Topbar widget area empty.
Dua Lelaki di Balik Pandemi cover dua lelaki dibalik pandemi Tampilan penuh

Dua Lelaki di Balik Pandemi

Cerpen Pauli Anggraini

 

Memandang ayah dari balik jendela adalah aktivitas Marni dan adik-adik sejak masa pandemi ini. Lebih dari  empat bulan lamanya dunia telah terkunci, koran-koran sudah sejak beberapa  bulan lalu mengabarkan pandemi yang mewabah di negeri, namun telah lebih lama sebelum pandemi  terjadi, keluarga itu telah lebih dulu terkunci dengan kemiskinan. Becak ayah telah mundur ke dalam teras, pertanda ayah hari ini tidak lagi pergi mencari sewa. Itu artinya akan lebih lama lagi mereka terkukung dalam jerat kemiskinan yang  bertambah dalam pandemi. Pandemi dan keadaan ekonomi keluarga ini sama kacaunya. Mata mulai  berkaca-kaca  jauh lebih bening dan menyayat hati, jika dibandingkan dengan kaca rumah orang kaya.

 

Marni, anak usia sepuluh tahun tepatnya kelas lima Sekolah Dasar, sedangkan kedua adiknya yaitu Faiz dan Faiza adalah kembar yang berusia tiga tahun, sudah lincah berlari, kosakatanya telah mahir dan bijak sekali dalam bercakap-cakap.

 

“Ayah, apa hari ini ayah punya uang?” Faiza berlari menghampiri ayah yang sudah berdiri di depan pintu.

 

Bagi pria yang berusia hampir empat puluh tahun itu, ada luka dan rasa bersalah sebagai seorang ayah saat mendengar putri  kecilnya bertanya. Pandemi yang mengunci orang-orang hingga tidak banyak keluar rumah, turut mengunci pendapatannya sebagai penarik becak bermotor. Sepinya penumpang, peraturan ini itu dalam mengantisipasi penyebaran virus memperburuk keadaan ekonomi keluarga ini. Ah, tapi toh siapa pula yang akan bertanggung jawab jika Abang beca ini masih tetap nekat menarik beca, kemudian terpapar virus mematikan itu?

 

“Tentu, ayah punya uang nak.” Ada gigi yang merapat, dan bibir yang digigit ujungnya, menekankan pada diri sendiri bahwa uang itu memang benar-benar ada, atau akan benar-benar ada, atau benar-benar kali ini ada Allah yang selalu menguatkannya dalam getirnya hidup. Senyuman terpancar sesaat setelah Faiza kecil bertanya. Ia yakin benar, jika ayahnya memang benar-benar punya uang, setidaknya untuk jajannya.

 

“Kalau Ayah memang ada uang, aku ingin sekali makan enak besok.”

 

“Iya, tentu kita akan makan enak, tapi besok.”

 

“Ayah janji.” Jari kelingking dihadapkan ke wajah Faiza, seuntai senyum tergambar jelas.

 

“Pergilah bermain, siang masih panjang.”

 

Anak-anak tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan keadaan ekonomi Orang Tua mereka, ketiga anak itu kini telah berhamburan masuk ke kamar, asyik bermain, canda tawa berganti-gantian satu dan yang lain. Siang masih panjang sementara janji untuk makan enak besok telah terucap pada bibir laki-laki berusia hampir empat puluh tahun itu. Lelaki dengan minim pendidikan yang hanya bermodalkan ijazah Sekolah Dasar, itu pun kertas berharga miliknya satu-satunya itu turut hanyut bersamaan dengan barang-barang miliknya lainnya beberapa tahun silam, saat pinggiran kota tempat mereka bermukim terendam banjir. Tak ada Surat Tanah, perhiasan, atau benda berharga yang bisa dijual saat ini. Satu-satunya harta yang mereka miliki hanya becak tua, sumber penghasilan keluarga. Saat ini, hanya suara cicak yang terus berbunyi tepat di langit-langit rumah persis di atas kepalanya.

***

 

Panas terik, becak dikayuh menuju pasar. Derit kecil becak kian terasa, rasanya butuh banyak perbaikan untuk becak ini.  Jalanan sepi, orang-orang dikunci. Lelaki itu  menarik napas dalam, bagaimana pun juga becak ini harus dijual dulu. Jika pandemi ini berakhir ia akan mengumpulkan sedikit demi sedikit jerih payahnya untuk membeli kembali becak baru. Begitu batinnya.

 

Ia teringat bagaimana anaknya meminta makan enak, kontrakan yang harus dibayar, mengingat sejak empat bulan lalu turut mandek bayar. Anak-anaknya siang ini makan nasi dan kerupuk, menu makanan terakhir di rumah mereka. Sedangkan ia, sama sekali tidak makan sejak pagi tadi.

 

Ia mendorong becaknya memasuki gang kecil pasar, berhenti tepat di depan toko milik orang Melayu, berharap mendapat uang dengan penjualan becak satu-satunya yang ia punya. Pekerja memeriksa, tak lama berselang becak telah bertukar menjadi sejumlah uang. Ada senyum muncul ke permukaan, itu artinya janjiya kepada anak-anaknya bukan bohong belaka. Kini, sebagian uang telah bertukar dengan makanan, sementara sebagian lagi aman dalam dompet.

 

Angkutan umum hanya muncul sesekali, jauh berkurang jika dibandingkan dengan keadaan sebelum pandemi. Dua puluh lima menit menunggu barulah muncul kendaraan umum, di dalamnya dipenuhi penumpang. Rapat, sampai tak ada celah, berhimpitan dan berkawan polusi rokok.

 

“Geser, bang.” Pemuda bertato menggeser duduknya tepat disebelah lelaki berusia hampir empat puluh tahun itu.

 

Kendaraan melaju hampir ditengah perjalanan, seketika berhenti saat dua ibu-ibu hendak turun, yang diikuti pemuda bertato turun juga. Setengah perjalanan lagi diteruskan, lelaki itu tersenyum memandangi makanan dalam bungkusan hitam. Teringat wajah ketiga anaknya dirumah, serta hutang kontrakan yang akan dibayarkan hari itu juga.

 

“Pinggir, Bang.”

 

Lelaki itu merogoh saku celananya, mencari dompetnya. Kosong. Kanan kiri kosong. Hatinya mulai risau, hanya ada uang lima ribu rupiah di saku kaosnya, buru-buru berpindah ke tangan sopir. Diperiksanya berulang-ulang guna memastikan bahwa uangnya benar ada di dalam saku celananya. Tapi tetap tidak ada. Apakah copet pemuda bertato tadi? Gumamnya.

 

Langkahnya mulai lemas memasuki gang kecil menuju rumahnya, kini beban itu kembali lagi. Baru beberapa jam lalu beban itu menghilang, kini kembali lagi.

 

“Pak, minta dermanya.” Tiga anak-anak muncul dihadapannya, mengadahkan tangan kearahnya. Pilu. Terbayangkan olehnya bagaimana jika ketiga anak-anak itu adalah anaknya, maka bungkusan hitam berisi makanan kini telah berpindah untuk ketiga anak peminta derma itu. Uang hilang, tanpa makanan dibawa pulang, kini ia pasrah kepada Tuhannya, kiranya apa yang terjadi hari ini biarlah penggugur dosa untuknya, gumamnya.

 

“Ayah.” Itu suara Faiza, diikuti dibelakangnya Faiz dan Marni. Senyumnya simpul. Berat bagi lelaki itu untuk menyambut anaknya dengan tangan kosong.

 

“Ayah, kenapa lama sekali pulangnya?”

 

“Paman Andi telah lama menunggu, dia membawa banyak makanan untuk kita.”

 

“Apa itu makanan yang ayah janjikan besok? Aku merasa, ayah terlalu cepat memberinya lewat Wak Andi hari ini.” Faiza memeluk kaki lelaki itu.

 

Ada perasaan senang, dan terkejut melihat apa yang baru terjadi saat ini. Beberapa belas menit yang lalu berpasrah pada Tuhan, namun kemudian Tuhan mendekapnya lebih indah.

 

“Aku melihatmu siang tadi, menaiki angkutan umum dan berhenti di Pasar.” Wak Andi membuka pembicaraan, sekejap kemudian menyuap makanan ke mulutnya.

 

“Iya, Bang. Sejak pandemi ini, sedikit sekali pendapatanku, siang tadi terpaksa becak dijual.” Lelaki itu berani membuka mulut setelah merasa anak-anaknya jauh main di luar rumah, ia hanya tak ingin keluh kesahnya diketahui anaknya. Pandemi ini tentunya berdampak bagi kalangan ekonomi bawah, sejak pandemi dan peraturan jaga jarak, orang-orang lebih banyak di rumah, hal ini tentunya berdampak pada keadaan masyarakat yang umumnya mendapatkan uang perhari.

 

Wak Andi, adalah Abang kandung lelaki itu, perbedaan usia keduanya sekitar sepuluh tahunan. Sebenarnya, dalam beberapa aspek mereka tak jauh berbeda. Bedanya, Wak Andi yang notabene bukan bekerja kantoran, bukan pula pedagang, mampu hidup dalam kadar yang terlihat lebih  wah, sedangkan dalam pendidikan mereka setara, hanya lulusan SMA. Tanpa pekerjaan tetap, namun mampu membeli ini itu.

 

Wak Andi menghisap lintingan rokok, kemudian asap mengepul di udara. Sejak muda, dia memang suka merokok, sudah tua, ambisi merokoknya semakin kalut, padahal paru-paru tua miliknya sudah muak dijejali asap-asap zat adiktiv itu.

 

Ayah duduk tepat disebelahnya. Ada gundah dilelaki itu. Gundahnya tak lain adalah dompet miliknya yang raib di angkutan umum tadi, itu satu-satunya uang miliknya, tak ada yang bisa dijual lagi di kontrakannya, habis sudah. Jemari diketukkan ke meja, perlahan bunyinya nyaring jua. Asap rokok mengudara, sesak. Tapi ada esok yang lebih sesak bagi lelaki itu. Dipejamkannya sekejap matanya, barangkali beberapa detik, kemudian membukanya kembali. Paman Andi menyodorkan dompet hitam, tepat di sebelah jemari lelaki itu.

 

“Ini, punyamu.”

 

“Bagaimana, kok bisa denganmu, Bang?” Lelaki itu heran dengan kembalinya dompetnya. Utuh. Semua utuh, tak kurang satu sen pun.

 

“Jangan banyak tanya, aku pulang,ya.” Wak Andi berangsur pergi. Asap rokok tiada lagi.

 

 

***

Sesaat setelah Pemuda bertato turun dari angkutan umum, berjalan menyusuri gang sempit, melewati rumah-rumah berdempetan yang hanya menyisakan celah untuk lalu lintas satu orang saja, Pemuda bertato itu lantas menyerahkan dompet hasil kerjanya kepada lelaki berusia separuh abad lebih dihadapannya.

 

Korek dinyalakan, asap rokok menggumpal.

 

“Bodoh!”

 

Bogeman kecil mendarat di pelipis pemuda bertato. Lelaki separuh abad itu murka seketika, membaca identitas dompet itu, darahnya mendidih.

 

Pemuda bertato heran, bukannya persenan setoran mencopet yang diperoleh, melainkan bogeman.

 

“Kenapa, bang?” Nafasnya terengah memupuk amarah tertahan.

“Ini dompet milik adikku!”

 

Lelaki separuh abad berlalu dengan dompet di tangan.

 

 

Pauli Anggraini. Lahir di Kuala, 17 Nopember 1998. Mahasiswi semester 8  STAI JM Tanjung Pura, Sumatera Utara. Peserta Kelas Menulis Cerpen Apajake Academy Angkatan I Juli 2020.

 

Photo from Pexels.com

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*