Topbar widget area empty.
Mencari Ibu Di Kamar Mandi Kamar Mandi Nyanyi Tampilan penuh

Mencari Ibu Di Kamar Mandi

Cerpen Muhammad Noor Fadillah

 

 

Aku sendirian. Air mengalir begitu nikmat di sekujur tubuhku. Musik kesukaanku terdengar sayup dari pengeras suara kecil yang menempel di dinding kamar mandi. Berpadu dengan bunyi air yang keluar deras seperti hujan. Aku bernyanyi sepuasnya.

 

Aku masih ingat. Dulu orang tuaku seringkali memarahiku jika ketahuan menyanyi di kamar mandi. Pintu berbahan kayu tipis itu digedor-gedor. Dari luar terdengar teriakan ayah atau ibu. Katanya menyanyi di kamar mandi dilarang. Bisa dikawini bangsa jin atau semacamnya. Aku yang waktu itu tak tahu harus menjawab apa meski terdengar aneh, hanya bisa menuruti. Bukan percaya pada keyakinan kuno tersebut, hanya tak ingin ayah dan ibu memarahiku. Tapi setelah itu aku kembali menyanyi dengan suara yang lebih kecil.

 

Tapi sekarang sudah berbeda. Aku bahkan bebas menyanyi di manapun, termasuk di kamar mandi. Bukan karena aku tak lagi mematuhi nasihat orang tua, tapi kini aku tahu mengapa ayah dan ibu dulu melarangku. Dan sekarang, semua itu tidak berlaku lagi.

 

Kehidupan kami yang dulu memang serba kekurangan. Uang sering datang tidak lancar. Akibatnya kami menjadi akrab dengan tempe, tahu, telur, dan kecap. Wajar saja, ayah hanya bekerja sebagai tukang cor yang kadang bekerja kadang tidak. Sedang ibu berjualan makanan kecil di depan SD yang jumlah muridnya tidak lebih dari 100 orang.

 

Tentu saja kondisi kami tak begitu baik. Kami tinggal di sebuah rumah kecil yang dibuat dari susunan papan murahan sehingga cepat lapuk. Yang paling tidak aku sukai adalah bagian kamar mandi sekaligus toilet yang kecil dan kotor. Tak ada plafon selain sirap rumah yang langsung terlihat. Sarang laba-laba kerap kali membentang di sudut-sudut kayu tanpa warna dan kawat kecil tempat lampu tergantung. Belum lagi saat hujan, atapnya bocor. Kadangkala cacing-cacing kecil keluar entah dari mana. Aku bahkan sampai menjerit histeris.

 

Aku membuka kran. Airnya mengalir ke bak yang terbuat dari semen seadanya. Tutup bak itu sudah tiada, hanya disumpal dengan kantong kresek hitam. Jika salah menutupnya, air justru meluber keluar. Ibulah yang sering marah jika mendapati air di bak habis. Padahal bukan salahku tapi memang baknya saja yang sudah tak layak.

 

Selesai, aku cepat keluar. Kuyakin tiada yang betah berlama-lama di kamar mandi semacam ini. Di ruang tengah ibu sudah menungguku dengan pakaian jubah dan kerudung panjang yang hampir menutup separuh tubuhnya. Hari ini jadwal pengajian di musholla yang ada di kampung kami. Jangan mengira aku adalah orang yang taat. Ya, seperti tidak boleh menyanyi di kamar mandi, pergi ke pengajian juga aku lakukan dengan terpaksa. Siapa lagi kalau bukan ibu yang memaksa.

 

“Jadi kita tidak boleh berlama-lama di kamar mandi. Apalagi sampai bernyanyi. Ini yang diajarkan nabi kepada kita sebagai umatnya. Kamar mandi itu tempatnya setan,” ucap ustaz saat pengajian.

 

Ibu menyenggolku untuk memberi isyarat agar aku mendengarkan apa yang tadi disampaikan pak ustaz. Aku meng-iyakan saja. Wajah ibu terlihat puas. Seolah ibu ingin mengatakan bahwa menyanyi di kamar mandi memang mutlak menjadi larangan. Ibu semakin khusyuk mendengarkan sambil sesekali mencatat isi ceramah. Biasanya saat di rumah, ibu menceritakan kembali apa yang tadi disampaikan pak ustaz kepada ayah. Danayah suka mendengarnya.

 

Sekarang aku tinggal di kota. Aku bekerja di salah satu bank swasta besar. Begitupun dengan gajinya. Karena itulah aku bisa tinggal di apartemen, meninggalkan rumah masa kecilku yang penuh penderitaan.

 

Aku punya kesimpulan baru. Wajar ibu dan ayah melarangku menyanyi di kamar mandi. Itu karena kamar mandinya memang kotor dan tidak layak. Pantas saja setanmenyukainya.

 

Namun sekarang sudah sangat berbeda. Kamar mandi di apartemenku sangat nyaman sehingga membuatku betah berlama-lama. Dan bernyanyi adalah aktivitas yang amat menyenangkan. Di kamar mandi yang bersih dan nyaman seperti ini, mana mungkin menjadi sarang setan, benarkan?.

 

Ukuran kamar mandiku cukup besar dengan keramik putih disemua sisinya. Antara tempat mandi dan toilet memang menjadi satu. Tapi untuk mandi ada tempat khusus dengan dinding terbuat dari kaca. Di sini tak ada bak mandi. Air mengalir langsung dari shower yang bisa diatur sesuka hati temperaturnya. Ada juga bathtub, salah satu tempat favorit jika sedang banyak pikiran. Berendam dengan air hangat benar-benar bisa menenangkanku. Di belakang pintu masuk terdapat wastafel dan cermin. Ah pokoknya toilet ini sangat nyaman dan lengkap untukku.

 

 

Kembali tentang kedua orang tuaku. Entah kenapa aku malah memikirkan mereka. Sekarang kondisi mereka sudah tua. Ibu yang lebih sering sakit-sakitan. Mereka kerapkali memintaku pulang. Kalau sudah meminta pulang, khususnya ibu, tingkah lakunya seperti anak kecil yang meminta orang tuanya pulang saat itu juga tanpa tahu alasannya. Tentu saja aku tak bisa semudah itu untuk pulang. Harus izin di kantor dulu.

 

Selama ini bukan berarti aku mengabaikan mereka. Tiap bulan rutin aku kirimkan uang untuk kebutuhan mereka. Aku bahkan pernah menawarkan agar ibu dan ayah punya pembantu. Biar aku yang menggaji. Tapi mereka tak mau. Begitupun ayah, aku suruh untuk tidak bekerja berat lagi. Kukira kiriman uang dariku cukup untuk kebutuhan mereka. Tapi ayah keras kepala. Mungkin karena merasa laki-laki dan kepala rumah tangga, ayah terpacu untuk tetap bekerja. Padahal aku tahu, upah yang didapat tidak seberapa dibandingkan tenaga yang harus dikeluarkan. Kalau sudah sakit, yang repot tentu aku juga.

 

Aku jadi terpikir, apakah sebaiknya aku titipkan mereka di panti jompo saja ya? Supaya mereka lebih terawat. Sewaktu-waktu mereka sakit, akan lebih aman karena ada yang membantu dan memantau kondisi mereka. Aku bisa carikan panti jompo terbaik yang mampu merawat orang tuaku. Kalau perlu aku akan jadi donaturnya. Jika mereka tidak mau, sedikit paksaan sepertinya tidak masalah. Semua ini demi baktiku kepada orang tua. Ah, kenapa baru sekarang aku terpikir ide brilian ini.

 

*****

 

 

Lelaki itu mengusap wajah dengan sorban yang ada di pundak kanannya. Keringatnya mulai bercucuran. Kipas angin kecil yang tergantung di dinding musholla tak mampu lagimendinginkan ruangan.

 

“Terakhir dari saya sekaligus pesan untuk kita semua, hendaknya jangan berlama-lama di kamar mandi. Setan senantiasa membisik sehingga kita bisa berpikiran hal-hal burukatau ingin melakukan perbuatan maksiat.”

 

Muhammad Noor Fadillah. Lahir di Martapura, 24 Juni 1998. Tinggal di Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Sekarang sedang menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Seorang penyuka sastra. Anggota Komunitas Pembatas Buku Jakarta. Telah menerbitkan buku kumpulan cerpen pertamanya berjudul “Surat dari Saranjana” (Karyapedia Publisher, 2019). IG: munof.official

 

Photo by Christa Grover from Pexels

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: