Topbar widget area empty.
Perempuan di Bawah Tiang Lampu Perempuan di bawah tiang Tampilan penuh

Perempuan di Bawah Tiang Lampu

Cerpen Yusuf Shabran

 

 

Aku kerap melihat perempuan itu berdiri di bawah tiang lampu perempatan jalan. Kala itu, selepasberkuliah, aku melihatnya merapikan rambut sembari berucap sesuatu—menyapa setiap orang yang melintas. Ia cantik. Kulit sawo matangnya membuatku tertarik.Dari jarak yang tidak jauh, aku memandanginya dengan tatapan meyakinkan. Kakiku sudah tak tahan, aku ingin menghampirinya. Aku teringat apel yang kupunya. Kuputuskan memberi apelini sekaligus menyapa. Namun, iakeburu pergi saat aku mengambil apel dari saku dalam jaket.

 

Keberuntungan belum memihakku sama sekali. Tetapi tak apa, besok atau lusa, aku masih bisa menemuinya. Akhirnya, aku memutuskan untuk pulang. Aku pun berdoa di atas motor, “Oh, Tuhan, pertemukan aku dengan bidadari duniamu besok.” Setelah itu, kuusap wajahku dengan kedua tangan yang berdebu.

 

Keesokan harinya, aku menunggu di warung kopi. Kuhabiskan segelas jahe dan tiga batang rokok, namun ia belum menampakan diri. Aku selalu berusaha mengingat gigi-gigiyang rapi dibalik senyumnya untuk mengusir sepi. Menunggu dan terus menunggu. Sampai akhirnya, gigiku linu. Aku hampir saja menyerah. Motor sudah kunyalakan, tinggal mengegas, dan bergegas pergi.

 

Tiba-tiba terdengar suara yang tak asing.Ya, dia tampak berdiri di tempat biasanya. Kali ini dengan kaus merah muda dan dipadu celana jeans biru tua. Namanya Linda. Pada pertemuan itu,  kami saling bercerita. Saat kami tengah berbincang, ada perasaan janggal. Aku merasa diperhatikan orang-orang sekitar. Kucoba untuk tidak peduli, lagi pula mereka tidak mengenalku.

 

Aku mencermati setiap gesturnya; sorot matanya, bibirnya yang bergoyang ke atas-bawah. Linda tak punya siapa-siapa. Ia menyalahkan diri atas kepergian mereka walau ia tidak tahu bagaimana pahitnya kecelakaan itu. Kabar yang datang dari salah satu warga ketika itu, adalah awal mula penderitaan.

 

Linda selalu berusaha mengakhiri kerapuhannya. Sayatan-sayatan silet menjadi salah satu obat baginya. Ia menunjukannya padaku tanpa rasa malu. Puluhan lebih goresan itu bersarang, saling menyilang. Aku yang ditunjukannya pun bergetar. Rasa mencekam hadir seketika. Katanya, itu masih belum apa-apa.

 

“Apa ada hal gila lainnya selain itu?” batinku.

 

Lanjutan cerita dari Lina seakan menjawab pertanyaanku. Tidak makan berbulan-bulan, katanya. Aku tidak percaya. Tubuhnya bagus-bagus saja. Berhenti sampai di situ, aku pun menawarinya untuk makan, tetapi ia bilang kenyang. Inginku memaksa, tetapi bukan siapa-siapa.

 

Perlahan-lahan, imajinasiku meliar—tergambar potongan-potongan tak masuk akal yang membuatku mual. Tulang berjalan berambut panjang, bola mata membelalak, beserta tanda goresan yang bentuknya tak karuan. Menyisakan rasa kasihan.

 

“He, mau kulanjutkan tidak?” tanyanya. Tangannya melambai tepat di wajahku, lalu menepuk pundakku sehingga lamunanku terhenti.

“Silakan. Aku semakin penasaran denganmu. Ya, antusiaslah!” ujarku, beralasan.

 

Suatu ketika, seekor kecoa berjalan melewati sela-sela kakinya. Bukannya geli, Linda malah berusaha menangkapnya. Ia rela bersusah payah. Awalnya, aku mengira Linda akan membuang makhluk tersebut. Kenyataannya, ia memisah bagian kepala dan tubuhnya, lantas mengunyah binatang itu dengan penuh nafsu.

 

Dari dalam parit yang penuh dedaunan kering, dua ekor lainnya muncul. Nasibnya sama seperti sebelumnya, hanya saja caranyaberbeda. Sebelum mereka berakhir mengenaskan digenggaman perempuan itu, ia mempreteli kaki mereka, mengeluarkan isi perutnya, dan mengulum jeroannya. Ia bilang rasanya seperti gula-gula. Sampai di situ, spontan, perutku terasa mulas. Kejadian itu seakan tampak di hadapanku, menghantui kepalaku, terutama aroma kecoa-kecoa busuk yang mengganggu hidungku.

 



Semakin hari, Linda membiarkan tubuhnya mengering. Ia hanya minum air keran, terkadang air hujan. Linda juga membiarkan dirinya: beraroma apek, timbul jerawat yang memenuhi wajah, dan rambut acak-acakan seperti orang gila.

 

Ironisnya, tidak ada yang tahu apa yang ia lakukan. Jarak antarrumah memang terbilang jauh—pula sekitarnya dikelilingi pepohonan rindang serta perkebunan. Keseharian yang begitu-begitu saja membuatnya berteman dengan kekosongan.

 

“Kenapa kau melakukan hal yang di luar nalar manusia?” Linda bergeming mendengar ucapanku.

 

Lengan kanannya bereaksi, pertanda ia ingin melanjutkan kisahnya. Namun, aku memotongnya, “Hanya untuk itu, kamu rela menyakiti diri sendiri. Seharusnya kamu bersyukur masih diberi kehidupan.Aku bilang begini karena aku  paham.Kamu—“

 

“Kau salah!  Aku ini sudah mati!” serunya, “kau belum pernah merasa kehilangan. Jadi, jangan bertingkah seolah paham apa itu penderitaan, rasa sakit! Setelahini, bualan apa lagi? “ ujarnya, melanjutkan pembicaraan.

 

Aku menghela nafas perlahan sambil berusaha menahan perut yang sakit, “Aku beruntung bertemu denganmu, Linda. Kita baru pertama kali bertatap wajah, tetapi kamu sudah memberiku pelajaran dengan caramu sendiri. Ya, awalnya aku tidak percaya, apalagi tentang kejadian-kejadian absurd itu. Urungkan. Aku ada bersamamu.”Tetiba Linda mengeluarkan air mata, pipinya memerah, dan tercipta senyuman lebar di bibirnya.

 

“Kau yakin?” tanyanya. Aku mengangguk, tulus.

 

Hawa dingin merasuk ke pakaian yang kukenakan. Aku menahan sejuk—memacu motorku dengan cepat karena kami punya janji hari ini. Ia ingin menunjukan sesuatu padaku, yang katanya mampu membuatku kepikiran.Sekitar dua jam aku menunggu di bawah tiang lampu jalanan. Malam semakin larut, orang-orang mulai menutup toko-toko, mobil dan motor pun hanya sedikit yang melintas.

 

Seraya menungguLinda dengan cemas, aku mencoba membakar sebatang rokok yang kubeli tadi sore. Rasanya hambar. Aku tidak merasakan kenikmatan sama sekali. Kucoba mondar-mandir ke kanan-kiri, barangkali ia ada di hadapanku saat ini. Namun, yang datang malah seorang pejalan kaki. Katanya, ia mengamatiku sedari tadi.

 

Lelaki itu memberiku sebuah fakta baru yang membuat bulu kuduk berdiri. Ternyata satu bulan yang lalu, perempuan yang kuanggap teman itu bunuh diri. Ia membenturkan kepalanya hingga hancur. Noda darah masih membekas sampai sekarang, padahal tanda itu tidak ada kemarin. Dan Linda, ia baik-baik saja. Aku merasa pusing tiba-tiba. Memori tentangnya berputar di kepala. Tanpa pikir panjang, aku pun meninggalkan tempat itu sebagai upaya menolak kebenaran yang menakutkan.

 

Setibanya di rumah, aku langsung merebahkan diri di atas sofa, memejamkan mata, berusaha tidur cepat, dan melupakan semuanya. Namun, telingaku menangkap suara jangkrik yang berisik. Kugulingkan tubuh untuk mengusir ketidaknyamanan. Akhirnya, mataku mulai berat. Tidak berselang lama, badanku kaku, lidahku kelu. Aku melihat perempuan itu yang kini menimpaku—belatung yang bersarang di kepalanya yang berkaru pun berjatuhan. Peluhku bercucuran. Ia berkata, “Kita teman, bukan?” disusul gelak tanpa dosa.

 

Januari 2021

 

 

Yusuf Shabran, lahir di Balikpapan, Kalimantan Timur, 10 Juli 1997. Dibesarkan di Tangerang Selatan bersama keempat adiknya. Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia di Universitas Ahmad Dahlan. Suka menulis cerita misteri, kadang iseng menulis puisi. Anggota Komunitas Sastra Luar Ruang. Kini tinggal di Pondok Aren, Kab. Tangerang Selatan, Banten

 

Photo by Aidan Roof from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: