Topbar widget area empty.

Ikan-Ikan Dalam Kertas

Puisi-Puisi Khanafi

 

 

Pintu Tertutup

 

segalanya tertutup seperti pintu-pintu itu, kotaku, sebutir cemas masuk lebih dulu

dan menjadi apa saja tanpa kau tahu. malam yang membebaskan perasaan,

jam yang dipotong-potong sebagai daging dan dipanggang di tengah jalan kotamu,

jarak terbentang sejauh ketidaktahuan akan esok, dapatkah kita ngopi hari ini?

 

aku harus berjalan melupakan pintu-pintu yang tertutup, melupakan kata-kata

seperti sebuah janji yang tidak ada kesepakatannya, dan aku tak perlu merasa berdosa,

aku baik-baik saja, aku percaya seperti juga orang-orang teologia itu percaya. aku pun sampai, entah pada suatu hari apa, jam dan usia macam apa yang sudah tercatat di buku nasib, jauh di sebuah langit yang jauh sekali

 

sejarah telah mencatat; hati seperti apa yang pandai menolak itu, seperti pintu tertutup atau kehendak yang enggan menerima usaha seorang manusia yang tengah menjadi tidak berguna di sebuah kota yang mirip inferno dalam bagian-bagian milik dante, mungkin waktu akan menyimpan tiap langkah-langkah bisu ini menjadi sesuatu yang merambat di masa depan, mungkin seperti getaran-getaran kunci yang indah ketika ia memasuki lubang matamu

 

2019

 

 

 

 

Ikan-Ikan Dalam Kertas

 

ikan-ikan dalam kertas yang kau gambar dan pelihara; nilanya delapan, paling tinggi di antara ikan-ikan jenis lain yang dijaring dari tempat yang sama dari warna yang sama, tapi kebanyakan dari ikan tidak bisa bicara, bahkan pada batu-batu yang melindunginya dari para pemburu, batu-batu yang seperti mata teman-temanmu

yang jail dan suka menyebut nama bapakmu dengan nada yang usil

 

kau seorang gadis kecil duduk sendirian ketika gerimis berlangsung di lorong-lorong kaca jendela ruang tamu dan parade payung warna warni melayang dalam akuarium di jalan depan rumahmu, ada seragam yang disobek dari bendera sebuah bangsa indah sekali seperti mawar dan kain kafan milik seorang raja yang waktu itu basah dan kedodoran oleh dingin

 

maka, setiap hari minggu kau boleh memberikan makanan buat ikan-ikan yang kau jaga dalam kertas A 4 itu, setiap minggu telur-telur menetas seperti mimpimu, penuh warna di kegelapan tidur di hari-hari libur dan warna merah adalah kesukaanmu, itu adalah makanan paling lezat bagi ikan-ikan yang tubuhnya penuh hiasan

 

hujan telah memberikan sumber air bagi ikan-ikan dan kau bersyukur seperti ikan yang diam-diam menantikan teman-temannya dan kau temukan di dalam suara hujan kegembiraan yang putih seperti kertas dan tanganmu bermain dengannya sambil menggenggam krayon yang meleleh indah di kolam mimpimu pada suatu minggu

 

2019

 

 

 

 

Chairil, Rendra, Sapardi, & Kau;

Mungkin Nama Teman Masa Kecilku Yang Terlupakan

 

chairil, kupanggil ia ketika hari senen begitu merah seperti matanya, pagi yang hilang pada kereta terakhir; ‘tak ada yang lebih resah dari mata yang menerjang ke mana…’

di pinggir rel-rel dingin, kerikil tajam yang terempas angin yang putus di kabel listrik meninggalkan suara yang jauh pada lorong-lorong waktu yang jauh pada sebuah tempias di stasiun, mungkin peperangan antara hasrat dan nafsu bisa diperbincangkan lewat kata-kata. bisa jadi aku lupa kapan terakhir ‘aku’ menemukan namamu dan memanggilnya sebagai teman dari seberang desa

 

rendra, kupanggil namamu pada sebuah kekosongan percintaan saat usia menginjak SMP, dan apa boleh buat aku menuliskan namamu pada bangku-bangku seperti puisi yang menggebu melambangkan betapa manusia ini rapuh, menjerit dan membutuhkan keadilan hati seorang lawan, aku juga dari jenis-jenis kesepian yang selalu rindu menuliskan surat untukmu, temanku, walau kau sudah lebih dulu berangkat ke kota

 

sapardi, entah kenapa nama itu begitu kampungan dan istimewa, aku merindukan suaramu dari balik telepon genggam ketika hujan menampar habis sisa-sisa hari di bulan juni, dan jepang waktu itu musim hujan. aku belum pernah menjumpaimu lebih ringkas dari sehelai daun gugur di halaman, atau siut angin menuju pegunungan melawati gesekan daun cemara, melintasi sungai dan burung-burung terbang bebas, kayu-kayu yang basah sering kubayangkan seperti kau yang menua, tapi dua puluh lima aku, dan kau dan teman-teman yang berasal dari perkampungan yang sama, pulang, lantas suara…



 

hujan….

 

dan kau bangkit dari tidur panjangmu, ketika usia menuntunmu melewati waktu demi waktu, hari, minggu, bulan dan tahun yang benar-benar jemu, dua puluh lima buku dan jari-jari aneh masih seperit huruf-huruf, seperti suara teman-teman yang dulu kaulihat dan kaupandang dari kejauhan pengalaman, dan kau sadar seperti siang bolong, kau telah melupakan mereka sebanyak masa sekolah, kini ia sekuat usaha otak merekam kata-kata, menghafalkan sajak-sajak, melupakan sementara penerimaannya

 

2019

 

 

 

 

Ingatan

 

tolong ingat aku yang melahirkanmu dengan berbagai cara seperti pencuri yang sedang lapar-laparnya, jika kau kelak diterima kirimkan angin itu lagi, hingga aku bisa hamil dan menghamilimu kembali, agar supaya keturunan kita semakin bagus seperti bunga-bunga pada soneta atau ornamen dinding atau indah bagai nyanyian balada, tapi kita tetap liris saja, menempuh garis warna yang menjulur ke arah gua, dan akhirnya kita menjelma samaran

 

ingatlah betapa susah payah ingatan menyimpanmu dalam tabung inkubasi seperti sebuah dunia yang besar, membiarkan seluruh pengalaman itu mengendap seperti secangkir kopi yang nikmat di meja pagi hari yang kau buat sendiri dengan menghubungkan diri secara intens pada benda-benda seolah saling bercakap, sebab dalam cuaca hidup di negeri bahasa apa saja bisa mengada termasuk Kamu, mungkin persis kiasan ketika membaca beberapa buku sajak paling menantang, afirzal malna, misalnya

 

maka, di hari itu jagalah aku baik-baik ketika kau berusaha menemui siapa saja biarkan wajahmu menunduk menyembunyikan sebelah mataku yang tertanam di sana seperti rahasia, seperti lautan, seperti irama di hatiku, seperti mirip cinta padamu

 

2019

 

 

 

 

Seorang Penyair Yang Membaca Ulang Bukunya

Setelah Terbit Berkali-kali

 

ia enggan awalnya menerima pertanyaan dalam tangan seorang perempuan

buku yang tergeletak seperti kayu tua, agak terbuka, huruf-huruf seperti daun

yang lapuk diterbangkan usia, wajahnya dalam tengadah seolah menerjang yang di hadapannya seolah menjaring yang tiada

 

matanya yang pulih dari mengembara seakan berkata ‘tidak bisa’

di halaman perpustakaan yang sepi, ia ditatapnya, perempuan yang benaknya

penuh tanya, yang mencintainya sebab ia menulis puisi

 

ia berkali-kali memejam buat melenyapkan pertanyaan buat meredam kenangan yang mengusap-usap ingatan, sedang di hadapannya perempuan terus saja meminta

 

‘apa yang bisa kuberikan pada sesuatu yang telah lepas?’ seperti menegaskan suatu perasaan yang bertahun-tahun hilang tak tahu rimbanya

 

ia enggan awalnya menerima penyesalan itu dalam tangannya yang sudah tak ada nama atau tempat, tak menggenggam lagi hasrat, terkulai menjangkau buku yang tergeletak di atas batu seperti mati dan huruf-huruf tersusun bukan lagi menjadi puisi

 

2019

 

Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah, pada 4 Maret 1995. Tulisan-tulisannya berupa puisi, cerpen, dan essay tersiar di beberapa media massa baik situs daring maupun cetak, seperti; Detik.com, Linikini.id, Tembi.net, Litera.co.id, Sastra Biem.co, Koran Tempo, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Radar Banyuwangi, Radar Banyumas, Budaya Fajar, Pos Bali, serta terikut dalamberbagai buku antologi puisi. Beberapa puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Prancis. Penulis berkhidmat di Forum Penyair Solitude. Sehari-hari bekerja sebagai editor lepas. Sekarang penulis tinggal di Purwokerto dan tengah merampungkan buku kumpulan puisinya. Penulis bisa dihubungi melalui Email : afisaja043@gmail.com

 

Photo by cottonbro from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: