Topbar widget area empty.
Sewaktu Senja Lelaki Laut Tampilan penuh

Sewaktu Senja

Puisi-Puisi Firman Wally

 

 

WANITA PANTAI

 

Kutuliskan selembar puisi mewakili

wanita yang sudah lama menanti lelakinya

dalam sepi di bibir pantai

Lama sudah lelakinya merantau jauh

Berharap lelaki yang dicintainya itu

dapat diselamatkan angin laut

Dari ganasnya gelombang maut

 

Di dalam dadanya

Tumbuh seribu gelisah membahana

Semenjak lelakinya tak kunjung tiba

sudah seribu kali senja menyapa semesta

 

Adakah yang akan kita rasakan bersama

Tentang gelisahnya seorang wanita yang telah terpahat oleh kata rindu

Hingga di dadanya tubuh seribu renjana

yang begitu hijau

 

Puisi apa lagi yang ingin kutuliskan lagi

Duhai wanita pantai

yang sudah lama membisu dalam rindu?

 

Ambon, 09 Nopember 2020

 

 

 

 

LELAKI LAUT

 

Di laut lepas

Lelaki laut mengawali senja hingga pagi

Dengan kata-kata penghangat jiwa

Dari dinginnya nasib di atas luas semesta

 

Ketika matahari mulai condong di punggung tanjung

Berbincanglah ia dengan kehangatan matahari

dengan begitu kencang

sebelum gelombang dipecahkan oleh karang

Sebab tak akan baik nasib baik

Bila tidak dijalankan dengan lajunya kata-kata

baik yang terus berkembang biak, katanya

 

Ambon, 09 Nopember 2020

 

 

 

 

LELAKI LEIHITU BELAJAR HIDUP

 

Di atas kulit laut

Lelaki Leihitu belajar menghitung waktu

Sebelum arloji laris manis di pasar minggu

 

Pergi ke laut harus mau menjilat asin laut



Sebelum lidah meneguk manisnya keringat

 

Harus jadi lelaki sejati, katanya

Selalu bersetia entah susah dan senangnya

Sebab hidup bukan saja tentang dulang

Melainkan juga harus merasakan

lelah dan gelisah di tulang

 

Seith, 06 Nopember 2020

 

 

 

 

NOPEMBER

 

Di bulan Nopember

Hujan datang bertamu di desaku

Kadang matahari mengetuk ganas kepalaku

Tak peduli akan waktu

Kapan menghampiri

Kapan harus pergi

 

Sepertinya tahun-tahun ini

hujan dan matahari tak lagi

Berkomitmen pada musim

 

Seith, 06 Nopember 2020

 

 

 

 

SEWAKTU SENJA

 

Sewaktu senja datang bertamu

di kampungku, tak lupa ia membawakan

aroma kedamaian angin timur di bibir pantai Leihitu

Dan sedapnya ikan komu bakar

mewangikan piring pembelian ibu

 

Sewaktu senja datang

Anak-anak baru tumbuh remaja pada bersukaria

dengan dayung dan perahu buatan ayah

mengikuti aliran air laut

seperti tragedi ikan duyung di lautan China

 

Dan sewaktu senja datang

Hal yang tak bisa kubawa pulang adalah kenangan

setelah handphone nyaman di genggaman

Yang tak bisa kubawa pulang ada pertemuan

Semenjak tangan-tangan suci tak lagi melingkar segar dalam pelukan

 

Eli, 08 Nopember 2020

 

Firman Wally, pria kelahiran Tahoku 03 April 1995. Lulusan Universitas Pattimura Ambon jurusan Sastra dan Bahasa Indonesia. Puisi-puisinya sudah termuat di berbagai antologi bersama dan juga di berbagai media online. Aktifitasnya sekarang sebagai pengajar di SMA NEGERI 27 MALUKU.   ig: firmanwally02

 

Foto oleh TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: