Topbar widget area empty.
Rumah Baru Mujiono Rumah Baru Mujiono Tampilan penuh

Rumah Baru Mujiono

Cerpen Lestari Ambar Sukesti

 

 

Kejatuhan cicak berarti sebuah petaka. Kesialan akan melingkupimu. Rejekimu seret bahkan nyawa kerabatmu ikut melayang. Segala hal yang buruk akan terjadi pada dirimu. Jangan sampai makhluk itu pernah meraba tubuhmu apalagi menginjak-injak kepalamu.

 

Tadi malam saat minum kopi sambil cangkrukan di angkringan dekat kontrakannya, seekor cicak yang mungkin sudah berjam-jam mengintainya tergelincir. Jatuhnya pun menimpa kepala lalu melompat ke tangan kirinya.  Secara reflek tangan kanan yang sedang memegang koran langsung mengibaskan makhluk itu. Plok. Sementara cicak itu lebih lihay menghindar sehingga tak ada secuil koran pun yang mengenainya meski keras  menghempas. Koran hanya mengenai bangku kayu yang sudah kusam warna catnya. Malah si cicak sempat menoleh – seakan mengejek, sebelum melanjutkan perjalanannya di kolong meja yang pengap penuh dengan sarang laba-laba.

 

Dia masih berusaha mengejar cicak yang telah menodainya. Seumur-umur hidupnya di dunia belum ada satu makhluk pun yang sekurang ajar cicak barusan. Maka dia pun mencoba berjongkok dan mengintip di sela-sela kolong. Gelap menghambat penglihatannya. Sambil mengusap rambut kepala yang tak lagi legam meski setiap hari menenggak kopi hitam, dia pun bangkit dan kembali duduk di sudut dekat jendela.

 

Nafsu untuk menyeruput kopi yang sudah kelewat dingin pun sirna. Sebaliknya tangannya dijulurkan untuk meraih sebatang kretek dari toples kaca di hadapannya. Padahal sepanjang cangkrukan sudah dua batang dia habiskan selama ngobrol dengan pengunjung yang datang silih berganti.

 

Obrolan tentang pandemi yang tidak segera berakhir. Pandemi yang menggolongkan tempat tinggal mereka sebagai zona merah. Pandemic yang mengacaukan kondisi  perekonomian. Yang berdagang mengeluh berkurangnya omset penjualan, yang menjadi sopir mengeluhkan sepinya penumpang, yang punya anak mengeluhkan tentang biaya seragam yang harus dibayarkan. Entah segala bantuan dari pemerintah masuk kemana.

 

Beberapa masih menyebut-nyebut dirinya sebagai orang yang beruntung. Mereka mengatakan bahwa dirinya masih memiliki mata pencaharian dan memperoleh penghasilan. Setidaknya perusahaan tempatnya bekerja masih bisa bertahan. Di sisi lain  ada yang masih dia bisa banggakan kepada orang tuanya saat memutuskan mengadu nasib di bumi Joko Tingkir. Menggelandang berbulan-bulan hingga diterima kerja dan bisa menyunting pujaan hatinya. Memboyongnya hingga dikaruniai keturunan meski hanya tinggal di sebuah kontrakan.

 

Bagaimana saat kedua orang tuanya datang berkunjung lalu bermalam disempitnya kontrakan namun semua terpuaskan setelah bisa menggendong cucu mereka. Kini tak lagi boleh mereka saling mengunjungi sekadar jaga diri sebagai ikhtiar agar tidak terpapar covid-19 yang mungkin tertular secara tidak sengaja dari orang yang bertamu atau dalam kendaraan umum yang mereka tumpangi.

 

Namun hari-hari belakangan ini hatinya dihantui ketakutan dan kegelisahan.  Perusahaan mengisyaratkan pemutusan hubungan kerja. Hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, sedangkan dia tak memiliki keterampilan lain. Tetapi bayangan cicak yang jatuh di kepalanya seperti tak mau pergi. Semakin berusaha dihilangkan semakin mengikuti. Mitos yang beredar di desanya bahwa cicak adalah hewan pembawa sial. Ada hal buruk yang menyertainya. Kotorannya yang tercecer di mana-mana serta bau kencingnya yang melebihi kencing anak kecil. Maka cicak termasuk hewan buruan yang paling dicari – di rumah.

 

Dia berusaha menepiskan pikiran-pikiran buruk yang bertarung di otaknya. Bila dia di-PHK kemana akan berteduh. Kontrakannya habis minggu ini. Semua kontrakan pasti akan minta dibayar di depan. Dan pemilik biasanya menaikkan harga untuk sewa berikutnya.

***

 

Mujiono mengamati benang-benang di antara suara mesin yang menderu-deru memekakkan telinga ketika ponselnya berdering berkali-kali. Namun karena nyaringnya suara mesin, dering ponsel pun kalah dan tidak terdengar kalau tidak karena nada getar yang diaktifkannya.  Saat itu barulah disadari ada notifikasi beberapa panggilan tak terjawab dan satu pesan yang masuk. Segera ke ruangan saya.

 

Dia menerawang. Bila ada panggilan dari HRD sudah pasti pertanda buruk. Kalau gak SP-3 ya PHK. Dengan gontai disusurinya lorong-lorong yang menghubungkan lokasinya bekerja dengan ruangan HRD.

 

Dia lepaskan sarung tangan yang menutupi jari-jemarinya lalu dikibaskan hingga debu-debu beterbangan. Celana dan baju lalu ditepuk-tepuk biar tidak nampak potongan benang yang menempel. Canggung. Pintu dan jendela kaca di hadapannya membuat nyalinya ciut seperti  seorang maling ayam menghadapi sebuah persidangan.

 

Dia rasakan telapak tangannya sedingin es. Dia rapatkan keduanya agar masing-masing saling bersentuhan dan hawa panas pun tersalurkan. Dia patut-patut pakaian lalu rambut dirapikan dengan tangannya. Degupan jantungnya semakin menjadi, lebih kencang dari saat berjalan tadi. Bibirnya bergetar. Kakinya bergerak mundur. Ragu. Dia coba kumpulkan segenap keberanian. Bukankah HRD juga manusia seperti dirinya?

 

Tiba-tiba pintu terbuka.

 

“Pak Mujiono? Mari masuk,”

 

Mau tidak mau dia harus mengikuti si empunya suara bila tidak mau dianggap tidak punya tata susila. Dia memandang ruangan berdinding kaca dan berpendingin itu semakin menambah dingin tubuhnya tak seperti ruang kerjanya yang panas. Semua terlihat bersih. Lantai licin seperti tak nampak kotoran melekat. Dengan ruangan seperti ini pasti mereka bahagia dan betah duduk di ruangan ini, pikirnya.

 

HRD tadi seperti memaksa dirinya untuk mengagumi ruangannya atau membandingkan dengan penghasilan yang diterima. Dia ditinggalkan begitu saja terbengong-bengong. Di sudut tampak dispenser dan segala perlengkapan minum. Bisa saja dia membuat secangkir teh untuk mengusir kedinginan namun takut dikatakan lancang. Matanya pun nyalang menatap foto HRD dengan segenap direksi perusahaan terpampang di samping jam. Tampak sangat gagah tidak seperti dirinya – buruh yang kumal.

 

Suara deham tiba-tiba membuyarkan segala angan. Dia lalu mendongakkan kepalanya dan menatap HRD yang sudah duduk di kursinya. Kursi yang bisa berputar itu dimainkannya ke kiri ke kanan sambil tangannya menjulur untuk mengambil sebuah map. Dia betulkan posisi kaca matanya lalu mulai mencermati.

 

“Silakan, pak Mujiono,” ucapnya memberi kode agar dia duduk di kursi tepat di hadapannya.

 

Dengan sikap takzim Mujiono berpindah posisi sambil menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya. Baru beberapa detik dia menghenyakkan pantatnya seperti ada sesuatu yang terjatuh di kepalanya. Secepat kilat dia mengambil map di tangan HRD lalu dengan gerakan silat dia tangkis dan tendang. Sang HRD tertawa terkekeh-kekeh.

 

“Cuma laba-laba kecil,” guraunya.

 

Dengan malu-malu dikembalikannya map tadi ke HRD yang mulai berbicara panjang lebar hingga berujung pada satu kata -PHK.

 

“Maaf Pak Mujiono, pandemi covid ini yang menyebabkan manajemen harus melakukan ini semua. Untuk gaji bulan ini bisa Bapak ambil minggu depan sedangkan UPMK akan kami angsur mulai bulan depan,” berkata begitu HRD menyerahkan selembar Surat Keputusan.

 

Cicak, geramnya.

***

 

Tangannya mengepal. Dia tengokkan badannya lalu memandang kembali bangunan yang menyaksikan seorang Mujiono -pengangguran dadakan. Tiga tahun tempat itu menjadi saksi kesungguhan dan tekad serta kerja keras seorang lelaki dari alas jati. Dan hari ini semua berakhir.

 

Tanpa sengaja dia menggumamkan lagu. Cicak cicak di dinding diam diam merayap datang seekor nyamuk, hap, lalu ditangkap.

 

“Puas kamu cicak. Sekarang hidupku hancur. Akulah nyamuk yang kauberangus itu,” teriaknya.

***

 

“Mas, tadi pemilik kontrakan menagih uang kontrak yang sudah habis. Bila tidak kita harus pergi dari sini hari ini juga,” pulang ke rumah Mujiono disambut keluh kesah istrinya yang sedang menggendong bayinya yang masih berusia delapan bulan.

 

“Aaarrrggghhh,” dijambaknya rambutnya. Darah laki-lakinya mendidih. Di sakunya hanya tersisa dua ratus ribu, jelas tidak mungkin untuk menutup uang kontrakan. Kalau saja PHK itu tidak tergesa-gesa. Kalau saja pemberitahuan dilakukan sebelumnya, pasti dia akan menyisihkan sebagian penghasilannya. Biasanya dia akan membayar sewa rumah seusai gajian. Ini kenapa juga pemilik rumah memasang muka garang. Apakah covid-19 ini sudah merubah perangai orang. Semua berlaku atas dasar bendawi dan takarannya adalah rupiah.

 

Mujiono mulai memutar otak. Dia tidak mau dikalahkan oleh keadaan. Dengan berjalan kaki dia mulai mengitari pusat kota. Dilihatnya bangunan non permanen berdiri di pinggir jalan untuk berjualan rokok. Dia menghitung-hitung pasti material yang dibutuhkan melebihi uang yang dimilikinya. Lalu dia langkahkan kakinya ke alun-alun. Banyak becak parkir di situ. Ada yang kosong ada yang ditumpangi pemiliknya sambil menyandarkan bahunya mungkin untuk menghilangkan penat.

 

Sebuah ide terlintas di otaknya. Pernah dia dengar ada becak sewaan. Segera saja didekatinya sebuah kerumunan. Ada yang menatapnya sinis ada yang melempar senyum. Tak berapa lama dia sudah hanyut dalam satu percakapan. Dari mimik wajah mereka terlihat adanya transaksi dan negosiasi  yang menyenangkan dan saling menguntungkan.

 

Malam itu juga Mujiono memboyong keluarganya ke rumah barunya.

 

“Mas mengapa kita berhenti di sini?” teriak istrinya ketika suaminya menghentikan becaknya di lapangan dekat pasar.

“Ini rumah kita Dik,” katanya saat turun dari kemudi becaknya.

“Maksud Mas?”

“Mas menyewa becak ini perhari lima ribu. Uang Mas gak cukup untuk sewa rumah saat ini. Maafkan aku Dik. Setidaknya ada tempat buat tidur Kinan. Kita bergantian menjaganya. Kita bisa tidur di lapangan ini,”

 

Mujiono lalu sibuk menurunkan semua barang bawaan sementara istrinya berjalan ke sana kemari meninabobokkan Kinan yang mulai lelap dalam gendongannya. Selimut dan seprai dipasang untuk menutup celah-celah angin. Jok disulap menjadi tempat tidur yang empuk untuk Kinan. Selembar tikar dihamparkan ke lapangan untuknya dan istri. Berjaga dan bergantian tidur.

 

Tapi entah mengapa setiap Kinan ditidurkan. Bayi itu menangis dan meraung-raung. Ia dan istri bergantian menidurkan Kinan dalam gendongan.

 

Malam semakin gelap.  Mujiono semakin gulita.

 

Lestari Ambar Sukesti lahir di Ambarawa, 7 Juni 1972. Lulus D3 tahun 1992 dan diangkat CPNS tahun 1994 di MTs N Kendal. Tahun 2000 pindah ke SMA N 1 Bergas hingga sekarang ini. Tahun 2005 sempat terpilih mengikuti guru pertukaran selama 5 bulan di Queensland, Australia. Tahun 2018 lulus dari Bimtek Penulisan Sejarah di Semarang dan mendapat peringkat 2. Tahun 2018 mendapat hibah regrant penelitian  tindakan kelas berbasis HOTS dari Seameo Seamolec. Alumnus Kelas Menulis Cerpen Apajake Academy Angkatan I Juli 2020.

 

Photo by Guduru Ajay bhargav from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: