Topbar widget area empty.
Sinabella Sinabella 2 Tampilan penuh

Sinabella

Cerpen A. Muhaimin DS

 

 

Perempuan penunggu senja itu bernama Sinabella. Meskipun menunggu adalah pekerjaan paling membosankan di dunia ini. Ia justru menikmati setiap detik yang dilaluinya saat menunggu. Menunggu senja lebih tepatnya. Begitulah aktivitas itu tak pernah ia lewatkan sejak sepuluh tahun yang lalu. Itu semua karena seseorang yang sangat penting, yang selalu lahir dan tergambar nyata dalam setiap bait puisi senjanya.

 

Sesibuk apa pun, pasti ia akan mencari tempat untuk menikmati senja. Kalau pun harus memanjat pohon, itu pasti ia lakukan. Tanpa ragu, tanpa malu, bahkan tanpa perlawanan secuil pun untuk sekedar menanggapi mereka-mereka yang menganggapnya aneh atau mencemoohnya. Ia memilih untuk tidak mau tahu dengan pandangan miring orang sekitarnya. Yang ia butuhkan adalah suasana puitis untuk mengingat seseorang yang sangat penting dalam hidupnya.

***

 

Sinabella, seorang pekerja kantoran yang hidup di tengah kota setengah metropolitan. Terlalu berlebihan memang jika kota kecil itu disebut kota metropolitan. Yang menyerupai dengan kota metropolitan hanyalah jalan-jalannya yang macet. Namun tetap saja kota kecil itu belum bisa disebut kota metropolitan, sebab kota itu masih tidur. Berbeda dengan kota metropolitan yang sebenarnya, ia tak pernah tidur sama sekali. Kota kecil itu pun hanya macet saat-saat tertentu saja. Seperti saat orang-orang berangkat kerja, dan pulang kerja.Dan itulah yang justru dimanfaatkan Sinabella untuk sedikit lebih bersantai di balkon kantornya saat pulang kerja.

 

Letak kantornya memang sangat pas untuk menikmati senja, menjadikan pula satu-satunya alasan untuk tetap bertahan di kantor itu. ruang kerjanya yang berada di lantai tujuh pun sangat ia sukai, sebabsetelah jam kerja ia akan duduk-duduk di balkon lantai tujuh itu dan menghadap ke barat. Menunggu momen matahari tergelincir dan tenggelam ditelan gelap, ia selalu ditemani sebuah buku catatan kecil dengan bolpoin tinta ungu yang ia gunakan untuk menulis puisi.

 

Kantornya memang tak langsung tutup ketika jam kerja selesai. Bisa dipastikan selalu ada saja orang-orang yang lembur untuk menyelesaikan tugas ini dan itu. Alasan menunggu jalan lengang dari kemacetan selalu menjadi jurus utamanya untuk menikmati senja di balkon lantai tujuh ketika ditanya rekan kerjanya.

 

Sebenarnya ia sangat bosan kerja kantoran seperti itu. Terikat dengan jam yang sebetulnya ciptaan manusia itu sendiri. Tapi tidak ada pilihan lain, itulah yang membuat status sosialnya diakui oleh tetangganya. Uniknya, meskipun ia kerja kantoran, tapi ia memilih perusahaan yang bukan sembarang perusahaan. Bahkan acuan utamanya bukan soal nominal gaji yang ia dapatkan. Melainkan soal komitmen perusahaan tersebut untuk menjaga lingkungan dan jaminan sosial bagi masyarakat sekitarnya.

***

 

Libur akhir semester genap hampir tiba. Sinabella pun menjadi satu di antara sepuluh mahasiswa di jurusannya yang sudah dipastikan lulus tepat waktu, empat tahun. Sinabella pun menjadi satu-satunya yang lulus tepat waktu di antara teman seperkopiannya, yang mayoritas suka naik gunung dan kuliahnya terbengkalai.

 

Memang ia dan teman-temannya tak pernah berpikiran untuk membuat sebuah komunitas dari hobi yang mereka tekuni itu. Tapi yang mereka lakukan saat naik gunung pun sama persis dengan mereka yang tergabung dengan komunitas kepecintaan alam. Mereka pun tak pernah meninggalkan sesuatu di atas gunung kecuali jejak, tak mengambil apa pun kecuali foto, dan tak menyimpan apa pun keculai kenangan.

 

Satu lagi yang menjadi komitmen bersama saat mendaki gunung, mereka harus mendapatkan rumah baru dan keluarga baru di desa yang berada di kaki gunungnnya. Dengan kata lain mereka harus menemukan seseorang bahkan satu keluarga yang nantinya akan mereka kenal dekat, sehingga dilain waktu mereka bisa mengunjunginya lagi. Bisa disebut menambah saudaralah yang mereka lakukan itu.

 

Komitmen itu pun mereka jaga sampai di pendakian mereka yang ke 17 kali. Yaitu pendakian di puncak tertinggi jawa. Dan di situ pulalah Sinabella merasakan suasana senja yang hadir tanpa pamrih. Tanpa permisi menerobos celah hati, menghangatkannya, mengiringi detak jantung dan membawa tubuhnya pada puncak kedamaian untuk merasakan getaran-getaran kecil dalam setiap napas yang ia hembuskan. Saat itu pula ia berhasil melahirkan sebuah puisi yang ia beri judul “Sang Senja”.

***

 

Hari itu aku harus mengalah dari tujuh temanku yang semuanya sepakat untuk tidak melanjutkan pendakian, dan memilih bermalam di Ranu Kumbolo. Awalnya aku sedikit kecewa dengan keputusan teman-temanku untuk berhenti di Ranu Kumbolo saja. Padahal kita semua dalam kondisi tubuh yang baik-baik saja, tenaga masih kuat dan logistik pun cukup untuk sampai puncak Mahameru.

 

Semua itu karena Gilang, ia orang yang pertama kali punya ide untuk tidak melanjutkan pendakian sampai puncak. Ia memang yang paling tua di antara kita, dan paling berpengalaman mendaki gunung. Di puncak tertinggi jawa ini pun ia sudah lebih dari lima kali mendakinya. Saat itu, ia hanya bilang kalau kita harus berhenti di Ranu Kumbolo saja. Ia mengajak kita semua untuk bersih-bersih botol-botol bekas yang berserakan di Ranu Kumbolo.

 

Aku pun menjadi orang yang pertama kali berontak dan menolak untuk mengikutinya. Tapi sialnya, semua teman-temanku justru dengan mudahnya mengiyakan apa yang dikatakan Gilang. Dongkol sekali rasanya, aku yang ingin sampai puncak ternyata harus berpuas diri dengan bermalam di Ranu Kumbolo saja.

 

Semua teman-temanku anehnya tak merasa bersalah dengan hanya meninggalkanku sendiri yang merasa kesal. Mereka justru sibuk menyiapkan tenda-tenda lalu membuat kopi dan duduk-duduk bergerombol. Sesekali tenda kita pun mendapat sapaan hangat dari pendaki-pendaki lain. Super kesal dan dongkol rasanya saat Gilang pun dengan gelak tawanya sedang membicarakan puncak Mahameru dengan pendaki-pendaki yang ia temui hari itu.

 

Senyum kecut pun harus kutampilkan hari itu. Dalam hati kumaki Gilang. Tiba-tiba kekesalanku harus kuredam dalam ekspresi wajah yang datar. Pendaki yang tertawa dengannya itu menghampiriku atas saran Gilang. Salah tingkah dan rikuh aku harus bagaimana, akhirnya kutimpali saja sekenanya obrolan pendakiitu. Mereka memanggilku Bella, yang pasti mereka tahu namaku dari Gilang mencoba menenangkan kekesalanku. Tapi cara mereka salah, sebab mereka justru mendukung apa yang dilakukan Gilang, bukan malah menghiburku yang tengah kesal pada Gilang.

***

 

Sinabella, seorang penunggu senja itu hanya menulis puisi senja untuk seseorang saja. Seseorang yang ia pun tak pernah tahu keberadaannya sampai saat ini. Di balkon kantornya itu, ia selalu menghadirkan puisi-puisi barunya tentang senja. Tentu saja puisi itu ia lahirkan untuk menemani puisi pertamanya yang juga tentang senja, dibuatnya di Ranu Kumbolo sepuluh tahun yang lalu.

 

Sore itu Ranu Kumbolo sedang ramai-ramainya. Banyak yang baru turun dari puncak dan memilih bermalam lagi di Ranu Kumbolo atau pula sengaja mendaki sampai Ranu Kumbolo saja. Seperti halnya Sinabella dan rombongannya sore itu semua menikmati suasana senja di Ranu Kumbolo. Meskipun Ranu Kumbolo terkenal indah dengan suasana terbit matahari, ternyata kehangatan suasana senja juga tak kalah indah dan menenangkan hati.

 

Tapi, Sinabella justru merasa kaku. Orang yang yang menyapanya dan membenarkan ide dari Gilang itu menghampirinya yang sedang duduk kesal. Sedangkan yang lain justru bergerombol menikmati kopi dengan candanya yang hangat.

 

Tak buru-buru menanyakan nama ataupun asal, Sinabella justru ingin bersikap cuek saat itu. Seolah tak kehabisan akal, dan menolak menyerah dengan sikap dinginnya, lelaki itu mengambil gitar. Catatan kecil dan bolpoin tinta ungu pun ikut berada di sampingnya.

 

Lelaki itu tak ingin mengganngu seorang Sinabella. Tiba-tiba ia menyanyikan sebuah lagu yang tanpa meminta ijin pada Sinabella, ia memberitahukan judul lagunya itu, “Senja.”

 

Lelaki itu pun menceritakan kalau lirik lagunya itu ia buat di Ranu Kumbolo beberapa tahun yang lalu. Bukan untuk seorang gadis ataupun orang spesial lagu itu ia buat. Ia hanya bilang sangat disayangkan jika di tempat indah seperti ini kita lupa cara bersyukur. Dan cara bersyukurnya lelaki itu adalah membuat puisi yang menggambarkan keindahan suasana alam Ranu Kumbolo.

***

 

Aku memang pecinta musik, bukan ahli musik memang, tapi aku tahu mana lirik lagu yang murahan atau yang penuh makna mendalam. Buku catatan milik lelaki itu akhirnya berpindah ke tanganku. Aku menuliskan sebuah puisi dengan judul “Sang Senja”. Aku bahagia, aku lupa dengan kekesalanku pada Gilang. Aku berhasil berpuisikala senja itu.

***

 

Seperti sore-sore sebelumnya, ia meneteskan air mata di balkon lantai tujuh itu. menatap jalanan yang masih macet. Ia menuliskan sebait kata tentang seseorang yang mengajarinya menikmati suasana senja.

 

Pertemuannya dengan lelaki itu tak pernah terulang untuk kedua kalinya. Bahkan secarik kertas bertuliskan nomor telepon pun tak didapatkan satu sama lain. Hanya sebuah panggilan “Bella” satu-satunya yang mungkin diketahui lelaki itu.

Mungkin ia juga tak tahu, lagu senja yang ia nyanyikan saat di Ranu Kumbolo itu sudah dihapal luar kepala oleh Sinabella. Bahkan puisi “Sang Senja” yang ditulis Sinabella pun sudah berubah menjadi lagu yang indah.

 

Sinabella tetap berdiri nanar memandangi senja sore itu. Ia ingin puisi-puisi yang ia tulis itu pun menemui jalan senjanya sendiri. Bertemu dengan hati, dari pemilik buku catatan kecil dan bolpoin tinta ungu yang kini tak pernah lepas dari tangannya.

 

 

Muhaimin DS , lahir di Nganjuk (Kota Angin). Seorang penikmat cerita dan penyuka perjalanan. Menulis cerpen, puisi dan catatan ringan tentang kesejukan hidup. Lahir di Nganjuk, 26 Desember 1993 dan tinggal Desa Maguan, Kec. Berbek, Kab. Nganjuk, Jawa Timur. Email: Abdul.muhaimin.aim@gmail.com

 

Photo by julie aagaard from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: