tampak keningnya sedikit berkerut tanda ia sedang berpikir, kemudian menoleh ke arah Bidar yang tampak menunggu dengan sabar. Tanpa bicara Ahmar menuruni gundukan lalu melakukan deteksi dari bawah ke arah gundukan. Detektor kembali berbunyi rapat, Ahmar menandai punggung gundukan itu, menggoresnya dengan menggunakan palu geologinya. Ahmar lalu kembali mengamati detektornya dan melakukan sesuatu di layarnya.

Ahmar mendatangi Bidar yang masih berdiri santai tanpa melemparkan pertanyaan padanya. ia menepuk lengan Bidar dan berkata “Kau menemukannya lebih dulu dari kami, aku tak tahu apakah yang tertanam di sana adalah benda yang kita cari, tapi yang pasti… itu sesuatu yang kami cari dan alasan kami ada di sini.”
Binar menanggapi sahabatnya dengan tebakan “Rare material?”. Ahmar mengangguk lalu menunjuk tanda yang tadi dibuatnya sambil berkata “Terkumpul di situ dengan jumlah yang padat, sepertinya memang sudah berupa sebuah benda, dan kita tak perlu membongkar semua gundukan ini”.

“Detektormu sangat memudahkan pekerjaan” kata Bidar senang. Kedua sahabat itu kemudian mulai menggali dari arah samping sampai menemukan benda asing tertanam di sana. Mereka sangat bersemangat, terus menggali untuk membebaskan benda itu dari himpitan tanah gundukan. Benda itu akhirnya bisa dikeluarkan, mereka membersihkanya dari debu dan tanah yang menempel.

Bidar mengangguk-angguk memandang benda yang dipegang Ahmar dan berkata “Ya… sebuah sarung pedang, sekarang aku tahu seberapa dalam pedang itu tertancap”

Ahmar menyambut antusias “..Dan aku sudah tak sabar ingin melihat pedang itu dengan mata kepalaku sendiri…. lihatlah motif-motif yang terukir teliti dan rapi di sarung pedang ini Bidar…. mengagumkan!”.

Bidar menahan tangan Ahmar agar bisa mengamati motif itu satu persatu. “Oh… begitu rupanya!” seru Bidar. Ahmar menoleh dan bertanya “Jangan katakan kau bisa memahaminya…!”
“Aku tahu!” kata Bidar yakin. Ia lalu melihat lagi lebih detil seluruh bagian yang terukir pada pedang yang berwarna gelap tersebut dan mempelajari urutannya. “Itu memang kuno, tapi masih bertahan hingga sekarang, lebih tepatnya ilmu kuno yang masih dipelajari, bukan sesuatu yang asing”. Ahmar semakin dibuat tidak mengerti.
“Prana…. motif-motif itu menggambarkan ilmu olah prana dan titik-titik itu menggambarkan titik prana yang digunakan… semacam tenaga dalam” Bidar menjelaskan kepada temannya.

“Oh… berarti harus menggunakan tenaga dalam untuk bisa mencabut pedang itu? Hey… kalau begitu kau tentu bisa melakukannya!” seru Ahmar.
“Mungkin, tapi aku tak yakin itu mudah, bahkan bisa mustahil” kata Bidar.
“Bukankah kau sudah mempelajarinya? Kenapa?” tanya Ahmar bingung.

“Aku sudah melakukannya saat mencoba mencabut pedang itu, memang… saat itu aku menggunakan prana untuk meningkatkan tenaga tubuh. Olah prana yang tergambar di sarung itu adalah jurus prana pengendali, harusnya… aku mengunakan prana untuk mengendalikan pedang itu.. kurang lebih seperti itu” terang Bidar.
“Wow, ternyata penggunaan prana itu bisa macam-macam ya?” tanya Ahmar.
“Ya, bisa untuk perisai, bisa untuk mengisi efek senjata, untuk penyembuhan, bisa juga untuk menyerang dari jarak jauh” kata Bidar.
“Apakah kau bisa menggunakannya sebagai pengendali?” tanya Ahmar.
“Bukan itu masalahnya..” kata Bidar. “Lalu..?” balas Ahmar.

Bidar menghela nafas sejenak dan mulai menerangkan “Prana itu sendiri berjenis-jenis, dan hanya diturunkan dari guru kepada muridnya, karena jenisnya berbeda maka sifat dan efek yang ditimbulkannya jadi berbeda walaupun jurus olah prananya sama, jadi… sudah barang tentu hanya jenis prana tertentu yang bisa digunakan untuk mengendalikan pedang itu!”
Ahmar mulai paham tetapi ia memberi semangat pada sahabatnya “tak ada salahnya mencoba bukan?”. Bidar mengangguk lalu mereka berdua mendekati lorong.

Ketika sampai di dalam Ahmar mengamati satu-satu persatu seluruh isi ruangan itu. Ia lalu berujar “Ruangan ini cukup lembab dan dingin, membuat bangkai ular itu lambat membusuk, begitu juga benda-benda peninggalan orang hilang itu, sepertinya masih awet”.
Mereka berdua berjongkok di dekat pedang yang tertancap dalam, jika melihat ukuran sarungnya.. setidaknya bagian yang tertanam hampir satu meter.

Ahmar menyentuh pedang itu dengan takjub! ia mengamatinya berulang-ulang dengan mata berbinar. Ahmar lalu memandang Bidar dan berseru “Cobalah..aku yakin kau mampu mengangkatnya”. Bidar mengangguk lalu memejamkan mata, mulai mengolah prananya sesuai petunjuk yang ada disarung pedang. Bidar kemudian menyalurkan prana ke tangannya dan memegang gagang pedang, prana mengalir menuju pedang dan mencoba berinteraksi dengan pedang. Bidar menggeleng lalu menarik nafas panjang untuk meningkatkan level prananya. Bidar mencoba lagi dan berusaha mencabut pedang itu dengan kendali prana. Pedang itu bergeming tak bergerak.

“Baiklah..” gumam Bidar pelan. Binar meminta Ahmar untuk sedikit menjauh. Kali ini Bidar meningkatkan prananya hingga tujuh level lebih kuat, debu di sekitar pedang terbang terpencar! dorongan prana membuat Ahmar teringsut mundur dan kaget bukan kepalang! debu-debu di atap ruangan jatuh bak hujan! Ahmar mulai khawatir ruangan itu bisa saja runtuh tapi ia juga kagum dengan kemampuan Bidar yang mumpuni. “Bidar!!” panggil Ahmar. Mata Bidar menatap Ahmar lalu melihat ke sekeliling ruangan, pedang itu tetap masih tertancap, walaupun Bidar dapat merasakan respon dari pedang itu, ia memutuskan untuk menurunkan kekuatannya lalu menghentikan usaha untuk mencabutnya.

Setelah suasana hening kembali Ahmar mendekati Bidar dengan kagum. “Luar biasa, baru kali ini aku melihat hal seperti itu!” katanya.
“Mungkin pedang ini harus tetap di sini.. coba bayangkan jika seseorang hanya untuk membawa pedang ini saja harus mengerahkan kekuatan seperti itu” kata Bidar sambil tertawa tak percaya.
Ahmar pun ikut tertawa “Tapi bisa saja pedang ini hanya digunakan untuk saat-saat tertentu saja bukan untuk dibawa kemana-mana” katanya. “Tapi setidaknya bisakah kita membawa anak pedangnya?” pinta Ahmar. Bidar mengangguk lalu menarik keluar anak pedang itu dari gagang pedang. Mereka kemudian merangkak keluar dan menarik nafas lega.

“Boleh kulihat?” pinta Ahmar. Bidar memberi anak pedang itu kepada Ahmar. “Aww!!” Ahmar kaget dan terjongkok jatuh “Berat sekali!!” sambil memegang anak pedang itu dengan kedua tangannya. Ahmar yang terlalu bersemangat tentu tak mengira benda itu bisa seberat itu. Bidar tertawa-tawa sambil melangkah meninggalkan tempat itu. Ahmar kemudian ikut tertawa sambil bangkit dan membopong anak pedang seberat lebih dari sepuluh kilo itu dengan kedua tangannya.

Penulis: Garuda Bonar
Berikutnya: S2.Eps5 Pedang Pusaka

Rama Hartian
Ditulis oleh Rama Hartian

Admin @Apajake.id

( 5 Followers )
X

Follow Rama Hartian

E-mail :*