Topbar widget area empty.
Aku Telah Membunuh Kucing Kucing Aku Membunuh Kucing Kucing Tampilan penuh

Aku Telah Membunuh Kucing Kucing

Cerpen  Rega Pratama

 

 

Aku membunuh kucing-kucing itu meskipun harus bersusah payah mencarinya sampai gorong-gorong. Bangkai-bangkai kucing bersimbah darah tergeletak sepanjang jalan, tengah sawah, pinggir kali, dan di mana saja kucing itu bersembunyi. Bukan karena aku membenci binatang menggemaskan itu, melainkan ia telah meresahkan kehidupanku baru-baru ini.

 

Awalnya di Kota Kabupaten ini damai meskipun kucing-kucing liar bersebaran. Semua berubah saat Mbok Bener mendirikan sebuah kerajaan kucing di rumahnya. Sebagai tetangganya aku merasa wajar ia memelihara kucing dengan jumlah yang banyak. Janda tua itu pastinya membutuhkan teman, oleh sebab itu ia mulai memungut kucing-kucing burik dari jalan lalu membersihkannya, memandikannya, merawatnya, dan memberinya nama.

 

Meskipun dibiarkan begitu saja di halaman rumahnya, kucing-kucing itu tidak pernah sekalipun mengganggu, mencuri makanan, atau bersuara seperti bayi kelaparan saat tengah malam. Hebatnya lagi, kucing itu seperti memiliki pikiran dan bisa mengenali siapa mangsanya.

 

Suatu sore, seekor kucing datang ke rumahku. Ada seiris ikan bandeng di meja makan. Kucing itu kurus, matanya mendelik seperti menahan kelaparan. Karena merasa iba, aku memberikan potongan kepala bandeng padanya. Namun yang terjadi bukan seperti dugaan. Kucing itu justru berjalan ke arah karung beras di dapur. Langkahnya semakin pelan, gerak-geriknya semakin waspada. Ia seperti menemukan sesuatu. Tidak lama seekor tikus keluar dari balik karung. Kedua binatang itu beradu pandang. Anehnya tikus wirok itu seperti tidak berdaya setelah memandang mata kucing. Dengan santai, kucing itu mengampiri tikus lalu menggigit tepat di lehernya. Seolah-olah terhipnotis, tikus itu takluk oleh kucing tanpa perlawanan sedikitpun. Aku yang melihatnya pun masih tidak habis pikir. Kucing Mbok Bener bisa menghipnotis?

 

Sebenarnya bukan hal baru jika ada kejanggalan pada Mbok Bener. Keluarganya adalah dukun yang termasyur se-kabupaten. Segala ilmu di luar nalar mereka miliki, termasuk ilmu hipnotis dan gendam. Aku tidak akan heran jika yang melakukan adalah Mbok Bener atau cucu-cucunya. Namun, kali ini seekor kucing yang melakukan. Aku tidak percaya, apakah ia mewariskan ilmu gaib kepada kucing-kucing peliharaannya?

 

Karena rasa penasaran yang terus membesar setiap kali kucing itu datang, aku memberanikan diri berkunjung ke rumah Mbok Bener.

 

“Wah ramai sekali rumah Mbok sekarang.”

“Iya Mas, daripada kucing-kucing ini terlantar di jalan, saya bawa pulang saja buat teman.”

“Oh ya Mbok, ini ada nasi dan makanan kucing. Tidak banyak, tapi cukup untuk makan Mbok dan kucingnya nanti malam. Ya hitung-hitung buat tanda terimakasih karena sudah menangkap tikus di rumah saya.” Aku sengaja membawa sebungkus makanan kucing, tidak patut rasanya berkunjung tidak membawa apa-apa.

 

Namun hal yang mengejutkan terjadi. Mbok Bener tersnyum seolah-olah menolak pendapatku. “Terima kasih Cu, tapi kucing saya tidak makan itu.” Mbok Bener mengeluarkan piring berisi kembang tujuh rupa. Tiba-tiba kucing-kucing yang tersebar itu langsung berkumpul dan memakannya dengan lahap.

 

Seumur-umur baru kali ini aku melihat seekor kucing makan kembang sesajen. Memang tidak masuk akal, tapi akan jadi wajar jika Mbok Bener yang melakukannya. Siapa yang akan heran kepada keturunan dukun yang telah diakui kehebatannya. Bahkan para pejabat sudi jauh-jauh datang hanya untuk mencari wangsit agar menang pilihan.

 

Mbok Bener tertawa kecil khas nenek-nenek yang menakutkan. Aku menaruh bingkisan itu di atas meja dan bergegas pulang. Tidak lama, beberapa tetangga datang membawa bingkisan dengan maksud yang sama denganku. Setelah dua orang yang lari terbirit-birit, datang tetangga lain dengan tujuan yang sama. Aku memperhatikan dibalik jendela. Terhitung sudah belasan tetangga datang hingga hari menjelang malam.

 

Keesokan harinya semakin tidak masuk akal. Saat akan berangkat ke kantor, terlihat beberapa orang mengantri di depan rumah Mbok Bener. Mereka adalah para petani yang sawahnya gagal panen karena wabah tikus wirok yang merajalela. Para petani meminta bantuin kucing-kucing Mbok Bener untuk membasmi tikus sialan itu. Menurut petani yang aku jumpai, kucing-kucing itu harus diberi sebuah mantra yang dirahasiakan agar mau bekerja. Seperti sebuah mesin pembasmi hama, kucing itu menangkap puluhan tikus wirok. Syarat lain yang diberikan Mbok Bener adalah membakar bangkai tikus itu di pojok-pojok sawah, agar tikus-tikus yang selamat tahu jika sawah tersebut sudah dilindungi oleh mantra. Sebagai seorang kepala sekolah dan orang berpendidikan, tentu aku tidak percaya hal semacam itu.

 

Kesaktian kucing-kucing Mbok Bener ternyata sudah meluas ke berbagai desa, bahkan terdengar sampai kota. Sepulang dari sekolah, jalan depan rumahku sudah ramai dengan mobil-mobil mewah. Aku tidak tahu siapa mereka, tapi yang pasti mereka percaya kesaktian kucing Mbok Bener.

 

Hari-hari berikutnya, pengunjung datang semakin ramai. Ada yang dari luar kota dengan bermacam profesi dan kepentingan. Jalan depan rumahku tidak pernah sepi dengan kendaraan, terlebih lagi mereka datang silih berganti sepanjang hari. Seperti tidak kenal waktu, pengunjung itu masih mengantri hingga malam tiba. Ada yang rela tidur di mobil, jalan, ada juga yang menyewa kamar di rumah-rumah warga. Ini tentu mendatangkan rejeki dadakan. Namun aku keberatan, orang-orang itu justru mengganggu. Pengunjung yang bosan menunggu berjam-jam akan menghibur diri dengan berbagai cara, salah satunya memutar musik sampai larut malam. Belum lagi sampah-sampah berserakan tanpa ada yang sudi membersihkan. Jalan depan rumahku sudah seperti selokan.

 

Aku pernah mengadukan praktek Kerajaan Kucing Mbok Bener pada pemerintah desa, tapi bukan persetujuan yang didapat.

 

“Pak Lurah, saya harap bapak dengan tegas menghentikan Mbok Bener segera mungkin!”

“Ada masalah apa memangnya?”

“Bapak tidak lihat? Kedatangan orang-orang itu mengganggu warga dan membuat kumuh desa, Pak!”

“Tidak bisa begitu, kamu tahu? Karena Mbok Bener, desa kita jadi desa yang terpandang dan terkenal. Pembangunan desa ini seperti gapura, hotel, masjid tidak lain dari sumbangan Mbok Bener. Jelas-jelas itu menguntungkan desa. Jangan menyalahkan kucing, kau tahu kan mereka membawa keberuntungan.”

‘Tapi pak..”

“Pokoknya tidak bisa!”

 

Sebenarnya bukan itu alasanku membunuh kucing-kucing Mbok Bener. Ilmu yang diwariskan Mbok Bener pada kucingnya semakin hari semakin hebat saja. Bahkan tidak hanya memburu tikus, dikabarkan kucing tersebut bisa mengendus kasus korupsi. Seekor kucing jantan bernama Merli dikirim ke kabupaten untuk membuktikan kabar burung tersebut. Hasilnya benar-benar diluar pikiran. Baru beberapa minggu digandeng oleh Lembaga Anti Korupsi Kabupaten, Merli sudah menciduk lebih dari 5 koruptor. Berita lain yang beredar, pihak lembaga akan bekerja sama dengan Mbok Bener untuk menyediakan kucing spesialis korupsi yang akan disebar ke kantor cabang setiap daerah.

 

Dalam Koran Kabupaten edisi mingguan, Kepala Lembaga menyatakan sangat puas dengan hasil kerja Merli dan akan mempersiapkan lebih banyak lagi kucing. Kabar lain yang aku dengar, hampir semua koruptor yang tertangkap Merli, ditemukan terbujur kaku dengan mata melotot persis seperti tikus wirok di rumahku.

 

Kucing itu seperti hantu bagi para koruptor yang siap menyergap kapan saja. Kedatangannya yang tiba-tiba sangat mencemaskan,tidak hanya untuk terduga korupsi, tapi juga untuk orang lain. Tidak peduli siapa orangnya jika sudah menatap mata kucing akan terbujur kaku di tempat. Mana ada yang mau tertangkap dengan kondisi tubuh pingsan secara konyol seperti itu?

 

Lama-kelamaan Mbok Bener membatasi jam kunjung sampai pukul sepuluh malam. Pada jam tersebut suasana menjadi damai kembali. Namun tidak damai seperti semula. Dalam rumah sendiri pun aku merasa cemas kalau-kalau kucing Mbok Bener datang. Meskipun aku percaya berita dari lembaga korupsi itu cuma akal bulus pemerintah untuk menggertak koruptor, tapi tetap saja bayangan tikus wirok itu menghantuiku. Apa jadinya seorang kepala sekolah dan orang berpendidikan tertangkap dengan mulut menganga dan mata melotot? Aku mengunci semua pintu dan jendela. Aku tidak mau hal itu terjadi dan anak serta istriku tahu.

 

Tepat saat tengah malam, hal yang aku khawatirkan terjadi. Suara kucing terdengar mengitari rumah dan berhenti di depan. Kucing itu mencakar kaki pintu. Suaranya terus terdengar memanggil-manggil seperti bayi menangis. Tidak lama terdengar seseorang mengetuk pintu. Aku menghiraukannya, tapi ketukan itu semakin keras, seolah memaksa untuk dibukakan pintu. Dengan jantung yang berlarian aku memberanikan diri membukanya. Di belakang celana sudah aku siapkan sebuah golok, kalau-kalau terjadi hal yang gawat. Di balik pintu yang terbuka, sudah berdiri Mbok Bener sedang menggendong seekor kucing yang memandang tajam kearahku.

 

“Kamu harus segera berhenti melakukan hal berengsek itu. Ada bagian yang seharusnya bukan jatahmu, kamu harus tanggung jawab secepatnya. Jika tidak, aku tidak bisa lagi menolongmu.” Wajah perempuan tua itu terlihat sangat serius dan menyeramkan.

“Apa maksudnya, Mbok? Saya tidak mengerti.” Dalam hati, aku masih tidak percaya jika kucing itu benar-benar bisa mengendus kasus korupsi. Padahal sekolah tempatku bekerja jauh dari desa, dan kucing itu belum pernah ke sana.

“Jangan meragukan kucing ini. Sudah sepantasnya kau mengembalikan uang bantuan untuk anak-anak di sekolah. Ini adalah pertama dan terakhir kalinya aku menolongmu. Beberapa hari setelah ini aku akan pergi.” Mbok Bener berlalu begitu saja.

 

Dalam kamar aku masih tidak percaya dengan kejadian itu. Bagaimana bisa seekor kucing tahu aku mengambil uang bantuan sekolah? Aku tidak bisa tidur sampai pagi datang. Beruntung istriku tertidur pulas.

 

Alasan utama aku membunuh kucing-kucing itu adalah kepergian Mbok Bener. Seperti yang ia katakan, tiga hari setelah malam itu ia meninggal dunia. Orang-orang geger dengan kematiannya. Bagi koruptor itu menjadi kabar bahagia. Tidak perlu lagi cemas dan was-was, paling tidak bisa tidur dengan pulas. Namun, tidak denganku. Setelah kematian Mbok Bener, kucing-kucing itu masih berkumpul di halaman rumahnya. Setiap hari mengerang dan semakin buas.

 

Satu hari setelah itu, terdengar para koruptor pingsan dengan kucing di sebelahnya. Kejadian itu berlangsung dibeberapa tempat secara bersamaan. Ternyata ilmu yang diturunkan Mbok Bener abadi dalam tubuh kucing. Justru semakin liar tanpa Mbok Bener yang mengendalikan.

 

Aku membunuh kucing itu di manapun tempatnya. Tidak peduli di jalan, sawah, pohon, gorong-gorong, atau kuburan. Aku tidak akan membiarkan kucing itu datang membongkar rahasiaku. Aku tidak mau tertangkap sia-sia setelah jerih payahku mendapatkan hasil yang sepadan. Kalau saja musuhku saat ini adalah manusia, berapapun biayanya akan aku bayar asalkan selamat. Namun, sialnya kucing tidak bisa disuap apalagi diajak kerja sama. Tidak ada cara selain membunuh mereka.

 

Bangkai-bangkai kucing tersebar, bau anyir bercampur dengan udara sekitar. Tersisa satu kucing yang belum mati, yakni Merli. Ia berada di jalan dengan bangkai-bangkai kucing lainnya. Tidak perlu waktu lama untuk membunuh kucing sialan itu. Golok di tanganku masih cukup tajam untuk menghabisi satu kucing lagi.

 

Kegelapan malam menyembunyikan kaos hitamku. Aku mengendap-endap mendekat dan semakin bersemangat. Setelah Merli mati, hidupku bisa tenang. Namun sebelum golok ditanganku memotong leher Merli, tiba-tiba tubuhku menggigil, kaki dan tangan lemas, keringat bercucuran sekujur tubuh. Bangkai-bangkai kucing yang tersebar tiba-tiba berdiri. Seperti bangkit dari kematian, kucing-kucing itu hidup kembali meskipun dengan kaki pincang dan mulut yang robek. Matanya bersinar tajam penuh dendam. Mereka berjalan menghampiriku sepertimengincar tikus wirok yang tidak berdaya.

 

Aku telah membunuh kucing-kucing itu, dan aku baru ingat,merekapunya sembilan nyawa.

 

 

Rega Pratama lahir di Klaten, 4 Agustus 1998. Menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi maritim di Yogyakarta. Memiliki hobi menulis cerpen dan puisi. Beberapa cerpen menjuarai perlombaan di Yogyakarta, salah satunya dalam Pekan Jurnalistik Universitas PGRI Yogyakarta tahun 2019 dan 2020. Saat ini aktif berkesenian menjadi penyair panggung dan bergabung dalam komunitas Forum Rekap Asa (Frasa) di Solo, Surakarta.

 

Photo by Buenosia Carol from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: