Topbar widget area empty.
Cinta dalam Sepiring Bebek Peking bebek peking Tampilan penuh

Cinta dalam Sepiring Bebek Peking

Cerpen Yusrin Lie

 

 

Sejak subuh, kulihat amak[1] telah sibuk memasak di dapur. Tidak seperti hari-hari biasa lainnya, hari ini ada sesuatu yang istimewa. Ia memasak lebih banyak masakan, sebagai bekal bagiku dalam perjalanan menuju Surabaya. Sebenarnya, aku telah melarang niat baik amak karena akan membuatnya bertambah repot. Tetapi, amak bersikeras untuk membekaliku dengan bermacam-ragam makanan yang bisa tahan lama, seperti asinan lobak, keripik kentang, sambal terasi dan beberapa makanan lainnya.

 

“Amak bukan sengaja mau membekalimu dengan makanan, tetapi amak melakukannya sambil lalu saja. Makanan-makanan ini, utamanya akan disajikan kepada leluhur. Untuk meminta persetujuan leluhur karena kamu sudah akan berangkat untuk melanjutkan studimu di Malang,” Ucap amak, mencari alasan.

 

Padahal, aku tahu, makanan yang disiapkan untuk sembahyang leluhur hanyalah satu macam sayur dan dua jenis lauk saja ditambah dengan beberapapiring buah-buahan. Tidak ada asinan lobak, apalagi keripik kentang. Dan lagian, aku tidak akan langsung menuju tempat kosku di Malang, yang telah dicarikan oleh kakak iparku. Akan tetapi, aku akan menetap beberapa hari terlebih dahulu di rumah kakakku di Surabaya. Ketika perkuliahan dimulai aku baru akan pindah ke Malang. Tetapi kata orang, niat baik Ibu tak baik ditolak, maka aku pun tak mendebatnya lagi.

 

Selepas memasak, amak menghidangkan beberapa jenis makanan dan buah-buahan di atas meja abu[2]. Ada sayur capcai, mie goreng, jeruk dan apel, dan teristimewa sepiring bebek peking. Bebek peking adalah masakan kesukaan mendiang apak[3].

 

Amak menyalakan dua batang lilin dan kemudian ditancapkan ke hio lio, tabung yang berisi abu sekam. Tiga cangkir teh hijau disajikan pula di depan altar leluhur. Di papan arwah, tertulis berbaris-baris aksara Tionghoa, yang berisi nama-nama leluhur yang terdiri dari kakek, nenek dan mendiang apak. Foto mendiang apak yang berwarna hitam putih tergantung di dinding, persis di atas papan arwah.

 

Sejurus kemudian, amak menyalakan tiga batang hio dan memberikan hio itu kepadaku. Aku menerima hio itu dari tangan amak, kemudian berlutut dan beranjali di depan altar leluhur. Mulutku komat-komat berdoa dan memohon berkat dari leluhur. Selesai berdoa, aku menancapkan tiga batang hio pada hio lio.

 

Hidangan di meja abu yang dipersembahkan untuk leluhur merupakan simbolisasi bahwa anak-cucu berbakti kepada mereka. Ajaran ini merupakan warisan dari para leluhur kami, yang tetap kami percayai secara turun-temurun. Leluhur kami mengajarkan bahwa apabila kita meminum air, maka kita tidak boleh lupa akan sumbernya. Kalimat tersebut bermakna bahwa kehadiran kami di dunia ini, tidak bisa dilepaskan dari leluhur. Tanpa leluhur, kami tidak mungkin ada di dunia. Oleh karenanya, penghormatan yang kami lakukan kepada leluhur, bukan hanya kami wujudkan ketika para leluhur kami masih hidup, melainkan juga ketika mereka telah tiada. Ini sebuah simbol atau lambang bahwa kami senantiasa terhubung kepada leluhur. Kami tidak pernah melupakan leluhur dan tidak pernah mengabaikan wejangan dari leluhur.

 

Tak lama kemudian, aku mengambil sepasang poi[4] yang terletak di meja abu. Tanganku yang menggenggam poi itu melakukan gerakan memutar mengelilingi hio lo, di mana tiga batang hio telah tertancap di sana. Asap hio menguar di udara. Mengeluarkan aroma kayu cendana. Suasananya terasa khidmat. Sambil berlutut, tangan dalam posisi bersoja dan memegang sepasang poi. Mulutku memanjatkan doa kepada para leluhur, meminta leluhur datang mencicipi makanan persembahan dari anak-cucu.

 

Poi kulemparkan ke atas dan mendarat turun ke lantai. Posisi poi menampilkan dua sisi yang berbeda. Ini mengandung makna bahwa leluhur telah datang mencicipi sesajen yang dipersembahkan. Aku pun membungkukkan badan sampai ke atas tanah, mengucap syukur dan memungut sepasang poi yang tergelak di lantai. Poi itu kuletakkan kembali ke tempatnya. Ritual itu kuakhiri dengan membakar kertas gin choa[5] dan kim choa[6] sebagai bekal para leluhur di akhirat.

 

Hari telah menunjukkan pukul sebelas pagi. Aku segera bergegas untuk berangkat ke bandara Kuala Namu untuk terbang ke Surabaya, ke rumah kakakku. Koper-koper yang akan kubawa ke Surabaya telah berjajar di teras rumah. Setahuku, ada dua koper yang telah kusiapkan, tetapi entah kenapa pagi ini koperku telah bertambah menjadi tiga.

 

“Amak, kok koperku bertambah satu lagi?” tanyaku heran.

 

Amak menatapku dengan mata memerah dan seperti ada genangan air mata yang menggantung di pelupuk matanya.

 

“Asiong, amak menyiapkan lebih banyak bekalmu di Malang agar kamu tidak perlu repot membelinya nanti,” katanya,”Dan satu koper ini isinya adalah semua masakan kesukaanmu,” tambahnya sambil jari tangannya menunjuk ke arah koper tersebut.

“Ah, amak, kalau bisa, seisi rumah ini pun amak akan pindahkan ke Malang,” Ujarku bercanda. Amak tersenyum kecut, menatapku dengan mata mendelik.

“Amak sebenarnya ingin mengantarmu sampai ke Malang, tetapi karena kakak ipar pertamamu baru melahirkan, maka amak tidak bisa meninggalkan rumah karena amak harus membantu abangmu menjaga toko. Nanti, kalau sudah sedikit longgar, amak akan mengunjungimu,” janjinya seperti menghibur dirinya sendiri.

 

Amak mengantarku sampai ke bandara Kuala Namu. Tak lupa memberikanku kuliah, yang kelak kutahu lebih panjang daripada kuliah yang diberikan profesorku di universitas.

***

 

Tiga bulan setelah aku kuliah di Malang, amak mendadak datang ke Surabaya dan dari Surabaya bersama kakakku ia menjengukku di Malang. Ia membawa banyak masakan yang bisa kujadikan camilan, kue khas daerahku seperti kue bika Ambon dan bolu meranti. Tak ketinggalan, durian juga dibawanya. Selain itu, amak juga membawa kue khas orang Tionghoa. Bakcang dan kue keranjang. Kue-kue seperti ini hanya akan muncul pada musimnya. Misalnya, bakcang yang terbuat dari pulut yang diisi dengan daging cincang, jamur dan telur asin baru akan dijual orang pada hari raya Peh Cun, yang jatuh pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek atau sekitar bulan Juni atau Juli. Sedangkan kue keranjang atau ti-kwe baru akan dijual orang menjelang hari raya Imlek.

 

Tetapi sekarang ini, tidak ada tanda-tanda kedua hari raya itu akan segera tiba, tetapi kue-kue itu dapat dihadirkan oleh amak kapan dan di mana saja. Itulah kehebatan amak. Dan bebek peking, kesukaanku tidak alpa dari daftar masakan yang diterbangkan khusus dari Medan ke Malang. Bebek peking kesukaan ini, juga merupakan kesukaan dari mendiang apak. Disebabkan oleh kesukaan aku dengan apak sama dalam hal makanan, maka sebagai bungsu dari enam bersaudara, aku selalu dimanja dengan masakan amak. Perawakanku yang tinggi kurus, selalu menjadi alasan bagi amak untuk mencecokiku dengan banyak masakannya.

 

“Baru tiga bulan lebih, kamu tampak tak terurus dan kurus kerempeng,” kata amak begitu tiba di kamar kosku.

 



Aku membantu menaruh barang-barang yang dijinjing oleh amak dan meletakkannya di atas meja kamarku. Kedatangan amak yang tiba-tiba, tidak memberi kesempatan bagiku untuk sedikit merapikan kamarku yang seperti kapal pecah. Tak karuan. Akibatnya, sepanjang hari, amak merepet tiadahenti-hentinya. Namun, siangnya setelah aku pulang dari kuliah, kamar kosku sudah bersih seperti hotel berbintang lima. Dan sepiring bebek peking telah dipanaskan dan terhidang di atas meja kamar kosku.

 

Kali kedua, amak datang mengunjungiku manakala aku pada tahun keduadi bangku kuliah. Ketika itu, aku menderita sakit tifus karena terlalu lelah dan sering jajan sembarangan di luar. Aku telah berusaha menyembunyikan penyakitku dari amak, namun kakakku memberitahunya sehingga selama sakit aku pun diperintah amak untuk pindah dan tinggal di rumah kakakku di Surabaya.

 

Sesungguhnya, di tengah kesibukan kakakku bekerja sebagai guru, ia telah merawatku cukup baik. Namun, entah kenapa penyakitku ini tetap betah tinggal di tubuhku yang semakin ringkih. Mendengar bahwa penyakitku belum menunjukkan tanda-tanda kesembuhan dalam seminggu. Amak langsung terbang dari Medan menuju Surabaya untuk merawatku.

 

Begitu amak tiba di rumah kakakku di Surabaya. Nafsu makanku yang hilang karena penyakitku seketika sirna. Makanan-makanan yang khusus dibawa amak dari Medan, kusantap dengan lahapnya. Asinan lobak sebagai lauk menemani sarapan bubur yang disajikan amak, kulahap tak tersisa. Dan dalam waktu tiga hari sejak kedatangan amak, aku berangsur-angsur sembuh dari penyakitku. Setelah aku sembuh, amak pun terbang kembali ke Medan dan aku pun kembali ke tempat kosku di Malang untuk melanjutkan kuliahku.

***

 

Sejak kecelakaan lalu lintas yang menimpa amak, amak sudah jarang berkunjung ke Surabaya untuk menjenguk aku dan kakak. Kecelakaan itu terjadi ketika amak hendak pergi ke pasar untuk membeli sayur-mayur. Saat amak ingin menyeberang jalan, sekonyong-konyong, ada sebuah sepeda motor yang berjalan dengan lajunya dan menyenggol amak. Amak terjatuh dengan posisi kaki berlumuran darah. Setelah diperiksa dokter dan dilakukan sinar X terhadap tulang amak, maka dokter pun menyatakan bahwa tempurung kaki amak pecah dan harus segera dilakukan operasi. Operasi penggantian tempurung lutut itu pun berjalan dengan baik, namun setelah operasi itu, amak tidak sanggup berjalan jauh lagi dan sering mengeluh ngilu. Seiring dengan peristiwa itu, kesehatan amak berangsur-angsur menurun drastis.

 

Hal-hal itulah menyebabkan amak jarang mengunjungi kami lagi. Karenanya, frekwensi pertemuan aku dengan amak bertambah jarang. Namun, setahun sekali aku tetap pulang melihat amak. Setiap tahun baru Imlek, sesibuk apapun, aku akan pulang melihat amak dan mencicipi masakan amak yang lezat.

 

Tahun-tahun berlalu sedemikian cepat, tak terasa aku sudah menyelesaikan kuliahku dan sudah bekerja selama delapan tahun di Jakarta. Aku bekerja di sebuah perusahaan asing yang sering mengutusku ke luar negeri, terutama ke negara-negara macan Asia, seperti Taiwan, Hongkong dan Tiongkok. Termasuk pula beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Dalam setiap kesempatan ke negara-negara tersebut, aku tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mencoba berbagai kuliner khas negara tersebut. Dan bebek peking selalu menjadi menu yang tak pernah absen yang ingin kucicipi. Dari jajanan kali lima sampai restoran bintang lima telah kukunjungi demi memuaskan lidahku dan rasa penasaran untuk membanding-bandingkan berbagai varian dari masakan bebek peking. Tetapi, dalam setiap kesempatan mencicipi bebek peking, aku selalu merasa ada sesuatu yang kurang dari masakan itu. Sulit bagiku untuk menyatakannya dengan kata-kata. Dari segi rasa, tidak ada yang bisa dikomentari karena bila itu kelas restoran maka chefnya tentu lulusan sekolah kuliner internasional. Sedangkan untuk kelas kaki lima, mereka pasti mewarisi resep masakannya secara turun-temurun.

 

Begitu juga, dalam berbagai kesempatan kunjungan kerja ke Surabaya, aku selalu menyempatkan diri untuk singgah ke rumah kakak. Demi memanjakan adik bungsunya, kakak juga selalu meluangkan waktu untuk memasak bebek peking kegemaranku. Resep bebek peking kakak, tentu saja, diwariskan dari amak. Bumbunya bahkan dikirim oleh amak dari Medan. Jadi, tidak diragukan lagi, masakan bebek peking dari kakakku, paling mendekati rasa dari masakah amak.

 

“Ci [7], dari sekian banyak bebek peking yang kucicipi, ternyata masakan cici yang paling menyerupai masakah amak. Maknyus,” kataku sambil mengacungkan jempol ibu jari.

 

Kakakku tersenyum mendengar pujianku. Ia menyendokkan beberapa potong daging bebek ke piringku. Kebetulan kakak ipar belum pulang dari kerja dan keponakan-keponakan juga belum pulang dari sekolah, maka aku pun dapat menikmati bebek peking tanpa rasa sungkan.

 

“Tetapi bagaimanapun bebek peking racikan cici tidak akan bisa mengimbangi masakan amak,” ujarnya sambil mendelikkan mata. Ada senyum menggoda di sudut bibirnya. “Sebab di dalam bebek peking racikan amak, ada cinta amak di sana. Cinta seorang ibu terhadap anaknya. Sedangkan dalam racikan cici, hanya ada cinta saudara. Bagaimana mungkin cinta ibu dibandingkan cinta saudara. Bukan begitu, Siong?” lanjutnya.

 

Ya, benar, ci. Ada cinta dalam sepiring bebek peking racikan amak. Bagaimanapun lezatnya masakan chef-chef internasional, tidak bakal mungkin menyaingi masakan amak. Dan amak tidak pernah membuka cabang di mana pun di dunia ini, batinku.

***

 

Keterangan:

* Semua dialek dalam cerpen ini menggunakan dialek Hokkian. Dialek Hokkian merupakan salah satu dialek yang banyak digunakan di Sumatera Utara. Dialek Hokkian merupakan lingua franca antarsesama orang Indonesia-Tionghoa di Sumatera Utara. Bahasa Hokkian juga ramai digunakan di Penang dan Taiwan.

[1] Amak = Ibu

[2] Meja abu/altar leluhur = lemari gantung yang berwarna merah berisi tabung pendupaan, papan arwah yang mencatatkan nama mendiang leluhur yang telah meninggal dari garis keturunan laki-laki. Terkadang juga digantung beberapa foto leluhur.

[3] Apak = Ayah

[4] Poi = Poi itu dapat diumpamakan seperti mata koin. Dalam tradisi Tionghoa, poi digunakan untuk menanyakan sesuatu kepada leluhur, dewa atau Tuhan. Caranya, sepasang poi dilemparkan ke atas, apabila ketika mendarat ke lantai poi itu menampilkan dua sisi yang berbeda, maka artinya berarti setuju. Bila menampilkan dua sisi yang sama, itu mengandung makna menolak atau tidak setuju.

[5] Gin Choa = Kertas perak, sebagai simbolisasi memberikan bekal perak kepada leluhur di akhirat.

[6] Kim Choa = Kertas emas, sebagai simbolisasi memberikan bekal emas kepada leluhur di akhirat

[7] Cici/Ci = Kakak perempuan

 

Yusrin Lie dilahirkan di Pantai Labu, Sumatera Utara. Menulis cerpen, esai, opini dan sesekali puisi di media massa dan media online. Ia adalah yang penulis kurang produktif. Alumnus Pasca Sarjana dari Sekolah Tinggi Teologi (STT) Abdi Sabda, Medan. Bergiat di Komunitas Literasi Bunga Teratai. Salah satu impiannya adalah merampungkan novel perdananya yang berjudul: Tiga Batang Hio, sebuah novel yang berlatar belakang budaya dan tradisi Tionghoa di Sumatera Timur.

 

Photo by Polina Tankilevitch from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: