Topbar widget area empty.
Inovasi Koperasi, Menjadi Gaya Hidup Kaum Muda: Solusi Kemandirian Ekonomi Bangsa cover inovasi koperasi Tampilan penuh

Inovasi Koperasi, Menjadi Gaya Hidup Kaum Muda: Solusi Kemandirian Ekonomi Bangsa

Esai Edrida Pulungan

 

 

Koperasi juga akan mendidik semangat percaya pada kekuatan sendiri (self help). Setidaknya, semangat self help ini dibutuhkan untuk memberantas penyakit “inferiority complex” warisan kolonialisme ( Mohammad Hatta, Bapak Koperasi Indonesia)

 

Koperasi merupakan warisan pemikiran pahlawan bangsa, Mohammad Hatta di masa kolonial. Setelah tiga tahun kemerdekaan, maka berdirilah koperasi, tepatnya pada tanggal 12 juli 1947. Hatta mendorong gerakan ekonomi kerakyatan melalui koperasi yang bertujuan memakmurkan rakyat dengan berlandaskan atas asas kekeluargaan dan bentuk perekonomian yang paling cocok bagi Indonesia adalah ‘usaha bersama’ secara kekeluargaan.

 

Hingga empat tahun kemudian, tepatnya 12 juli 1951, Hatta mengucapkan pidato radio dalam memperingati Hari Koperasi di Indonesia. Gagasannya mengenai koperasi terdapat dalam judul bukunya “Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971)” dengan judul yang bertajuk social kapital dengan 7 nilai semangat koperasi yakni, kebenaran untuk menggerakkkan kepercayaan, keadilan dalam usaha bersama, kebaikan dan kejujuran mencapai perbaikan, tanggung jawab dalam individualitas dan solidaritas, paham yang sehat, cerdas, dan tegas serta kemauan menolong diri sendiri dan menggerakkan keswasembadaan serta otoaktiva dan kesetiaan dalam kekeluargaan.

 

Atas kontribusi Hatta terhadap perekonomian Indonesia, Hatta diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada tahun 1953 saat kongres II di Bandung. Meskipun dalam perjalanan dan perkembangannya di Indonesia mengalami naik surut. Pemerintah sebagai regulator memiliki tantangan agar mampu menggandeng para kaum muda milenial agar tergerak menemukan inovasi, ide-ide segar dan gagasan baru  agar menjadi solusi kemandirian masyarakat di era pandemi. Sehingga ketergantungan subsidi dari pemerintah semakin berkurang, masyarakat kembali menggali karakter bangsa dan kearifan lokal yang termaktub dalam filosofi koperasi, yakni self help organization. Disamping itu masyarakat juga mengharapkan draft RUU Omnibus law terkait koperasi menjadi payung hukum tumbuhnya pergerakan ekonomi lokal yang merata di seluruh daerah-daerah di Indonesia. Sehingga  harapannya ekonomi Indonesia bisa berlandaskan pada semangat  kebersamaan dimana generasi baru yang terhimpun dalam komunitas bisa membangun banyak start up koperasi. Hal ini juga merukan bagian dari collaborative government mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah serta  kerjasama dengan berbagai sektor swasta dalam mengembangkan koperasi.

 

Karena dengan bergabung dalam wadah koperasi, para generasi milennial  dapat membuat berbagai inovasi mengembangkan usahanya untuk berbagai kebutuhan masyarakat. Karena  jika dibandingkan dengan negara lain  koperasi di Indonesia membutuhkan program penguatan Koperasi dalam melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas koperasi. Kualitas koperasi menjadi target utama, bukan dari sisi jumlah. Namun dibandingkan dengan negara lain, PDB koperasi secara nasional terlihat memang masih lebih rendah. Misalnya, PDB koperasi di Singapura 10%, Thailand 7%, Perancis 18%, Belanda 18%, dan Selandia Baru 20%. Tingginya PDB tersebut mencerminkan koperasi di negara-negara tersebut sebagai kekuatan ekonomi yang sangat diperhitungkan karena Ketertinggalan PDB koperasi Indonesia juga tantangan yang butuh perhatian serius sehingga  Kementerian Koperasi dan UKM melaksanakan Reformasi Total Koperasi untuk mengubah hal-hal yang prinsip dalam tata kelola koperasi. Reformasi dalam hal mindset atau pola pikir, bahwa koperasi merupakan lembaga ekonomi yang relevan hingga di masa depan. Upaya yang dilakukan pemerintah melakukan reformasi total koperasi, salah satunya adalah, Reorientasi, yaitu mengubah paradigma pendekatan pembangunan koperasi dari kuantitas menjadi kualitas untuk mewujudkan koperasi modern yang berkualitas serta berdaya saing tinggi dengan jumlah anggota aktif yang terus meningkat.

 

 

Koperasi sebagai solusi kemandirian ekonomi masa pandemi

 

Peran koperasi ini penting sekali di tengah pandemi. Koperasi bisa jadi andalan ketika sekarang masyakarat terhimpit persoalan ekonomi. Ada beberapa koperasi warga yang bergerak di bidang sembako dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya. Karena koperasi bisa memberikan banyak kemudahan kepada para anggotanya. Seperti, warga/anggota yang meminjam uang itu sama sekali tidak membayar bunga pinjaman. Selain itu, koperasi ini memfasilitasi pengadaan sembako, pembayaran listrik, persiapan khitanan dan pernikahan sekalipun. Saat warga yang lain kocar-kacir karena terhimpit masalah ekonomi di tengah pandemi. Ini merupakan potret kecil yang terjadi dalam masyarakat kita. Koperasi konvensional dalam masyarakat.

 

Namun Dalam webinar tentang koperasi yang diadakan oleh ikatan alumni Universitas Indonesia (UI) ada pemaparan menarik dari Firdaus Putera, HC Pendiri  Indonesian Consortium for Coorporative Innovation  yang mengkaji inovasi koperasi dengan mengadakan survey pada tanggal 25 mei 2020 yang diikuti oleh 1002 responden dari yang dijaring dari berbagai media sosial menyampaikan bahwa 53, 8 persen mengatakan penting untuk inovasi koperasi dan 23,8 % mengatakan penting untuk adanya inovasi koperasi, sehingga total keduanya adalah 77,6 % mengharapkan inovasi koperasi.

 

Sehingga dari jejak survey di atas, dapat dilihat bahwa inovasi koperasi sangat penting untuk dikelola (remanage) dan rebranding kembali dengan baik karena selama ini meskipun banyak koperasi di seluruh daerah di Indonesia namun dalam realitasnya mati segan hidup tak mau, seperti mati suri dan tidak bernapas. Bahkan berdasar jejak pendapat, persepsi orang terhadap koperasi adalah usaha bersama, kewirausahaan, aktivitas sosial dan komunitas, belum lagi berita- berita koperasi yang negatif karena para pengurus yang melarikan uang anggota atau koperasi abal-abal yang berkedok mengambil uang anggota.    Untuk itu jika melakukan inovasi terhadap koperasi dimasa depan dengan memikirkan berbagai hal yang menjadi isumendasar terhadap koperasi seperti, jumlah pendiri, kelembagaan, kepemilikan, voting, tata kelola serta modal yang harus diketahui seluruh anggota secara terbuka dan azas kekeluargaan. Karena jika dibandungkan dengan praktik koperasi di negara lain jumlah pendirinya lebih sedikit, misal Kanada, Uni Eropa, Australia dengan jumlah pendiri 3-5 orang, sedangkan Singapura, Malaysia, Jamaika, India  dengan jumlah pendiri 5-10 orang, sedangkan Indonesia  berdasarkan UU 17/2010 syaratnya minimal 20 orang hingga adanya draft RUU omnibus law dengan syarat pendiri 3 orang. Inovasi melirik kembali koperasi agar lebih modern dan jadi life style ditengah  para generasi anak muda yang dinamis dan visioner sangat penting, karena jika koperasi didirikan seperti start up tentu banyak anak muda yang tergerak dengan melakukan inovasi berbasi teknologi/digital.

 

Tentu saja perlu perjuangan yang ekstra dalam membawa koperasi di Indonesia menjadi lebih inovatif menghadapi era revolusi 4.0. dan berdampak secara ekonomi pada masyarakat. Sehingga inovasi merupakan tantangan baru karena koperasi tak sekadar usaha bersama dan cara berbisnis di era digital, melainkan juga mengubah mindset dalam sistem tata kelola secara menyeluruh dan harus mampu beradaptasi dan bertransformasi secara dinamis

 

Koperasi harus dikampanyekan kepada anak muda dengan lebih kreatif dan inovatif seperti mengarah pada pengembangan aplikasi, termasuk aplikasi pelayanan anggota dan bisnis. Upaya transformasi ini dimaksudkan meningkatkan kinerja usahanya. Teknologi bisa dijadikan alat koperasi dalam menerapkan strategi  dan pengembangan usaha agar lebih menjangkau masyarakat dan dapat meningkatkan daya saing.Untuk itu keterlibatan generasi milenial dibutuhkan guna menjamin eksistensi ‘soko guru’ nasional ini serta mengejar ketertinggalan selama 30 tahun dibanding negara lain.

 

Karena berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), kaum milenial atau penduduk Indonesia berusia 20-35 tahun, pada tahun 2019 ini mencapai 23,77% atau sekitar 64 juta lebih dari total populasi Indonesia yang mencapai 268 juta jiwa. Potensi untuk menumbuhkan koperasi dikalangan anak muda sangat terbuka lebar dengan brand dan atmosfer baru sehingga koperasi tidak dianggap lagi kolot dan jadul.

 

Salah satu implementasinya adalah Koperasi start up adalah salah satu inovasi yang bisa dijadikan sebagai usaha bersama dengan berbagai jenis sesuai kebutuhan misal koperasi sosial (social-coop), koperasi komunitas  (community coop), koperasi flatform (platform co-op), skema worker buy out  (WBO) dan sebagainya sehingga koperasi kembali pada ruh kekeluargaan dan gotong royong sehingga bangsa tidak tergantung sepenuhnya dengan negara lain, misal hutang luar negeri yang semakin membubung tinggi, padahal  Indonesia bisa memberdayakan modal sosial (social capital), kearifan lokal bangsa dengan budaya gotong dan kekeluargaan, saling topang dan bantu dalam kemandirian ekonomi. Karena itu perlu upaya bersama agar koperasi berkembang hingga daerah-daerah di Indonesia dan pelosok desa. Koperasi sebagai gaya hidup diharapkan terus  bertumbuh Indonesia dan lebih mengarah kepada filosofi koperasi, yaitu self help organization. Usaha koperasi akan semakin beragam yang dijalankan bukan lagi terbatas pada koperasi simpan pinjam dan konsumsi saja. Melainkan, usahanya sudah mengarah pada koperasi berbasis teknologi informasi seperti usaha yang digeluti oleh koperasi peringkat pertama dunia.

 

Pelakunya terdiri dari anak-anak muda yang memiliki mindset lebih kekinian, lebih kreatif dan inovatif. Mereka juga memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan usahanya. Koperasi akan menjadi alternatif  solusi untuk masyarakat terlebih dimasa pandemi dengan adanya covid19 sudah mulai banyak koperasi yang menjalankan model bisnis koperasi, dengan core business di bidang pembiayaan, seperti  digital banking, di mana anggota koperasi akan diberikan kemudahan, seperti cek saldo, melakukan pembayaran/pinjaman, dan lain sebagainya, cukup dengan menggunakan aplikasi saja dan tidak perlu mendatangi kantor koperasi. Sehingga tantangan yang harus dihadapi koperasi seperti penguasaan teknologi, penyiapan proses dan sumber daya manusia (SDM) dan pembenahan dengan mengubah mindset atau pola pikir masyarakat terhadap koperasi dan bagaimana model bisnis koperasi itu harus ditata kembali dengan baik dilakukan.

 

Jadi, dalam industri 4.0 konsep utamanya adalah membangun information society. Teknologi melebur ke dalam kehidupan sehari-hari manusia. Pelaku utamanya bukan teknologi, tetapi manusianya. Proses atau model bisnis koperasi di era digital, bentuk koperasi badan hukum bukan koperasi namun dengan model bisnis berjiwa koperasi, yakni gotong royong dan kebersamaan, akan terus berkembang dan bersepakat membuat startup. Hal ini mencerminkan adanya usaha dari para generasi milenial untuk membangun startup baik dalam bentuk koperasi, Perseroan Terbatas (PT), ataupun yang lain dengan berjiwa koperasi, yaitu gotong royong dan kebersamaan. Apa yang dilakukan para anak muda ini bisa merupakan titik masuk untuk mengubah mindset masyarakat tentang koperasi. Jadi, koperasi di masa depan tidak hanya koperasi simpan pinjam atau koperasi multiguna, namun diharapkan kelak akan muncul koperasi dalam berbagai bentuk dan jenis dengan bergabungnya kreatifitas para start up.

 

Inovasi lain adalah anggota koperasi juga merupakan pemegang saham sehingga punya rasa tanggung jawab memiliki, dan mencari ide kreatif, inovatif dan memiliki kemampuan memecahkan masalah. Kemampuan itulah yang diharapkan dapat menggeliatkan koperasi. Jika saja para generasi muda terjun dalam dunia Koperasi kemudian dengan fresh brain-nya menyumbangkan gagasan-gagasan baru untuk berkembangnya Koperasi Indonesia. Tentunya ini akan menjadi sebagai soluisi kemandirian ekonomi  sebab  visi  Koperasi untuk kesejahterahan anggota ditentukan oleh anggotanya. Hal terpenting koperasi mampu menyediakan kebutuhan dan diminati generasi milenial itu. Dibutuhkan penambahan jaringan internet hingga ke desa dalam rangka pengembangan ‘re branding’ koperasi masa depan. Karena masih banyak juga infrastruktir dan teknologi internet yang belum sampai ke desa-desa, contohnya seperti di daerah Aceh singkil baru masuk jaringan internet tahun ini, yang membuat anak mudanya semakin bergairah untuk mencoba bisnis start up koperasi. Berdasarkan survey yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2019 lalu, ada 171, 17 juta  jiwa orang Indonesia yang telah menggunakan internet dari total populasi 264 juta jiwa masyarakat Indonesia. data APJII itu juga menunjukkan dari total penduduk Indonesia pengguna internet, 64,8% di antaranya adalah generasi milenial. Semua potensi itu akan berguna maksimal dengan kehadiran UU Koperasi yang baru.  Undang Undang  yang  mengatur tentang Perkoperasian itu sudah sangat lama yakni tahun UU No. 17 tahun 2012 perlu ditinjau ulang lagi sesuai dengan situasi dan kondisi dunia usaha termasuk  koperasi sudah banyak mengalami perubahan, maka Revisi UU Perkoperasian itu sangat dibutuhkan bagi koperasi di Indonesia.Semoga koperasi akan menjadi nafas baru kemandirian ekonomi bangsa. Kembali berdiri diatas kaki sendiri sejajar dengan bangsa maju lainnya serta, Indonesia berhasil mengupayakan menggeliatnya ekonomi masa pandemi.

 

Edrida Pulungan Lahir di Padang Sidimpuan 25 April 1982, Alumni S1 Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara USU) dan S1 Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Medan (2000-2006), S2 Hubungan Internasional Universitas Paramadina (2010-2012) dan S2 Sosiologi FISIP UI, Serta S3 Ilmu Pemerintahan Universitas Satyagama. Pendiri Lentera Pustaka Indonesia, trainer public speaking Group Training Northern Territory (GTNT), Australia, 2006, Jakarta. Email: edridapulungan1@gmail.com. Penulis Annual Book Darwin High School, Australia 2006, Delegasi Asian Renaissance 2011, Pemenang 10 Tahun Puisi Edisi Jerman Goethe Institute Judul Diatas Langit Eropa, Melamarmu. Aktif menulis opini seputar pendidikan, ekonomi, kepemudaan, hubungan internasional, lingkungan dan perempuan di media dan blog pribadinya edpulungan.blogspot.com serta blog Kompasiana. Mendapatkan anugerah “Perempuan Berpresasti dan Berkarya sebagai ”Penulis Puisi Melayu dan aktivis perdamaian Dunia oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM) pada tanggal 30 Desember 2019. Sekarang bekerja sebagai Humas Sekretariat Jenderal (Setjen DPD RI), Senayan, Jakarta dan Dosen Hubungan Internasional di Universitas Satyagama.

 

(Serial Esai Koperasi dan Ekonomi Rakyat Dekopinda Labuhanbatu)

 

Photo by panumas nikhomkhai from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: