Log masuk

1 × 2 =

Kamu Cantik Tanpa Filter, Kok! wanita - Terkait Tampilan penuh

Kamu Cantik Tanpa Filter, Kok!

Oleh: Shela Kusumaningtyas

 

Ponsel yang memiliki spesifikasi kamera bawaan yang mumpuni cenderung lebih laku di pasaran. Wajar saja, sebab tren selfie sedang menanjak. Kegemaran untuk mengabadikan sesuatu jadi meningkat seiring kebutuhan untuk dikatakan eksis. Apalagi produsen gawai pintar seperti itu pandai menggaet minat pembeli. Caranya, mereka menggandeng pesohor yang memiliki tampilan fisik yang terlihat sempurna menurut kacamata media. Selebriti tanah air seperti Afgan, Raisa, Ayu Ting-Ting, Maudy Ayunda, Dian Sastrowardoyo, dan Sheryl Sheinafina didapuk mempromosikan seri-seri terbaru telepon genggam yang dibanderol dengan harga jutaan.

 

Bukan tanpa sebab artis-artis ini didaulat sebagai brand ambassador. Selain memiliki prestasi yang bisa dibanggakan, faktor cantik dan ganteng jadi alasan mereka dipilih. Dan apabila dicermati, iklan ponsel-ponsel canggih lebih banyak dihiasi wajah perempuan. Apalagi ponsel pintar yang dibekali dengan kamera depan dan segudang aplikasi pemercantik instan sebagai senjata andalan yang dijual.

 

Apakah ini menandakan kalau perempuan menjadi sosok yang berkepercayaan diri rendah sehingga mudah tergiur dengan tawaran untuk memoles muka secara kilat pakai aplikasi handphone? Ini juga erat kaitannya dengan narsisme perempuan. Tidak bisa mengelak kalau perempuan jauh punya sifat narsis daripada laki-laki. Narsisme mengantarkan perempuan untuk melakukan segala cara supaya mendulang pujian dari media sosial. Apalagi jika unggahan yang mempertontonkan #OOTD dan wajah dikomentari dan menuai tanggapan “cantik bak selebgram”.

 

Halo perempuan. Kalian tidak usah capek-capek melakukan itu semua. Bukankah setiap perempuan memiliki kecantikannya masing-masing..

 

Dari situ, perempuan jadi terpacu untuk lebih meningkatkan kemampuan untuk mengedit foto supaya wajah mereka semakin mirip dan sekinclong mungkin bak artis. Pori-pori, jerawat, bintik hitam, dan tahi lalat dihapus pakai filter. Hidung yang pesek dibikin menukik. Bibir yang tipis disulap jadi berisi. Warna bibir yang semula menghitam diakali jadi merah alami nan sehat. Halo perempuan. Kalian tidak usah capek-capek melakukan itu semua. Bukankah setiap perempuan memiliki kecantikannya masing-masing.. Jadi, jangan berpatokan versi cantik seperti yang ditayangkan media.

 

Filter-filter itu justru mengubah kecantikan kalian yang unik. Diri kalian yang sesungguhnya justru tertutupi. Toh buat apa menyembunyikan keaslian wajah? Bukankah apa yang telah diciptakan Sang Maha Pencipta sudah sempurna? Lagipula justru terkadang apa yang diedit itu jadi tidak sedap dipandang. Dagu yang jadi panjang dan berbentuk V. Tapi proporsinya tidak sesuai dengan lebar wajah. Hidung yang terlalu menukik hingga tampak seperti pinokio. Mata yang super melotot seperti orang kesetanan. Dan bibir yang merah merona bak habis makan darah. Perempuan, jadilah diri sendiri yang sesungguhnya. Jangan memperbanyak penipuan lewat filter-filter itu. Jangan sampai terus-terusan jadi korban media yang selalu memperalat perempuan. Pahamilah bahwa begitulah iklan dan media bekerja, menetapkan standar yang kadang jauh dari realitas.

 

Perempuan sudah terlalu lama tertikam dengan buaian iklan. Iklan tampak memanjakan perempuan dengan kata dan janji-janji manis. Tapi nyatanya justru malah merekayasa perempuan supaya tidak mencintai dirinya sendiri. Perempuan dicuci pikirannya supaya tunduk dan menuruti apa yang diatur oleh iklan. Jika iklan smartphone merayu perempuan supaya cantik pakai filter, iklan kosmetik lain lagi. Perempuan harus memakai bertumpuk produk make up ataupun skin care demi bisa dibilang cantik. Kocek perempuan dijebol dengan iming-iming menjadi cantik layaknya bintang iklan.

 

Media merekayasa pikiran masyarakat mengenai definisi cantik. Menurut sudut pandang media, perempuan yang layak dianggap cantik adalah yang putih, berambut hitam panjang dan lurus. Tubuhnya harus kurus dengan tinggi semampai. Label seperti inilah yang menjerumuskan perempuan.

 

Perempuan semestinya lebih berfokus untuk mencerdaskan dirinya.

 

Sudah waktunya perempuan mampu menghancurkan pemahaman demikian. Sebab, cantik tak mesti harus dinilai dari rupa yang mulus dan fisik yang menarik dari mata media. Perempuan semestinya lebih berfokus untuk mencerdaskan dirinya. Jika motivasi untuk mengotak-atik filter kamera hanya demi meraih julukan cantik, lebih baik hapus dan tinggalkan aplikasi itu. Jika terus bergantung dengan aplikasi, justru akan menambah sikap rendah diri. Perempuan jadi tidak bisa lepas dengan aplikasi. Sosialisasi di dunia nyata pun bisa-bisa akan terganggu. Sebab perempuan jadi takut berinteraksi dengan rekan-rekannya karena telah mengelabui dengan foto yang difilter bermacam-macam. Sebenarnya, pemakaian filter yang jadi kebiasaan bukan salah perempuan saja.

 

Masyarakat juga telanjur menelan mentah-mentah kontruksi yang dibangun. Dengan jahatnya, masyarakat kini terang-terangan dan lancang mengomentari fisik seseorang. Ketika kondisi seseorang tidak sesuai dengan yang digambarkan media, maka warganet merasa berhak untuk meninggalkan pesan negatif dan mencela. Oleh karena tidak kuat menerima semua cibiran itu, perempuan lebih memihak ke jalan pintas. Memakai filter untuk menghindari cercaan warganet. Sehingga, bukan cuma perempuan saja yang mesti diedukasi soal kepercayaan diri. Masyarakat pun perlu disentil bahwa perbuatan mereka merendahkan perempuan. Masyarakat harus diajari soal menghargai setiap hal yang melekat di diri perempuan. Dengan begitu tindakan penindasan terhapuskan.

 



 

 

Ditulis oleh Shela Kusumaningtyas

    Saya mendefinisikan diri saya sebagai seorang yang gemar membaca, menulis, berenang, dan jalan-jalan. Menulis menjadi sarana saya untuk mengabadikan berbagai hal. Menulis juga melatih saya untuk mengerti arti konsistensi dan pantang menyerah. Tulisan saya seperti puisi, opini, dan feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Detik, Kompas, Suara Merdeka, Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.