Topbar widget area empty.

Tiada Lagi Suara Huqin

Cerpen Yusrin Lie

 

 

Lancang kuning, lancang kuning

Berlayar malam hai berlayar malam

Lancang kuning, lancang kuning

Berlayar malam hai berlayar malam

Haluan menuju, haluan menuju ke laut dalam

……………….

 

Bila malam bertambah malam, alunan musik Melayu akan mengalun merdu, menghangatkan  suasana  diiringi desiran angin dari arah pesisir laut. Lagu seperti Mak Inang Pulau Kampai, Lancang Kuning, Tanjung Katung, Kuala Deli, Hitam Manis dan Selayang Pandang adalah lagu wajib yang tidak pernah absen dalam perhelatan di warung Wak Imran. Berbalas pantun dan berjoget ria dari penonton merupakan menu pelengkap yang akan  menyempurnakan tiap malam minggu.

 

Pukulan rebana Wak Umar, irama petikan gambus Wak Ramli, gesekan maut rebab Wak Azis, pijitan akordian Wak Sulaiman dan ditingkahi tiupan serunai Wak Zul akan menggenapi malam yang semakin tua. Tetapi alunan musik Melayu selalu terdengar indah dan tak pernah  tua, apalagi lelah.

 

Pemandangan itu adalah rutinitas yang berlangsung seminggu sekali di warung Wak Imran. Bagiku tidak ada yang begitu istimewa dengan acara itu. Mungkin karena aku berasal dari keluarga Melayu dan tinggal di kampung pesisir sehingga  aku sudah terbiasa dengan acara-acara yang demikian serta merupakan bagian dari kehidupan masyarakat di sana.

 

Di kala itu, di kampung pesisir kami belum banyak hiburan yang tersedia sehingga perhelatan itu selalu ramai dikunjungi. Meskipun acara itu diadakan seadanya, hanya untuk mengekspresikan bakat dan seni beberapa lelaki paruh baya, tetapi ramai dikunjungi penonton terutama laki-laki yang sebaya mereka. Mereka akan setia mengikuti acara itu sampai selesai. Hanya satu dua ibu-ibu yang mengikuti acara itu, itu pun cuma sebentar saja. Sedangkan anak-anak muda hanya mengikuti awal acara saja, setelah itu mereka akan melalak entah ke mana. Barangkali ke rumah para gadis yang menjadi incaran mereka.

 

Belum banyak penduduk yang memiliki TV. Hanya rumah penghulu Ramlan dan tuan tanah Wak Adnan yang memilikinya. Untuk menonton TV yang masih hitam putih, semua penonton akan tumpah ruah dan memadati rumah Wak Adnan yang sekaligus dijadikan warung untuk jualan barang-barang kebutuhan pokok. Anak-anak dan ibu-ibu akan berhimpun di sana, sedangkan anak muda dan lelaki paruh baya akan ke warung Wak Imran.

 

Demikianlah, kebiasaan-kebiasaan yang terjadi di kampungku, teristimewa di malam minggu. Itulah juga mengapa ibu-ibu jarang  berkumpul di warung Wak Imran karena mereka menemani anak-anak menonton TV.

 

Bertahun-tahun setiap malam minggu, dendang Melayu, berjoget dan berbalas pantun merupakan menu yang kunikmati. Aku, selain menikmati irama musik itu, juga melayani para tamu yang hendak memesan secangkir kopi, segelas teh atau makanan camilan baik berupa kacang goreng atau kerupuk jangek sebagai teman menikmati acara tersebut. Bagiku, aku hanya menjalankan kewajiban untuk membantu ayahku untuk mencari sesuap nasi. Ya, ayahku adalah Wak Imran, pemiliki warung.

 

Dari tamu-tamu yang  setia hadir,  semuanya aku kenal baik karena mereka sering makan, minum kopi atau bermain catur di warung  ayahku. Tetapi, enam bulan terakhir, ada juga seorang acek[1] yang hadir saban malam minggu.  Aku  tidak begitu mengenalnya dan merasa asing. Ia suka duduk di dalam warung, padahal biasanya acara itu digelar di teras. Ia tampaknya  tidak mau menjadi pusat perhatian dari khalayak orang banyak. Ia selalu menenteng semacam alat musik di pundaknya. Kebiasaanya, ia sering memesan kopi bahkan bisa sampai empat atau lima cangkir dalam semalam. Dalam  setiap melayaninya, aku diam-diam memperhatikan acek itu. Tetapi aku terlalu sibuk untuk mengamatinya sepanjang malam, apa tindak-tanduk dari acek itu selanjutnya. Karena aku tidak seperti penonton lainnya, yang bisa konsentrasi dan menikmati acara itu sesuka hati. Aku selalu akan disibukkan untuk mengantar permintaan dari para tamu yang hadir. Minta kopi, teh manis atau kerupuk dan lain-lain.Dan rasa penasaran terhadap acek itu kerap membuatku sering bertanya kepada Ayah dan orang-orang yang sering hadir di warung pada hari-hari biasa.

 

Namanya Aheng dan orang-orang sering memanggilnya acek Aheng. Ia pemilik perkebunan kelapa di kampung Ramunia, sebuah desa yang berjarak sekitar 5 kilometer dari kampung kami. Meskipun begitu, dia memilih tinggal di kampung kami disebabkan kampung kami lebih ramai dan terang dibandingkan kampung Ramunia. Hanya itu keterangan yang berhasil kudapatkan. Memang tidaklah banyak, dan hal itulah yang menambah penasaran dan memuncak keingintahuanku terhadap acek itu. Dan pucuk dicinta ulam pun tiba.

 

Suatu hari acek Aheng datang ke warung lebih cepat dari biasanya. Seperti biasa, ia akan memilih tempat duduk yang agak terpencil di dalam warung. Meskipun  sebagian bangku telah dikeluarkan dan disusun di teras warung, yang diperuntukan bagi pemain musik dan penonton. Namun, acek Aheng tetap memilih duduk pada bangku yang tersisa di dalam warung. Memesan secangkir kopi panas. Dan ia akan menyendiri dalam keramaian.

 

Pada kesempatan itu, aku tidak dapat menahan diriku untuk tidak bertanya. Menuntaskan rasa penasaranku yang telah kupendam berbulan-bulan lamanya.

 

Cek, setiap kali awak ke mari, awak selalu membawa alat musik itu, tetapi awak tak pernah memainkannya?” tanyaku dengan penuh penasaran.

 

Acek Aheng tersenyum kecil dan menatapku lama,  kemudian ia meraih cangkir dan meminum seteguk kopi. Selepas itu, tanpa berkata,  ia mengeluarkan alat musik itu dari sarungnya.

 

“Buyung, ini alat musik gesek dari Tiongkok, peninggalan leluhur acek. Namanya huqin atau erhu,” katanya sambil mendekatkan alat musik itu agar aku dapat menyentuhnya.

 

Aku terkesima dengan alat musik itu karena ia sangat mirip dengan rebab yang sering dimainkan oleh Wak Azis. Bedanya, huqin ini hanya memiliki dua senar. Aku meraba-raba huqin itu dan mencoba memetik talinya. Terdengar suara cempreng yang keluar dari huqin.

 

Acek Aheng tersenyum kecil.

 

“Begini, cara memainkannya, Buyung,” katanya sambil mempraktekkan cara memainkan huqin.

 

Aku terkesima akan permainan acek Aheng. Ia memainkan lagu Tanjung Katung dengan begitu indahnya. Dalam ketertakjuban, aku tidak menyadari bahwa telah banyak orang  mengelilingi kami dan menonton permainan acek Aheng. Keherananku dan mungkin orang-orang yang menonton adalah ternyata huqin juga dapat memainkan lagu Melayu dengan begitu indahnya.

 

Sejak kejadian itu, acek Aheng sering didaulat untuk memainkan huqin di tengah-tengah perhelatan  dendang Melayu itu. Mula-mula, penduduk kampung kami merasa asing dengan alat musik dan suara alat musik yang dimainkan oleh acek Aheng. Tetapi, setelah beberapa waktu acek Aheng diberikan kesempatan untuk tampil, maka orang-orang tidak merasa asing atau aneh dengan hadirnya acek Aheng. Justru, penduduk kampung kami akan merindukan suara huqin bilamana acek Aheng tidak hadir dalam acara dendang Melayu.

***

 

Pada suatu sore di awal tahun 1966, Cien Liang datang tergopoh-gopoh ke rumah atokku. Aku sedang menuruni anak tangga rumah panggung kakekku. Kedatanganku ke rumah atok adalah untuk mengantar anyang dan roti jala. Entah kenapa, atok tiba-tiba merindukan makanan itu. Kebetulan hari itu, di warung Ayah tersedia makanan itu, maka aku mengantarkannya ke rumah atok. Belum selesai aku menuruni anak tangga, Cien Liang telah berteriak keras.

 

“Akbar……,” ujarnya nyaring. Aku melihat matanya memerah, seperti ada genangan air di pelupuk matanya.

“Ada apo, Liang?” tanyaku, ikut mengeraskan suara.

A..a…apak[2] hilang, tadi malam dijemput beberapa orang yang tak kami kenal,” ucapnya terbata-bata.

 

Sejenak aku terdiam, mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Cien Liang tentang nasib ayahnya. Berita ini segera kami sampaikan kepada ayahku dan ayahku juga sudah menghubungi beberapa orang untuk membantu melacak keberadaan acek Aheng. Tetapi, sampai setengah tahun lamanya, Ayah tidak berhasil mengetahui keberadaan dan nasib acek Aheng.

 

Ramai kabar burung yang beredar dari mulut ke mulut, menembus dinding rumah dan menerobos seantero kampung mengatakan bahwa acek Aheng diciduk oleh orang yang berambut cepak. Ia dituduh sebagai anggota organisasi partai politik terlarang. Namun beberapa orang membantah berita itu dan menyatakan bahwa  acek Aheng tidak mungkin bergabung di organisasi politik sebab ia tak pernah menyukai politik. Ia hanya tahu bisnis dan bermain huqin. Namun, ada kabar lain yang mengatakan bahwa acek Aheng tergabung di divisi kesenian, ormas Baperki[3]. Bahkan, ada yang mengatakan acek Aheng adalah mata-mata dari negara Cina. Berseliweran berita-berita di warung, pasar dan tempat-tempat keramaian. Tetapi, tidak ada seorang pun yang tahu, apa yang sesungguhnya yang terjadi dengan acek Aheng. Yang pasti adalah sejak kejadian sore itu acek Aheng tidak pernah kembali ke rumahnya di kampung kami.

 

Begitulah, sejak peristiwa menghilangnya acek Aheng, Nyonya Aheng, isteri dari acek Aheng senantiasa dihantui oleh perasaan takut dan was-was. Perasaan itu makin lama makin menjadi. Oleh karenanya, akhirnya Nyonya Aheng menjual seluruh perkebunan kelapanya di kampung Ramunia dan memutuskan untuk pindah ke kota Medan.

 

Dengan pindahnya keluarga acek Aheng ke kota, maka dapat dikatakan terputuslah jalinan persahabatan kami yang disebabkan oleh jarak. Persahabatan yang kami bina karena rasa penasaranku akan alat musik huqin.Huqin itulah yang mendekatkan kami. Kepiawaian dalam bermain huqin, ternyata tidak hanya dimiliki oleh acek Aheng. Acek Aheng juga mewariskan kemampuannya dalam bermain huqin kepada putranya, Cien Liang. Bahkan, menurutku, Cien Liang memiliki bakat yang jauh melampaui Ayahnya.

 

Kala itu, hampir setiap sore sepulang dari sekolah, Cien Liang selalu datang ke warung Ayah dengan membawa huqin. Acek Aheng  khusus berangkat ke Penang untuk membeli huqin karena sulit untuk mendapatkannya di Medan. Kalaupun ada, harganya akan selangit. Oleh karenanya, ketika ada kesempatan bisnis ke Penang, maka acek Aheng menyempatkan diri untuk membeli sebuah huqin untuk Cien Liang. Tidak sia-sia, apa yang dilakukan oleh acek Aheng. Cien Liang menunjukkan bakat yang luar biasa dalam memainkan huqin.

 

Kecintaan Cien Liang dalam bermain alat musik huqin, mendorongku juga mempelajarinya. Tetapi pada suatu ketika Cien Liang justru mendorongku untuk mendalami beberapa alat musik Melayu. Katanya, ketika itu:

 

“Akbar, kau itu orang Melayu, sudah seharusnya kau mewarisi budaya Melayu, seperti alat-alat musik Melayu itu, agar sudah ketika tetap ada pewarisnya. Sedangkan aku orang Cina, sudah sepantasnya aku mempelajari alat musikku. Mari kita sama-sama menjaga budaya dan tradisi kita.”

 

Kata-kata Cien Liang itu menjadi pemicu bagiku untuk rajin mempelajari lagu-lagu Melayu dan memainkan dengan alat-alat musik. Aku tidak pernah melupakan kata-kata tersebut. Setelah kepergian Cien Liang ke kota, kami pun tidak pernah berhubungan lagi. Aku meneruskan sekolah di kota kecamatan, kabupaten sampai akhirnya aku berangkat ke kota Medan untuk melanjutkan studi di IKIP Negeri Medan. Di Medan, aku mencoba melacak keberadaan Cien Liang, tetapi tidak ketemu. Setelah tamat dari IKIP, aku mengabdikan diriku menjadi guru di kota kecamatan dan mengajar di madrasah yang ada di kampungku. Dan tentu saja, aku mengembangkan dan menulis lagu-lagu Melayu.

 

Sampai pada suatu hari, tiba-tiba ada seorang pemuda berdiri di depan rumah panggung bekas peninggalan atokku yang sekarang kutempati. Kakek dan nenekku sudah lama meninggal dan tidak ada yang menempati rumah itu lagi. Jadi, aku disuruh melestarikan dan menjaga rumah panggung tersebut seraya kutempati rumah tersebut.

 

“Akbar….., mayekabare. Lamo tak jumpa,” suara itu seperti tidak asing bagiku. Aku mengamatinya cukup lama, laki-laki yang berdiri di depanku. Seorang lelaki berusia tiga puluh-an dan berpenampilan sangat parlente. Mengenakan stelan jas dengan wajah yang sangat bersih. Sontak, aku berteriak girang.

“Cien Liang……”

 

Seketika aku seperti terbang untuk memeluknya. Sudah berapa tahun kami tidak bertemu? Ah, dua puluh tahun lebih. Waktu berjalan demikian cepat seperti anak panah.

 

Ia bercerita padaku bahwa sejak ayahnya menghilang, mereka pindah ke kota Medan. Dan ia melanjutkan studinya di kota tersebut. Kemudian ia diantarkan oleh Ibunya untuk les musik di salah satu tempat les yang terkenal. Singkat cerita, ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi musik di YongSiewToh Conservatory of Music, Singapura dan kemudian ia memperdalam musiknya di beberapa negara Eropa. Ia pernah tergabung dalam beberapa orkestra ternama dan melanglang buana keliling dunia.

 

“Hebat kau sekarang ya, Liang. Tetapi cerita-cerita apa kau masih bermain alat musik huqin?” tanyaku ingin tahu.

 

Ia menggelengkan kepala dan tampak matanya berkaca-kaca. Kulihat ada setetes butiran air mata yang menggantung di sana.

 

“Akbar, awak telah membakar huqin dalam hidupku,” ujarnya menunduk, seperti ada sesuatu beban di hatinya.

“Mengapa?” tanyaku,” Bukankah kau pernah ingin melestarikan alat musik peninggalan leluhurmu.”

“Ti…dak, tidak mungkin lagi, lupakanlah……,” ia mendeguk ludah,” Setiap mengingat huqin, aku teringat apak.  Sekarang aku justru ingin mengawinkan musik Melayu dengan musik barat dalam komposisi musikku yang terbaru. Untuk itulah, aku datang mencarimu, Akbar. Dan, kalau boleh janganlah kau memanggilku Cien Liang, tetapi panggillah aku Christopher,” katanya.

 

Aku tercenung dengan beberapa kalimat Cien Liang itu. Ia ingin melupakan alat musik huqin yang merupakan warisan dari leluhurnya. Dan yang paling mengejutkanku adalah ia menyuruhku memanggilnya Christopher. Ah, sungguh sulit menerima perubahan yang terjadi pada sahabat masa kecilku ini. Tetapi satu hal yang membuatku sangat menyesal, satu rezim pemerintahan ternyata dapat mengubah banyak hal. Penyangkalan akan identitas dirinya dan tercerabut dari budaya dan tradisinya sendiri. Mendadak, aku merasa ada yang hilang. Bukan hanya suara huqin, tetapi juga identitas diri. Jati diri seorang Cien Liang.

***

 

Keterangan:

[1] acek = Paman

[2]  apak = Ayah

[3] Baperki = Badan Permusyarawatan Kewarganegaraan Indonesia. Salah satu ormas Tionghoa yang dekat dengan Presiden Soekarno dan sering dianggap sebagai underbouw dari PKI. Namun, banyak orang Tionghoa yang menjadi simpatisan Baperki, sesungguhnya, tidak berpolitik. Mereka umumnya dari golongan petani atau yang tergabung dalam lembaga kesenian.

 

Yusrin Lie dilahirkan di Pantai Labu, Sumatera Utara. Alumnus Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Theologia (STT) Abdi Sabda, Medan.  Ia adalah penulis cerpen yang tidak produktif. Lebih banyak menulis opini di beberapa media massa. Salah satu impiannya adalah merampungkan novel perdananya yang berjudul: Tiga Batang Hio, sebuah novel yang berlatar belakang budaya dan tradisi Tionghoa di Sumatera Timur.

 

Photo by wikipedia

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: