Topbar widget area empty.
The Secret Oasis – eps. 6 secroaspng Tampilan penuh

The Secret Oasis – eps. 6

Eps. 6: Misteri yang tak terungkap

Hari sudah mulai senja, di atas batu datar Bidar Alam dan tiga hewan mistis sedang menyantap buah tin yang lezat. Bidar yang tenang mengamati ketiga hewan mistis dengan kagum sambil menikmati pemandangan oasis yang unik. Tiga hewan mistis tampak canggung, ini pertama kali mereka saling dekat, kucing gurun menatap ketat buah tin yang bergerak-gerak disantap ular perak, ketika kepalanya muncul ia mendesis saat melihat kucing. Burung yang awas mengamati kedua rekannya satu-persatu dengan khawatir, “Jangan lengah, musuh ada di depan mata!” cuitnya sambil melirik Bidar.

Bidar menyelesaikan gigitan terakhirnya, menikmati kunyahannya lalu meletakkan remah buah tin. Bidar berdiri pelan, burung bercuit, kucing gurun menggeram, ular perak merayap keluar. Bidar membalikkan badan tak hirau, menuruni batu datar, melangkah menjauh, berhenti kemudian membalikkan badan kembali. Kedua tangan Bidar terbuka lalu merapatkan satu tangannya ke dada sambil menunduk dan berkata lirih “pertarungan belum usai, aku menghormati kalian sebagai penjaga oasis ini, aku akan pergi, pertarungan tak perlu diteruskan..”. Bidar berbalik lalu melangkah meninggalkan oasis.

Tiga hewan mistis terpaku, mereka mengawasi kepergian Bidar hingga menghilang di balik gundukan pasir. Mereka saling tunggu, melupakan buah tin yang masih tersisa, apa yang harus dilakukan selanjutnya? Burung itu mengambil tindakan pertama, ia melesat ke atas tanpa suara. Kucing gurun dan ular perak saling pandang. Suasana mencekam memenuhi keduanya, melupakan Bidar, geraman dan desisan mulai terdengar. Cuitan burung di atas sana terdengar. Kali ini mereka mengacuhkannya, geraman dan desisan pun saling menyusul. Cuitan burung melantun kasar bagai pekikan, membuat kucing dan ular meringsuk mundur sedikit, tapi geraman dan desisan kembali terdengar.

Bidar Alam menoleh ke atas saat pekikan burung itu terdengar, burung itu kemudian terlihat menukik cepat ke arah oasis. Bidar kembali melangkah menjauhi oasis. Kucing gurun dan ular perak bersiap saling serang, burung yang panik mendarat cepat di antara keduanya. “Berhenti! Bahaya! Bahaya!” lalu memekik keras membuat kedua hewan yang akan bertarung tersebut meringsut mundur. Lalu ia terbang kembali dengan gesit sambil bercuit-cuit. Kucing gurun dan ular perak saling pandang, lalu tiba-tiba secara hampir bersamaan melesat cepat meninggalkan oasis.

Pekikan sangat keras itu membuat Bidar berhenti lagi dan membalikkan badan dengan cepat. Ia melihat burung itu terbang mendekat, di bawahnya kucing gurun berlari menimbulkan debu, di sampingnya kilatan perak melesat, memantul lalu melesat lagi bagai batu pipih yang di lempar ke permukaan air, cepat sekali! Bidar Alam secara refleks menyentuh sabuk pedang yang melilit pinggangnya bersiap untuk menariknya. Burung yang gesit menukik cepat ke arah Bidar sambil memekik lalu tiba-tiba berubah arah secara zig zag ke sisi kanan Bidar. Mata Bidar mengikuti gerakan itu dan kaget! Tak jauh dari Bidar berdiri, dibalik gundukan pasir di sisi kanan Bidar, kepala seekor ular king kobra besar berwarna keemasan menjulang tinggi. Burung itu meluncur cepat menghantam kepala king cobra, yang disambut sambaran mulut cobra gurun yang terbuka. “Sap!!” sambaran sangat cepat dan tepat! jika burung gesit itu tidak mengelak zig zag, tentu berakibat fatal! King cobra dengan marah menoleh ke arah burung yang mengganggunya tapi “Crash!!” sebuah cakaran maut mengenai tengkuknya, serangan kucing gurun itu tidak disadari oleh King Cobra dan membuatnya terhuyung dengan mulut terbuka, lalu “Hap!!” mulut king cobra itu menutup kaget! Bidar melihat kilatan perak menghunjam masuk ke mulut king kobra! Tak pelak! King cobra yang tak tahu apa yang terjadi mengeliat keras dipermukaan pasir kesakitan lalu tewas mengenaskan. Ular perak yang berlumuran darah meluncur turun dari mulut king cobra, masuk ke dalam pasir lalu muncul kembali dengan tubuh yang sudah bersih.

Bidar Alam datang mendekat tak menyangka semua itu terjadi, melihat jasad king cobra emas berukuran kurang lebih tujuh meter itu. Bidar berjongkok dan membuka tangan kirinya ke arah ular perak, ular itu merayap naik ke telapak tangan lalu melilit lengan Bidar, ular itu menjadi seperti gelang perak menghias lengannya. Kucing gurun mendekat, tangan kanan Bidar menyapu dan menggaruk belakang kepalanya, membuat kucing gurun tersungut jinak. Bidar lalu berdiri dan mengangkat tangannya, dengan gesit burung itu hinggap di situ sambil bercuit lirih.

“Terima kasih” ucap Bidar haru. “Kembalilah ke istana kalian, jagalah sampai aku kembali lagi.” Bidar menghadap ke arah oasis dan menghentakkan kedua tangannya pelan. Burung itu melesat terbang sambil bercuit riang, ular perak melesat dari lengan kiri Bidar. Kucing gurun berputar-putar di tempat lalu melompat tinggi melewati atas kepala Bidar kemudian melesat menyusul menuju oasis. Bidar dengan penuh haru memutar badannya dan mulai melangkah menjauh.

Bidar mengeluarkan recordernya lalu merekam. “Oasis yang indah dengan tiga hewan langka yang menghuninya… burung itu sungguh cerdik, ia bernama… Zig Zag, ular berwarna perak… hmm… Gelang Perak.. ular yang langka, kucing gurun yang lincah itu… ya.. Spink nama yang cocok untuknya. Mereka bukanlah hewan pemangsa yang buas, kerjasama mereka mempertahankan wilayahnya sungguh mengagumkan. Jika tidak demikian sudah barang tentu oasis itu sudah lama rusak dan dikuasai orang lain. Oasis itu bernama…” Bidar Alam diam lalu mematikan recorder dan menyimpannya sambil berucap, “Biar saja lah semua tetap menjadi misteri..”.

Akhir season 1

Penulis: Garuda Bonar
Berikutnya: Death Valley – Season 2 Eps.1 Material Langka

Tag:
Rama Hartian
Ditulis oleh Rama Hartian

Admin @Apajake.id

( 5 Followers )
X

Follow Rama Hartian

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: