Topbar widget area empty.
Ode untuk Puan Ode untuk Puan Tampilan penuh

Ode untuk Puan

Puisi Ardhi Ridwansyah

 

 

ODE UNTUK PUAN

 

Sampai kapan puan pergi?

Keluar dari pintu tuju hari nan lelah,

Mentari sedang sangar, puan,

Dan ia lalap kulitmu yang rekah,

Para bunga ringkuk berpikir tentang puan,

Pinta sebungkah hati puan yang tulus,

 

Puan, tanah tandus mendesis,

Saat air mata puan merintik

Di atas daun kering.

Tanda lain yang bertanya,

Puan mesti pulang.

 

Saat tulang puan mulai layu,

Saat mata puan jadi kemayu.

 

2020

 

 

 

 

PARUT KEPALA

 

Kuparut kepala kopong,

Satu hingga dua jam lari dari genggam,

Terkikis semua rindu nan renung bertahun-tahun.

Serpih noda kotorkan lantai suci,

Saat doa-doa hanya sekadar basa-basi.

 

Tawa saat wajah itu kisut,

Papar mentari siang terik,

Buat ia menjadi tengik, o, kasihan!

 

Momen tiada lain gambar masa lalu,

Yang luntur terbentur air mata,

Perlahan lenyap, perlahan senyap.

 

2020

 

 

 

 

SENYUM DAN CANDA

 

Candamu bawa candu,

Mabuk ombak merayu malam,

Di antara para nelayan yang sibuk berdoa,

Agar ikan patuh dan tunduk padanya.

 

Senyum gila yang mencabik dada,

Tampar kesadaran yang sempat benam:mati.

Dan orang-orang rapal mantra bangkitkan arwah,

Agar rasuk ke tubuh seekor babi yang tertawa.

 

2020  

 

 

 

    

MENCARI IBU

 

Puisi mencari ibu,

“Ibu ke mana?” rengek ia pada kata-kata,

Pada aksara yang sedang sengsara,

Tentang penulis berkisah duka lara.

 

Puisi pergi dari hati,

Cari penawar di toko kelontong,

Beli obat rindu, tiada yang jual,

 

Puisi akhirnya sakit,

Penulis sering curhat padanya,

Namun puisi enggan lepas emosi dengan penulis.

Entah mengapa, mungkin karena penulis adalah manusia,

Yang kadang dengar hanya sebatas ingin.

 

Napas lepas dari puisi,

Dan penulis tertawa lihat puisi mati.

Tiada peduli,

Karena puisi akan bangkit,

Lagi, lagi, dan lagi!

Cari ibu yang menulisnya.

 

2020

 

 

Ardhi Ridwansyah kelahiran Jakarta, 4 Juli 1998. Kini, sedang kuliah di UPN Jakarta. Jurusan Komunikasi. Tulisan esainya dimuat di islami.co, terminalmojok.co, tatkala.co, nyimpang.com, dan nusantaranews.co. Puisinya “Memoar dari Takisung” dimuat di buku antologi puisi “Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019”. Puisinya juga dimuat di catatanpringadi.com dan kawaca.com. E-Mail: ardhir81@gmail.com, Instagram: @ardhigidaw, FB: Ardhi Ridwansyah,

 

Photo by Taryn Elliott from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: