Topbar widget area empty.
Sepasang Kaki yang Tak Lelah Mencari pexels-eberhard-grossgasteiger-673018 Tampilan penuh

Sepasang Kaki yang Tak Lelah Mencari

Cerpen  Abu Dzar

 

 

Debu mengepul di antara langkah-langkah berat pendaki. Pasir dan batu berserakan di sepanjang jalan. Temaram langit menyalakan ribuan obor di bawah sana, di pusat kota. Pemandangan dahsyat terpampang gamblang di mata. Siulan rendah angin tertangkap telinga. Genta, lelaki bertubuh jangkung dengan rambut gondrongberhenti sejenak. Sepasang kakinya gemetaran. Asap putih keluar dari mulutnya setiap kali mengembuskan napas.Dini hari itu, dia sedang berjalan menuju puncak Ciremai.

 

Genta menyibak anak-anak rambut di keningnya, membiarkan sorot mata sayunya kembali berkelana mencari setapak jalan yang benar. Mungkin, sudah setengah jam dia berjalan dari tempat kamp. Banyak rombongan pendaki berseru semangat ketika ia bangun pukul tiga lebih, suaranya menggema di kekosongan malam. Mengalun di antara pepohonan. Dengan kecamuk pikiran yang tidak berkesudahan, Genta memutuskan ikut naik. Tanpa seruan semangat, tanpa teman dan rombongan, ia berangkat dalam sunyi.

 

Jarak antara dirinya dan puncak masih terlampau jauh lantaran ia berjalan begitu pelan. Kedua kakinya seakan diseret melalui jalan menanjak berbatu atau jalan tanah merah penuh akar. Genta tidak peduli kapan akan sampai, ia sekadar perlu pergi. Cukup baginya jika sudah meninggalkan kamp. Entah harus disebut bagaimana, tetapi lelaki itu sudah pergi jauh sekali dari rumah hanya untuk menanggalkan kepahitan hidup keluarganya. Seolah seekor kancil yang lari dari incaran macan.

 

Seorang pendaki berlari melewatinya. Debu terangkat ke udara, ia menutup mulut.Kepayahan tampak menggelayut pada kedua tangan yang tak tahu harus ke mana mencari pegangan.Ia lunglai, kaki kirinya merosot ke bawah. Tak seorang pun yang berpapasan bertanya ada apa dengannya. Genta, lelaki berambut panjang itu menunduk lemah. Ia pikir, raganya sudah tak kuat lagi menahan jiwa rapuh yang ditempa melalui perjalanan panjang. Puncak Ciremai hanya berupa kilauan senter pendaki di atas sana.

 

“Astaga, Bang Genta! Kau baik-baik saja?” pekik seorang wanita di belakang, seraya berlari pontang-panting melewati bebatuan. Keringat menyembul dari kening putih bersihnya, lantas berjatuhan ke bawah seperti gerimis. Dua langkah, ia sampai di samping Genta yang memeluk lutut. Badannya mengigil.

 

“Kau sembrono sekali!” Wanita itu menggenggam jemari Genta, merasakan getaran lemah dan denyut nadi yang hampir lenyap. Kulitnya memucat. Tampak berubah warna kuku-kukunya. Si wanita cergas membuka tas samping, mengeluarkan emergencyblanket. Lekas menyelimuti Genta dengan itu.

 

Ada kehangatan yang mengalir. Genta membuka mata, melihat siapa gerangan berbaik hati yang menolongnya. Perlahan, ia berbicara. “Jamila? Itukah kau? Sedang apa di sini? Pulanglah, aku sudah tidak bisa diselamatkan. Jiwaku ingin menari bersama kenari di pegunungan sunyi ini.” Lalu, senyum ganjil terbit di bibirnya. Ia menutup mata.

 

Jamilamenggeleng, matanya membuahkan hujan. Tak pernah sekali pun terpikirkan olehnya selama ini untuk pergi menjauh dari kakak sulungnya ini. Ia menghabiskan setahun lebih untuk menemukan keberadaan lelaki itu. Tidak bisa, ia harus menyelamatkan Genta. Dengan perasaan bersalah, Jamila terguguk sembari memeluk lelaki tersebut.

 

Dahulu, Genta pernah berkata pada Jamila ketika mereka berdua beristirahat di Mandalawangi. “Perjalanan seseorang tidak akan berakhir begitu saja ketika apa yang dicarinya telah ditemukan. Sebab setiap manusia adalah pengelana. Mungkin, beberapa berkelana di rimbanya perkotaan, beberapa lagi di lingkungan desanya dengan segala polemik yang ada, dan sebagian besar berkelana dalam kemelut pikirannya. Ke mana pun menuju, kelana merupakan jalan keluar yang dituju banyak orang.” Tak lama setelah pendakian itu, Genta dan Jamila mendapat kabar duka.

 

Mereka berdua mendapati orang tua telah tiada di rumah. Kerabat dan tetangga memenuhi ruang tengah. Dua jenazahtertidur tenang. Tangis mengudara, terdengar amat memilukan. Genta terduduk, ranselnya jatuh ke lantai. Padahal, ia baru saja menemukan jawaban atas kemarahan orang tua kepadanya saat sebelum pendakian ke Gunung Gede. Sekarang, terasa sia-sia usahanya.Jamila sendiri tak kuasa menahan nestapa. Jatuh di ambang pintu.

 

“Mereka, orang tua kalian itu, sudah mencapai batas bertahan melawan kanker. Dokter sudah angkat tangan. Sekarang tidak ada pertolongan lagi kecuali doa-doa yang kalian panjatkan. Sudah, ikhlaskan. Ini lebih baik bagi mereka,” ujar kerabat dekat Genta, menenangkan lelaki itu dari kesedihan. Takdir mengantarkannya pada keputusan berat dan penyesalan yang dalam.

 

Bagaimana tidak, lelaki jangkung itu membantah ucapan orang tua yang menyebut dirinya tidak memiliki masa depan cerah. Hidupnya yang lebih sering berkelana dianggap tidak akan menghasilkan apa-apa. Kesia-siaan. Genta tentu saja tidak terima. Ia pergi ke Bogor dan mendaki Gede. Dengan hati dongkol, ia berharap perjalanan itu memberinya jawaban.

 

Jamila mengejar sang kakak ke Gede, mereka bertemu di jalur pendakian. Tepat di sana, Genta ternyata sedang menolong pendaki yang terserang hipotermia. Lelaki itu cekatan, tangannya gesit bekerja. Sampai tim evakuasi datang, korban sudah dalam kondisi lebih baik. Jamila terkagum-kagum, kakak sulungnya itu memang punya rasa kemanusiaan yang besar. Mungkin saja ia terlihat acak-acakan, tetapi kepeduliannya tersampaikan dengan indah.

 

Sepeninggal itu, Genta merasa sudah menemukan jawaban. Hidupnya tidak untuk masa depan cerah menurut pandangan borjuis perkotaan atau pelukis kekayaan, ia mengedepankan kepedulian sesama. Memilih tinggal dengan melakukan kebaikan tanpa pamrih. Kiranya, Genta tenang tahu hal itu. Sampai ia berkata, “Biarpun aku seperti burung kenari, aku tidak akan lelah membantu yang lain. Masa depan bagi setiap orang tidaklah sama. Cerah atau suram tidak diukur oleh penampilan, kepastian derajat, ataupun besar kecilnya angka di buku tabungan.”

 

Namun, jawaban itu hampa. Genta tidak punya lagi pilar untuk menyalurkan kebaikan pertamanya. Orang tua telah tiada. Selama masih hidup pun, ia tidak terlalu berbakti. Jamila yang lebih sering mengurus keperluan ayah ibunya. Menolong orang lain mampu, tetapi membantu orang tua setengah lumpuh. Perasaan bersalah itu membawa Genta pada pengembaraan tak berujung. Pada pencarian tak tentu. Kadang duduk menyaksikan kepenatan kota, lebih sering berada di hutan sunyi.

 

Sang adik harus mengurusi banyak hal sendirian. Toko, rumah, dan beberapa hal tentang pemakaman. Genta tidak hadir saat-saat susah itu, ia sibuk dengan pikiran-pikirannya. Meski begitu, Jamila bisa mengerti. Tidak menyalahkan sang kakak. Bahkan, saat hilang tak tahu ke mana, wanita itu tetap mencarinya. Kehidupan orang tua mereka boleh berakhir, tetapi tali persaudaraan tidak boleh kandas. Oleh karena itu, setahun pencarian bukan masalah besar. Apa pun yang terjadi, ia harus menemukan keberadaan Genta. Menyadarkannya bahwa sesuatu yang hilang itu tidaklah jauh.

 



Ketika akhirnya menemukan sang kakak di Ciremai. Kondisinya ternyata lebih buruk dari dugaan. Badan kurus, fisik lemah tidak berdaya. Mata sayu, tampak garis hitam menggantung di bawah kelopaknya. Gentaseolah belalang sembah yang tersesat berhari-hari tanpa makanan.

 

“Bang Genta, bangunlah. Kau tidak boleh berakhir di sini.Belum waktunya untuk beristirahat, masih banyak yang harus Bang Genta kerjakan. Ada banyak orang yang membutuhkan. Ayolah, buka matamu, Bang!” Jamila mengguncang tubuh Genta, matanya sembap. Beberapa pendaki berhenti, mencoba menolong. Keramaian menyesakkan jalur.

 

Dalam kebisingan itu, Genta memeluk sunyi hatinya. Ia terjaga dalam kegelapan palung yang tak berujung. Matanya membelalak, seolah ia melayang-layang di langit malam. Tidak ada bintang, tetapi kilatan-kilatan cahaya serupa petir mengganggunya dari kanan-kiri. Lalu, cahaya itu membesar seiring kesadaran menyergap kepala. Bukan apa-apa, sebab ternyata setiap inti cahaya menyimpan kenangan perjalanan Genta.Lelaki itu tidak pernah siap menerima itu.

 

“Pejalan yang jujur tidak akan terlena oleh manisnya keinginan, ataupun tertipu oleh indahnya sebuah pencapaian. Bang Genta, perjalanan mengajari bahwa proses tidakselamanya bisa dinikmati. Kadang kala, begitu berat sampai ingin menyerah saja. Tapi tidak mengapa, pejalan yang baik akan mengerti. Sebab langkahnya akan diteguhkan oleh setiap orang yang dijumpainya, oleh orang-orang yang merindukannya.” Suara Jamila terdengar. Gambaran dirinya terpantul dalam sekotak cahaya. Genta terpaku.

 

Lelaki itu menoleh, menangkap pemandangan yang lain. Adiknya, Jamila, sedang menunjuk bunga edelweis di Tegal Alun, Papandayan. “Keindahan bukan dipancarkan oleh sesuatu yang kaya warna tapi hanya sesaat. Putih edelweis dan kekuatannya bertahan cukup menandakan bahwa keindahan tidak terbatas pada sudut pandang tertentu. Bukankah begitu, Bang?” Senyum Jamila mengembang. Ia berlarian menyibak hijau dan putih.

 

Mata Genta berkelana lagi, kali ini ia memandang lurus ke depan.Sebersit sinar menyilaukan matanya. Samar-samar, ia bisa melihat dua anak kecil, lelaki dan perempuan, sedang berlarian di halaman sebuah rumah. Di beranda, Genta mendapati orang tua kedua anak itu tengah duduk seraya menyaksikan buah hatinya bermain. Mereka mengobrolkan sesuatu, suaranya terdengar pelan. “Anak kita akan tumbuh besar. Lihat, Mah, Genta bisa berlari sekencang itu. Padahal, usianya baru enam tahun. Kira-kira, ia akan menjadi apa di masa depan nanti?”

 

Sang ibu merenung sejenak, lantas menjawab, “Apa pun tidak masalah, Pak. Genta sebagai lelaki pantas menentukan jalannya nanti. Kita sebagai orang tua cuma harus membimbingnya. Ketika ia terjatuh, kita beri pelukan, bukan omelan. Ketika berhasil memanjat, kita beri semangat. Di dunia ini, keberhasilan seorang anak akan membahagiakan orang tuanya. Tapi, tidak ada standar yang pasti soal keberhasilan. Kita tidak lantas menuntut banyak hal darinya.”

 

“Wah, benar juga. Aku tidak tahu kau pintar bicara,” sahut sang ayah. Mereka berdua tertawa.

 

Belum sempat mendengar obrolan yang lain, Genta sudah meneteskan air mata.Jiwanya yang rapuh oleh perjalanan panjang, tersayat-sayat. Semakin tidak berdaya. Ia kehilangan kekuatan, bersedu sedan.

 

Pada keharuan itu, telinga Genta menangkap satu perkataan lagi. “Jika suatu saat aku mengomelinya, Pak, bukan berarti aku marah padanya. Mungkin saja anak lelaki kita mengecewakan, tidak tentu masa depannya, tapi sungguh kasih sayangku tidak akan habis untuknya. Sebagai seorang ibu, perkataanku adalah arahan, bukan makian,” tutur wanita berwajah teduh yang dilihat Genta. Maka, tepat saat itulah lelaki itu merasakan kedua pipinya dibelai lembut. Suara tangis Jamila terdengar.

 

“Ibu, terima kasih,” lirih Genta seraya membuka mata perlahan. Sayup-sayup tampak wajah sedih sang adik dan beberapa wajah yang tidak dikenalinya. Ia mengangkat kepala, mengingat-ingat terakhir kali berada di mana. Badannya masih terasa lemas, tetapi kini jiwanya sudah terisi kembali. Menghangatkan sel-sel darah, dan dengan cepat menjalar memenuhi seluruh tubuh.

 

“Jamila, berhenti menangis. Aku baik-baik saja. Sudah, jangan cengeng. Kau bukan anak kecil.” Genta menggerakkan tangan, mencoba duduk tegak. Dua orang pendaki di sisinya membantu. Ia mengangguk, berterima kasih pada mereka. Jamila yang diajak bicara malah memalingkan muka. Sementara mengecek kondisi fisik, ia segera tahu dirinya masih berada di hutan Ciremai. Di atas tanah lapang yang cocok untuk mendirikan satu tenda.

 

Nyanyian alam berdendang di sekeliling mereka. Tampak di kejauhan burung sahut-menyahut. Genta meraup segenggam tanah, lalumenggugurkannya lagi perlahan. “Jamila, terima kasih sudah datang dan menolongku. Benar, selama ini aku mengembara tak tentu arah hanya untuk menghapus penyesalan, menemukan jawaban yang hilang. Aku tidak yakin, tapi aku rasa pernah mendengarmu berkata bahwa apa yang kita cari sebetulnya dekat. Dekat sekali. Seperti tanah ini, bukan? Ke mana pun kita melangkah, tanah tempat berpijak tetap tak berpindah.”

 

“Hei, Bang! Jangan banyak omong dulu, kau belum sehat benar. Jangan melawan, ikut aku pulang sekarang!” Jamila berbalik, memasang roman kesal. Satu tangannya menyeka sisa air mata di wajah Genta. Entah kapan lelaki itu menangis secara hakiki. Jamila juga mengerti, arti perkataan kakak sulungnya tadi menandakan bahwa kondisinya sudah membaik. Ia lantas tersenyum.

 

“Baik, Jamila. Aku pulang.”

 

 

Abu Dzar. Lahir di Ciamis, 16 November 2000, Tinggal di Desa Banjarsari, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Dapat dihubungi di Instagram : @adzar1645 dan E-mail : [email protected]

 

Photo by eberhard grossgasteiger from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: