Topbar widget area empty.
Nawaitu Ziarah ke Sarang Angin Negeri Angin Tampilan penuh

Nawaitu Ziarah ke Sarang Angin

Puisi Fuaddin Asrori

 

 

NAWAITU ZIARAH KE SARANG ANGIN

: sebuah memoar perjalanan.

 

/1/

terpanggil rindu, aku ingin lekas terhempas

ke Sarang Angin. melesat secepat isra

menuju padamu.

 

tetapi aku tak punya Burak, sementara Kertosono masih jauh.

kupasrahkan diriku terombang-ambing

dalam laju waktu.

 

/2/

di dalam bus,

seorang perempuan di sampingku

tertidur pulas. tetapi tak sungguh-sungguh pulas.

sebab kurasa, ia sama sepertiku

yang kuasihistoris memejamkan mata,

supaya lebih terjaga

di alam yang

lain.

 

/3/

dari pasar Kertosono lama aku datang kepadamu

membawa puisi dan hujan yang belum reda.

bangunan tua, rel-rel kereta, juga penjual malam itu

seperti menghantarkan pertemuan kita.

 

di dekat genangan, aku pun turun dari kendaraan

dijemput sunyi di persimpangan.

tetapi dalam benak, wajahmu melintas berpendaran

temani aku lewati keremangan.

 

/4/

inilah puisi di ujung sore:

makam-makam membujur, cungkup-cungkup tua,

kamboja putih yang berbunga lebat, dan nisan-nisan marmer

juga genangan-genangan yang disisakan hujan

di antara tanah merah pekuburan.

 

senja tampak berkabung. ia terbaring murung

di atas tilam legum mendung.

 

namun senja yang lain dapat kausaksikan di puisi ini.

sebab tiba-tiba, ia seperti terlompat ke tangan seseorang

yang tengadah sambil bertelut di samping makam

dan memilih khusyuk mengucap doa

kepada yang

tiada.

 

/5/

tak ubahnya bayi.

mereka tandai kesucian itu

dengan busana serba putih

ketika bertawajuh di pondokan itu.

 

mereka datang seperti semut, merubung gula

dan nawaitu ingin mendoakanmu belaka

ketimbang berdoa untuk diri mereka

sendiri.

 

sebab, mereka yakin, bahwa mendoakanmu

hakikatnya akan kembali

kepada diri mereka

sendiri.

 

dari usia memang mereka

tak lagi muda sebab

napasnya telah cukup

di darulfana

 

namun cita-citanya sungguh sangat

sederhana—dan mulia

: kelak ingin menjadi angin saja.

 

allahuma doanya terbang

menuju sorga.

 

/6/

degupku beradu

dengan kereta yang melintas di belakangku.

ketika maqbaroh itu telah sepi peziarah

dan aku telimpuh di samping pusaramu.

telah kauajari aku bertawasul

sebagai bekal salik tasalsul

 

sebab hanya di sarungmu, Kiai

aku berani bergantung, sebagai bebutir debu—atau sepercik air

yang menetes dari bekas wudumu.

dan sebagai santri dungu, aku pun datang

kepadamu sebagai keledai yang ingin

menjadi kuda itu.

 

sebab tak mungkin kupetik

bunga menendang perdu

 

/7/

di taman bahagia ini, Kiai

dadaku yang sunyi merindukan wajahmu kembali.

sebagaimana denyut rindu kembang kamboja

putih di jantung sunyi, menunggu datangnya pagi

ketika suara-suara peziarah dan pezikir

–melenggang pulang, menuju persemadian.

 

barangkali, kesunyian telah menjadi rahasia kita, ruang kita.

ketika wangi renjis hujan dan kemenyan

diamdiam bersembunyi di dalam hidung

dan mewangikan seisi jantung yang berdenyut namamu.

 

tetapi sungguh, Kiai, rinduku padamu belum tuntas

ketika bahkan langit telah sewarna kelabu—menjelang magrib.

ketika suara-suara azan bergema bersahut-sahutan,

memanggilku pulang.

 

barangkali esok, aku mesti pulang, dan menitipkan wasiat kecil

kepada pohon kamboja putih di sekitar makam.

 

tiada lain agar bunganya sudi menemanimu

bersemadi hingga segalanya yang

di bumi luruh habis

tinggal puisi.

 

/8/

di panggung utama, ia berkata:

 

“Assuufi kal-matori.

ya. tempat ini akan selalu mencetak hujan

yang menyirami dan mengairi tetumbuhan

kepada para jemaah sekalian.

 

meski telah tiada, tetapi

seorang yang abrar akan menjelma apa-apa.

ia senantiasa tumbuh dan menyebar

di mana-mana. memberi berkah

kepada siapa-siapa.

 

ia berhuma dan berhuni di tubuh para pencinta,

di lubuk para perindu dan peronda,

juga di dada siapa pun yang tertanam nama

Rabb-nya!”

 

/9/

makam-makam itu selalu mengingatkanku,

agar selalu waspada dalam lelaku

dalam hidup, kematian bukanlah hal baru bagi kita

meski jauh-dekat, kematian tak terhitung jaraknya

tapi tak apa. barangkali, supaya kita dapat mengenal rahasia

 

dari ziarah, aku jadi belajar sesuatu

bahwa kematian kerap mengambil kekasihku lebih dulu

atau siapa pun itu, yang kemudian

menjadikanku semacam perindu

 

aku jadi beranggapan, bahwa kematian serupa bandara

yang dipenuhi orang berlalang-lalu. atau

seperti kereta itu, yang tanpa aba-aba

menjemput kita di stasiun tunggu.

 

bahwa kematian selalu

bersifat menguji

dan kerap menjanjikan pertemuan baru

–bagi cinta, yang lolos jebakan waktu.

 

/10/

tak banyak yang berubah dari rumah ini

di sekeliling, dinding-dinding

dan foto-foto para masyayikh itu

juga belum beranjak dari tempatnya

kurang lebih sama seperti

ketika sowan kali pertama

 

tak banyak yang berubah dari rumah ini

tak jauh beda ketika dulu ia bercerita tentang

Tegalsari. namun kini kudengar kembali

cerita itu dari zuriahnya sebagai pengganti

sebab sosoknya telah menyusul para pendiri

 

di sini, di rumah ini, dulu ia tinggalkan

wasiat agung di sanubari, terngiang dawuh-dawuh

itu lagi. juga cerita-cerita hikmah itu lagi

yang lebih agung dari puisi

 

dan sebelum berpamit dari sini nanti, wahai yang abad al-abid

izinkan aku menjadi ceruk bagi lelatu. di dalam sebuah asbak

yang tak menampung apa-apa

kecuali puntung-puntung kerinduanku sendiri

 

/11/

aku tulis surat ini, Kiai

di pinggiran sungai itu, di timur pondok

di belakang rumah indukmu

berteman kecapung merah

yang juga sendirian. sebab barangkali memang

lantaran kita telah saling menemukan

teman menghikmati kesunyian.

 

maka ketika engkau mengizinkan

aku akan mengatakan pesan hujan

yang sore itu kutemukan miskram

di atas gundukan. menunggang kembang

kamboja putih yang

gugur menjelang petang.

 

lamat-lamat, tawasul kulafazkan.

sebelum tamam kuucap:

selamat jalan.

 

Nganjuk, 2020.

 

*Ditulis sebagai oleh-oleh rohani sepulang dari acara haul KH. Imam Musthofa dan Simbah KH. Muhammad Munawwir (rodhiyallohu ‘anhuma) di Ponpes Al-Mustofa Tegalarum, Kertosono, Nganjuk, pada Selasa, 11 Februari 2020 lalu.

 

 

Fuaddin Asrori, lahir di Ponorogo, pada 23 Rajab 1415 H. Pengikut anime One Piece yang mengaku santri. Tulisannya telah termaktub di dalam sejumlah antologi puisi yang di antaranya: Mengemas Sepi (Pati, 2017), Secangkir Kopi Dari Para Penikmatmu (Kebumen, 2017), Aku Anak Santri (Tuban, 2017), Caraku Mencintaimu (Jakarta, 2017), Marsinah (Tuban, 2018), Babu Tetek (Malang, 2018), dan Sua Raya (Kalimantan Selatan, 2019). Tempat Sunyi untuk Mengembara Seorang Diri adalah kitab puisi tunggalnya yang telah terbit. Selain menjadi tukang kebun di komunitas sastra Langit Malam, kini ia mengelola dunia maya di instagram dan twitter @otakpribumi, atau bisa dihubungi melalui surelnya di fuaddinasrori@gmail.com.

 

Foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*