Topbar widget area empty.
Ketelanjangan Kata-Kata pexels-jimmy-chan-1309899 Tampilan penuh

Ketelanjangan Kata-Kata

Puisi-puisi Chikma W. Putri

 

 

MELIHAT BINTANG BERANAK PINAK

 

Pada hari pertemuan kita yang pertama, pada sebuah meja kaca dengan pot besar di atasnya, aku memesan es teh dan kau bergembira dengan dua gelas arak campuranmu, dengan cermat aku pelajari senyummu, manis sekali. Ada dua buah bintang jatuh tepat pada matamu, di dalam kelopakmu yang katanya selalu kau sipitkan ketika melihat cahaya terang, di bawah alis yang kau bilang seperti payung yang melindungi mata dari keringat dahimu.

 

Pada hari pertemuan kita yang pertama, kau berbicara tentang tumpahan warna kelam pada musim panas pertama, katamu ada rasa yang hanya bisa disampaikan melalui kanvasmu. Kau tidak tau saja, aku diam-diam mengagumi karyamu. Beberapa kali nyala rokokmu mati, kau mengumpat dan mencari korek pinjaman yang kemudian kau masukkan dalam sakumu secara diam-diam. Di luar kedai, ada beberapa anak berlarian pulang membawa layang-layang berbentuk kuntilanak, puas mendapatkan angin dan segala ketakutan di benak orang-orang. Sementara kau tenggelam dalam gadgetmu, membiarkan tulisan pendekku mengeja matamu.

 

Pada hari pertemuan kita yang pertama, ada yang tak pernah pulang ke langit, ada yang membuat pengembaraannya sendiri dengan berani. Pilihan-pilihan seperti halnya judi dan nasib tersaji dalam angka remi.

 

Sejak hari itu, aku menemukan bintang berumah di matamu, beranak pinak dengan cahaya.

 

Yogyakarta, 2020

 

 

 

 

KETELANJANGAN KATA-KATA

 

I

 

Aku lahir pada senja

Pada suara dan doa-doa

Lalu orang-orang datang

Menunggu basah ompol dan tangis berkepanjangan

 

Jangkrik bernyanyi di mata malam

 

 

II

 

Lonceng bianglala berganti dongeng-dongeng hantu

Tapi payudaramu masih tetap mengalir seperti rindu, Mak

Usia tumbuh dengan angka-angka

Kemudian dinding-dinding mulai retak

Jalan menjadi panjang

Cerita liar berlompatan

 

Aku bawa pergi waktu

 

 

III

 

Aku bermimpi menjadi penyair di kota yang bisu

Sunyi bercinta dengan rembulan

 

Aku terbangun dari mimpi

 

Ulangi sekali lagi

 

 

IV

 

Dan malam begitu dingin, Mak

Pakailah selimutku atau sarung kotak-kotak itu

Karena Bapak sepertinya sudah malas memelukmu lagi

Tak seperti dulu

Kemarilah, Mak

Kita berbaring saja di depan televisi tua

Akan kuceritakan

Bagaimana aku jatuh cinta pada kata dan berniat menikahinya

 

 

V

 

Aku mabuk dengan kata yang melarutkan kemesraan jiwa

Malam kita adalah malam paling panjang dari semua malam

Mempermainkan bagian paling lembut

Dari ketelanjangan

Leher dikecup cinta

Desahmu semakin membara

Aku pejamkam mata

Tidak melihat apa-apa

Hanya merasa

Nikmatnya dua nyawa

 

 

VI

 

Jangan khawatir, Mak

Tetaplah bersenang hati

Aku baik-baik saja dengan kata

Malahan dia sedang mengandung larik

Doakan saja, ya, Mak!

Ia dapat lahir dengan selamat dan besar menjadi bait

 

Yogyakarta, 2018

 

 

 

 

MIMPI SEBELUM TIDUR

 

Dalam ruang kedap ingatan. Mimpi-mimpi dikancingkan.

Ajal diturunkan perlahan ke arah selatan. Bersama langit, laut, dan kapal tempur yang berkilauan.

Ada dua buah kursi yang kau tinggalkan. Entah sengaja atau lupa kau bawa pulang. Barangkali dua ekor kucing itu terbentuk dari kursi yang kau tinggalkan, menagih pelukan-pelukan yang terlewat setelah ciuman panjang.

Tepat ketika telunjuk berhenti pada angka sebelas siang dan matahari menjadi seperti koin cokelat yang kau makan sepulang sekolah, saat itulah bayang-bayang bangkit dengan penuh kehati-hatian.

Lihat. Ada yang sengaja bersembunyi, takut dengan ajal dan mimpi.

 

Yogyakarta, 2020

 

 

Chikma W. Putri. Lahir pada bulan akhir, 1998. Berasal dari desa kecil yang dingin di daerah Magelang, seorang freshgraduate yang baru saja lulus dari perguruan tinggi bidang sastranya dan memilih untuk tetap tinggal di Yogyakarta. Selain menulis puisi, ia juga menulis cerpen, naskah drama, hingga desain grafis. Dapat ditemui melalui instagram @chikmwp dan surel chikmawatiputri119@gmail.com

 

Photo by Jimmy Chan from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: