Topbar widget area empty.
Ladang dan Laut Ladang dan Laut Tampilan penuh

Ladang dan Laut

Puisi-Puisi Royfan Ardian

 

 

PRASASTI ABU KREMASI

 

Di setiap puing-puing

abu kremasi jasadku

Terdapat kumpulan-kumpulan airmata

Menggenang

Menghanyutkan ke laut

Ribuan ucapan

beradu dalam ombak

Mengantar

ke dasar samudra kesedihan

Menjadikan prasasti

dalam hati mereka masing-masing

 

2019

 

 

 

 

KEMATIAN

 

Huruf-huruf eulogi

pada upacara mengantarkan,

menemuiNya.

Tidak kehilangan, tidak memiliki.

Kehilangan, akibat dari memiliki.

 

2020

 

 

 

 

PADASAN

 

Matamu adalah padasan

Kau kucurkan air

Menghapus debu di kaki

Dari melintasi tanah gersang

 

Matamu kemudian padasan retak

Pada sisi-sisinya

Akan lagi tak bisa menampung

Dan kau kehilangan kesucian

 

2020

 

 

 

 

SEBELUM MENJADI MERDUK

 

Sebelum semua menjadi merduk

Kembali sekerat awan dan pepohonan bukit mengguar

 

Gemaung kersik dari pepohonan

Mengingatkan warna hijau yang mulai pudar

Dan awan perlahan

Beringsut digiring angin

Mengingatkan pada putih diantara biru

 

Sedang yang sedang menyiapkan telinga

Terbuka mengarah atas

Tidak ada yang dapat ditangkap

Kecuali ujaran-ujaran

Yang kembali dibaca

 

Sebelum semua menjadi merduk

Lalu hilang dan terganti

 

2020

 

 

 

 

LADANG DAN LAUT

 

 

/Ladang/



 

/1

Jauh sebelum beranjak ke ladang.

Kepala masih fasih

membaca pada manuskrip-manuskrip

dan beberapa peristiwa ternukil di almanak.

 

Telah beringsut, nubuat-nubuat dan

waktu mengurai menjadikan beberapa asal-usul.

Satu-satunya kepastian tersemat adalah sama nasibnya.

Nasib kaki menginjak dan terkena debu

tanah yang sama;

nasib tubuh terbuka dan angin keluar masuk,

angin yang sama.

 

/2

Menghidu aroma ladang basah

diantarkan oleh desir angin.

Membayangkan padi berjurai

menyambut datang hujan beramai-ramai.

Pundi-pundi puji kepada Tuhan dan nenek moyang.

Telah menghidupkan binar di sepasang mata;

sorot matanya mampu menghibur sanak dan kerabat.

Petani dengan segala keletihan yang menjadi unggunan

berkobar disulut api di tengah-tengah dingin

dibawa derai-derai. Bertahan hingga musim selanjutnya.

Berganti. Memanggul air dan ditebar ke tanah merekah

musim kemarau.

Mengembalikan semangat mengundang

tetumbuhan untuk menubuhkan diri di atasnya.

Agar kelak terbagi-bagi kepada keluarga di rumah

dan senasib─senenekmoyang.

 

 

/Laut/

 

/1

Riak dan alun

silih berganti menghapus jejak

pada bulir pasir pantai.

Jejak yang diturunkan dari dermaga dan

diserahkan kepada semenanjung.

 

Laut membuat bilur pada sampan-sampan

juga pada sejarah termaktub.

Maka nasib mengobatinya dengan

: ampun.

 

/2

Menakar layar gemetar

diterpa angin-angin semenanjung,

mengiring sampan berlayar.

Juga badan gemetar

menjangki senyuman di bibir-bibir anak dan istri

agar ombak tak melahapnya.

Langit malam kelam lebam,

dalam remang-remang lampu

perlahan dikuliti oleh gelap.

Menjala ikan-ikan di kedalaman sunyi,

lalu pulang di pagi hari.

Menambat sampan dan harapan

pada nasib turun-temurun.

Pelaut-pelaut membebat bilur

pada bara dapur meletup

menyajikan semangkuk sup.

 

/-/

Telah diingat-ingat petuah nenek moyang

tentang ladang dan laut.

Ladang yang luas

Laut yang luas

Adalah tempat menyatukan sejarah

dan menjawab asal-usul.

Maka itu lah, hidupi keluarga

dengan keluarga.

 

2020

 

Royfan Ardian, seorang mahasiswa dari Universitas Negeri Yogyakarta. Menempati sebuah rumah di Klaten, Jawa Tengah. Selain menulis puisi, ia juga bermain basket dan rubik.

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: