Topbar widget area empty.
  • Beranda  /
  • Opini   /
  • Menakar Kebangkitan Koperasi, Jejak Karakter, Serta Perumusan Ekonomi Rakyat dalam Merespon Sistem Kapitalistik
Menakar Kebangkitan Koperasi, Jejak Karakter, Serta Perumusan Ekonomi Rakyat dalam Merespon Sistem Kapitalistik cover kebangkitan koperasi Tampilan penuh

Menakar Kebangkitan Koperasi, Jejak Karakter, Serta Perumusan Ekonomi Rakyat dalam Merespon Sistem Kapitalistik

Esai Ayis A. Nafis

 

 

Kemiskinan adalah hantu yang setia menjaga kebanyakan rumah di desa -Sapardi Djoko Damono.

 

 

Begitulah kegelisahan yang membenak pada sastrawan besar kita, sebelum benar-benar berpulang ke pangkuan yang Maha Esa di Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan. Minggu pagi !9 Juli 2020, pukul 09.17 WIB dalam  merangkap sisi kepedulian terhadap sesama. Kemiskinan menjadi ketukan-ketukan sederhana tetapi kompleks dalam perwujutan masyarakat sejahtera. Terutama masyarakat-masyarakat akar rumput dalam tatanan sebuah Negara. Dinamisasi kesenjangan ekonomi makin tampak mengenaskan bagi orang-orang yang kurang beruntung dalam percaturan hidup. Hal demikian semakin mengkultuskan bahwa kaum-kaum kapitalis berjiwa hedonis terus mengembara, melalap setiap potensi-potensi kehidupan yang dirasakan kolektif masyarakat menengah ke bawah. Meski sejatinya, pengentasan kesenjangan ini banyak diteliti oleh pakar-pakar, baik dari akademisi, aktivis, hingga instansi pemerintah, lalu melahirkan teori-teori penyelesaian. tetapi semua itu, tak pernah dibiarkan mekar, membatang, merimbun lalu membuah. Semua teori kemiskinan “hanya” menjadi wacana yang tak pernah menemukan juntrungnya. Perumusan tentang teori pengentasan itu, serupa bunyi pada nada kecapi, terngiang-ngiang di telinga lalu susut di lumat udara.

 

Kita mesti sepakat, kemiskinan adalah imbas dari dinamika pola hidup manusia yang terus mengalami krisis juga dekadensi, sebagaimana ungkapan Herbert Marcuse,`”Bahwa kita terasing dari khidupan komunal, dimana kita berada dulu, lebih tepatnya karena tidak punya pendirian (krisis spiritual dan moralitas). Moralitas dalam pengaplikasian sifat pribadi. Padahal kita telah menerapkan apa yang dirumuskan seorang filsuf zaman postmodern, Yakni Karl R. Popper. Filsuf kelahiran Wina, Austria tahun 1902 M itu. Model masyarakat terbuka (The Open Society) atau demokrasi (Masykur Arif Rahman ; 2013)  Karena dalam bentuk ini, masyarakat dapat mengemukakan kritik serta mengusulkan pemecahan masalah. Tetapi kenyataannya, keinginan untuk hidup sejahtera masih terus menjadi angan. Masyarakat-masyarakat, yang kata Sapardi selalu di hantui kemiskinan” terus beranak-pinak di sekujur tanah pertiwi. Terutama akibat mewabahnya Covid-19 yang menambah persoalan publik. Hal ini diprediksi oleh Akhmad Akbar Susamto, ekonom dari lembaga ekonomi Kajian Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia. Akbar mengatakan, jumlah penduduk miskin Indonesia akan mengalami kenaikan pada triwulan ll 2020. Potensi peningkatan jumlah penduduk miskin ini terjadi akibat dari dampak pandemik Covid-19. “Pandemi Covid-19 tak hanya berpotensi menghilangkan lapangan kerja dalam jumlah besartetapi juga meningkatkan kemiskinan secara masif.” Katanya dalam keterangan resmi seperti di kutip Antara, selasa 5 Mei 2020.

 

Akbar menjelaskan, peningkatan penduduk miskin berpotensi terjadi sebab mayoritas penduduk memiliki kesejahteraan mendekati kemiskinan. Ia menyebutkan, penduduk yang dengan tingkat kesejahteraan di bawah garis kemiskinan cenderung menurun, yaitu sebanyak 25,2 juta jiwa atau sama dengan 9,4 persen dari keseluruhan penduduk Indonesia. Meski penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Bersekala Besar) sudah di terapkan -dengan mematuhi protokol Covid-19- tetapi, angka kemiskinan masih terus mengalami peningkatan. Apa yang mesti dilakukan? Apakah kita tak bias berbuat apa-apa? Jabawabannya satu. Susunlah perekonomian rakyatsecara terencana dengan wadah koperasi.

 

 

Momentum kebangkitan Koperasi

 

Koperasi memiliki sejarah panjang yang rumit dalam membangkitkan gairah masyarakat akar rumput untuk menaklukan hidup. Jika kita menilik pada sejarah, benih-benih pembentukan lembaga koperasi telah tumbuh pada awal abad ke 20. Pada saat-saat itu, pengusaha-pengusaha kecil berkumpul untuk bekerja sama memajukan tatanan kesejahteraannya. Kemudian seperti dikutip pada halaman online, bahwa pada tahun 1896 seorang bangsawan di Purwokerto memilliki ide untuk mendirikan lembaga khusus pegawai negeri. Ia adalah R.A. Aria Wiraatmadja dengan gagasannya, lembaga yang didirikan tersebut bertujuan untuk menolong pegawai negeri, khusus pribumi. Dalam perjalanannya, Jiwa-jiwa idealisme tersebut di adopsi oleh De Wolff van westerrode untuk mengerucutkan pada titik nadir perekonomian rakyat.

 

Lalu, pada tahun 1908, perkembangan koperasi Indonesia benar-benar Nampak di tangan Dr. Sutomo dengan Organisasi Budi Utomo-nya dengan tujuan begitu sederhana, tapi sangat mulia. Yakni, untuk memperbaiki dan menyejahterakan kehidupan rakyat Indonesia. Perjuangan Organisasi pimpinan Dr. Sutomo tersebut membuahkan hasil dengan pembuatan peraturan tentang koperasi, yaitu Verordening op de Cooperatieve Vereeniging di tahun 1915 dan di tahun 1927 diikuti dengan Regling Indlanschhe Cooperatieve. Sejak tahun 1927 tersebut, kelompok-kelompok masyarakat seperti Syarikat Dagang Islam (SDI) serta Partai Nasional Indonesia (PNI), menemukan potensi besar bagi perkembangan ekonomi masyarakat pada lembaga koperasi, lalu menyebarkan semangat itu pada khalayak.

 

Seusai bangsa Indonesia merdeka, pemerintah menilai koperasi sebagai lembaga aktif yang memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Digagaslah kongres pertama di Tasikmalaya pada tanggal 12 Juli 1947 hingga tanggal tersebut dijadikan sebagai Hari Koperasi Indonesia. Dalam perjalanannya, kongres koperasi kedua diselenggarakan di kota Bandung pada tahun 1953 yang melahirkan Pembentukan Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN), program perkoperasian pemerintah juga pengankatan Bapak Koperasi Indonesia, yakni Mohammad Hatta. Menariknya, lembaga independen ini memiliki landasan struktural. Merujuk pada Undang-Undang Dasar 1945. Kiblat tersebut adalah Pasal 33, Ayat (1), Undang-Undang Dasar 1945 dengan penjelasan bahwa Perekonomian disusun sebagai usaha bersama atas asas kekeluargaan.

 

Pancasila, sebagai ideologi bangsa turut menjadi titik tekan dalam pembentukan koperasi. Kelima sila tersebut dinilai koheren untuk mewujudkan masyarakat sejahtera. Lalu tertanamlah sikap tanggap sosial, atau yang kita kenal dengan istilah gotong royong. Sikap-sikap tersebut semacam memberi stimulus positif untuk mengembangkan rasa peduli, tanggung jawab, kerja sama, serta sikap kesatria ‘memiliki harga diri’ untuk menjauhi budaya korupsi yang hingga kini marak terjadi. Landasan-landasan tersebut bertujuan untuk memperjuangkan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat.

 

Momentum kebangkitan koperasi pada masa pandemik seharusnya benar-benar kita maksimalkan. Ditengah “hantu kemiskinan” yang dirangkul Sapardi ini, lembaga koperasi dengan segala sikap, karakter, tujuan, yang melesat ke cakrawala kehidupan diharapkan menjadi solusi demi mengentaskan kemiskinan. Lalu, ekonomi rakyat akan membaik secara bertahap

 

 

Jejak Karakter

 

Terlepas dari potensi demikian, apakah hanya sampai disitu bangsa heterogen ini harus berbenah? Penulis tak menyetujui hal tersebut. Selain menyelesaikan persoalan yang bertumpuk, kita perlu juga menyiapkan generasi bangsa kita kedepan. Anak-anak kita yang menempuh pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar, hingga perguruan tinggi perlu mengamini budaya ber-koperasi ini. Karena, pemuda adalah figur yang menempuh proses sosialisasi. Dengan demikian, mereka memerlukan pengalaman-pengalaman jatuh bangun dalam dinamika menerima dan menolak yang kemudian menjadikan mereka sebagai pribadi dewasa untuk masuk dalam proses kehidupan yang sebenarnya (Daldiyono; 2009)`mereka, adalah pewaris estafet kepemimpinan bangsa kedepan yang mengalami pencarian jati diri. Ditengah ancaman budaya konsumeristik, hedonis, juga apatis yang terencana dalam benak kaum-kaum kapitalistik. Kaum-kaum itu, memarginalkan pola pikir anak-anak bangsa lewat bujuk rayu budaya popular (Popular Culture) yang mulai meng-“hegemoni” pola sikap mereka. Selaras dengan pernyataan Jean Baulliard, ia melihat bahwa penggunaan ruang begitu        di dominasi oleh sirkuit informasi (media massa, iklan) dan ekstase komunikasi. Kenyataan bahwa pola pikir anak-anak diracuni dengan penayangan berbagai macam film, berita, fasion, pola prilaku yang berkiblat pada bangsa-bangsa kapitalis, sedikit demi sedikit mengikis habis kepribadian anak-anak kita.

 

Padahal sikap tanggap sosial, saling menghargai, peduli pada sesama, serta memiliki harga diri adalah sikap yang patut di tumbuhkembangkan untuk nantinya menjadi landasan ketika mereka memimpin bangsa ini menuju perubahan, menuju kesejahteraan rakyat. Dan lembaga koperasi memiliki semua sikap yang dibutuhkan tersebut. Penulis mengasumsikan, jika lembaga koperasi –selain mengembangkan kesejahteraan rakyat secara nyata melalui tindakan- masuk ke instansi-instansi pendidikan untuk men-sosialisasi serta mengajak peserta didik untuk bermitra mengembangkan budaya koperasi. Tentu dengan arahan guru, pegawai koperasi serta wali murid. Keuntungannya, selain membentuk karakter peserta didik, juga akan meringankan beban orang tua dalam persoalan biaya kedepan.

 

Setelah perangkat-perangkat ideologi ber-koperasi itu tertanam pada benak, di masa yang akan datang, kita benar-benar akan menemukan karakter pewaris estafet kepemimpinan bangsa yang paripurna. Sejatinya, secara langsung atau tidak, mereka akan memerangi kaum-kaum kapitalis yang merongrong kekayaan bumi pertiwi, bekerja sama menyejahterakan rakyat-rakyat, terutama rakyat menengah kebawah. Sehingga, kita benar-benar akan mengaplikasikan ungkapan Wiliam James, “Ada sebuah suara dalam diriyang berbicara dan mengatakan ; inilah aku yang sebenarnya.” Dan kekhawatiran-kekhawatiran yang di sesap Almr. Sapardi itu, akan benar-benar fana. Dan abadi di lembar-lembar sejarah. Semoga bangsa ini terus berbenah.

 

Guluk-guluk, 2020 

 

Ayis A. Nafis, Lahir di Sumenep 16 Pebruari ini  adalah alumnus Ponpes Annuqayah dan akan menempuh Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas PGRI Yogyakarta.  Menjuarai beberapa even lomba kepenulisan. Seperti : Juara l LCPN Gapura Satra Indonesia, 2020. Juara l LCP&BP se-kabupaten, STKIP PGRI Sumenep 2020., Juara ll LCPN Univ. Muhammadiyah  Dr. Hamka, Jakarta 2020. Juara lll LCCN Universitas Muhammadiyah Malang, 2020. Juara lll LCPN Gen Fondation Tasikmalaya, 2020. Serta tersebar di surat kabar seperti: Radar Malang, Radar Mojokerto, KoranHarian Bhirawa, Radar Madura, Kabar Madura, Inisiator.com, serta Banaranmdia.com. Bisa di hubungi di rifdalayis@gmail.com ig: @ayisannafis

 

Photo by Markus Winkler from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 8 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*