Topbar widget area empty.
Kesedihan Senantiasa Terulang kesedihan Tampilan penuh

Kesedihan Senantiasa Terulang

Esai Anugrah Gio Pratama

 

 

….

Tahun ke tahun hanya kesedihan

yang diulang-ulang zaman.

….

 

Tulisan di atas adalah potongan dari sebuah puisi yang berjudul “Tumpahan Duka dan Doa di Tubuh Puisi”. Puisi itu saya tulis tahun lalu ketika kasus kematian tersebab Covid-19 terus meningkat dan hari seakan diselimuti keresahan yang agung.

 

Jika saya amati dan renungi lagi potongan puisi tersebut, sepertinya bagian itu akan terus terngiang di kepala. Ia bisa menjadi semacam pengingat bahwa hidup memang tak pernah lepas dari yang namanya kesedihan.

 

Baru-baru ini saja kita dihadapkan pada masalah yang tak kunjung usai dan bertubi-tubi. Belum tuntas Covid-19, kita dikejutkan dengan berita pesawat jatuh, kemudian datang lagi kabar beberapa wilayah diserang banjir, bahkan, ketika saya mulai membuat tulisan ini, ada daerah-daerah di Indonesia yang ditimpa musibah gempa.

 

Melihat berbagai masalah di atas, tentu menjadi sesuatu yang wajar apabila kita tiba-tiba menjelma seorang yang murung. Namun, terus hanyut ke dalam kemurungan yang membuat kita justru jatuh dan putus asa, itulah yang harus kita hindari. Mari renungkan firman Allah Ta’ala dalam surah Ar-Rum (30) ayat 36 berikut, “Dan apabila Kami berikan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan (rahmat) itu. Tetapi apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.”

 

Firman Allah Ta’ala tersebut punya pesan tersirat bahwa sesungguhnya manusia yang baik senantiasa bersyukur ketika mendapat kebahagiaan serta tak mudah mengeluh, tak mudah putus asa ketika ditimpa musibah (kesedihan). Sebaliknya, manusia yang baik akan bermuhasabah ketika segala macam kesedihan hadir. Manusia yang baik bersikap bijak dan tidak semena-menamenyalahkan pihak-pihak tertentu. Pertanyaannya, sudahkah kita menjadi manusia yang baik? Sudahkah kita bermuhasabah? Bisa jadi segala musibah (kesedihan) yang hari ini lahir disebabkan oleh tangan-tangan kita, oleh dosa-dosa kita sendiri!

 

Ingatlah, kehidupan akan terus mengulang banyak kesedihan, entah kesedihan itu datang dengan bentuk yang sama atau pun datang dalam bentuk yang berbeda. Manusia tak akan pernah bisa melepaskan diri darinya. Catat sekali lagi: tak akan pernah bias melepaskan diri darinya! Satu-satunya hal yang bisa kita perbuat hanya bersabar, terus optimis, dan terus bermuhasabah. Tak perlu salahkan orang lain. Salahkan diri kita sendiri yang penuh dengan cela ini.

 



Semoga tulisan ini bermanfaat terutama bagi saya pribadi dan pembaca khususnya. Saya ingin tutup tulisan ini dengan melanjutkan beberapa bait akhir dari puisi “Tumpahan Duka dan Doa di Tubuh Puisi”.

 

….

Manusia kiranya mesti sadar,

mesti kembali pada Pencipta,

mesti berhenti menabung dosa!

 

O, Tuhan!

Ampunilah hamba-hamba-Mu

yang gila akan dunia ini.

Ampunilah, Tuhan.

Aamiin.

 

2020

 

Ditulis pada tanggal 14 dan 15 Januari 2020

 

Anugrah Gio Pratama, sekarang berdomisili di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Menempuh pendidikan di Universitas Lambung Mangkurat. Karyanya yang sudah terbit bertajuk Puisi yang Remuk Berkeping-keping (Interlude, 2019). Menyukai kucing dan membenci pertikaian.

 

Photo by Renato Mu from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: