Topbar widget area empty.

Sajak Buruh Sawah

Puisi-Puisi Rilen Dicki Agustin

 

 

SAJAK BURUH SAWAH

 

Matahari berdiri gagah di tengah ingar bingar kehidupan di sawah,

kehidupan para buruh. Tidak hanya meneteskan keringat lelah.

Tetapi,  meneteskan luka darah

pada perut keluarganya yang bernanah.

 

Setiap hari, subuh hanya persiapan mengadu.

Berangkat, menari dengan seragam usang.

Bekerja di lumpur,  pasrah, magrib ialah penanda pulang.

Lalu membawa uang tujuh puluh ribu dari kerja ke sawah orang.

Barangkali itulah kehidupan, bak menunggu kelapa jatuh baru dapat pekerjaan.

 

Kemudian, lumpur lekat di tangan.

Menempel di wajah seolah bedak yang mahal.

Pacet yang mengisap,  tak jadi soal.

Perut keluarga di rumah menggerutu: sawah tentu atm yang paling ditunggu.

 

Sajak buruh sawah!

 

2019-2020

 

 

 

 

LOGIKA, LAYANG-LAYANG

 

Layang-layang terbang dengan benang

diembus angin.

Terdiam oleh angin selatan.

Serupa logika tanpa penyanggah berpikir,

tembok pun diam membisu menyaksikan

debat kusir.

 

Logika melipat lemak, kelam.

Layang-layang akhirnya putus, hilang.

Waktu terkuras habis ini malam,

yang kudapat lalu kuubah hanya lirik lagu layang-layang.

“Kuambil bambu sebatang. Kubelah dua sama panjang.

Kuraut dan kutimbang dengan benang. Kujadikan layang-layang

untuk terbang ke awang.”

 

Lagu untuk menghibur diriku di malam suntuk, semoga kau suka.

Dan logika terantuk besi

selamat melayang ke angkasa raya.

Sehingga,  logika sepertinya perlu ada rasa

agar tidak jalan-jalan ke mana-mana.

 

2020

 

 

 

 

MENCURI RUMAH SENDIRI

 

Kulihat hutan di belakang rumah.

Sudah botak dan burung-burung saling berkelahi.

Serupa para koruptor yang meresah.

Ia mencuri rumah sendiri.

 

Sehingga, kita menjadi dinding, diam.

Lalu menangis sesuai perputaran kipas.

Padahal di balik diam dan berputarnya tangisan ialah persiapan

yang dimasak matang untuk menghadapi pencurian.

 

Melawan: kita yang tertikam!

Memberontak:  mati kelaparan.

 

Biarlah mereka mencuri rumah sendiri.

Pada akhirnya, anak dan cucunya akan dibawa lari.

Kasihan sungai yang banjir

dan hutan yang gundul

menjadi ladang ketenaran untuk mendongkrak

elektabilitas perkapitalisasian.

 

Biarpun mencuri rumah sendiri.

Kita tertawa saja sebelum ketahuan.

Menangis sebelum jera datang.

Jika sudah datang,

siap-siap masuk cacatan:

para koruptor ialah sampah jalanan

yang harus dibuang bahkan dibakar habis-habisan.

 

2020

 

 

 

 

BAHAGIA DI ATAS KEBAHAGIAN

 

Baju baru,  diperlihatkan.

Celana baru,  diperlihatkan.

Sepatu baru,  diperlihatkan.

Jam tangan baru,  diperlihatkan.

Lantas kebahagian mana lagi diperlihatkan?

 

2020

 

 

 

 

JALAN CINTA DI JALAN BUNTU

 

Bulan di bola mata

tuan kini terbata-bata.

Tak tentu arah ia berkelana

melihat buah yang ada di dada.

 

Tuan memetiknya

yang dimakan oleh mulut menganga.

Manis bagai madu lebah diperjamuan

kala cinta merangsang ke alam lain.

 

Yang di pinta tuan

kepada puan yang lentik

nan ingin dibelai santun

di sepanjang jalan asmara ada benak.

 

Sedang semua jalan buntu

tak berpintu tuju dengan mata harapan tuan

yang berjalan meraba-raba

hendak menuju pintu cinta ke bilik puannya.

Namun, tak ada jalan indah ke sana.

 

Sebab, jalan menuju pintu cinta

ke sana buntu oleh jamuan lain

yang lebih dulu mesra

 

2020

 

Rilen Dicki Agustin. Lahir di Bangun Raya, Pasaman, SumateraBarat, 10Agustus; tinggal di Pasaman. Saat ini, ia mahasiswa jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Padang. Suka membaca dan menulis puisi, cerpen, esai dan lain-lain. Tulisannya terbit di berbagai media massa cetak maupun digital. Seperti; Haluan, Singgalang, Rakyat Sumbar, Medan Pos, Analisa Medan, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, Radar Cirebon, Dinamika News, BMR Fox, Media Cakra Bangsa, Utusan Borneo (UB, Malaysia), nalarpolitik.com, scientia.id, kamianakpantai.com, becik.id, banaranmedia.com, lebur.id, metaformosa.co, rembukan.com, salmahpublishing.com, dan media lainnya. Selain itu, puisinya juga termaktub di beberapa antologi puisi. Ia sudah menerbitkan buku puisi tunggal, Lupa Hormat pada Merah Putih (2020) dan Air Mata Rindu dalam Gelas (2020). Baru ini, puisinya lolos kurasi di antologi puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2020, Juara 2 LCPN Lintang Indonesia V dan juara-juara lainnya. Bisa dihubungi lewat; email:rilendickiagustin12@gmail.com, FB: Rilen Dicki Agustin, dan IG: @rilendickiagustin12.

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: