Topbar widget area empty.
Peran Pemuda dalam Pilkada 2020 di Masa Pandemi Covid 19 Pemuda dan Pemilu Tampilan penuh

Peran Pemuda dalam Pilkada 2020 di Masa Pandemi Covid 19

Esai Ratni Dewi Sawitri, M.Pd

 

 

Kami putra dan putri Indonesia , mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”

 

Teringat sejarah sumpah pemuda yang pernah saya baca disalah satu buku tentang sejarah-sejarah peristiwa penting di Indonesia, bahwa peristiwa sejarah sumpah pemuda merupakan suatu pengakuan dari pemuda-pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928, hasil rumusan dari rapat Kongres Pemuda II Indonesia yang hingga kini setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.

 

Akankah tahun ini kita masih bisa memperingati hari sumpah pemuda di tengah pandemi covid 19? Tentu bisa, namun dengan cara yang berbeda dari biasanya.

 

 

Covid 19 Belum Usai

 

Seperti yang kita ketahui, bahwa saat ini bumi kita masih belum sembuh dari pandemi covid 19. Tidak ada yang mengetahui kapan pandemi ini akan berakhir. Semakin hari, semakin banyak korban yang berjatuhan akibat dari covid 19 baik karena gejala maupun tanpa gejala. Covid 19 mulai ramai diperbincangkan di bulan Februari 2020. Covid 19 merupakan virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Tiongkok. Virus yang gejalanya hampir mirip dengan flu ini, menyebar begitu cepat dan telah menewaskan hampir dari 100 orang per hari. Banyak opini bermunculan bahwa virus ini berasal dari hewan liar yang dikonsumsi, seperti kelelawar yang banyak dikonsumsi oleh penduduk disana. Hal ini terlihat adanya pasar yang menjual hewan tersebut disana. Ada juga yang beropini bahwa virus ini berasal dari kebocoran sebuah laboratorium di Wuhan. Seperti yang diketahui, Tiongkok memiliki laboratorium terbesar yang dikhususkan untuk meneliti virus. Diduga ada ratusan virus yang diteliti disana.

 

Covid 19 atau yang sering kita sebut dengan virus corona bahkan telah diprediksi oleh Bill Gates, pemilik Microsoft  pada tahun 2018 di sebuah seminar. Bill Gates mengatakan bahwa akan ada virus baru yang menyerang manusia dan akan menewaskan manusia lebih dari 1 juta jiwa di dunia dalam kurun waktu 6 bulan. Namun, kenyataannya sejak pertama kali muncul di Wuhan, virus ini telah memakan korban lebih dari 10 juta kasus. Dengan korban meninggal sebanyak 500 ribu jiwa, yang menyebar hampir 213 negara di dunia. Di Indonesia sendiri jumlah pasien positif covid 19 telah mencapai 287.008 jiwa hingga tanggal 30 September 2020, dengan kematian sebanyak 10.740 jiwa dan jumlah pasien yang sembuh sebanyak  214.947 jiwa. Covid 19  tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga dapat menyerang anak-anak bahkan balita.

 

Virus ini membuat masyarakat resah dan takut untuk beraktifitas di luar rumah. Selain, membuat resah masyarakat, banyak kegiatan lain yang hampir saja diundur akibat pandemi covid 19 ini, salah satunya Pilkada 2020.

 

 

Pilkada di Masa Pandemi

 

Berbicara tentang pilkada saat ini, kebanyakkan dari kita beranggapan tentang pertarungan yang berujung kalah atau menang. Bahkan, beberapa pihak menganggap pilkada sebagai mesin perputaran uang yang cukup besar. Hal tersebut tercermin dari awal penyelenggaraan hingga saat ini, masyarakat melihat dinamika tersebut secara berulang – ulang. Pilkada adalah cerminan demokrasi di setiap daerah dan pilkada sebagai wajah kondisi masyarakat suatu daerah. Tahun 2020 ini, Pilkada mengalami dampak yang besar akibat pandemi covid 19, sehingga terjadi perubahan tahapan serta perubahan pencoblosan.

 

Pilkada 2020 akan menjadi catatan sejarah perjalanan pemilihan umum di Indonesia. Pilkada 2020 dikatakan dilematis. Hal tersebut dikarenakan pandemi covid 19 menyerang Indonesia. Sempat terdengar kabar bahwa Pilkada 2020 akan ditunda, namun Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa penyelenggaraan pilkada harus tetap dilakukan dan tidak bisa menunggu sampai pandemi berakhir, karena tidak ada yang mengetahui bahkan negara mana pun tidak ada yang mengetahui kapan pandemi ini akan berakhir.

 

 

Cara Baru dalam Pelaksanaan Pilkada 2020

 

Pilkada 2020 harus tetap dilaksanakan, namun dengan cara yang baru, yaitu dengan cara 3 M. Cara 3 M yang dimaksud adalah Memakai masker, Mencuci tangan dan Menjaga jarak. Ini merupakan salah satu cara yang efektif dalam menjaga keselamatan dan kesehatan masyarakat. Selain itu, kesadaran masyarakat untuk patuh terhadap protokol kesehatan juga sangat diperlukan agar pilkada dapat berjalan lancar.

 

Pilkada juga tak lepas dari kampanye, kampanye merupakan kegiatan yang selalu dilakukan calon kepala daerah untuk memperebutkan kedudukan dan selain itu juga untuk mendapat dukungan masyarakat. Namun , di masa pandemi covid 19 seperti ini rasanya tidak efektif jika harus mengumpulkan orang banyak apalgi melihat data yang  terinfeksi virus ini semakin meningkat. Kampanye akan tetap dilakukan tetapi dengan cara yang berbeda, salah satu cara yang efektif adalah kampanye secara online atau Blusukan online.

 

Blusukan online merupakan strategi kampanye yang dilakukan Gibran Rakabuming Raka ditengah pandemi covid 19 ini. Gibran merupakan kandidat calon Walikota Solo. Menurut Gibran, cara tersebut merupakan cara yang efektif dalam berkampanye di tengah pandemi covid 19 seperti ini, dibandingkan dengan mengumpulkan orang banyak. Di masa pilkada seperti ini juga, calon kepala daerah memiliki kebiasaan yang rutin yaitu  membagi – bagikan bingkisan kepada masyarakat. Hal ini sudah menjadi kebiasaan saat pilkada dilaksanakan. Bingkisan tersebut biasanya berupa sembako bahkan ada juga yang memberikan uang. Tujuanya adalah untuk mencari dukungan dari masyarakat.

 

Hal ini menarik perhatian Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian. Mendagri Tito Karnavian mengusulkan kepada calon kepala daerah untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada masyarakat, selain sembako dan uang. Melihat  kondisi saat ini, Mendagri Tito Karnavian menganjurkan untuk memberikan sesuatu yang sangat dibutuhkan di masa pandemi ini,seperti masker dan hand sanitizer yang sesuai dengan protokol kesehatan. Dua benda itu sangat diperlukan dalam menghadapi pandemi covid 19 ini. Hal ini juga sangat berpengaruh dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk selalu menjaga kesehatan di tengah maraknya pandemi covid 19.

 

 

Pemuda dalam Pilkada 2020

 

Dalam mewujudkan pilkada yang baik dan sesuai dengan aturannya, peran pemuda juga sangat diperlukan dalam pelaksanaan pilkada 2020 ini. Di tilik dari catatan sejarah, pemuda memiliki peran yang sangat penting dalam setiap perubahan yang terjadi di negeri ini. Dari catatan peristiwa besar menunjukkan aksi nyata dan peran pemuda untuk kemajuan bangsa. Sejak sebelum proklamasi kemerdekaan hingga sekarang. Kejadian – kejadian penting tidak bisa dipisahkan dari cerita anak muda bangsa. Berdirinya Boedi Utomo pada tahun 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 hingga masa reformasi oleh gerakan mahasiswa pada tahun 1998 adalah bukti kuat peran pemuda.

 

Peran aktif pemuda dalam ajang pilkada sangat diperlukan. Disini peran pemuda akan menjadi catatan penting dalam keterlibatan pilkada 2020 dan akan menjadi ajang nyata bagi pemuda dalam menampilkan peran mereka secara langsung. Dalam momentum ini pemuda diharapkan aktif dalam membangkitkan gairah pilkada di tengah pandemi covid 19, jangan sampai pilkada 2020 hanya dijadikan azas manfaat untuk sekedar mencari keuntungan dan pemuda diharapkan mampu berperan aktif dalam mempertahankan kemurnian demokrasi.

 

Peran aktif tersebut dapat direalisasikan melalui ikut menjadi penyelenggara atau pengawas. Pemuda diharapkan dapat memperbaiki sistem pemilu, karena pemuda sebagai tonggak perubahan yang memiliki kontribusi dalam pelaksanaan pilkada. Pemuda juga harus menjadi garda terdepan dalam menangkal radikalisme, black campaign dan politik uang.

 

Pemuda memiliki peran penting dalam membentuk opini kepada masyarakat dalam mewujudkan pilkada yang sehat. Pemuda dapat berkontribusi menciptakan budaya politik yang sehat. Demi menciptakan pesta demokrasi yang adil dan sehat, maka pemuda harus menjadi tonggak perubahan dalam pelaksanaan pilkada. Sehingga, tingkat pemuda yang apatis menjadi pemilih dalam pilkada berkurang.

 

Pemuda merupakan bagian dari komponen bangsa tidak terlepas dari politik. Pemuda bisa dikatakan sebagai zoon politicon. Pilkada sebagai sistem politik memiliki ruang yang luas bagi masyarakat untuk berpartisipasi. Pemuda merupakan kelompok yang memiliki posisi yang kuat, berdiri sendiri dan merdeka, sehingga harus bisa memiliki peran tersendiri.

 

 

Ratni Dewi Sawitri, M.Pd, Berusia 28 tahun. S2 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muslim Nusantara Al-wasliyah Medan. Kini menetap di Jl Melati Batam-Kepulauan Riau

 

Photo by Dio Hasbi Saniskoro from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: