Topbar widget area empty.
Sri, Rejeki dan Ayam Yang Berkokok Dini Hari Ayam yang Berkokok Tampilan penuh

Sri, Rejeki dan Ayam Yang Berkokok Dini Hari

Cerpen Rega Pratama

 

 

Ketika Barjo terbangun wajah terlihat ketakutan dan berkeringat. Matanya melotot, seakan-akan kejadian mengerikan itu belum juga hilang. Ia duduk di pinggir kasur, sambil mencoba melupakan mimpi yang barang kali akan merubah nasib keluarganya.

 

Bulan menggantung dengan cahaya keperakan di malam yang sudah tua. Kawanan ayam jago berkokok dengan nyaring. Ayam-ayam itu seolah menjerit dan berteriak, memberi kabar bencana pada dunia. Mereka berlari melewati semak-semak, sungai, sawah, dan akhirnya sampai di permukiman. Warga yang melihatnya heran, bagaimana seekor ayam bisa berlari dengan gesit di bawah cahaya bulan? Belum sempat menjawab pertanyaan itu, ayam jago melompat di depan wajahnya, mengepakkan sayap, dan mencakar matanya.

 

Tidak hanya satu, belasan bahkan puluhan rumah didatangi ayam jago. Mereka melakukan hal yang sama pada setiap orang yang ditemui, kecuali para gadis. Ayam jago itu akan membiarkan gadis-gadis menjerit dan ketakutan dalam kegelapan. Tetapi ayam-ayam itu tidak membiarkan tubuh seorang gadis tergeletak begitu saja. Mereka ayam jantan, berdiri gagah di atas ranjang layaknya manusia yang dibutakan oleh nafsu. Lalu, entah dengan cara bagaimana mereka menggagahi gadis-gadis itu.

 

Seorang warga yang selamat dari serangan itu berkata. “Mereka ayam jadi-jadian. Matanya bukan mata hewan tapi seperti mata manusia. Mereka juga berbisik satu sama lain dengan paruhnya. Aku tak yakin mereka itu hewan, mereka siluman!” Barangkali itu sebabnya ayam-ayam itu dapat melihat dalam gelap.

 

Setelah semua gadis terkapar tanpa sisa, ayam-ayam itu kembali berlari menuju permukiman selanjutnya. Mencari mangsa selanjutnya untuk memuaskan hasratnya. Dari mana ayam-ayam itu? apakah benar hanya ilmu hitam? Para gadis yang menjadi korban ayam-ayam itu tersadar dan bertanya-tanya. Namun, ada yang kemudian pingsan setelah menyadari bahwa dirinya berbadan dua.

 

“Ya, mereka hamil. Ayam-ayam misterius itu telah membuahi mereka. Anehnya perut gadis-gadis itu membesar tanpa waktu lama,” ucap salah satu warga.

 

Warga yang tidak terima dengan perbuatan ayam itu menuntut balas. Ayam-ayam yang ada di muka bumi di bantai tanpa terkecuali, bahkan ayam goreng, patung ayam, ayam kampus, atau lukisan ayam sekalipun. Bangkai-bangkai ayam dikumpulkan menjadi satu, lalu disiram bensin dan dibakar. Api yang menjilat-jilat ke udara diam-diam menyerang orang didekatnya. Seolah bangkai-bangkai ayam itu berkata bukan mereka pelakunya. Lalu siapa?

 

Barjo masih termangu di atas kasur, baginya itu bukan sekedar mimpi buruk. ia memiliki peternakan ayam di pinggir desa. Apa jadinya jika ayam ternak itu adalah jelmaan manusia? Atau ada ayam misterius yang menyusup masuk ke peternakan? Lalu dengan rasa khawatir, ia menyuruh pegawainya untuk mengecek ayam itu satu-persatu. Memastikan bahwa ayam itu bukan manusia yang menjadi ayam karena kepentingan. Tetapi, Barjo lupa satu hal. Ia memiliki anak gadis di rumah, tanpa pikir panjang ia menjual seluruh ayamnya.

 

Tindakan Barjo itu membuat istri dan anaknya curiga. Peternakan ayam itu adalah satu-satunya mesin uang yang dimiliki.Hidup mereka bergantung pada peternakan itu.

 

“Bapak, kenapa semua ayam dijual?” tanya Sri, anaknya.

“Kamu tenang saja, ini semua untuk masa depanmu, Nduk,” jawab Barjo meyakinkan.

 

Mendengar jawaban Barjo, Sri tiba-tiba gembira. Untuk pertama kalinya, Barjo memikirkan masa depannya. Ia menganggap hal itu pertanda cintanya dengan sang kekasih direstui. Memang selama ini hubungan Sri dan Rejeki tidak mendapat restu dari Barjo. Disebabkan karena Rejeki hanyalah seorang petani desa, padahal selama hidupnya, Barjo menginginkan menantu seorang sarjana.

 

Hubungan Sri dan Rejeki bukan tanpa perjuangan. Selayaknya lelaki sejati, Rejeki berusaha meyakinkan Barjo jika ia bisa menjadi suami yang baik. Ia menjual beberapa sawah, lalu kuliah jurusan pertanian. Tindakan itu ia lakukan semata-mata untuk memenuhi syarat utama dari Barjo, menjadi sarjana. Begitupun, Barjo masih menganggap Rejeki bukanlah calon suami yang baik untuk Sri.

 

“Apa hebatnya sarjana jika masa depannya menjadi petani?” pikir Barjo dalam hati.

 

Suatu hari, Rejeki memberanikan diri melamar Sri. Ia pantas percaya diri, karena bakal jadi sarjana.

 

“Iya saya tahu kamu akan lulus jadi sarjana. Tapi kalau masih jadi petani, apa bedanya? Saya ingin Sri emenikah dengan seorang pejabat, minimal pekerja kantor lah,” jawab Barjo angkuh.

 

Sebenarnya ada satu alasan yang dirahasiakan Barjo. Sebuah rahasia yang diwariskan ayahnya dulu. Bukan tentang siapa calon suami Sri, tapi hal itu sudah menyangkut martabat keluarga. Peternakan ayam milik Barjo adalah warisan turun temurun yang dianggap sakral dalam keluarga besarnya. Menerima warisan peternakan itu berarti mendapat beban untuk menjaga, merawat dan mempertahankan. Ada satu peraturan yang tidak pernah anggota keluarga lain tahu, jika peternakan itu gagal atau dijual, maka musibah akan datang. Sejak jaman dulu, peternakan milik keluarga Barjo mempunyai satu rival, yaitu peternakan ayam Rejeki, yang tidak lain milik kekasih Sri. Sebab urusan warisan itulah Barjo menolak Rejeki, apapun alasannya ia tidak sudi berbesan dengan rival keluarganya.



 

Namun, dengan penuh kesadaran Barjo telah menjual seluruh ayam, yang berarti ia melanggar wasiat itu. Awalnya Barjo tidak mau percaya takhayul, tapi setelah beberapa bulan, keluarganya dilanda kelaparan. Ia sudah mencoba bermacam-macam usaha. Mulai dari ternak lele, kambing, burung, toko kelontong, tapi semuanya gagal total tanpa sebab yang jelas.

 

Suatu hari, untuk pertama kalinya setelah ayam-ayam dijual, Barjo datang ke kandang ayamnya. Ia memandang setiap jengkal dinding-dinding bambu, menghirup aroma tahi ayam yang masih terasa. Lalu ia berhenti sejenak dan teringat suatu hal yang menjadi cikal-bakal peternakan. Itulah kenangan ketika Barjo bicara empat mata dengan ayahnya.

 

“Satu hal yang perlu kamu  tahu, Jo,” ayahnya memegang kedua bahu Barjo. Waktu itu Barjo masih berusia remaja, ia tidak paham betul apa maksud ayahnya. “Peternakan ini berawal ketika buyutmu dilanda kesusahan. Ia duduk di depan rumah gubuk miliknya. Mencari cara agar keadaan keluarga kita bisa membaik, tidak bergantung pada pemberian orang setiap hari. Saat itu, rembulan melingkar sempurna pada pertengahan bulan. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba ia mendengar ayam berkokok dengan keras. Suaranya mengalahkan kegaduhan dan keresahan dalam hatinya. Lalu dari rembulan yang bersinar keemasan, ia melihat sosok bejubah putih melayang, lalu terbang menuruni langit. Sosok berjubah putih itu berhenti disebuah kandang ayam dan memberi sebuah mantra rahasia. Seketika kandang ayam itu bersinar, ayam-ayamnya berkokok tanpa henti, seolah bernyanyi lagu kebahagian. Ia melihat sendiri, bagaimana ayam-ayam itu diberkati oleh sosok yang ia sebut malaikat. Dan setelah malam itu, sejarah peternakan kita dimulai.”

 

Butuh waktu bertahun-tahun untuk Barjo memahami cerita itu, tapi tidak pernah berhasil. Pernah ia bertanya kepada istrinya, tapi malah ditertawakan, leluhurnya itu dianggap membual. “Bagaimana bisa seekor ayam melihat malaikat? Bapak jangan ikut-ikutan percaya dengan cerita seperti itu, musrik Pak, astagfirullah.”

 

Sejak hari itu, Barjo mengubur dalam-dalam rasa penasarannya. Sampai hari ketika ia merasakan apa itu kesusahan, kenangan itu seolah menggugah hatinya. Ia mengingat kembali setiap kalimat ayahnya yang terdengar jelas dalam ingatan. Mencoba mengartikan setiap ucapan, kata demi kata, sampai akhirnya ia menemukan sebuah jawaban. Peternakan itu adalah berkah dari Yang Maha Kuasa, pikirnya dalam hati.

 

Barjo akhirnya tersadar, takdirnya menjadi peternak ayam memang sudah pilihan dari para leluhur. Ia lalu memutuskan untuk membangun kembali usaha peternakan itu. Tanpa pertimbangan istri dan anaknya, hari itu juga ia membeli ratusan ayam. Ternak ayamnya kembali berkembang pesat, mengambil lagi pasar ayam yang telah pindah tangan. Kehidupan keluarganya kembali normal dan ia memutuskan untuk mempertahankan ternak ayam itu apapun yang terjadi.

 

Kembalinya peternakan itu meresahkan hati Sri. Ia khawatir bapaknya berubah pikiran tentang masa depan yang dijanjikan. Bagaimanapun juga, ia terlanjur berjanji sehidup semati dengan Rejeki. Ia tidak mau hari bahagia yang sudah direncanakan bersama Rejeki kandas di tengah jalan.

 

“Bapak kenapa membeli ayam ternak lagi?” tanya Sri penasaran.

“Keluarga kita memang sudah ditakdirkan menjadi peternak ayam, kelak kau juga akan mewarisinya. Bapak sudah memikirkan semuanya. Bukan semata-mata karena keinginan Bapak, tapi ini untuk menghargai leluhur dan masa depan keluarga kita, Nduk,” Barjo menjawab penuh kewibawaan.

 

Mendengar jawaban tersebut, Sri semakin yakin jika bapaknya telah berubah pikiran. Sekali lagi ia kecewa, seperti saat sang bapak menolak lamaran Rejeki kala itu. Ia seperti ditampar oleh perasaannya sendiri. Antara warisan leluhur atau kebahagiaannya kelak. Lantas ia menceritakan masalah itu pada Rejeki dan berharap menemukan solusi.

 

“Sri, aku mencintaimu lebih dari garis hidupku sendiri. Kamu tahu aku menolak peternakan ayam dari ayahku, agar tak ada lagi permusuhan antara keluarga kita. Tapi jika itu belum cukup untuk kita bersatu, aku akan melakukan apa saja. Sri, bagaimana denganmu, kau siap dengan risikonya?” ujar Rejeki.

 

Sri mengangguk pelan meskipun masih ada keraguan dalam benaknya.

 

“Tunggu aku saat malam paling tua!” Rejeki pergi meninggalkan Sri yang justru semakin resah.

 

Malam itu, Barjo terbangun oleh suara ayam yang berkokok saling bersahutan. Ia tidak lagi khawatir soal mimpinya kemarin. Malaikat sedang memberikan berkah pada ayam-ayam, pikirnya. Lalu ia memutuskan untuk melihat sosok berjubah putih yang pernah leluhurnya lihat dan merasakan sendiri bagaimana ayam-ayam itu mendapat berkah. Tetapi, saat berjalan keluar rumah, ada suara mengerang dari dalam kamar Sri. Ia khawatir suatu hal buruk menimpa putrinya. Pintu kamar terkunci, lalu ia mendobrak berkali-kali. Sesekali terdengar suara lelaki dari balik pintu. Barjo semakin panik. Ia berteriak sambil terus menggedor. Merasa nyawa putrinya terancam Barjo semakin kesetanan, menghajar pintu sampai pintu itu terbuka. Lalu masuk menenteng sebilah galah. Dan tiba-tiba kokok ayam itu berhenti seketika. Malam menjadi lengang. Tidak ada siapapun dalam kamar, juga tidak ada Sri. Yang ada hanya sehelai kain dengan bercak darah dan jendela yang terbuka.

 

Semoga hanya mimpi buruk, batin Barjo.

 

 

Rega Pratama lahir di Klaten, 4 Agustus 1998. Menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi maritim di Yogyakarta. Memiliki hobi menulis cerpen dan puisi. Beberapa cerpen menjuarai perlombaan di Yogyakarta, salah satunya dalam Pekan Jurnalistik Universitas PGRI Yogyakarta tahun 2019 dan 2020. Saat ini aktif berkesenian menjadi penyair panggung dan bergabung dalam komunitas Forum Rekap Asa (Frasa) di Solo, Surakarta.

 

Photo by Leonardo Jarro from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: