Topbar widget area empty.

Sendiri

Puisi Puisi Chalvin Pratama Putra

 

 

SENDIRI

 

Di pulau tanpa jamahan

Hanya aku

Abadi dalam kesendirian,

Di antara sunyi yang tak mati-mati

 

Kau yang menitipkan roh

Menyeruak pada tirai-tirai keabadian

Sembari membawa sebatang aorta

Yang kutumpang kala dulu

 

Di musim yang abadi

Menguburku dalam kesendirian

Hingga doa kehilangan

Janji-janji yang akan dipulangkan

 

Masih di pulau tanpa jamahan

Kutunggu lamaran maut

Yang akan mencabut kesendirian

Kesunyian, dan keabadian yang tak kuharapkan

 

Bayang, Juli 2020

 

 

 

 

IMAJINASI MALAM

 

Malam yang dibentur rintik hujan

Dengan bibir mencumbui sebatang rokok.

 

Semburan asap yang membawa imaji malam;

Akan kusihir gulita itu menjadi bianglala yang melengkung di mataku,

Agar pesona ini meruntuhkan prasangka keruh.

 

Malam yang semakin pekat, dengan pekik jangkrik

di samping kuping yang pekak akan nasihat ibu.

 

Malam meyambut pagi buta,

Kokok ayam meneriakkanku akan lalainya rezeki pagi.

 

Yang mana para manusia bersiap membanting tulang

Sedang aku hanya sibuk berselimut imajinasi malam.

 

Bayang, Juni 2020

 

 

 

 

KEPULANGANMU

 

Dulu kita pernah merakit bahtera

Untuk mengembarai buas-buas gelombang

Dengan dua dayung yang tak terpatahkan

 

Entah mengapa?

 

Di tengah lautan, kau berseru untuk pulang

Namun aku bersikeras menghadang

Seperti gelombang yang tak pernah terbayang

 

Egomu, kau belah bahtera itu

Dengan belati khianat

Dan mendayung di punggungku

 

Kuhadiahkan kepulanganmu

Dengan derai hujan yang runtuh dari mataku

Berharap dapat melapukkan egomu

 

Namun, jika kepulanganmu adalah memang

Serulah pada gelombang itu

Agar tak menghempas tepianmu.

 

Bayang, Juli 2020

 

 

 

 

AKU DAN SANDIWARAMU

 

Lagak cumbu dusta darimu tak lagi kuhirau

Bekal sandiwaramu telahku carah

Beribu-ribu hari aku disayat lidahmu

Hingga darahku mengental pekat dalam pelukmu

 

Aku dan doaku menyimpang

Sebab api sandiwara darimu telah meradang

Dan sinar suluh yang tak padam

 

Mengapa kau tak menjeda napasmu?

Pada penghujung keji sandiwara itu

 

Bayang, Juni 2020

 

 

 

 

SAMPAI KINI MASIH AKU

 

Sampai kini aku masih aku

Yang terlanjur membeku

Dalam doa-doa ibu

 

Walau kadang kali teraniaya goncangan dunia

Direnggut perkara satu jadi dua

Bersedekah tawa bercampur duka

Demi menjelajah bangga dalam asa orang tua

 

Tak satupun mampu meluputku

Dalam lenggang langkahku

 

Hanya saja sering dianiaya

Perihal cinta

Yang tak bisa ku pecahkan alurnya

 

Dan sampai kini aku masih aku,

Yang bercita-cita mencuri surgaloka

Untuk kedua orang tua.

 

Bayang, Juli 2020

 

Chalvin Pratama Putra lahir di Bayang, Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Merupakan anggota Sastra Bumi Mandeh (SBM), dan aktif mengelola Rumah Baca Pelopor 19. Beberapa puisi pernah dimuat di beberapa media massa, Facebook: Celvin Putra.

 

Photo by Xandro Vandewalle from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: