Topbar widget area empty.
Mimpi-mimpi Ibu Mimpi Mimpi Ibu Tampilan penuh

Mimpi-mimpi Ibu

Cerpen Gusti Trisno

 

 

Tiga hari setelah aku berada di rumah sakit. Ibu kembali membawaku ke rumah. Rumah megah di salah satu perumahan elit di kawasan Jakarta Selatan. Kemegahan rumah ini tidaklah begitu indah bagiku. Pasalnya, setiap sudut ruangan aku seperti melihat kenangan yang merengsek maju. Kenangan yang juga menyiratkan mimpi-mimpi ibu yang terkubur bersama dia yang memilih pergi bersama dengan yang lain. Kenangan-kenangan itu juga berganti kenangan lain seputar ibu yang dulu sering mendapatkan ancaman akan diusir oleh Nenek jika tidak patuh.

 

Dan, kini Nenek yang memilih hidup sendiri kembali hadir di rumah megah kami yang terisi hanya aku, Ibu, dan Bapak, serta dua pembantu kami. Kehadiran Nenek ini awalnya kami pikir untuk menjenguk cucunya yang baru saja keluar dari rumah sakit. Namun, asumsi itu mendadak purna setelah Nenek menjelaskan duduk perkara.

 

“Rumah Nenek sudah dijual,” ucap Nenek begitu santai disertai batuk menahun yang menjangkitinya.

 

Mendengar itu ibu langsung bingung. Rumah kami di jalanan kampung itu telah pindah tangan, tanpa ibu dan aku tahu.

 

“Buat apa dijual, Bu? Itu kan rumah kenangan Ibu bersama Almarhum Bapak,” tanggap Ibu.

 

Nenek terdiam sejenak. Daya pikunnya seakan bekerja, “Ya, ya, untuk apa dijual.”

 

Wajah Ibu mendadak kusut mendapat jawaban Nenek. Ibu seperti membawa beban lain yang tak kumengerti. Bahkan, kedatangan Nenek yang baru beberapa menit itu, langsung ditinggali tanpa pesan apa pun. Melihat itu, aku segera membawa Nenek menuju kamar yang telah disiapkan pembantu rumah kami.

 

Baru seusai itu, aku mengetuk pintu kamar Ibu. Di sana Ibu tampak begitu sedih. Ia sedih tidak bisa menyelamatkan rumah kenangan itu. Kalau membelinya lagi, pasti harga rumah itu otomatis meningkat. Dan, belum tentu si pemilik rumah akan mau memindahtangankan. Aku bisa membaca semua tafsiran itu setelah melihat wajah ibu. Makanya, aku buru-buru mendatangi perempuan itu.

 

“Maafkan Ibu, Nak,” ucap Ibu ketika aku sampai di hadapannya. “Ibu tidak bisa menyelamatkan rumahmu,” sambungnya.

 

Aku terdiam. Kucoba mendekat pada Ibu lalu membiarkan kepala perempuan terkasih itu hinggap di pundakku. Kuelus kepala ibu seperti ia mengelusku saat kecil. Di kepala ibu, aku seperti melihat layar kapal yang membentangkan banyak ingatan dan pikiran.

 

“Ini yang Ibu khawatirkan jika jauh dari Nenekmu.”

 

Aku mengangguk. Lalu, mengambil posisi lebih enak. Kuyakin ibu akan bercerita lebih jauh maksud pernyataannya tadi.

 

“Nenek itu awalnya tidak pikun. Cuma karena beban berat di masa remaja ibu. Ia harus mengalami hal tersebut.”

“Bagaimana ceritanya, Bu?”

***

 

Masa remaja ibu begitu bahagia jika dilihat dari kemampuan finansial. Kedua orang tuanya dalam hal ini Kakek dan Nenek telah memberikan bekal lebih dari cukup dengan usaha katering yang dijalani. Usaha tersebut lambat laun bertambah makin banyak pangsa pasarnya. Sayangnya, namanya usaha kalau tidak diuji ya tidak baik.

 

Ujian itu berasal dari kebocoran resep makanan dari salah satu karyawan. Karyawan tersebut ternyata hanyalah titipan katering sebelah. Akhirnya, resep itu dibuat versi baru di katering lain dengan harga yang lebih miring. Hingga akhirnya, pelanggan-pelanggan Nenek berpaling. Memang katanya setiap usaha bisa ditiru, tapi rezeki orang lain tidak bisa ditiru. Hanya saja, dari kasus tersebut rezeki Nenek dan Kakek ternyata bisa ditiru. Terlebih dari sana pemasukan benar-benar kosong.

 

Keadaan itu tak membuat Nenek dan Kakek berhenti begitu saja. Mereka tetap berusaha di bidang lain. Tapi, usahanya gagal. Anehnya usaha yang mereka jalani menggunakan pinjaman bank yang berbunga. Untung tak dapat diraih, buntung datang menghampiri. Mungkin kalimat itu cocok menggambarkan keadaan mereka.

 

Akibat kegagalan itu membuat keduanya harus segera membayari utang tersebut. Kemudian, bantuan datang dari adik Nenek yang nomor dua. Ia siap membayari utang tersebut. Nenek dan kakek awalnya menolak. Terlebih mereka telah memberikan alasan kepada pihak bank untuk menunda pembayaran sambil menunggu uang kontrak rumah mereka yang tak jauh dari gang. Tetapi, namanya bantuan dari saudara yang terus memaksa. Akhirnya, mereka luluh juga.

 

Seharusnya bantuan itu menguntungkan pihak Kakek dan Nenek, tetapi ternyata membawa petaka baru. Si adik Nenek yang nomor dua itu datang meminta pembayaran dengan waktu yang begitu cepat. Bahkan menagihnya seperti renternir yang begitu kejam. Nenek dan Kakek kebingungan. Mereka tak mungkin berutang lagi ke pihak bank.

 

Hingga akhirnya, tanpa sepengetahuan Kakek. Nenek menjual rumah kontrakan yang mereka miliki. Satu rumah itu terjual dengan bantuan adik Nenek. Kakek yang mengetahui itu malah harus meregang nyawa akibat serangan jantung.

 

Saat itulah, hidup ibu bertambah berat. Terlebih setelah tahu adik kandung Nenek itu seperti sengaja menggunakan taktik agar bisa menjual rumah itu. Otaknya memang pembisnis yang tidak bisa memperlakukan saudara seperti itu. Ia hanya berontesi untung-rugi.

 

Kepergian Kakek juga membuat ibu harus keliyengan memikirkan keuangan keluarga. Apalagi sejak itu, Nenek sering sakit-sakitan. Mungkin karena beban pikiran karena jemputan malaikat maut pada Kakek. Apa pun itu, Ibu mencoba untuk bangkit. Ia pun mencoba bekerja di salah satu firma hukum. Memang jika ditilik dari gelar sebagai sarjana Sastra Inggris itu tidak cocok sama sekali. Tapi, firma hukum itu membutuhkan penerjamah jika menghadapi kasus orang asing. Dan, untungnya ibu begitu cepat beradaptasi.

 

Bekerja di firma hukum membuat ibu mendapatkan banyak rupiah. Hanya saja, masalah kemudian terjadi, ketika adik kedua Nenek kembali memanas-manasi Nenek perihal kebiasaan Ibu yang sering diganti lelaki yang beda di depan rumah. Akibat itu, Nenek menjadi uring-uringan dan ikut mengatakan yang tidak-tidak tentang Ibu. Padahal, ibu hanya menganggap mereka rekan kerja. Dan mereka juga mengantarkan ibu karena memang pekerjaan yang kadang terlalu larut. Sekadar itu saja. Walaupun begitu, Nenek yang berhasil tersulut emosinya tidak mau terima. Hingga akhirnya, ibu memilih resign dari pekerjaan.

 

Setelah resign, barulah Ibu dilamar orang membuatnya tinggal bersamaku dan Bapak. Meninggalkan Nenek sendiri di rumah. Yang mengakibatkan Nenek harus kembali menjual rumah kenangan.

***

 

“Seharusnya rumah itu menjadi milikmu, Nak,” tutup Ibu mengakhiri cerita.

 

Aku mengangguk. Kemudian, merapatkan pelukan pada Ibu. Rumah atau apa pun itu bagiku bukan suatu hal yang penting. Tapi, yang lebih penting adalah menjaga perasaan ibu agar tetap tentram dan damai. Sebab melihat itu saja membuatku serasa mendapatkan surga di dunia.

 

“Almarhum Kakek pernah berwasiat sama ibu agar menjaga rumah itu. Dan, kini rumah itu langsung hilang tanpa jejak.”

“Sudah, Bu. Sudah. Ayo kita datangi Nenek!” ajakku.

 

Ibu menggeleng lemah. Ia malah mengambil ponsel yang ada di tempat lampu tidur. Ia lalu memencet beberapa tombol. Lalu, tersambunglah sebuah telepon.

 

“Halo, Buklik,” ucapnya seusai memberi salam.

 

Adik kedua Nenek itu langsung menanggapi salam itu dengan ungkapan yang dibuat sehalus mungkin.

 

“Kok bisa rumah kami dijual?” tanya Ibu tanpa tedheng aling-aling.

“Memang seharusnya dijual. Ibumu itu punya banyak utang padaku.”

“Kenapa tidak meminta padaku?”

“Kelamaan!”

“Buklik ini tega sama saudara sendiri ya! Sudah tahu rumah itu menjadi hakku. Belum cukup satu rumah dijual gara-gara trik Buklik!”

“Kamu itu bukan anak kandung. Dalam agama, anak kandung tidak berhak mendapat wasiat. Sudahlah urus ibumu!”

 

Kemudian telepon terputus. Mendengar percakapan itu, aku bisa langsung menyimpulkan jika kejadian sewaktu ibu sebelum menikah sama Bapak kembali terulang. Rumah terjual karena ulah adik kedua Nenek sendiri. Aku tak habis pikir mengapa adik Nenek itu sekejam itu.

 

“Sudahlah, Bu. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah ngerumat Nenek dengan baik.”

 

Ibu mengangguk. Ia tersenyum.

 

“Mungkin ini teguran juga. Ibu terlampau fokus sama kerjaan dan keluarga di sini. Sementara Nenek dibiarkan sendiri.”

“Ibu berhenti menyalahkan diri sendiri.”

 

Seusai itu, aku melirik mata ibu. Di sana kutahu biji matanya setenang burung kenari. Kemudian, ibu kembali diam seperti jam dinding yang menempel di tembok kamar yang tak berkutik tanpa baterai. Melihat itu, sifat sedihku kembali kumat.

 

“Ibu harus bicara sama Nenek!”

 

Ibu lalu meninggalkanku dengan kaki yang tergesa-gesa. Aku pun langsung membuntuti dan menemukan Ibu di kamar Nenek. Di sana keduanya beradu pandang. Aku terdiam. Menyimak dari luar kamar dan mempertajam pendengaran. Tapi, tak ada suara apa pun. Di sana keduanya seperti berdialog dalam hati. Tentang mimpi-mimpi masa kecil ibu. Tentang kekhawatiran-kekhawatiran masa kecil ibu. Tentang laku hidup ibu di keluarga yang serupa baut kecil yang tak berarti apa-apa dan kapan saja bisa dilepas dan digantikan dengan baut-baut yang lebih baru dan lebih kuat. Kemudian, dari jauh aku memandang melihat keduanya lagi. Baik Ibu dan Nenek bukanlah baut-baut kecil yang pasrah akan keadaan. Mereka sama-sama pondasi kokoh yang membangun dirinya dengan cara sendiri. Dan, keduanya juga memiliki ikatan yang tak bisa dijelaskan lebih rinci.

 

Memang sekarang rumah kenangan itu terjual. Memang mimpi-mimpi dan kenangan atas rumah itu telah hilang. Tapi, mimpi-mimpi ibu merawat Nenek di hari tuanya telah ada di depan mata. Dan, sebagai anak aku akan berusaha mendampinginya merawat mimpi besarnya itu.

  

Malang, 1 Juni 2020

 

Gusti Trisno. Mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang yang memiliki nama lengkap Sutrisno Gustiraja Alfarizi.  Peraih juara 2 Penulisan Cerpen dalam Pekan Seni Mahasiswa Jawa Timur 2016 dan Penerima Anugerah Sastra Apajake 2019. Kumpulan cerpen terbarunya berjudul “Seperti Skripsi, Kamu Patut Kuperjuangkan” (Elexmedia Komputindo).

 

Photo by Lucas Pezeta from Pexels

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: