Topbar widget area empty.

Cerai

Cerpen Raihan Robby

 

Setiap kali orang tuaku bertengkar aku harus mencari cara agar mereka melupakan pertengkarannya dan memperhatikan aku, maka cara yang paling ampuh adalah aku harus melukai diriku sendiri.

 

Orang tuaku memang bukan orang tua yang sempurna, mereka dipertemukan ketika masih sekolah menengah atas, aku lahir akibat kecerobohan mereka berdua. Mungkin cinta yang serba belum siap itu membuat mereka menjadi pasangan yang tidak harmonis dan selalu bertengkar. Mungkin pula karena kehadiranku yang tidak diharapkan ini.

 

Ayahku sering menampar dan menyiksa ibu, hanya karena kesalahan yang kecil. Seperti lupa mematikan televisi, atau lupa menyiapkan makanan untuk ayahku. Awalnya ibu hanya berdiam diri dan menerima semuanya dengan tangisan. Sebagai seorang anak yang dikandung dan disusui oleh ibuku, aku mendukung bahwa ibu harus memberikan perlawanan, apalagi kami berdua sama-sama perempuan.

 

Ibu memahami perkataanku dan memelukku erat. “Ibu janji akan berjuang untuk kamu, Sarah,” kata ibu lirih.

 

Ayah sering mencemooh ibu dengan kata-kata yang membuat ibu sedih, “Pelacur! Itu anak bukan anak gue, gara-gara lo hidup gue hancur!” ayah sering berkata seperti itu kepada ibu, aku menguping dari balik pintu kamar.

 

Ibu berbohong, ia tidak menepati janjinya. Ia tetap menangis dan memelukku erat, kalau sudah seperti ini aku harus menyiksa diriku sendiri.

 

Setelah mereda tangis dari ibu, dan ayah yang menggebrakan pintu untuk pergi. Aku pergi ke dapur dan memakan-makanan yang pedas, meminum soda yang berlebihan. Tak butuh waktu lama, asam lambung dan maag-ku langsung kambuh, ibu panik dan menangis. Ia menelpon ayah memberitahu bahwa aku tengah dilanda sakit. Cepat-cepat ayah pulang dan langsung membawaku ke dokter. Aku dirawat beberapa hari di rumah sakit, dalam keadaan sakit itu aku melihat ayah dan ibu penuh kasih memperhatikan aku dengan cinta dan rasa sayang yang hangat, sejenak aku seperti menjadi seorang putri yang tinggal di istana yang nyaman.

 

Keluargaku menjadi rekat dan harmonis sekali, untuk beberapa saat saja. Ketika aku telah sembuh dan berada di rumah, ibu menemukan ayah tengah menghubungi seorang perempuan, dan perempuan itu adalah selingkuhan ayah yang selama ini ia sembunyikan dari ibu.

 

Tanpa pikir panjang, ibu menampar ayah tepat di pipi kanan, yang menyisakan warna merah padam, ayah menjadi marah dan mencoba menampar ibu. Sebelum menampar ibu aku berteriak dengan tangis yang mengalir.

 

“Hentikan! Sudah cukup ayah, ibu. Jangan bertengkar lagi!”

 

Tangisanku tak mereka gubris, ayah menampar ibu dan ibu memegangi pipinya dengan rasa sakit, tangisanku dan tangisan ibu saling bersahutan. Ketika ayah hendak menampar ibu lagi, ibu berteriak dengan kencang sekali.

 

“Laki-laki bajingan!”

 

Dan ibu pergi, menggebrakkan pintu, sama seperti yang ayah lakukan beberapa hari yang lalu.

 

Aku menangis, ayah tak menghiraukan aku. Ibu pergi dengan tangisan dan rasa sakit di pipi juga hatinya. Dalam keadaan menangis aku menyusuri jalanan pada malam hari, menuju ke jalan raya. Mempasrahkan tubuhku ke jalanan yang ramai itu. Aku melangkah dengan air mata yang meleleh, membuat mataku berbinar dan berkaca-kaca. Sebuah mobil sedan hitam melaju kencang, menabrak aku dan melarikan diri.

 



Ketika terbangun, aku telah berada di rumah sakit, dengan seluruh rasa kebas di sekitar paha hingga kaki. Sebentar, kemana kakiku? Kemana kedua kakiku? Aku menangis dan meraung-raung, seluruh tubuhku hancur remuk, saking remuknya kedua kakiku terpaksa harus diamputasi. Tulang-tulang tubuhku patah, tangan, wajah semuanya telah hancur.

 

Dalam kehancuran ini, aku tetap merasa hidup. Aku melihat ayah dan ibuku menjadi bersatu kembali, mencintai aku, merawat aku dengan penuh cinta. Mereka berdua telah berjanji akan membuat utuh keluarga kecil ini, saling mencintai dan mengasihi satu sama lain. Tak ada lagi kekerasan, perselingkuhan atau pengkhianatan atas nama apapun.

 

Semua keharmonisan itu ku nikmati selama beberapa bulan terakhir, sejak peristiwa tabrak lari itu, aku tidak lagi bersekolah dan memang tak ada yang memperdulikan aku di sekolah, lagi pula siapa juga yang perduli terhadap anak perempuan kelas 5 SD yang tanpa kaki seperti aku ini? Aku terus merenung karena tidak lagi mempunyai sepasang kaki, setiap kali merenung orang tuaku selalu hadir dan memberikan kejutan-kejutan. Ayah yang menggendongku di bahunya seperti masa kecil dahulu, ibu yang bermain masak-masakan denganku. Semua memori tentang masa kecilku terulang kembali.

 

Barangkali keluargaku telah mengerti arti cinta melalui aku, semua pengorbananku untuk menyatukan mereka kembali tidak sia-sia, meski harus kehilangan kaki dan terdapat banyak memar di tubuhku, setidaknya aku bisa melihat mereka akur dan bahagia bersamaku.

 

Sampai, pada suatu malam di bulan Juli yang basah dan dingin. Ayah dan ibu bertengkar hebat kembali. Ayah terkejut mengetahui ibu tengah hamil oleh laki-laki lain, dan ibu terkejut ayah telah menikah sirih dengan perempuan yang menjadi selingkuhannya.

 

Mereka berdua saling mencaci maki dengan kata-kata kasar, ibu pergi ke dapur untuk mengambil pisau dan ayah pergi ke halaman belakang untuk mengambil sekop, ayah dan ibuku kini bersiap untuk saling membunuh. Aku di atas kursi rodaku hanya bisa melihat dan menangis. Menangis hingga air mata tak keluar lagi. Air mataku telah kering terkuras akibat menangis. Dan aku harus menarik perhatian mereka, aku telah berteriak memanggil nama mereka berdua. Tapi mereka berdua telah dirasuki rasa marah yang besar, ibu sudah siap dengan dua bilah pisau di tangan kanan dan kirinya, ayah memegang erat sekop yang ia ambil dari halaman belakang.

 

Saat ibu siap menghujam ayah dengan pisau dan ayah siap memukul ibu dengan sekop, aku tetap mencoba menarik perhatian mereka dengan melemparkan segala sesuatu yang ada di dekatku, seperti: piring, gelas, kaca dan hal-hal yang menimbulkan bunyi bising sehingga mereka bisa melihat ke arahku. Tapi percuma, mereka tetap mengeram, cacian dan makian semakin kasar. Aku terjatuh dari kursi rodaku, menyeret tubuhku dengan tangan menuju kamar mandi, di kamar mandi aku menemukan sebuah cairan di dalam botol, dan sebuah cairan lagi yang disiapkan untuk membunuh tikus di dapur.

 

Aku berteriak hingga serak, suaraku kini didengar oleh mereka, aku menunjukan dua cairan itu kepada mereka berdua. Ketika mereka berdua melihat ke arahku, ibu melepaskan dua bilah pisaunya dan ayah menjatuhkan sekop dari tangannya. Mereka sama-sama berkata dengan lantang.

 

“Jangan!”

 

Tapi semua terlambat, aku menegak habis kedua cairan itu, pikiranku ketika menegak cairan itu adalah, aku hanya kan berakhir di rumah sakit, dan dalam proses penyembuhanku, aku bisa melihat ayah dan ibu akur penuh cinta karena aku. Karena mereka merawatku.

 

Tapi ternyata aku salah, aku tidak pernah berakhir di rumah sakit. Selama ini, ayah dan ibu hanya berpura-pura akur dan bahagia di depanku. Ketika aku terlelap mereka selalu bertengkar, mereka hanya ingin tampak harmonis di depanku. Ternyata selama ini aku telah dibohongi mereka berdua. Cinta yang palsu dan kehangatan yang berpura-pura. Keluargaku tidak pernah utuh seperti keluarga yang lain.

 

Aku melihat ke langit yang luas, tanah dihamburkan di atasku. Semakin tertimbun dan sesak, semakin gelap dan dingin. Ayahku menangisi kepergianku dengan istrinya yang baru, sementara ibu tersedu sembari mengelus kandungannya bersama suaminya yang baru.

 

Yogyakarta, 2019.

 

Raihan Robby, lahir di Jakarta 09 Mei 1999, saat ini aktif menjadi Kepala Suku KMSI UNY, menulis cerita pendek, naskah drama dan puisi. Karya-karyanya dimuat di berbagai media online dan antologi bersama.

 

Photo by Anastasia Shuraeva from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: