Topbar widget area empty.
Ketika Senja Ingin Pergi Ketika Senja Ingin Pergi Tampilan penuh

Ketika Senja Ingin Pergi

Puisi Rizka Nurlina Damanik

 

 

KETIKA SENJA BERPALING

 

Ada senja yang membara

Ada hati yang enggan berbicara

dan ada rasa yang bermuara

Tumpah ruah menjadi kaldera

Tenanglah senjaku mencoba bersuara

 

Terkadang

Senjamu yang paling bercahaya

dan terkadang senjamu yang paling mencekam

Membuat lakunaku hancur tak teredam

Hai kamu yang selalu kusebut senja

Aku kabarkan ya

 

Seperti biasa

Senja selalu menerangi hatiku yang lara

dan  kau titipkan angin yang membawa cacian

Mengoyak hati dalam-dalam

Kau membingkainya di beranda senja

dan senja pun ikut berkaca

 

Kini terlalu sulit senjaku sekadar bersuara

dan senjaku sudah terlanjur temaram

Sebab senjaku berada di pelosok yang paling dalam

Cerita itu

Pengakuan itu

Biarlah senja yang melupakannya

Perjalanan senja telah usai

Bersama segurat wajah jingga

Senja berbisik

Cukup sampai disini ya

 

Medan, 2020

 

 

 

 

SENJA JUGA PUNYA HATI

 

Ada saatnya senja itu diam membisu

dan ada saatnya semburat jingganya melesu

Senja juga tahu kau berwajah palsu

Lalu

Diam-diam senjamu menghancurkanku

Menyumpal senjaku yang membiru

Dalam belanga rasa kau hantam aku

dan dalam beranda senja kau menabur luka

Kau rembulan

Aku hanyalah selumat tanah yang usang

Esok

Tenanglah

Aku akan berjalan di antara ranting-ranting yang sunyi

dan menengelamkan namamu di ujung senja

 

Medan, 2020

 

 

 

 

REMUKNYA HATI SENJA

 

Di pelupuk senja

Rintik hujan menyelimuti

Langit sunyi

Menyeruput mimpi

Hancur tak bertepi

Di persisian jalan aku menepi

Hatiku sungguh sunyi

Bagaikan bunga yang tak bertangkai

Senja hanya mampu melukis bayanganmu

Semuanya ilusi

Tersadar aku

Kau sudah tidak disini

 

Medan, 2020

 

 

 

 

KETIKA SENJA INGIN PERGI

 

Senjaku lenggana berbicara denganmu

Egokah aku jika senjaku kecewa?

Bahasa senjamu terlanjur merobek hatiku

Aku selalu menelusuri langit senja yang paling terdalam

Ku sudah tak menemukan wajahmu lagi di siluet senja

Senjaku memerah

Sejak kau menikam relung lakukanaku

Semua tentangmu sudah menghitam

Hitam pekat, penuh luka yang mendalam

Aku sudah tertidur di senja yang terlanjur temaram

dan hati yang sudah karam

Pergilah senja

Kita tidak akan kembali lagi di masa-masa itu

Hei senja meskipun begitu

Kau tidak mendekam di detik-detik hampa kan?

Atau

Kau yang belum bisa melupakanku?

 

Medan, 2020

 

Rizka Nurlina Damanik S.Pd, perempuan kelahiran Medan tanggal 05 Mei 1997. Si gadis kue jala yang lebih akrab dipanggil dengan nama Ika. Punya hobi belajar dan menulis. Penulis menyelesaikan studi di Pendidikan Matematika Universitas Islam Negeri Sumatera Utara pada tahun 2019. Adapun motivasi hidup perempuan kelahiran Medan ini ialah “No Day Without Learning”. Perempuan yang berprofesi sebagai guru ini telah melahirkan karya cerpen di bebarapa media massa di Medan. Saat ini penulis aktif di suatu komunitas lisnulis buku. Ika atau si gadis kue jala telah menghasilkan novel pertamanya yang berjudul “I’m Here For You” dan sebuah buku antologi cerpen yang berjudul “Kutasaki”. Karya-karya cerpen yang dihasilkannya termuat di salah satu media massa di kota Medan diantaranya yang berjudul Hujan dan Janjimu; Terpendam. Selain itu, karya-karyanya juga termuat di beberapa buku antologi puisi dan cerpen, seperti 111 Surat Untuk Ibu (2013), Puisi Dari Hati (2020) dan Kumpulan Kertas Impian (2020). Untuk mengenal penulis lebih lanjut, bisa dihubungi melalui surelnya di rizkanurlina97@gmail.com.

 

Photo by Rakicevic Nenad from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: