Topbar widget area empty.
Berdamai Dengan Masa Lalu Hujan Bahagia 2 Tampilan penuh

Berdamai Dengan Masa Lalu

Resensi Amirul Syuhada Syidana

 

 

Judul buku : Hujan Bahagia

Pengarang : Stefani Bella

Penerbit : qultummedia

Jenis : Non-Fiksi

Tahun Terbit : Cetakan I, Agustus 2017

Tebal : 232 halaman

ISBN : (13) 978-979-017-365-1

 

Bahasannya enak untuk dibaca. Isinya pas sekali, menggambarkan realita yang biasa dihadapi masyarakat.Bahasanya renyah, mengalir, tak menggurui tapi membuat orang bisa meng-iya-kan apa yang dituang dalam goresan penanya. Ditambah, tulisannya diperkuat dengan dalil Al-Quran sebagai hujjah penguat bagi ummat Islam yang membacanya.

 

Disuguhkan secara apik, dengan gaya bahasa yang enak dan nyaman bagi siapapun yang membaca. Seperti dalam tuangan tulisannya,

 

“Suatu hari nanti, kita pasti akan berterima kasih pada waktu yang telah habis digunakan untuk hal yang selalu diperjuangkan. Pada hati yang menggores luka. Pada luka yang meninggalkan duka. Pada rasa kecewa yang pernah dirasakan. Pada hal-hal yang tak pernah dihargai. Pada kegagalan yang menjatuhkan. Suatu saat nanti, kita akan berterima kasih untuk hari-hari itu.” -Mengingat Duka, Melupakan Bahagia (hal. 57)

 

Bagaimana mensikapi masa lalu? Setiap manusia memiliki masa lalu. Kita pun memilikinya. Kita pernah merasa takut, merasa gagal, bahkan kehilangan. Tapi berapa banyak dari kita yang bisa berdamai dengan masa lalu? Berapa banyak dari kita yang bersedia untuk menjadi seseorang yang begitu terbuka dan menganggap masa lalu sebagai hal yang membuat kita akhirnya bisa berdiri hingga saat ini?

 

Sesungguhnya kegagalan yang terjadi itu sangat berarti, karena ia membuat kita jadi lebih kuat saat melangkah dan lebih menghargai setiap proses yang dilalui. Kehilangan juga berarti, karena ia membuat kita menjalani proses pendewasaan diri yang baik, serta membuat kita jadi lebih menghargai waktu yang tengah dilalui.

 

Agar bisa diterima orang lain, bukankah kita harus bisa menerima diri kita lebih dulu? Jika kita terbiasa hidup mengenakan “topeng”, apakah selamanya kita akan terus seperti itu? Sampai kapan? Sampai kita lelah mengenakannya? Lelah membohongi orang lain dengan terus bersembunyi di balik topeng?

 

Jika selama ini kita membiarkan orang lain menerima dan melihat kita dari sisi luar topeng, lalu bagaimana kelak kita memperlihatkan apa yang ada di balik topeng sesungguhnya?  Saat itu, masihkah mereka mau menerima kita? Karena selama ini yang mereka tahu dan lihat, adalah apa yang ingin kita perlihatkan pada mereka, bukan diri kita yang sebenarnya.

 

Kamu pernah merasa sedih, galau, resah, gelisah dan marah? Perasaan apapun itu selain bahagia, pernahkah merasakannya? Jika iya apa yang kamu lakukan? Diam dan berusaha mengalihkannya atau membiarkan perasaan itu hadir dan memilih untuk mengungkapkannya pada orang orang yang kamu percaya?



 

Saya lebih memilih yang kedua. Yang dengan segala bentuk kerendahan dan kekurangan sebagai manusia, memilih untuk menerima perasaan itu ketimbang mengalihkannya. Kenapa? Karena, jika kita memilih untuk mengalihkannya dengan berpura-pura bahagia, bahkan melarang diri untuk menjadi sendu, bukan tidak mungkin, suatu saat nanti emosi itu akan meledak dan justru menghancurkan diri sendiri.

 

Memilih untuk tidak menunjukkan kekecewaan, kesedihan atau bahkan kemarahan pada oranglain, bukanlah sebuah masalah. Tapi bukan berarti kita jadi tidak mengaku perasaan itu pada diri kita sendiri. Karena dengan kita selalu menyangkal dan tidak menerima emosi dan perasaan itu, kehidupan kita jadi tidak akan berjalan seimbang.

 

Kita harus meluruhkan rasa yang ada. Kita harus menerima segala rasa yang datang. Pun begitu dengan hal-hal di masa lalu kita. Karena apa? Karena kita berhak untuk memulai kisah baru tanpa ada masa lalu membayangi. Karena kita tidak sepatutnya menjaga emosi yang bisa meledak sewaktu-waktu itu, tetap berada di sana tanpa luruh sesekali waktu.

 

Akui saja perasaan dan hal-hal yang pernah singgah dalam hidup titik bila tak bisa berbagi dengan manusia lain, ingatlah masih ada sajadah yang selalu siap terbentang untuk bersujud di hadapan Tuhan titik bila tak ingin memperlihatkan segala rasa pada orang lain, ingatlah pada sisi lain diri yang selalu sanggup menerima apapun kondisinya.

 

Untuk semua masa lalu yang telah terlewatkan Semoga selalu ada pelajaran yang bisa terpetikkan. Untuk masa depan yang masih begitu abu-abu, semoga skenario-Nya tidak membuat kita kembali terjebak dalam kesedihan dan rasa ragu. Sebab seperti kita tahu, Allah swt adalah penulis skenario terbaik untuk aktor manusia seperti kita. Maafkanlah diri dan masa lalu. Tetap semangat dan teruslah berjuang!

 

Buku ini terbilang unik dengan gaya bahasa yang mudah dipahami semua umur, khususnya remaja. Pilihan kata yang tepat membuat para pembaca tergugah menikmati lembar demi lembarnya. Mengedepankan kenyamanan dalam membaca, buku ini hadir denganhalaman penuh warna. Ditambah judul-judul menarik, quotes dan kalimat singkat, menghiasi setiap cerita. Membuat para pembaca seolah menulis di buku diary milik mereka.

 

Buku ini memang cukup disarankan untuk dibaca karena konten yang diusung, alur cerita, dan kenyamanan dalam membaca. Namun, buku ini terbilang minim menggunakan quotes Islami. Akan lebih baik jika sesuai dengan genre buku yang menjadi fokusnya, Motivasi Islami.S

 

Amirul Syuhada Syidana, lahir di Rembang, 11 Maret 2004. Memotret kicau yang tercatat diinstagram @syuha.smazss, membagikan momen kesehariannya di blog Manboy(https://syuhasmazss.blogspot.com/ ) juga aktif dalam komunitas dakwah @kuyhijrah.official.

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: