Topbar widget area empty.
Kiprah Pemuda dalam Menyukseskan Pilkada pada Masa Pandemi Pemuda, Pilkada dan Pandemi Tampilan penuh

Kiprah Pemuda dalam Menyukseskan Pilkada pada Masa Pandemi

Esai Kusmin

 

 

Hari Sumpah Pemuda ke-92 diperingati pada Kamis, 28 Oktober 2020. Pada setiap momentum pemuda telah banyak menorehkan kiprahnya masing-masing. Sepanjang sejarah, para pemuda memberikan kontribusinya sesuai dengan keadaan dan tantangan pada saat itu. Setiap generasi menyumbangkan kontribusinya untuk mengatasi tantangan sejarah yang ada pada masanya. Tantangan yang memang kontekstual. Tantangan yang sesuai dengan masa yang terjadi pada saat tertentu. Karena memang setiap sejarah menciptakan tokohnya sendiri-sendiri. Dari sanalah akan memunculkan para pahlawan yang sesuai dengan bidangnya masing-masing. Setiap dimensi kehidupan pasti akan melahirkan para pahlawan.

 

Kini, para pemuda Indonesia mempunyai agenda besar; sesuai dengan realitas yang terjadi saat ini. Pertama, bangsa Indonesia akan melaksanakan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) yang akan diselenggarakan pada tanggal 9 Desember 2020 mendatang. Pilkada itu akan dilaksanakan pada 270 daerah, dengan rincian 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota. Kedua, bangsa Indonesia, bahkan masyarakat bangsa di dunia ini, sedang menghadapi bahaya pandemi  Corona Virus Disease (Covid-19); biasa disebut dengan virus corona. Virus yang terus memakan korban jiwa. Setiap hari bertambah korbannya. Ada yang sekadar terpapar, bahkan ada juga yang harus meregang nyawa karenanya. Sungguh luar biasa wabah ini terjadi, yang sampai sekarang belum ditemukan vaksin dan obatnya. Ini adalah tantangan berat yang harus disiasati dengan bijak.

 

Kedua realitas di atas, harus disikapi dengan arif dan positif. Diperlukan kiprah pemuda secara nyata dalam merespon kedua hal tersebut, agar tidak salah sasaran. Respon yang positif akan memberikan hasil yang lebih optimal untuk kebaikan bersama; masyarakat, bangsa, dan negara. Saat ini diperlukan kontribusi yang positif dan signifikan atas kedua realitas yang ada. Mana kiprah pemuda saat ini? Inilah yang harus ditunjukkan bahwa pemuda saat ini mempunyai eksistensi yang besar serta berkontribusi terhadap masyarakat. Harus dipraktikkan segala keterampilan dan kepiawaan diri. Harus dilakukan agar pilkada berhasil dengan baik serta pandemi covid-19 bisa teratasi. Inilah yang harus diwujudkan pemuda Indonesia.

 

 

Kiprah Pemuda dalam Pilkada Serentak

 

Tahapan pilkada saat ini adalah masa kampanye, yang dimulai dari 26 September 2020 sampai 5 Desember 2020; selama 71 hari penuh. Yang namanya kampanye, pastilah menyampaikan visi dan misi pasangan calon kepala daerah. Visi dan misi disampaikan kepada seluruh publik agar masyarakat umum mengetahui program kerja yang akan dilakukannya nanti setelah pasangan itu memenangi pilkada. Dengan bahasa yang sangat persuasif, para juru kampanye mempengaruhi seluruh warga masyarakat. Siapapun audien-nya harus disugesti untuk memilih pasangan calon kepala daerah setempat yang dijagokannya. Ini adalah kampanye yang sehat. Kampanye yang sesuai dengan ketentuan, bahwa hanya menyampaikan apa yang akan ditawarkan para tim sukses nya kepada publik.

 

Sebaliknya, ada pula kampanye yang salah atau kampanye yang tidak sesuai maknanya; katakanlah Tim A berkampanye, tetapi yang dibahas adalah Tim B. Namun yang dibahas adalah semua kejelekan dan kekurangan yang ada pada Tim B. Inilah kampanye yang tidak mendidik. Inilah yang biasa disebut dengan kampanye hitam (black campaign). Ini namanya kampanye menyalahi takdir. Karena hakikat kampanye adalah memperkenalkan tokoh yang dibanggakan timnya. Jadi, kalau Tim A yang berkampanye, maka Tim A-lah yang dibahas habis-habisan. Segala sisi dibahas; habis dikupastuntaskan. Tentunya dengan bahasa yang super sugestif. Sehingga khalayak ramai bisa dan dengan senang hati memilih Tim yang ditawarkan tersebut. Sejatinya, inilah yang dilakukan dalam kampanye.

 

Atas dasar upaya “menjual” jagoannya dalam kampanye. Maka selain kampanye secara nyata, juga sangat marak kampanye di dunia maya. Berbagai sosial media, dan media daring (= dalam jaringan; online) lainnya diramaikan dengan konstestasi pilkada. Semuanya dengan semangat yang berapi-api. Dalam konteks yang seperti inilah pemuda harus berkiprah sebagai elemen masyarakat yang berupaya menjadi katalisator agar tidak semakin keras benturan antara kelompok pendukung dalam pilkada. Kiprah pemuda sangat diharapkan bisa menjadi penengah. Bisa menjadi agen yang mendamaikan dan mendinginkan panasnya suasana pertarungan politik lokal. Karena sesama pemuda tidak jarang ada yang berseberangan kepentingan politiknya. Sehingga membangun massa serta berupaya untuk menang di atas yang lainnya; dengan cara apapun. Tragislah jika itu terjadi.

 

Kiprah pemuda yang diharapkan memberikan pencerahan kepada berbagai pihak yang berseberangan. Kiprahnya harus ada di tengah-tengah keriuhan media daring. Jikapun memang mendukung satu pasangan tertentu. Perlu disampaikan dengan bahasa yang santun. Bahasa yang tidak melukai hati dan perasaan pasangan lainnya. Boleh menjadi tinggi, tetapi tidak menginjak yang lainnya. Bijaklah bersosial media. Sebab, kecerobohan bersosial media hanya akan merugikan diri sendiri. Tidak ada untungnya bagi diri pribadi. Bahkan bukan tidak mungkin ancaman jeruji penjara menanti di depan mata. Hal itu sudah banyak terjadi; kiranya bisa menjadi pembelajaran bagi para pemuda.

 

Jikapun kampanye dilakukan secara nyata; maka peran pemuda harus mengingatkan para juru kampanye, para tim pemenangan, serta pihak lain yang terlibat di dalam tim suksesnya untuk bisa menjaga diri sesuai dengan protokol kesehatan. Banyaknya massa yang berkerumum tentunya akan sangat membahayakan semua pihak. Hal ini dikarenakan memang saat ini kita masih menghadapi masa pandemi yang sangat parah. Pengumpulan massa yang banyak boleh saja, asal sesuai dengan aturan protokol kesehatan. Tambahan lagi, saat ini Komisi Pemilihan Umum telah menyusun regulasi dan aturan yang membatasi adanya kegiatan berkerumunnya massa. Ada banyak aturan yang diterbitkan seiring dengan kampanye dan pandemi. Hal itu semua haruslah menjadi perhatian yang harus dilakukan. Kiprah pemuda di sini adalah dengan tetap memberikan peringatan. Saling mengingatkan kepada peserta kampanye dan tim sukses masing-masing pasangan calon kepala daerah. Tetap dengan protokol kesehatan yang ketat. Inilah yang semestinya menjadi panduan bersama sehingga kampanye berjalan dengan lancar dan mengutamakan faktor kesehatan.

 

Selain itu, kiprah yang dilakukan para pemuda adalah memberikan kesejukan dalam suasana menjelang pencoblosan pada pilkada; 9 Desember 2020. Suasana yang tenang akan memberikan ruang berpikir bagi masyarakat untuk menentukan pilihannya dalam pilkada. Bersamaan dengan itu, kiprah pemuda diharapkan mampu menjadi agen penggerak untuk peningkatan angka partisipasi pemilih dalam pilkada. Hal ini dipandang sangat urgen karena tahun-tahun terakhir memperlihatkan data bahwa masyarakat semakin banyak yang apatis dalam pemilu. Banyak yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam pilkada. Hal ini adalah musuh demokrasi karena banyak yang tidak menggunakan hak pilihnya. Biasa disebut dengan golongan putih (golput). Sungguh sangat disayangkan jika ada warga negara yang tidak memanfaatkan hak suara politiknya dalam pilkada. Hak demokrasinya sendiri diabaikan tanpa memperhitungkan kerugian secara demokratis.

 

Kiprah pemuda harus memberikan pemahaman dan menumbuhkan kesadaran bahwa memilih itu adalah hak konstitusional; hak demokrasi. Sangat disayangkan jika tidak menggunakan hak demokrasinya. Padahal sudah banyak biaya yang dikeluarkan untuk pemenuhan hak demokrasi politik tersebut. Pemerintah dengan susah payah mengupayakan pendanaan untuk pilkada tersebut. Alangkah mubazirnya, sebagian dana pilkada berupa perangkat pilkada seperti kertas suara, yang tidak dipergunakan oleh masyarakat dengan tidak ikut berpartisipasi dengan mencoblos pada hari “H”-nya. Mubazir yang ini bisa diatasi dengan partisipasi pemilih dalam pilkada yang tinggi. Kalaupun bisa sampai mencapai angka 100% yang menggunakan hak suara politiknya. Jika itu bisa terjadi, maka sangat berkualitas pemilu yang berlangsung tersebut. Inilah harapan seluruh penyelenggara pemilu; juga harapan pemerintah secara keseluruhan.

 

 

Pemuda sebagai Agen Sosialisasi Bahaya Pandemi

 

Kiprah pemuda, sebagaimana menyikapi pilkada dalam pandemi di atas, masih banyak lagi kiprah pemuda yang harus dilakukan dalam merespon keadaan pandemi yang berkepanjangan ini. Pemuda harus mampu menyosialisasikan lebih massif tentang bahaya dan dampak nyata bahaya covid-19 yang sudah menjadi pandemi ini. Bahaya pandemi yang sepertinya belum mencapai titik penurunan jumlah kasus. Bahkan kasus yang terjadi semakin meningkat setiap waktunya. Seperti sebuah kurva menanjak yang tidak pernah landai, apalagi kurva yang menurun. Bertambahnya korban menunjukkan bahwa adanya kegagalan dalam menangani kasus pandemi yang sedang berlangsung.

 

Kiprah pemuda sebagai agen untuk menyosialisasikan bahaya covid-19, bisa dilakukan secara kolektif bisa juga dilakukan secara pribadi. Secara kolektif dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur kepemudaan. Secara organisatoris memberikan sosialisasi atau pencegahan. Hal itu disampaikan secara terbuka kepada masyarakat. Lebih mudah tentunya dilakukan secara kolektif, karena banyaknya tenaga yang bisa dilibatkan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam menanggulangi dan mencegah bahaya pandemi covid-19. Kegiatan yang dilakukan akan lebih dirasakan masyarakat, karena dilakukan secara massif dan dalam waktu yang panjang. Kontiniutas dalam sosialisasi akan memberi dampak terhadap tumbuhnya kesadaran warga masyarakat tentang bahaya pandemi covi-19.

 

Sosialisasi bisa dilakukan dengan cara pribadi; orang ke orang lain. Para pemuda secara personal mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada atas bahaya pandemi yang melanda. Ini dimulai dari masyarakat terkecil. Ya, keluarganya masing-masing. Setiap pemuda di dalam lingkungan keluarganya mengingatkan anggota keluarga. Itu saja sudah cukup maskimal; jika memang seluruh pemuda konsisten dan konsekuen terhadap upaya penangulangan dan pemberantasan covid-19. Sebab, negara ini memang terbangun dari komunitas dan koletikvitas keluarga. Akumulasi keluarga inilah yang menjadi sebuah negara.

 

Mengkampanyekan slogan atau semboyan 3 M; menjadi bagian yang tidak terpisah. Mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker, dan menghindari kerumuman; merupakan inti dari salah satu kampanye. Dengan upaya yang kolektif, konsisten, terintegrasi, akan menghasilkan dampak yang positif. Harapannya adalah tersosialisasi dengan baik tentang bahaya pandemi covid-19. Jika hal ini berhasil dengan baik, maka akan sangat mudah untuk memutuskan mata rantai perkembangan virus covid-19 ini. Sayangnya, hal ini belum tersosialisasi dengan baik. Di sinilah dituntut kiprah pemuda dalam memutuskan mata rantai perkembangan pandemi covid-19 ini.

 

Banyaknya masyarakat yang belum sadar terhadap slogan 3 M tersebut, mengharuskan para pemuda mengambil kiprah dengan berbagai cara yang efektif dan pragmatis. Cara yang bisa diikuti dengan mudah oleh masyarakat banyak. Diperlukan langkah-langkah yang benar-benar menyentuh hati nurani mayarakat. Dengan menyentuh hati nurani masyarakat yang ada di sekitarnya, maka akan mudah menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat. Kolektivisme kesadaran masyarakat itu secara perlahan akan menjadi penangkal yang tangguh untuk berkembangnya virus covid-19. Pada akhirnya, dengan kebiasaan hidup masyarakat ini, maka virus covid-19 akan hilang dari bumi ini.

 

Kiprah pemuda dengan mengupayakan sosialisasi bagi masyarakat perlu ditingkatkan. Perlu dikordinasikan bersama dengan seluruh stakeholder. Langkah awal adalah perencanaan yang mapan yang disusun secara bersama. Sehingga ketika dilaksanakan di lapangan tidak terjadi tumpang tindih kebijakan. Serta sinergisitas terjalin dalam aplikasi, baik dalam sosialisasi, maupun upaya penanggulangan pandemi covid-19. Membangun sinergisitas mewajibkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Seluruh stakeholder harus mampu meyakinkan masyarakat tentang bahaya pandemi covid-19. Lagi-lagi, kiprah pemuda menjadi bagian terdepan dalam rangka memaknai kesakralan Hari Sumpah Pemuda ke-72 pada tahun 2020 ini.

 

 

Penutup

 

Kiprah pemuda dalam menyukseskan pilkada pada masa pandemi dimaknakan sebagai upaya dan langkah pemuda untuk menyukseskan pilkada sesuai dengan protokol kesehatan. Pilkada harus berlangsung dengan aman dan damai serta menghasilkan pasangan kepala daerah yang berkualitas. Terlebih lagi, sepanjang rangkaian pilkada dari awal sampai akhir, tidak ada menimbulkan korban karena masa pandemi sedang berlangsung ini.  Pemuda harus bisa bersinergi serta berkontribusi pada dua agenda besar bangsa ini; sukses dalam pelaksanaan pilkada dan sukses mengatasi bahaya pandemi covid-19. Inilah kiprah pemuda yang sangat diperlukan dalam memberi makna atas Hari Sumpah Pemuda tahun 2020.

 

Tidak ada pekerjaan berat, jika dilakukan secara bersama. Inilah saatnya saling memberikan dukungan. Para pemuda harus mempunyai komitmen untuk mendarmabaktikan dirinya untuk masyarakat, bangsa, dan negara. Sebagaimana sejarah mengajarkan tercetusnya Sumpah Pemuda sebagai perwujudan kesatu-paduan para pemuda Indonesia untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.

 

Kusmin, S.Pd., M.Pd. adalah PNS pada Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara. Alumni: S-1 IKIP Medan (1996), S-2 Unimed (2002). Tinggal di Desa Firdaus, Kec. Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara.

 

Foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: