Topbar widget area empty.
LANGIT MENDENGAR, BUMI MENYERAP hujan dan bumi Tampilan penuh

LANGIT MENDENGAR, BUMI MENYERAP

Puisi Randu Sunerta

 

 

DI AIR  IA MELIHAT BAYANGAN SENJA

 

Tatkala seorang perempuan, di bibir sungai

Dengan lamunan yang dibawa hanyut arus hilir.

Ditatapnya langit petang sembari bergumam;

“di sini surga, aku adalah dosa”

dan dengan tunduknya

di sebagian air deras;

adalah sebuah ketenangan

ia melihat senja, di sana, dalam ketenangan itu.

 

Senja itu menatapnya,

begitupun ia!

ia membayangkan dirinya seperti kayu tua yang dimakan rayap,

yang kelak akan berbaring dengan kedamaian,

di ranjang tanah.

Dan sebelum kelam

ia melontarkan senyum

yang bergelombang seperti kain yang dimainkan angin

sedikit demi sedikit ia beranjak,

lalu hanya tersisa hitam,

dan bias rembulan nan berkibar.

 

Bayang, 2020

 

 

 

 

SUATU HARI NANTI

 

Engkau datang membawa setangkai badik,

yang akan menggorok leher dukaku,

dan darah pada matanya yang tajam adalah sebuah cengkerama,

seperti tatkala, saat kita mengenakan pakaian sama.

 

Kemana engkau dibawanya?

ah, barangkali hujan hari ini adalah dikau,

yang suatu saat menyembur,

dan menumpas segala

selain keelokan yang kugenggam.

 

Bayang, 2020

 

 

 

  

MENUJU PULANG

 

Sedari tadi,

dalam hari yang penuh lamunan

kulihat dari balik kaca

beberapa banteng penguasa jalanan,

ombak, gunung, perbukitan, padang hijau,

dan cerobong asap,

namun jiwaku senantiasa di tanah itu;

di tanah aku tertidur dan tertidur kembali

dalam masa yang panjang.

 

Kudengar kembali

nyanyian-nyanyian pagi

ketika sangkar-sangkar itu terombang-ambing

oleh lembutnya embusan angin,

dan cahaya merah di pondok,

kembali terdengar namun dengan alunan nada

yang berbeda.

 

Di sini mereka terluka,

dan duka telah menggenanginya

dalam perjalanan yang panjang

mereka menujukkan arah pulang

dan sesekali kecup manisnya membangunkanku dari lelap

dari mabuk rindu sepanjang jalan.

 

Bayang, 2020

 

 

 

  

LANGIT MENDENGAR, BUMI MENYERAP

 

Diujarkan dengan gigil

keluh-kesah nan menyembur

dari pangkal lidah,

setiap kata setetes liur jatuh dan diserap tanah

dan suara penderitaan itu

terbang sampai ke telinga langit,

detak waktu,

desir hari

dan mega hitam.

 

Langit tersedu-sedu mendengarnya

diguyurnya apa yang jatuh

sampai tumbuh mekar

dan berbunga hingga menjatuhkan

satu demi satu kelopak duka

yang membebaninya.

 

Bayang, 2020

 

 

  

 

DI SEBUAH SANGGAR

 

Kawanku bertanya

“apa yang kau peroleh menjadi seorang pujangga?”

lalu kuberi ia setangkai permen

sambil menatapku

kulempar sebuah senyum

dan kujawab;

“inilah ia”

 

Bayang, 2020

 

Randu Sunerta, lahir di Bayang, Pantai Barat Sumatera. Menulis esai dan puisi di media. Bergiat di rumah baca Pelopor 19.

 

Foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*