Topbar widget area empty.
Death Valley deathvly Tampilan penuh

Death Valley

S2.Eps1 Material Langka

Ahmar mengamati peta yg ditempel di dinding camp. Di tengah ruangan itu ada meja panjang yang di atasnya terletak batu-batu sample. Sebagai seorang geolog Ahmar sering bekerja di lokasi yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

“Apa yang kau cari di sini?” Kata Bidar mengagetkan Ahmar karena tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
“Bidar!!” seru Ahmar lalu kedua sahabat itu berpelukan haru.
“Maaf, aku tak mengantar sendiri jenazah ayahmu” sesal Bidar.
“Tak apa, aku mengerti. Kami sudah menguburnya bersama keluarga. Beliau sudah tenang di sana. Untuk itu kami sangat berterima kasih padamu”

Setelah melepas haru Bidar mangarahkan pandangannya ke peta yang tadi dilihat Ahmar. Ahmar berkata “Ya, kami sedang eksplorasi di lembah yang tandus dan panas ini.”
“Lembah Kematian…” gumam Bidar.
“Seperti namanya, Death Valley, banyak laporan orang hilang di sini” lanjut Ahmar.
“Dan itu sebabnya engkau menempatkan banyak sekuti?” tanya Bidar.
“Kasus orang hilang itu masih belum terungkap, otoritas setempat memberi syarat keamanan untuk ijin eksplorasi” terang Ahmar.

“Tempat berbahaya biasanya menyimpan sesuatu yang berharga” simpul Binar.

Ahmar menaikkan bahunya lalu menunjuk sample batu di atas meja. “Tak tahu dari mana perusahaan mendapat informasi bahwa terdapat rare material di sini, sejauh ini kami belum menemukannya. Memang material langka tidak mudah didapat tetapi belum ada tanda-tanda di sini terdapat mineral yang berharga. Kau tahu, rare material biasanya dilacak dari keberadaan material berharga” terang Ahmar.

Ahmar mengajak Bidar untuk berkeliling lokasi. Dalam perjalanan Ahmar bertanya tentang misteri oasis. Tak banyak yang diceritakan Bidar selain keindahan oasis dan fenomena alam yang membuatnya tersembunyi, tapi Bidar menawarkan janji ke sana jika Ahmar ingin melihat langsung. Mereka berhenti di dataran tertinggi, dari sana sekeliling Death Valley akan terlihat. Ahmar mengeluarkan teleskopnya dan meneropong ke suatu tempat sambil berbicara.

“Kau lihat di sana, dataran yang memiliki warna lebih gelap?” lalu memberikan teleskop itu kepada Bidar. Ahmad mengarahkan telunjuknya “Itu harapan terakhir kami di bukit ini. Begitupun jika hasilnya nihil, aku akan memetakan dulu peta bawah tanah dari data geolistrik untuk memastikan kemana eksplorasi berikutnya dilakukan.” Setelah memberi penjelasan Ahmar menoleh ke arah Bidar dan menyadari kalau temannya itu tidak sedang meneropong ke arah yang ditunjuknya. “Apa yang kau lihat?”
“Bukit kecil itu” jawab Bidar. “Di kaki bukit itu ada batu cukup besar tapi tampaknya bukan dari runtuhan.”
Ahmar mengambil teropong itu lalu melihat ke sana. “Hmm, aku memang belum ke sana, di sini pun tak ada batuan sebesar itu. Aku tak menyadarinya karena batu itu terhalang semak tinggi itupun hanya bagian atasnya saja yang terlihat dari sini. Aku akan segera ke sana setelah selesai dengan bukit ini”.

Mereka berdua berpisah, Ahmar pergi ke lokasi terakhir untuk mengambil data dan sample. Beberapa jam kemudian ia pulang kembali ke camp, ia tidak menemukan Bidar di sana. Bidar ternyata berjalan menuju bukit kecil tempat ia melihat batu itu. Bidar tak bermaksud mendahului temannya, hanya saja ia perlu mengecek situasi karena petugas keamanan tentunya belum diarahkan ke sana mengingat bukit kecil itu di luar area eksplorasi. Bidar melewati semak belukar yang rapat dan tinggi sampai akhirnya menemukan batu besar itu. Sebenarnya batu besar itu hanyalah sebuah gundukan saja dengan warna sedikit lebih gelap dari sekitarnya sehingga terlihat seperti batu. Tetapi kemudian Bidar tiba-tiba berhenti dan menjadi waspada setelah melihat sesuatu di kaki bukit di belakang gundukan tersebut. Sesuatu yang tidak terlihat karena terhalang gundukan itu, sebuah lorong sempit yang gelap.

Bidar tidak bergerak beberapa saat, ia memperhatikan dengan seksama ke sekitarnya. Lorong itu berukuran diameter kurang dari satu meter. Bidar kemudian melangkahkan kakinya perlahan tanpa suara menuju pinggir lorong itu. Matanya menatap sisik kulit ular berukuran besar di mulut lorong. Bidar menghirup udara perlahan dan mencium bau amis dari dalam lorong. Bidar kemudian mundur perlahan dan meninggalkan tempat itu dengan rencana untuk menyelidiki lebih jauh nanti.

Ahmar yang tidak menemukan Bidar di camp membalikkan badan untuk mencarinya. Tapi saat membuka pintu camp, Bidar sudah ada di balik pintu . “Huh! Bikin kaget saja” Ujar Ahmar. Bidar tersenyum ramah lalu masuk “Terima kasih sudah membukakan pintu” katanya. “Sudah selesai mengambil data?” lanjutnya.
“Sudah. Tapi nihil. Aku akan membuat peta bawah tanah dulu sebelum mengambil keputusan. Mungkin butuh 2 atau 3 hari. Bagaimana denganmu? Apakah akan tetap di sini atau…”
“Ya, aku akan tinggal di sini sementara waktu tapi ada yang harus aku lakukan dahulu, mungkin aku sudah kembali saat engkau selesai membuat peta.” Jawab Bidar.

Penulis: Garuda Bonar
Berikutnya: S2.Eps2 Lorong Gelap

Rama Hartian
Ditulis oleh Rama Hartian

Admin @Apajake.id

( 5 Followers )
X

Follow Rama Hartian

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: