Topbar widget area empty.
Death Valley – S2.Eps5 deathvly Tampilan penuh

Death Valley – S2.Eps5

S2.Eps5 Pedang Pusaka

Suasana di camp sedikit berbeda saat ini, Ahmar yang biasanya berkutit dengan pekerjaan kantornya malah sibuk meneliti sarung dan anak pedang, sering kali ia berdecak dan menggelengkan kepalanya. Sementara Bidar duduk santai di meja kerja Ahmar sambil mengingat kembali kejadian kemarin.
“Kristal di pedang itu menolak pranaku, pasti ada energi mistis tersimpan di situ” pikir Bidar.

Ahmar kembali berdecak dan menggelengkan kepalanya. Bidar tersenyum dan bertanya “Kau menaksir umur benda-benda itu?”
Ahmar menjawab sambil mengangkat bahu “Awalnya begitu tapi aku tak begitu tertarik lagi”. “Kenapa?” tanya Bidar. “Pertama, benda-benda ini dibuat begitu stabil sehingga interaksi luar tidak memberi pengaruh, lihat… tidak berkarat, tidak pula ada bercak atau noda, tanpa adanya peluruhan material bagaimana menghitung waktunya? Kalaupun mau menghitung peluruhan waktu dari benda atau debu di sekitarnya, bukankah ia tidak berasal dari sana? dan merusaknya untuk penelitian adalah pilihan yang buruk!”
“Kedua, aku semakin yakin jika ini bukan produk kuno, coba bayangkan.. sarung ini terbuat dari material langka, bukan cuma satu jenis, dan material ini diolah dalam komposisi yang stabil sehingga ringan dan kuat, ada pola berlapis dalam sarung ini” Penjelasan Ahmar ditimpali pertanyaan Bidar “Seperti keramik?”. Ahmar mengangguk “Ya.. dan kau tahu rekayasa keramik salah satunya digunakan di badan pesawat luar angkasa, maksudku adalah …. ini teknologi modern!”
“Lagi pula..” Ahmar menjelaskan lanjut “Bagaimana caranya mereka bisa mengumpulkan material langka ini tanpa bantuan alat yang canggih?”

“Tapi.. ada tulisan kuno di situ” sanggah Bidar.
“Untuk mengelabui mungkin, bisakah engkau menjelaskan bagaimana mereka membuat ini semua?” balas Ahmar.
Bidar berkata “Pedang pusaka selalu dikaitkan dengan hal mistis, kekuatan supra natural”
Ahmar menimpali “Oh.. dengan bantuan jin begitu?”
“Bisa ya, bisa tidak, sumber segala ilmu datangnya dari Tuhan kok, bagaimana engkau menjelaskan teknologi yang digunakan Nabi Nuh untuk membuat kapal raksasanya atau tongkat Nabi Musa?” kata Bidar.

“Aku sulit mempercayainya, jika benar memang demikian dengan pengetahuan yang mereka punya tentu mereka bisa survive dan masih ada sekarang, lalu kenapa ilmu dan teknologinya tidak kita ketahui?” tanya Ahmar.
“Banyak hal yang belum kita ketahui tapi segala kemungkinan bisa saja terjadi” kata Bidar menenangkan.

“Setidaknya material langka dari sarung itu memiliki nilai dan harga yang tinggi” pancing Bidar tersenyum.
“Pedang itu juga kalau dilelang bisa sangat mahal” kata Ahmar.
“Untuk itu kau perlu mendatangkan alat berat untuk mengambil pedang itu” canda Bidar.

“Hahaha, tapi itu bisa merusak terowongan yang sudah menjadi tempat peristirahatan orang-orang yang hilang!…” Ahmar terhenti dan teringat masa saat pencarian ayahnya.
“Kita harus memberitahu otoritas setempat agar keluarga yang ditinggalkan menjadi tenang” kata Bidar mengerti. Ahmar mengangguk setuju kemudian bertanya “Bagaimana dengan pedang itu? Jika mereka melihatnya nanti…”. Bidar menjawab “Jika tidak bisa diangkat maka lebih baik dibenamkan saja agar tak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan”.

“Kau tidak menginginkan pedang itu?” tanya Ahmar. “Pedang itu dibuat bukan untukku” jawab Bidar santai.
“Bagaimana dengan peta itu, apa kau tak tertarik menelitinya?” selidik Ahmar yang dibalas helaan nafas oleh Bidar. Ahmar tersenyum menang. “Kau harus mencari cara untuk mengambil pedang yang sudah di depan mata itu Bidar, seperti petunjuk yang tertulis di anak pedang, rahasianya ada di sarung pedang”

Bidar memandang Ahmar sambil bertanya “Kenapa rahasianya tertulis pada sarung pedang yang terbuka bukan pada anak pedang yang tersembunyi ..?”
“Hmmm… dan kenapa sarung itu menggunakan material langka ya? Hanya untuk sarungnya?” sambung Ahmar

“Karena….. rahasianya memang sarung itu…karena itu ia ditanam….bukan untuk menyembunyikan motif yang bisa dilihat siapa saja… tapi …untuk menyembunyikan sarungnya…” simpul Bidar memahami sesuatu.
Ahmar mengerti maksud Bidar tapi tak menemukan bantuan untuk memecahkan masalah itu. Tapi tidak dengan Bidar. Ia bangkit dari duduknya melangkah dan meraih sarung pedang itu. Ahmar mengikuti gerakan Bidar karena sangat ingin tahu! Bidar memfokuskan prana pengendalinya lalu mengalirkannya ke sarung pedang, Bidar merasakan respon yang baik dari sarung pedang itu, Bidar antusias karena sudah mulai menguasai sarung pedang itu. Bidar kemudian mengalirkan prana yang terkumpul pada sarung itu dan mengarahkannya ke arah anak pedang, dalam kendali prana Bidar anak pedang yang berat itu terangkat ke udara! berputar-putar sesuai kehendak Bidar!

Ahmar melongo tak percaya lalu berseru riang “Bidar!!! Kau bisa mengendalikannya!!!”
Bidar mengangguk lalu dengan kendalinya menurunkan anak pedang itu ke lantai kemudian menjentikkan jarinya dan anak pedang yang mirip bandul itu pun berputar kencang dan tenang seperti gasing!!. Kedua sahabat itu saling pandang dengan riangnya dan tanpa menunggu lebih lama mereka kemudian berangkat menuju lorong tempat pedang tertancap.

Sesampainya di lorong Bidar mengembalikan anak pedang kembali ke gagang pedang. Bidar menenangkan diri sejenak, kemudian dengan memegang sarung pedang di tangan kiri, tangan kanannya menggenggam pedang. Pelan tapi pasti tanpa olah prana yang kuat pedang itu terangkat dan tercabut dalam kendali Bidar! Pedang itu diacungkan ke depan, tidak barat sama sekali! bahkan sesungguhnya bukan tangan Bidar yang mengangkatnya melainkan prana yang disalurkan melalui sarung pedang. Ahmar melongo lagi dibuatnya! terkagum-kagum! tak bisa menjelaskan bagaimana itu bisa terjadi.

Bidar akhirnya memasukkan pedang itu ke sarungnya, entah sudah berapa lama pedang dan sarung itu berpisah, tapi pedang itu tidak bisa masuk seluruhnya. Bidar heran, lalu menarik keluar pedang itu lagi lalu mencobanya kembali, tetap tidak bisa! Bidar mencoba menekan kristal pada pedang tapi prana Bidar buyar tertolak.

Bidar memejamkan matanya mencoba menelusuri aliran prana kendalinya. Mulai dari titik-titik prana dari tubuh Bidar kemudian mengalir melalui tangan kiri menuju sarung pedang. Prana dari sarung pedang kemudian dikendalikan keluar menuju pedang. Bidar membuka matanya lalu mengendalikan pedang keluar dari sarungnya, tangan kanan Bidar bersandar pada gagang dan mengikuti gerakan pedang, lalu pedang itu dimasukkan ke dalam sarung pedang, masih nyangkut! Bidar mencoba sekali lagi, kali ini pedang itu bagai terbang karena tangan kanan Bidar tak menyentuhnya, lalu mengendalikan pedang itu menuju sarungnya, Bidar membagi prananya dan mengalirkan sebagian melalui tangan kanannya, sambil memegang gagang pedang ia pun menyalurkan prana kendalinya langsung ke pedang. Prana pengendali Bidar menyatu dalam satu siklus dan “Zep!!” pedang itu masuk seluruhnya ke sarung pedang dan menghilang!!!

Ahmar melonjak kaget “Apa?… kemana perginya? Kenapa tiba-tiba bisa menghilang?”
Bidar juga terperanjat menyaksikannya tapi dengan tenang ia berujar“Kok bisa jadi kasat mata dan ringan seperti pedang biasa?” katanya sambil menimbang-nimbang sesuatu yang tak terlihat dengan kedua tangannya. Ahmar yang masih kaget meraba ke tangan Bidar dan melongo! lalu meraih pedang yang tak terlihat itu dalam dekapannya sambil tertawa riang terbahak-bahak! Bidar pun ikut senang melihat temannya itu.

Cukup lama mereka tertawa sampai tersadar kalau mereka sedang berada di lorong yang juga sudah menjadi kuburan tersebut. Mereka kemudian cepat-cepat keluar dari sana menuju ke camp. Di tengah perjalanan Ahmar berkata “Kau benar temanku, banyak hal yang belum kita ketahui, mekanisme apa yang membuat pedang ini jadi tak terlihat?” Bidar yang juga memikirkan itu menyambut “Beratnya pun menjadi ringan, tentu ada penjelasan ilmiah dibalik itu semua”.

Ahmar berhenti berjalan lalu menoleh ke arah Bidar lalu berkata “Ini pedangmu..terimalah…. kau tak punya alasan lagi untuk tidak membawanya.. sekarang pedang ini ringan dan tak terlihat..”. Ahmar menyerahkan pedang itu kepada Bidar.
“Kau yakin?” tanya Bidar.
“Aku bukan pendekar pedang!” jawab Ahmar senyum.

Bidar mengangguk senang “Baiklah, terima kasih, …. hey!…aku ingin mengajakmu ke suatu tempat dan membayar semua hutang ceritaku padamu! Bagaimana?” kata Bidar sambil menyimpan pedang itu di punggungnya.
“Oh ya?… kemana?” tanya Ahmar semangat.
“Secret Oasis!!” Bidar berkata sambil melirik Gelang Perak yang melilit lengan kirinya.
“Yes!!!” Ahmar berseru riang lalu kedua sahabat itu pun pergi meninggalkan tempat itu.

Penulis: Garuda Bonar
Berikutnya: Season 3

Rama Hartian
Ditulis oleh Rama Hartian

Admin @Apajake.id

( 5 Followers )
X

Follow Rama Hartian

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: