Topbar widget area empty.
Saya Pasti Langsung Masuk Surga Masuk Surga Tampilan penuh

Saya Pasti Langsung Masuk Surga

Oleh: Agus Salim

 

 

Segala perbuatan burukmu pasti akan memperpanjang masa penderitaanmu di neraka…

 

Kalimat itu saya tulis di status Whatsapp, kemarin. Saya menulisnya setelah keluar dari ruangan Bapak, tepat di depan pintu, sebagai protes dari ucapan Bapak yang masuk ke telinga saya. Andai kalimat itu langsung dibaca Bapak, pasti ingatannya akan mundur jauh ke belakang, ke beberapa masa. Keningnya akan mengerut. Saya yakin kepalanya akan berisi peristiwa-peristiwa yang akan membuatnya berpikir, dalam, sangat dalam bahkan, dan lalu, akan memanggil saya kemudian. Tetapi, sayangnya, dia tidak langsung membacanya.

 

“Saya pasti langsung masuk surga.”

 

Itu kalimat sombong yang keluar dari mulut Bapak dengan santainya. Bapak memiliki bibir merah. Mirip diberi gincu. Tetapi di mata saya, bibirnya itu seperti daging berisi bara api. Kau tahu, setelah mendengar kalimat itu, telinga saya memanas, perut mual-mual, dan mulut ingin memuntahkan umpatan. Tetapi, saya tidak mengumpat. Bibir saya rapat. Kenapa? Karena saya tahu, apa risiko yang akan saya terima jika saya sampai melakukannya. Saya hanya menunduk, sambil membayangkan wajah Bapak memar karena saya pukuli. Betapa menderitanya wajah itu.

 

Mana mungkin kau bisa langsung masuk surga? Keparat! Aku pasti yang menjadi penghalangmu. Bisa-bisa anak-istrimu ikut menghalangimu. Begitu gerutu saya, di dalam hati, di tengah tundukkan kepala saya. Dan selebihnya, saya diam saja, membiarkan Bapak meracau sendiri, mengumbar segala kebaikan-kebaikan yang telah dia lakukan. Saya cuma bisa tersenyum jika ada kata-kata Bapak yang lucu. Menjawab “ya” atau “tidak” atau “terserah Bapak” jika ada pertanyaan. Setelah percakapan antara Bapak dan saya selesai, saya kembali ke ruangan, meraih ransel, dan pulang, karena memang sudah masuk waktu pulang.

 

Sampai di rumah pun saya masih kesal dan tidak terima dengan ucapan Bapak itu. Rasa-rasanya saya ingin menguliti mulut Bapak itu. Ya, ya. Saya tahu. Kau pasti ingin mengatakan sesuatu kepada saya. Boleh-boleh saja kau anggap kalau saya ini terlalu terbawa perasaan, terlalu sensitif, boleh. Saya tidak akan melarang. Saya sampai di rumah menjelang magrib, dan gara-gara rasa kesal itu, ketenangan saya menunggu kumandang azan Magrib jadi terganggu. Ingatan saya tersandera kalimat itu. Ucapan Bapak seperti menjelma mejadi makhluk hitam dengan mata merah, yang mengeluarkan suara-suara menyeramkan, meneror ketenangan pikiran dan peraasaan saya.

 

Di tengah penantian kumandang azan Magrib, telinga saya mendengar suara lain. Suara itu sepertinya tidak datang dari bumi, tetapi dari tempat lain. Saya mendengar suara bocah sedang bicara dengan bocah lainnya. Saya menduga kalau itu suara Nafisah, anak saya yang sudah lebih dulu menjadi penghuni surga. Kau kenal Nafisah, bukan? Dia layak masuk surga. Tidak diragukan. Sebab dia meninggal di usia 1 tahun 8 bulan. Masih belum menanggung beban dosa. Kalau Bapak? Ah! Dia tidak layak masuk surga. Bahkan, saya ingin dia mendekam di neraka selamanya. Mau masuk surga? Tidak semudah itu!

 

Ketika azan Magrib selesai berkumandang, saya pun salat. Tetapi, salat saya tidak khusyuk. Setelah salat, saya mengaji. Itu juga tidak selancar biasanya. Selesai mengaji saya berzikir, dan semua itu rutinitas yang sudah menjadi kebutuhan saya. Saya banyak dosa dan saya butuh semua itu untuk membersihkannya, meski saya tidak yakin bisa bersih sebersihnya. Saya juga mau masuk surga, jadi saya selalu berusaha membersihkan diri. Tidak seperti Bapak. Bapak itu bejat. Jahat. Menurut saya, dialah orang paling jahat di muka bumi. Kau pasti paham maksud saya, bukan? Tak perlu saya ceritakan lagi bagaimana perilaku Bapak selama menjadi Ketua Dewan Kota. Bukankah saya pernah bercerita kepadamu, kalau dia itu binatang buas yang memakan daging manusia dan meminum darah manusia.

 

Dalam masa-masa berzikir, saya teringat suara Bapak lagi: saya pasti langsung masuk surga. Sungguh, kata-kata Bapak itu menjadi parasit di tengah zikir saya. Saya pun berusaha menghilangkannya. Saya buat nyaring sedikit suara zikir saya. Sampai-sampai istri saya menolehkan kepalanya kepada saya, sambil melepasakan pandangan keheranan. Tapi, dia segera menarik pandangannya dan kembali khusyuk menatap baju yang sedang dijahitnya.

 

Selepas salat Isya saya rebahan di kasur. Istri saya menghampiri dan ikut rebahan di samping saya. Dia tidak langsung bicara, karena, seperti biasa, matanya sedang fokus pada layar ponsel. Memang ponsel saat ini menjadi bagian penting dalam kehidupan siapa pun. Saya pasti langsung masuk surga, kata saya lirih, diakhiri dengan senyum meremehkan. Saya tahu istri saya menoleh ke arah saya, tapi mata saya tetap ke arah langit-langit kamar. Setelah memandangi saya cukup lama, dia pun bertanya kepada saya.

 

“Saya pasti langsung masuk surga?  Saya siapa?”

“Bukan saya, tapi, dia.” jawab saya. Istri saya langsung tahu siapa dia yang saya maksud. Karena saya sering curhat ke istri saya tentang kelakuan Bapak.

“Oh, dia. Siapa saja boleh bercita-cita masuk surga.” kata istri saya, membela, tapi diakhiri dengan tawa meremehkan.

“Tidak semudah itu. Surga hanya untuk orang-orang yang benar-benar baik, tidak jahat seperti dia,” balas saya.

“Kita tak pernah tahu akhir hidup seseorang. Siapa tahu dia mendapatkan akhir cerita hidup yang khusnul khotimah,” kata istri saya.

“Ya, aku tahu. Tapi tidak semudah itu. Mungkin banyak orang yang akan menghalanginya, termasuk aku,” tegas saya.

 

Akhirnya kami bercakap-cakap hebat.



 

“Selain kamu, siapa lagi?” tanya istri saya.

“Bisa jadi anak-anaknya. Bisa jadi istrinya. Bisa jadi orang-orang miskin yang telah dia tipu,” jawab saya.

“Anak-istrinya? Lho, kok bisa? Yang aku tahu cuma apa yang dia lakukan padamu,” tanya istri saya.

“Bukannya menjadi semakin baik ketika menjadi Ketua Dewan Kota, malah semakin rusak,” jawab saya.

“Kamu sedang emosi, hilangkan emosimu. Biar sisi baiknya bisa nampak. Kebencian bisa membuat penilaian menjadi buruk semua,” kata istri saya.

“Aku berusaha obyektif. Berusaha tidak terbawa perasaan. Tapi tidak bisa,” kata saya.

“Lalu kenapa kamu masih  mengikuti perintahnya? Kenapa kamu masih dekat dengan dia?” tanya istri saya.

“Aku bawahan, tidak bisa berbuat banyak. Dia selalu butuh aku, dan aku tidak bisa menolak. Karena aku bawahan,” jawab saya.

“Memang, apa alasan anak-istrinya akan menghalangi dia masuk surga kelak?” tanya istri saya.

“Semenjak dia jadi Ketua Dewan Kota di kantor, anak istrinya dikasih makan bensin,” jawab saya.

“Apa?” tanya istri saya, terkejut, tak percaya, dan semacamnya. Jawaban saya itu membuat dia meletakkan ponselnya, lalu memiringkan tubuhnya ke arah tubuh saya. Raut wajahnya berubah menjadi serius. Serius ingin tahu.

“Coba, coba, ceritakan, aku tidak paham maksudmu,” kata istri saya.

“Ya, anak-istrinya dikasih makan bensin! Begini. Gaji Bapak itu dihabiskan untuk membayar utang ke bank. Untuk memenuhi kebutuhan setiap bulannya, uang belanja, kebutuhan jajan anak-anaknya, dan pengeluaran lainnya, ya sebagian diambilkan dari hasil penjualan kupon bensin yang disediakan kantor setiap minggunya. Coba kau bayangkan itu! Anaknya yang masih balita diberi makan dari hasil penjualan kupon bensin. Dia memang kepala keluarga yang bejat. Kupon bensin itu menggerakkan mobil dinasnya, bukan untuk dimakan,” jawab saya.

“Sangat sadis! Itu kejahatan yang terencana. Sepertinya dia ingin mencetak anaknya menjadi orang yang liar. Lalu, mobil dinasnya bagaimana?” kata istri saya.

“Ya, tidak semua kupon bensin dijual. Kasihan anak-istrinya tidak tahu apa yang dimakannya,” balas saya.

“Dari mana kau tahu kalau anak-istrinya dikasih makan bensin?” tanya istri saya.

“Aku dengar sendiri dari supirnya,” jawab saya.

“Lalu, apa yang membuat kau jengkel?” tanya istri saya.

“Aku jengkel karena dia mengucapkannya di depanku, dengan wajah datar, senyum penuh keyakinan, dan seperti orang tak punya dosa. Ketika dia mengucapkan kalimat itu, aku teringat semua apa yang pernah dia lakukan kepadaku, kepada orang-orang miskin yang sudah dia tipu. Rasa-rasanya saat itu aku ingin bilang kepadanya seperti ini: ‘Hei, kamu laki-laki jahat, kamu binatang, kamu iblis, kamu setan, tidak akan semudah itu masuk surga.’ Tapi, ya, aku tidak berani, karena rasa takutku lebih besar.”

“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Nanti kepala kamu bisa sesak, lalu pusing, lalu tidak masuk kantor lagi, lalu kena tegur lagi. Sudah, sudah, lebih baik kamu istirahat, tidur,” balas istri saya, kemudian pergi.

 

Tetapi, saya tidak bisa tidur. Kepala saya tetap saja tidak bisa melupakan kalimat pendek Bapak. Lalu ponsel saya bergetar. Saya meraihnya dan membuka kunci layarnya. Ada pesan WA dari Bapak. Saya buka, dan di pesan itu tertulis, “Kamu besok, pukul 10, menghadap ke ruangan. Saya ada perlu.” Saya tutup pesan itu dengan sebuah prasangka buruk. Buru-buru saya melihat status saya, dan rupanya Bapak ikut membacanya. Nasib saya terancam. Mungkin nanti dia akan memarahi saya. Mungkin bisa lebih dari marah. Saya tidak tahu.

 

Ya, begitulah kira-kira yang bisa saya ceritakan. Jadi, sekarang, menurutmu, saya harus bagaimana menghadapinya, apa yang harus saya katakan jika Bapak bertanya maksud dari status Whatsapp saya nanti? Sekarang pukul 10 kurang 30 menit. Cepat, katakan, apa yang harus saya katakan nanti? (*)

 

 

Photo by Aleksejs Bergmanis from Pexels
Agus Salim
Ditulis oleh Agus Salim

Lahir di Sumenep tanggal 18 Juli 1980. Tinggal di jalan Asoka Pajagalan Sumenep Madura-Jawa Timur. Bergiat di Komunitas Rumah Literasi Sumenep

%d blogger menyukai ini: