Topbar widget area empty.
Hari Memetik Bahagia masa memetik bahagia Tampilan penuh

Hari Memetik Bahagia

Puisi-Puisi Faris Al Faisal 

 

 

kebun puisi

 

pagi-pagi penyair pergi ke kebun puisi

 

memetik matahari .

mengikat buah-buah rindu

nyanyi, sambil memasukkannya ke dalam keranjang

waktu

tidak berlebihan menikmati sebuah

irisan seperti manisan

 

pada pucuk-pucuk daun hijau

bangkit angan dan ingin

setelah embun berderai cair, hangat cahaya

di kening

 

tentu saja,

segalanya akan sunyi jika ditinggalkan

 

penyair harus kembali ke kebun

menanam lagi puisi

merawat akar kata dan bahasa

bagai tangan-tangan kekasih dan ketulusannya

 

Indramayu, 2020

 

 

 

 

hari memetik bahagia

 

di kebunmu, larik-larik puisi berbuah

pada tangkai-tangkai palawija

guguran matahari dan bebunga musim

 

setelah seribu hujan mereda

segenggam biji-biji cinta kulepaskan

tumbuh riang

di atas tanah-tanah bersajak

 

dalam peluh, sekeranjang

manik-manik bebuah

menebus lelah

pada hari memetik bahagia

 

Indramayu, 2020

 

 

 

 

ode bagi penyair

 

sehimpun puisi

sehimpun ode bagi penyair

 

yang kubaca dengan tubuh dan jiwa

yang kuucap dengan gerak

dan salam takzim

 

khatam

 

(mata terbenam dan hati tenteram)

 

Indramayu, 2020

 

 

 

 

irisan masa lalu

 

lelampu mati dan malam merayap jauh

tapi batang matamu nyala, ke titik

api membakar

di mana sunyi itu hening terkapar

menjadi irisan masa lalu

 

ada serpih yang lewat begitu saja

tanpa tegur sapa

dan kau sebisu batu, lalu

menggigil

 

mungkin ia kenangan, menyisakan

igau dalam demam

: gigitan sendu atau mungkin rindu

 

Indramayu, 2020

 

 

 

 

jatuh cinta pada kata

 

seseorang, ya, seseorang

jatuh cinta pada kata

di halaman buku, naskah, dan manuskrip

bahkan pada kata itu sendiri

 

maka ia pun turun berenang

menyelam ke dasar

pusat di mana titik kata tercipta

memungut cahaya

dari balik laut kegelapan

 

seandainya aku mencintai seseorang

tentu kata-kata berperan di sana

 

Indramayu, 2020

 

 

 

Faris Al Faisal lahir dan berdikari d(ar)i Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Namanya masuk buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” Yayasan Hari Puisi. Puisinya mendapat Hadiah Penghargaan dalam Sayembara Menulis Puisi Islam ASEAN Sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara ke-9 Tahun 2020 di Membakut, Sabah, Malaysia, Juara 1 dan mendapat Piala bergilir ‘Lomba Cipta Puisi Anugerah RD. Dewi Sartika (2019), mendapatkan juga Anugerah “Puisi Umum Terbaik” Disparbud DKI 2019 dalam Perayaan 7 Tahun Hari Puisi Indonesia Yayasan Hari Puisi, dan pernah Juara 1 Lomba Cipta Puisi Kategori Umum Tingkat Asia Tenggara Pekan Bahasa dan Sastra 2018 Universitas Sebelas Maret. Tersiar pula puisi-puisinya di surat kabar Indonesia dan Malaysia. Buku puisi keduanya “Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian” penerbit Rumah Pustaka (2018).  Email ffarisalffaisal@gmail.com, Facebook www.facebook.com/faris.alfaisal.3, Twitter @lfaisal_faris,  IG @ffarisalffaisal.

 

Photo by Andre Furtado from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: