Topbar widget area empty.
Cerita Orang dalam Peti Kabar dari Peti Tampilan penuh

Cerita Orang dalam Peti

Cerpen Nurmansyah Triagus Maulana 

 

 

Serasa baru tidur, kini rasanya terbangun oleh sebuah alur tertata. Tidak seperti biasanya selalu menikmat tidur setelah salat subuh, kata orang memang bukan waktu terbaik. Kini di perantara menuju sadar aku keluar bersua Lek Karto dan Lek Yati. Aku menjumpanya dengan perasaan senang dan risih karena seperti baru saja kemarin sedih menerpa padaku tentang mereka berdua. Entah waktu itu alam dan perasaanku sendiri tak bisa menjelaskan mengapa aku bersedih tentang mereka.

 

“Eh kamu Wan, kok bisa tau tempat ini?” kata Lek Yati sedikit heran. Menurutnya tempat ini begitu populer tapi jarang yang mengetahuinya.

 

Aku sapa hormat seperti halnya keponakan kepada paman dan bibinya. Aku terperangah melihat sebuah cahaya yang begitu benderang, sekelilingnya begitu gelap.

 

“Lek, bangunan itu sepertinya sangat mewah sekali,” ujarku pada Lek Karto.

“Ya kita akan ke sana, sambil mampir ke rumah. Kamu pasti hanya sekali-kali ke sini,” jelasnya.

 

Hawa tentang ketenangan seolah menyatu dalam tubuh ini, kini aku sedang diajak menuju rumah baru mereka. Tentunya melewati bangunan paling mencolok dari tempat pertama aku datang. Beberapa menit perjalanan, memasuki daerah yang lumayan benderang dari tempat tadi. Di sana terdapat rumah kue dengan label “gratis”, aku pun langsung masuk ke rumah kue tersebut. Ketika membuka ada beberapa orang yang sedang menikmati kue dengan coklat karamel dilapisi semacam campuran susu. Siapa pun pecinta manis pasti tergiur melihatnya. Langsunglah aku menuju penjaga rumah kue.

 

“Tempat apa ini? sebesar ini tak ada penjaganya,” celetukku dalam hati

 

Sembari itu aku melihat orang yang baru masuk langsung mengambil kue keinginannya. Kulihat terus beberapa orang melakukan hal yang sama.

 

“Baiklah aku langsung coba ambil saja, lagian tidak ada orang,” sambil mendekati kue yang kuinginkan.

 

Ketika hendak mengambil kue itu tidak bisa kupegang seperti tertembus oleh tanganku. Berkali-kali kulakukan hingga bosan dan memutuskan untuk keluar dari rumah kue itu.

 

“Hei Wan kenapa? Tidak bisa ambil kue ya?” tanya Lek Yati.

 

Aku hanya merasa sedikit aneh saja, kala yang lain bisa mengambil dan aku tidak bisa. Lek Yati kemudian menjelaskan.

 

“Gini Wan, kue itu diperuntukkan orang yang selalu memberi barang kesukaannya. Jadi otomatis rumah itu memberi langsung yang mereka mau,” jelas Lek Yati

 

Lek Yati pun memberiku beberapa koin untuk membeli makanan bungkusan yang berada di pojokan dekat rumah kue. Di sana pula tak ada penjaganya, ketika kudekati kedai kecil koin pun terlempar ke dalam kedai dan keluarlah makanan bungkus hanya berisi tempe.

 

Lekaslah kemudian Lek Karto mengajak ke wilayah lebih terang. Namun roman  wajahnya seakan tak menyertai keindahan itu. Lebih dalam kulihat berbagai macam pancuran, seperti yang kulihat ada pancuran lemon, coklat, strawberi, anggur, dan susu. Semua begitu menggoda, kini Lek Karto memegang lenganku yang hendak menghampiri tempat itu.

 

“Bukan hak kami Wan, jika kau mau minum. Air putih ini mungkin cukup untuk hilangkan sejenak dahagamu,” sodor Lek Karto.

 

Rasa heran pun semakin melekat pada otakku. Padahal sebelum berpindah rumah Lek Karto dan Lek Yati termasuk orang berada. Bagi pikiranku untuk membeli atau memiliki makanan dan minuman enak pun tinggal ambil saja. Aku pun langsung mengambil minuman seperti biasa yang ditukar dengan koin. Sambil beristirahat sebentar sejenak kulihat pemandangan sekitar yang menurutku begitu menggoda, serta penjelasan dari Lek Karto dan Lek Yati yang sebenarnya kurang lengkap karena tak dibuktikan dengan “cicip”. Seperti awan terbang yang dapat membuat nyaman pengemudinya tanpa harus takut bertabrakan. Ada yang sedang menikmati alunan lagu, tapi orang lain tidak dapat mendengarkannya dan penjelasannya pun tidak kuketahui.

 

Kini sampailah aku di inti bangunan paling terang. Kalau daerah ini dianalogikan lampu bagian ini adalah yang paling terang, karena di sekitarnya terbantu oleh cahaya tempat ini. Begitu mewah seperti kastil raksasa dan mengundang decak kagum. Kulihat begitu nyaman, di dalamnya banyak orang yang sedang menikmat santapan dan berbagai kegiatan lainnya. Ada pula bidadari begitu memperindah suasana di kastil itu. Aroma wangi pun masuk ke sela hidung bahkan menenangkan saluran tenggorokan hingga dada. Namun, Lek Karto dan Lek Yati hanya menunggu dari depan kastil. Aku pun menghampirinya.

 

“Lek, ayo masuk aku cuma ingin lihat-lihat. Aku tahu kalian tidak dapat mentraktirku, terpenting bisa melihat saja seperti telah mencicipi kok,” teriakku pada mereka.

 

Mereka pun saling berpandangan, Lek Karto akhirnya menghampiriku dengan senyum padaku.

 

“Wan, kami juga ingin masuk melihat gemerlapan di daerah ini semenjak datang pertama kali,” ujar Lek Karto.

“Lantas?” aku mengintrogasi.

“Begini, hasrat kami sebenarnya lebih besar dari pada dirimu Wan. Kalau yang kau rasakan seperti itu. Kami lebih berkali-kali lipat menginginkan itu,” jelas Lek Karto.

“Sebenarnya ini juga kesalahan kami, tidak mempersiapkan segalanya untuk dapat menikmati segala sedia yang ada di sini,” timpal Lek Yati.

 

Tanpa berlama-lama mereka mengajakku untuk beristirahat menuju ke rumah baru mereka. Perlahan meninggalkan bagian inti menuju ke tempat yang disebut rumah itu. Seiring beberapa menit tak terasa cahaya itu semakin redup, namun tempat paling terang itu tetap terlihat tapi agak sedikit kecil.

 

Sampailah di tempat yang disebut rumah oleh Lek Karto dan Lek Yati.

 

“Kita sudah sampai Wan, maaf ya terlalu jauh tempatnya. Lagian bukan seperti rumah kita sebelumnya yang penuh barang mewah, mobil, kulkas, sepeda motor, kursi santai, ruang keluarga, taman atau pun garasi mobil yang lebar,” jelas Lek Yati.

 

Aku pun menoleh ke kanan dan ke kiri, sungguh sepi, gelap, dan temaram memakan udara sekitarnya. Mereka menunjuk gubuk reot di dekat pematang yang sedang mulai ditumbuhi gulma, tapi di sudut lain sudah mulai tumbuh padi-padi meski hanya sedikit.

 

“Inilah rumah kita Wan, teruslah berjuang di sana. Jangan lupa pula kirimi kami,” ajak Lek Karto yang seraya pandanganku hilang tak sadarkan diri.

**

 

 

Sungguh lelah kala memikirkan sesuatu, sambil aku membawa bunga di tangan kananku. Masih tenang pula aliran air di sawah, belum ada riuh kaki para petani yang siap memanen milik tuan tanah dari kota. Aku ingin mendahuluinya, supaya lebih nikmat memandang alam ini dari keramaian itu. Beberapa menit telah sampailah aku di pusara mereka.

 

Nurmansyah Triagus Maulana, lahir di Pemalang, 24 Agustus 1994. Bekerja sebagai guru bahasaIndonesia di SMP Muhammadiyah Terpadu Moga, Kab.Pemalang di Komunitas Buku Terbuka Pemalang dan Rasi Pena. Alumni Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta. Pernah mendapat Juara III Menulis Cerpen Tingkat Mahasiswa se-Jawa Tengah berjudul Nyanyian untuk Akeh di UPS Tegal 2016. Tulisan lain juga pernah diterbitkan di Radar Cirebon, Pojokpim, Bali Post, Bangka Post dsb. Fb: Nurmansyah Triagus Maulana, IG: noormansyahtriagus24

 

Photo by Evie Shaffer from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: