Topbar widget area empty.

Kira

Cerpen Anggun Safitri

 

 

Pagi ini lebih berisik dari biasanya. Anita membuat kegaduhan yang tak tanggung-tanggung, seluruh anggota keluarga berlarian karena teriakannya. Ibunya yang tengah menyiapkan sarapan, tiba di kamarnya terengah-engah, menggenggam spatula di tangan kanan.

 

Perempuan paruh baya itu, telah bersiap memukul serangga yang berlari dengan cepat di bawah kaki anaknya. Pada saat akan mengayunkan spatula ke lantai, makhluk itu terbang, hinggap di dinding, lalu terbang lagi. Anita tak kuasa menahan rasa geli, takut, jijik pada kecoak tak tahu diri itu. Dua orang saudara laki-lakinya tak mampu lagi menahan tawa. Adik mereka memang sudah biasa terlihat berantakan di pagi hari, tetapi kali ini berantakan yang terparah.

 

Anita masih saja teriak-teriak. Ibunya terus mengayunkan spatula. Sementara dua lelaki di depan pintu kamarnya semakin terguling-guling. Kecoak itu sesungguhnya tak mengganggu gadis berkulit kuning langsat itu, tetapi karena rasa geli dan jijik yang luar biasa, sehingga ia berlari tak tentu arah dan terus membuat kebisingan. Tanpa disadarinya, serangga kecil itu sudah berada di belakangnya.

 

“Kira … Kira … tangkap kecoak itu. Cepat!” teriak Anita.

 

Kira langsung melompat. Dua kakinya bertumpu di dinding, dua lainnya melayang di udara. Ia berhasil membekuk si kecoak sampai seluruh tubuh serangga itu tak bisa bergerak, kecuali antena tipis yang ada di kepalanya.

 

Anita berteriak kegirangan. Diacungkannya dua jempol pada Kira. Ibunya bernapas dengan lega, menepuk pelan kepala Kira, lalu balik ke dapur. Dua saudara lelaki Anita pun memuji-muji Kira.

 

Kira melangkah pelan, menyimpan kecoak di dalam mulutnya, kemudian berlari ke halaman depan rumah. Berkat tindakan heroik itu, Anita memberikan Kira makanan yang banyak.

 

Dua hari lalu, seekor kucing betina berdiri di depan pintu rumah, saat Anita ingin memungut kertas yang terbang dari kamarnya. Makhluk berkaki empat itu, begitu menyedihkan, tak mengeluarkan suara apa-apa, kepalanya sobek, mengeluarkan sedikit darah. Seluruh bulunya basah, padahal hujan tidak tidak turun sama sekali hari itu. Kakinya menggigil. Namun, kucing itu tak ingin berbaring atau terbaring, tetap berusaha kuat meski hampir roboh. Anita iba melihatnya. Lalu kucing itu dibawanya masuk, diobati, diberi makan, minum, dan kotak tempat tidur yang hangat. Kemudian ia beri nama Kira.

 

Baru dua hari menjadi penghuni baru di rumah itu, Kira sudah berhasil mendapat perhatian dari seluruh anggota keluarga. Anita yang paling peduli dari semua. Ia yang menyiapkan makanan untuk Kira, dan selalu punya waktu untuk bermain-main bersama kucing berbulu oranye itu.

 

Seminggu telah lewat. Kira semakin dekat dengan Anita, bahkan gadis itu sering mengajak si kucing untuk tidur atau bermain di kamarnya. Minggu ketigaAnita dan Kira semakin tak terpisahkan.

 

Minggu keempat, orang-orang di rumah itu sudah tak begitu peduli pada Kira. Hanya tinggal Anita yang masih ingat untuk memberi makan si kucing, tetapi gadis itu telah menjadi cukup sibuk. Ia mendapat teman baru yang sering mengajaknya keluar.

 

Meski begitu, Kira selalu setia menunggu di kamar Anita, berharap dapat bermain bersama lagi. Namun, si kucing terpaksa keluar dari kamar gadis itu dengan kecewa. Gadis dengan senyum menawan itu, menyuruhnya keluar, ia tak lagi suka saat Kira menggosok-gosokkan badan di kakinya. Tak pernah lagi mengusap kepala makhluk berkaki empat itu. Beberapa kali Kira mencoba menarik perhatian Anita. satu kali dengan membawakan daging ayam mentah, kali berikutnya membawa ikan mentah, berikutnya lagi membawa tikus hasil tangkapan, tetapi gadis itu malah menjadi murka dan mengusir Kira dari hadapannya.

 

Semakin hari, Anita semakin lupa dengan makanan Kira. Ia sibuk dengan teman barunya, dan si teman baru tak suka dengan kucing. Jadilah Kira semakin terlupakan.

 

Hari berikutnya Kira pergi ke dapur, di sudut ruangan, mangkok berwarna merah muda masih kosong. Kucing itu hanya diam, lalu memandangi rerumputan di luar, melalui celah lubang tempat selang pembuangan air bekas cuci piring. Makhluk itu termenung lama di sana, seolah sedang tenggelam dengan pikiran yang berat.

 

Kemudian, tiba-tiba saja Kira menghilang. Tak tampak di mana pun di seluruh rumah. Hari keempat, setelah pergi diam-diam, barulah kucing itu muncul. Tak ada penyambutan apa-apa dari orang-orang di rumah, bahkan Anita, orang yang paling memedulikannya tak bereaksi apa-apa.

 

Kira tak pernah mengeong lagi, semenjak Anita membentaknya di depan si teman baru. Saat itu Anita sedang bersama temannya di ruang tamu, kemudian bunyi itu keluar dari mulut si kucing. Si teman baru memasang ekspresi jijik mendengar itu, lalu Anita menyuruh Kira diam, dengan wajah ketidaksukaan yang sangat jelas.

 

Di hari Minggu yang tenang. Semua orang di rumah itu sibuk dengan urusan masing-masing. Anita menghabiskan waktu di kamar. Ibunya sedang asyik membaca majalah perempuan di teras. Sedangkan dua saudara lelakinya begitu serius mengurusi kendaraan roda empat milik mereka, mengutak-atik di sana sini.

 

Sementara Kira mempunyai hobi baru beberapa hari belakangan. Kucing oranye itu menghabiskan waktu memandangi air di bak kamar mandi. Kalau ada yang menggunakan kamar mandi barulah kucing itu keluar. Udara di ruangan sempit itu lembab, sama seperti setiap helai bulu di tubuh si kucing yang mulai basah, dan kenangan yang berubah menjelma titik-titik embun.

 

Hari itu tak ada yang berhasrat untuk pergi ke kamar mandi. Kesibukan dengan hobi masing-masing membuat urusan ke belakang menjadi tidak penting. Tetapi, tiba-tiba saja Anita merasa ingin buang air kecil. Gadis itu mendongkol dalam hati,tak banyak minum sejak bangun pagi, hanya segelas kecil air putih. Bagaimana bisa itu mendatangkan hasrat buang air yang tak tertahankan, pikirnya.

 

Ia buru-buru pergi ke belakang. Saat kakinya melangkah di depan kamar mandi, gadis itu terpaku. Matanya membelalak. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya kasar. Kira terbaring kaku di lantai yang basah. Keran air terbuka setengah, sehingga air itu terus mengalir membasahi tubuh si kucing oranye, yang telah menjadi sangat kurus.

 

“Kira! Jangan pura-pura. Bangun kau dari situ, aku mau kencing.” Suara gadis itu bergetar bersama tubuhnya yang gemetar.

 

Kira tak menjawab, kucing itu tak bergerak. Matamakhluk berbulu oranye yang tak lagi berkedip itu, terlihat sangat sendu. Anita memanggil semua orang rumah. Seorang saudara laki-laki Anita, mengangkat tubuh Kira yang telah kaku, lalu menguburnya di halaman belakang rumah.

 

Anita diam saja. Ia benar-benar telah lupa tentang hasratnya hendak buang air kecil. Gadis itu hanya memandangi tanah tempat Kira dikuburkan.

 

Matahari mulai naik, udara perlahan menjadi hangat, tetapi hati Anita begitu mendung. Kenangan-kenangannya bersama Kira muncul bergantian. Baru disadarinya, telah cukup lama ia tak memeriksa tempat makanan kucing itu. Juga tak pernah lagi mendengar makhluk itu mengeong. Kemudiansaudara laki-lakinya datang dan memberi tahu, bahwa Kira mati bersama anak-anak dalam perutnya.

 

Anggun Safitri, lahir di Banggai, 4 Mei 1992, saat ini tinggal Palu, Sulawesi Tengah, suka membaca cerpen, saat ini mengaktifkan diri di komunitas Rumah Gagasan Palu, juga sedang belajar menjadi konten kreator untuk kanal pribadi di YouTube Anggun Ihsan. Menerbitkan 1 novel berjudul, Lihat Aku Tuhan, 1 kumpulan puisi berjudul, Serupa Dandelion. Dapat dijumpai di Facebook Anggun Safitri, Instagram @anggunsafitri92 dan kanal YouTube Anggun Ihsan. Surel anggun.ihsan@gmail.com.

 

Photo by Marko Blazevic from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: