Topbar widget area empty.
The Secret Oasis – eps. 5 secroaspng Tampilan penuh

The Secret Oasis – eps. 5

Eps. 5: Pertarungan sejati

Bidar Alam berdiri di atas batu datar kembali, wajahnya menengadah ke atas mencari burung yang misterius itu. Sesekali ia melirik ke arah kanan, kucing gurun bersiap waspada jauh di sana. Ketika melirik ke arah kiri Bidar merasakan ada ular perak di situ meskipun tak nampak. Setidaknya ular itu tidak mungkin menembus batu datar ini, pikirnya. Keberadaan burung yang mencuit nyaring itu membuat Bidar penasaran. “Mana dia? Apakah ia memiliki tuan?”

Burung yang lincah itu sedang terbang rendah dan zig-zag melewati dahan-dahan pohon Dragon. Tentu saja Bidar tak dapat melihatnya. Cuitan nyaring itu terdengar kembali, kali ini sumbernya jauh di tengah hutan. Bidar mengernyitkan matanya, ia segera bersiap, melirik ke kanan dan ke kiri, tampak kucing gurun menunjukkan tanda sigap. Bidar menarik sabuk pedangnya, mengumpulkan tenaga, perlahan sabuk pedang itu menegang kaku. Pertempuran akan terjadi lagi, entah siapa yang akan memulai lebih dulu.

Akhirnya burung itu menampakkan diri, terbang cepat di atas Bidar sambil melepaskan sesuatu dari paruhnya ke arah Bidar. Dengan sigap Bidar menangkap benda itu dengan tangan kiri lalu mengamatinya, “buah tin?” Bidar melirik ke atas, burung itu bercuit ribut, kucing gurun datang merapat sambil menggeram, ular perak meliuk pelan tanpa terlihat. Bidar bingung, tak mengerti, ia mengambil sikap hati-hati membungkuk dan meletakkan buah itu di atas batu datar lalu bersiap menghadapi kemungkinan serangan.

Cuitan burung yang ribut berubah nyaring memekakkan teliga kemudian melesat dan kembali menghilang ke arah hutan. Kucing gurun yang semakin mendekat terus menggeram, sesekali Bidar menoleh ke kiri mengikuti gidik. Bidar berusaha untuk tetap tenang menghadapi situasi yang memanas. Tiba-tiba burung itu kembali lagi, terbang cepat melintas di atas Bidar dan melempar lagi buah tin. Bidar menangkapnya, berpikir mencari tahu, dengan raut wajah ragu lalu kemudian meletakkan buah itu ke dekat buah satunya.

Cuitan burung yang marah membahana, kucing gurun menyambut dengan geramannya. Cuitan burung lalu terdengar seperti tertahan, di bawah permukaan pasir itu ular perak mendesis. Bidar tak bergeming, tetap tenang dan waspada. Untuk ketiga kalinya burung itu kembali menghilang lalu kemudian melemparkan buah tin. Bidar yang menangkapnya kini tersenyum mulai mengerti, “menyuapku?” pikirnya tak percaya. Bidar meletakkan lagi buah itu lalu berdiri menatap burung yang kesal. Bidar melemparkan sabuk pedangnya ke dekat tiga buah tin yang terkumpul, mengacungkan telunjuknya ke atas lalu berkacak pinggang dengan gagahnya. Kucing gurun menggeram kehilangan sabar, cakarnya keluar menghunjam pasir, ular perak mendesis, memunculkan kepalanya siap menerkam. Burung yang cerdik terdiam melihat perubahan sikap yang ditunjukkan Bidar, menimbang-menimbang, lalu bercuit-cuit dan kembali terbang lagi ke arah hutan. “Tunggu! Tunda serangan! Ia meminta satu lagi, dan ini yang terakhir, setelah itu aku tak akan menahan kalian lagi!” begitu kira-kira yang dicuitkan burung kepada rekannya.

Bidar Alam menangkap buah yang dilemparkan burung, kali ini dengan tangan kanannya. Bidar mendekatkan buah itu ke hidungnya. “Segar sekali aromanya..”. “Clap!!” Bidar menggigit buah itu lalu perlahan duduk. Meletakkan buah bekas gigitannya lalu meraih sabuk pedangnya. Suara geram dan cuit terdengar saat tangan Bidar menyentuh sabuk pedang itu. Bidar kemudian menyarungkan sabuk pedang itu dipinggangnya dengan tenang sambil menatap ke arah burung dan kucing. Bidar mengambil buah tin yang masih utuh dari tumpukan lalu meletakkan buah itu menjauh ke arah depan, mengambil buah tin lagi dan melemparkannya ke arah kucing gurun, sisa satu lagi di geser menjauh ke kiri. Bidar membuka ke dua tangannya sambil menatap ke atas, ke kanan dan dan ke kiri lalu mengambil buah bekas gigitannya “Clap!!” suara gigitan Bidar terdengar lebih nyaring sehingga membuat kucing gurun dan ular perak yang lelah menelan ludah.

Burung bercuit “Biar aku yang memulai, kalaupun ini jebakan tak mudah baginya untuk menangkapku!”. Burung itu meluncur cepat dan mendarat di atas batu datar. Bidar terkesima melihat keindahan bulunya yang bersih. Ia tersenyum senang lalu menggigit lagi buah tin yang tinggal separuh “Clap!”. Dengan hati-hati burung berjingkat mendekati buah tin, melirik awas ke arah Bidar, lalu mematuk buah tin itu. Bidar mengangguk-angguk sambil mengunyah. Burung itu bercuit tertahan. Kilatan perak melesat dari arah kiri, mendarat tepat di dekat buah tin bagiannya, menghunjamkan kepala tajamnya lalu seluruh tubuhnya merangsek masuk ke dalam buah tin. Bidar berhenti mengunyah memandang takjub. Burung bercuit pelan, terpaan angin menghantam Bidar dari arah kanan, memaksanya menoleh, di situ sudah ada kucing gurun dengan buah tin yang dibawa dengan mulutnya. Kucing itu meletakkan buah itu untuk kemudian menyantapnya. “Sungguh langka!” ucap Bidar.

Penulis: Garuda Bonar
Berikutnya Eps. 6: Misteri yang tak terungkap

Tag:
Rama Hartian
Ditulis oleh Rama Hartian

Admin @Apajake.id

( 5 Followers )
X

Follow Rama Hartian

E-mail :*