• Beranda  /
  • Opini   /
  • Pendidikan, Generasi Z, dan Kecakapan Berpikir
Pendidikan, Generasi Z, dan Kecakapan Berpikir Pendidikan, Generasi Z, dan Kecakapan Berpikir - Terkait Tampilan penuh

Pendidikan, Generasi Z, dan Kecakapan Berpikir

Hari Pendidikan Nasional selalu mengingatkan kita akan pentingnya pendidikan sebagai jalan memajukan bangsa. Pada dasarnya, pendidikan harus bisa menjawab tantangan zaman karena setiap generasi memiliki tantangannya sendiri. Pada kisaran tahun 2020-2030 kelak, Indonesia diperkirakan mendapatkan bonus demografi. Sebab, jumlah penduduk usia produktif mencapai 70% dari total keseluruhan penduduk Indonesia.

Bonus demografi berpeluang besar menjadi momentum membangun dan memajukan negara. Sebaliknya, bonus demografi juga bisa membawa masalah ketika penduduk usia produktif yang melimpah tersebut tak dibekali Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Jangankan menjadi tumpuan membangun negara, limpahan penduduk usia produktif bukan tak mungkin menjadi beban negara. Kita tentu tak ingin hal tersebut terjadi. Artinya, penting untuk mempersiapkan generasi yang akan mengisi bonus demografi. Di sinilah, pendidikan bertugas menjawabnya.

Sekarang, yang perlu kita perhatikan adalah seperti apa karakteristik generasi yang akan mengisi bonus demografi tersebut? Mengenalnya akan membuat kita, paling tidak, memiliki gambaran tentang aspek-aspek yang perlu ditekankan terkait proses pendidikannya. Jika diperhatikan, penduduk yang berusia produktif (15-64) pada kisaran tahun 2020-2030 adalah mereka yang lahir antara tahun 1961-2010. Jika dikerucutkan lagi, yang termasuk dalam kategori usia emas di mana mereka mulai memasuki dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan, yakni berusia antara 25-29, berarti muncul generasi yang lahir pada kisaran tahun 1996-2000. Generasi tersebut adalah mereka yang saat ini berusia antara 17-20 tahun. Dengan kata lain, mereka adalah para remaja yang sedang menempuh jenjang pendidikan SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi.

Berdasarkan teori generasi Karl Mannheim (1923), para ahli sosiolog membagi manusia menjadi beberapa generasi; Generasi Era Depresi, Generasi Perang Dunia II, Generasi Pasca-Perang Dunia II, Generasi Baby Boomer I, Generasi Baby Boomer II, Generasi X, Generasi Y (Milenial), dan Generasi Z. Istilah Generasi Z, menjadi semakin populer setelah digunakan saat presentasi oleh agen pemasaran Spark and Honey pada 2014, dan menyebutkan bahwa Generasi Z adalah mereka yang lahir antara tahun 1995 sampai 2014 (tirto.id, 28/4/2017). Jika merujuk pendapat ini, generasi yang akan mengisi bonus demografi masuk golongan Generasi Z.

Karakteristik kuat Generasi Z adalah kefasihannya dalam menggunakan teknologi. Sebab, mereka dibesarkan di era teknologi. Ahmad Sudrajat (2012) menyebutkan, Generasi Z adalah generasi digital. Mereka intens berkomunikasi dan berinteraksi melalui jejaring sosial, berpikiran terbuka, toleran terhadap perbedaan kultur, dan memiliki ketergantungan terhadap kepraktisan. Karakteristik tersebut memberi bayangan tentang bagaimana pendidikan yang relevan untuk mengolah generasi Z tersebut agar menjadi generasi unggul.

Generasi Z lincah menggunakan alat berteknologi canggih. Orang hidup dengan limpahan informasi (pengetahuan) serta dengan cepat dan mudah mengambil dan menyebarkannya, sehingga rentan terbangun pola pikir instan. Kegiatan bernalar dan berargumentasi yang menjadi fondasi terbangunnya kecerdasan, cenderung terpinggirkan. Alhasil, kemampuan bernalar kritis dan memecahkan masalah menjadi minim. Anak sekadar bisa menghafal materi tanpa memiliki kecakapan literer yang butuh penalaran (mencerna, menganalisis, dan menyampaikan kembali dengan baik). Inilah di antara tantangan yang perlu dijadikan fokus pendidikan saat ini.

Sebenarnya, performa anak didik yang lemah dalam mencerna materi ini telah lama menjadi problem pendidikan kita. Laporan Bank Dunia tentang hasil tes membaca murid kelas IV SD misalnya, menempatkan Indonesia berada pada peringkat terendah di antara negara-negara Asia. Hasil tes menyebutkan, siswa Indonesia hanya mampu memahami 36% dari materi bacaan, mereka kesulitan menjawab soal-soal uraian yang butuh penalaran dan analisis (Aan Hasanah; 2015).

Kecakapan berpikir

Generasi Z penuh pengetahuan, namun berisiko lemah dalam kecakapan berpikir. Mereka cenderung tahu banyak hal, namun sulit menjelaskan dengan baik apa yang mereka ketahui. Iwan Pranoto, dalam tulisannya Menyelisik Kesahihan (Kompas, 6/12/2016), memberi gambaran menarik tentang pendidikan yang perlu mulai menggeser fokusnya dari konsep mentransfer pengetahuan atau kebenaran, menjadi berkonsep kesahihan. Kesahihan, tulis Iwan, adalah tentang nilai pada struktur pernyataan, berfokus pada kepaduan rangkaian argumen dalam menurunkan simpulan akhir. Ini perlu diasah lewat pendekatan yang dilakukan guru saat berinteraksi dengan pemikiran muridnya.

Iwan memberi contoh tentang bagaimana guru dalam memeriksa tugas murid. Guru perlu lebih berhati-hati dalam “menyalahkan” pekerjaan murid. Sebab, fokus guru bukan lagi tentang mencocokkan jawaban akhir murid dengan jawaban yang diinginkan guru atau kunci jawaban, melainkan bagaimana menyelisik rangkaian satu argumen ke argumen lain sampai jawaban akhir didapat. Guru dituntut mengenali aliran argumen murid: apakah ada argumen yang melanggar kaidah penalaran deduktif. Dari sana, guru mengenal cara berpikir muridnya sekaligus bisa memandu murid dalam membangun kecakapan berpikirnya. Ini sekadar gambaran konsep sekaligus praktik pendidikan yang dibutuhkan generasi Z.

Kecakapan berpikir menjadi modal penting untuk menghadapi dunia global yang penuh risiko sekaligus peluang. Howard Garner (2007) seperti dikutip M Zaid Wahyudi (Kompas, 24/12/2016) menyebutkan, kemampuan berpikir yang dibutuhkan di dunia yang mengglobal adalah menghargai sesama, menjunjung etika, fokus satu bidang, menyintesis informasi, dan berpikir kreatif. Semua itu, tulis Zaid, butuh kemampuan menalar. Dan kemampuan ini hanya bisa dibangun lewat pendidikan berpendekatan kesahihan yang menekankan bagaimana anak mampu berpikir dan berargumentasi dengan baik.



Kecakapan berpikir dan bernalar membuat murid mampu mengolah setiap informasi (pengetahuan) yang didapat. Kecakapan bernalar akan membaut murid memiliki kecakapan berkomunikasi, yang selanjutnya bermuara pada kecakapan sosial—yang sangat dibutuhkan dalam berinteraksi di era global sekarang. Di samping memberi kekuatan menghadapi era global, kecakapan bernalar, berkomunikasi atau berdialog, dalam konteks luas juga menjadi modal penting untuk membangun masyarakat Indonesia (dengan kemajemukannya) yang damai, saling menghargai sekaligus menguatkan persatuan bangsa di masa depan.

Ditulis oleh Al Mahfud

    Seorang yang bergiat di Paradigma Institute Kudus