Topbar widget area empty.
MASIH DI SINI Masih Disini Tampilan penuh

MASIH DI SINI

Cerpen Julie Binjie

 

 

Aku mati, atau setidaknya separuh jiwaku mati. Ia pergi, saat hari-hari dengan kejam merenggut udara untukku bernapas. Dua bayang wajah terus mengikuti, bagai hantu yang takmau pergi. Aku mati kali ini, perlahan dan pasti.

***

 

 

Panggilan tanda kebakaran bergema. Aku dan tim berlari menuju truk pemadam yang mengaum tanpa jeda, gegas berlari dengan kencang membelah jalanan kota. Matahari garang menyapu bumi. Kurasa ia benar-benar tengah marah hari ini. Jika sudah begitu, takada yang mampu melawan, bahkan saat segala upaya telah diupayakan.

 

Jalanan penuh, sirine truk memekakkan telinga. Setelah melewati sedikit rintangan, truk berhasil melaju dan tiba di lokasi saat api perlahan mulai melahap rumah semi permanen itu. Aku dan beberapa orang menarik selang dan sesuai aba-aba mengarahkan pipa ke arah kobaran api. Air memancar keras, sekeras api itu coba melawan.

 

“Bam, kamu bantu evakuasi, biar yang lain urus apinya!”

 

Aku tanpa membantah menuju sekelompok orang yang sedang menyelamatkan beberapa barang. Kuraih barang dari tangan seorang wanita dengan wajah menghitam karena asap. Wanita itu mengucapkan terima kasih dan berjalan menghindari bangunan yang sepertinya segera akan runtuh.

 

Hari berakhir begitu saja tanpa disadari. Api padam, aku dan teman-teman memastikan tidak ada sumber api yang masih aktif. Setelah yakin semua aman, truk pulang, membawa wajah-wajah kelelahan namun penuh kemenangan.

 

Bagi sebagian laki-laki, pekerjaan adalah pasangan yang takbisa dipisahkan. Pekerjaanku, walau memiliki jam yang jelas, kadang berakhir tanpa kejelasan. Waktuku bagai ditelan tak bersisa. Konsekuensi yang suka atau tidak, harus aku terima.

 

Situasi di rumahtidak mudah. Keterbatasan waktu yang kumiliki menyebabkan segala sesuatu tidak mudah diterima Joya juga anak-anak. Kalimat sederhana dariku bisa menjadi rumit saat diterima olehnya. Anak-anak tidak banyak mengeluh, tapi tatapan mata itu, aku tahu mereka menuntut waktuku yang tak pernah lengkap bersama mereka.

 

“Kamu lupa janjimu sama anak-anak, Mas.”

 

Aku belum melewati pintu saat kalimat bernada tuduhan, dikirmkan Joya. Badanku yang serasa remuk tak berdaya menjawab. Kulewati saja dia, melemparkan tas dan menjatuhkan tubuhku di sofa.

 

Suara-suara yang tak kuharapkan datang menyerbu dengan tiba-tiba.

 

“Pa, ayo kita beli boneka.”

“Papa sudah janji temani kami main. Ayo, Pa.”

 

Kalimat rengekan kedua bocah itu terus mengalir, seakan takmau berhenti. Aku taktahan, kalimat yang akhirnya kusesali pun terlontar.

 

“Kalian bisa diam tidak? Papa capek, jangan ganggu Papa!”

 

Aku melihat kedua tubuh itu mengkeret dengan wajah memerah dan mata menelaga. Mereka berlari ke arah Joya yang segera membawa mereka ke kamar. Aku kembali merebahkan tubuh sambil memejamkan mata.

 

Rasanya baru saja aku menikmati sejenak kenikmatan lembutnya permukaaan sofa di tubuhku, suara tinggi Joya masuk ke gendang telingaku. Kalimat tuduhan takberalasan, pertanyaan-pertanyaan takperlu jawaban dilengkapi sindiran sinis tentang janji-janji yang telah diingkari.

 

Kata-kata selalu saja tajam. Aku tahu Joya yang kukenal dulu bukan gadis yang pintar berpura-pura. Dia akan selalu mengatakan sesuatu yang menurutnya benar, takpeduli itu menyakitkan bagi yang mendengar.

 

Sebelum ada anak-anak, Joya tidak pernah mengeluh tentang jam kerjaku. Dia selalu menyambutku dengan hangat, tak kira pukul berapa aku akan mengetuk pintu. Pulang saat itu, selalu memberiku rasa damai.

 

Sejak kelahiran si sulung diikuti si bungsu tahun berikutnya, Joya mulai berubah. Semakin berubah saat kedua bocah itu sudah bisa membuat daftar permintaan. Joya yang semula selalu bisa menerima kondisiku, menjadi takpeduli saat alasan sibuk dan lelah kusampaikan.

 

Hari demi hari keributan kecil sering terjadi. Aku telah diingatkan seorang kawan untuk tidak membiarkan hal kecil bercokol dalam hati, karena saat tiba waktunya, si kecil akan membesar. Saat sudah semakin besar dan tak terbendung, ia akan membuncah.

 

Malam ini sepertinya bara yang semula kecil itu mulai berubah menjadi api. Aku terlalu meremehkan hal kecil sehingga saat ia membesar, aku bahkan tidak menyadarinya.

 

“Kamu seharusnya tahu kapan harus berhenti, Mas. Bukan malah terus-terusan memberi alasan yang takpernah berubah sejak dulu, hingga saat ini.”

“Aku keluar, kamu berisik sekali!”

 

Aku tidak melihat bagaimana ekspresi Joya saat kubanting pintu dan melangkahkan kaki ke luar. Dia mungkin terkejut. Atau marah? Biarlah, kurasa aku perlu meredakan api ini terlebih dahulu.

 

Kakiku berhenti di salah satu warung kopi. Penjualnya sudah mengenalku, saat melihat wajahku dia mengangguk dan tanpa kuminta menyiapkan kopi seperti biasa.

 

“Tumben malam, Mas.”

“Suntuk, Pak De.”

 

Laki-laki itu meletakkan gelas sambil tersenyum. “Semoga kopi ini bisa mengobati.”

 

Aku mengangguk, menarik sebatang rokok dan menyulutnya perlahan. Kuisap dalam dan kuembuskan keras ke atas, membentuk gelombang awan memenuhi ruang warung kopi. Sudah lama aku berhenti merokok, walau selalu ada satu bungkus rokok di sakuku. Saat seperti inilah rokok ini kadang berguna.

 

Entah sudah berapa jam aku duduk di warung kopi. Malam semakin renta, pengunjung warung kopi ini pun tinggal satu dua orang saja. Suara binatang malam terdengar bersahutan di kejauhan. Takberapa jauh dari warung kopi ini ada sawah milik penduduk asli daerah ini.

 

Suasana sepi itu mendadak pecah oleh beberapa teriakan. Telingaku cukup tajam saat kata kebakaran terdengar. Aku pamit pada Pak De dan mendekati arah suara itu. Ada sesuatu menggerogoti dadaku, taktahu mengapa.

 

Langkahku semakin rapat saat mendekat ke rumah. Gelombang asap yang mulai menghiasi langit itu sepertinya takjauh dari rumahku.

 

“Mas Bam?”

 

Joya tiba-tiba sudah ada di sampingku.

 

“Aku mencarimu.”

“Kamu biarkan anak-anak di rumah?”

“Mereka tadi tidur, Mas.”

 

Aku rasa semesta punya caranya sendiri memberi tanda. Takperlu waktu lama aku berbalik dan berlari sekencangnya ke arah rumah. Sesuatu yang menggerogoti dadaku tadi terlihat di depan mata. Lidah api menjilati dinding rumah.

 

Teriakan Joya memanggil anak-anak takkudengar. Aku mendobrak pintu rumah dengan mudah. Joya begitu ceroboh tidak mengunci pintu dan meninggalkan anak-anak begitu saja.

 

Aku berteriak memanggil si sulung dan si bungsu. Belum jauh langkahku ketika dua tim pemadam kebakaran menarik paksa aku keluar. Bersamaan kakiku diseret, satu sisi rumahku runtuh.

***

 

 

Tidak ada yang mampu merubah kenyataan bahwa malam itu aku gagal, sebagai ayah, sebagai pelindung di rumah. Hari-hari berikutnya adalah hari-hari penyesalan tiada henti.

 

Aku semakin menenggelamkan diriku dalam lautan pekerjaan yang seakan tiada pernah surut. Tak jarang aku menawarkan diri untuk lembur, menaiki truk yang keluar dan meraung sepanjang jalan. Di lokasi, segala kemarahan kuluapkan pada setiap lidah api yang menyala. Aku belum menyerah hingga reruntuhan itu sempurna basah.

 

“Bam, sudaaah! Ayo!”

 

Aku tidak mendengar, atau memilih tidak mendengar ajakan itu. Teman-temanku terpaksa menarikku kembali ke dalam truk. Dalam perjalanan aku pun kembali tuli dengan semua cecaran kalimat mereka.

 

“Ikhlaskan mereka, Bam. Kautahu keduanya sudah di surga sekarang.”

 

Ikhlas? Mudah sekali mengatakannya. Mereka tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan. Mereka tidak tahu, kenangan terakhir yang kuberikan pada keduanya adalah bentakan. Bagaimana aku bisa memaafkan diriku atas semua yang terjadi pada malam itu?

 

Joya tidak pernah lagi menuntut atas waktuku. Dia membiarkan saja aku pulang pukul berapa, atau kalau aku takpulang sekali pun mungkin juga tak mengapa. Aku menghukum diriku dan Joya di waktu bersamaan.

 

Kami menempati rumah kontrakan takjauh dari tempatku bekerja. Renovasi rumah akan memakan waktu lama. Dengan dana seadanya, perbaikan takbisa kuharapkan selesai segera.

 

“Mas, aku ikut pengajian di musala kampung, boleh?”

 

Malam itu aku pulang lebih awal. Joya sudah menungguku dan mengajakku langsung ke meja makan. Dia hanya menemaniku menghabiskan isi di piring yang telah dia siapkan.

 

Pertanyaannya kusetujui dengan sebuah anggukan. Saat kuangkat wajahku menatap wajahnya, aku sadar telah menciptakan neraka baru baginya. Pendar mata Joya redup. Pipinya semakin cekung.

 

“Kamu tidak makan sekalian?”

“Aku sudah makan, Mas.”

 

Aku tidak tahu dia benar-benar sudah makan atau sekadar mencari alasan. Andaipun Joya sengaja melewati makannya aku rasa itu pilihannya sendiri. Dan jika itu benar, pipi tirusnya sudah menjadi bukti. Atau, akukah penyebab ini semua?

***

 

 

Aku dipaksa pulang. Teman-teman bahkan pimpinan tidak mengizinkan aku naik ke atas truk. Di sini aku, di atas dipan menatap langit-langit kamar kontrakan. Di lantai bawah, Joya sedang tilawah.

 

Alunan tilawah Joya membuat mataku berat. Aku tidak tahu apakah setelah itu aku tertidur atau masuk dalam lamunku sendiri. Apapun itu, semua terasa begitu nyata.

 

“Mas, anak-anak sudah menunggu.”

 

Aku mengangguk dan meraih kunci, mengikuti langkah Joya. Di depan rumah, si sulung dan si bungsu sudah menunggu. Saat pintu mobil terbuka keduanya berebut masuk. Joya menyusul di kursi depan. Mobil berjalan pelan di ujung senja itu.

 

“Papa hati-hati dan harus jaga Mama.” Aku melirik wajah si sulung dari kaca spion tengah. Dia bahkan tidak menatap ke arahku, melainkan pada pohon-pohon yang berlarian di pinggir jalan.

“Adik dan Abang suka di sini, bisa main kapan saja.” Kini si bungsu memecah kesunyian.

 

Aku menoleh pada Joya di sampingku. Dia tersenyum begitu teduh. Pipinya merona, dan binar matanya, adalah surga yang selama ini kutinggalkan. Joya meletakkan tangannya di atas pahaku.

 

Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi takada suara yang keluar. Sekuat tenaga aku mencoba, mulutku tetap takbisa terbuka. Dalam hati aku meminta ampun. Aku bersalah Tuhan, maafkan hamba.

 

Sekali lagi aku mencoba membuka mulutku. Suara teriakanku akhirnya keluar.

 

“Joyaaa!”

 

Aku terduduk dengan peluh membasahi seluruh tubuh. Di sampingku Joya menggengam tanganku dengan wajah cemas. Dia masih mengenakan mukena.

 

“Mas mengigau. Aku ambilkan minum.” Joya kembali dengan segelas air.

“Pukul berapa, Joy?”

“2.30 Mas.”

“Kita salat bersama, tunggu Mas wudu dulu.”

***

 

 

Aku mati, sekali lagi, setidaknya sebagian diriku begitu. Kehilangan tersesat, lalu kembali menemukan jalan pulang. Perputaran yang membawaku terus dalam lautan yang tak bertepi.

 

Pada waktu semesta memutuskan, aku keberatan. Saat ia mengambil sesuatu dariku, aku berencana merebutnya kembali. Tapi rencanaku tinggal rencana bisu tak berarti. Aku seonggok daging yang terlupa, di mayapada ini, aku bukan siapa-siapa.

 

Aku mengalah, lebih tepat pasrah. Sepertinya tidak ada yang bisa kulakukan selain ikhlas menerima. Ada satu hati yang selaiknya harus kujaga.

 

Di samping pusara aku berdiri, memeluk pundak Joya.

 

“Kamu harus ikhlas, Mas.” Kali ini Joya menoleh padaku.

 

Aku mengangguk dan memberinya senyum yang selama ini hilang. Joya berputar berdiri di depanku, kedua tangannya melingkari pinggang dengan kepala yang ia sandarkan di dadaku.

 

“Maafkan Mas, Joy.”

 

Aku belum mati, setidaknya hari ini. Entah kapan Tuhan akan memanggilku kembali. Kapanpun itu, kurasa sudah takpenting lagi. Aku masih di sini, bersama Joya, hingga tiba Pemilik Jiwa menentukan waktuku habis bersamanya.

 

 

Sidoarjo, 20 Mei 2020

 

Julie Binjie lahir di Pekanbaru pada 18 Juli. Pencinta film action dan thriller ini kembali aktif menulis sejak 2019. Ia mengawali menulis dengan mengikuti kelas KMCO, angkatan #15, disusul KPO angkatan #07. Pada Juli 2020 ini baru saja menelurkan buku solo perdana berupa Antologi Cerpen “Meminjam Waktu”. Selain itu, tulisan penulis bisa ditemui di berbagai antologi baik cerpen, puisi, juga quote. Bergiat belajar di COMPETER (Community Pena Terbang), KEPUL (Kelas Puisi Alit). Kini bermukim di Sidoarjo. Email : juliebinjie@gmail.com, IG : amiziryulida.

 

Photo by Tim Eiden from Pexels

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: