• Beranda  /
  • Festival   /
  • Rantauprapat Film Festival; Mencintai Sastra dalam Wahana Film
Rantauprapat Film Festival; Mencintai Sastra dalam Wahana Film 52016991_309639043026559_3560171895724703744_n - Terkait Tampilan penuh

Rantauprapat Film Festival; Mencintai Sastra dalam Wahana Film

Dalam perkembangan produksi film dewasa ini, banyak film yang dibuat berdasarkan cerita novel. Adaptasi ini tidak hanya dilakukan oleh para insan perfilman luar negeri, namun juga dilakukan oleh para insan perfilman dalam negeri. Mengadaptasi karya sastra menjadi sebuah film belakangan ini tidak saja dilakukan terhadap novel, tetapi juga terhadap cerita pendek (cerpen). Beberapa cerpen yang telah diadaptasi antara lain cerpen Tentang Dia karya Melly Goeslaw, dan Mereka Bilang Saya Monyet karya Djenar Maesa Ayu, Filosofi Kopi karya Dewi Lestari dan Ketika Mas Gagah Datang dan Pergi karya Helvitiana Rosa.

 

Film yang diadaptasi dari novel adalah perwujudan dari imajinasi para pembaca setelah membaca sebuah novel, sehingga para pembuat film tersebut merasa tertantang untuk membuatnya. Melalui novel, seorang pengarang memberi kebebasan kepada pembaca untuk berimajinasi, membayangkan cerita yang terungkap dalam novel tersebut, wajah para tokohnya, termasuk suasana yang tercipta melalui imajinasi pembaca. Ada kemungkinan muncul perbedaan dalam hal imajinasi antara pembaca satu dengan pembaca lainnya. Bagaimanapun juga, hal tersebut merupakan tantangan bagi seorang sutradara untuk mampu menerjemahkan atau memvisualisasikan bahasa verbal dalam novel tersebut ke dalam bahasa gambar, sebagaimana tergambar dalam imajinasi pembaca.

 

Istilah ekranisasi termasuk baru di Indonesia dalam dunia sastra namun sudah banyak beredar film yang diadaptasi dari novel. Ecran sendiri berasal dari bahasa Prancis yang berarti “layar”. Menurut Sapardi Djoko Damono, adaptasi novel ke film merupakan salah satu upaya memperluas jangkauan penikmat novel. Adaptasi itu dalam sastra bandingan termasuk alih wahana, yaitu perubahan dari satu jenis kesenian ke jenis kesenian lainnya. Sedangkan Eneste mengartikan ekranisasi sebagai pelayar-putihan pemindahan atau pengangkatan sebuah novel (karya sastra) ke dalam sebuah film. Pemindahan dari novel ke layar putih mau tidak mau mengakibatkan timbulnya berbagai perubahan. Oleh karena itu, ekranisasi juga bisa disebut sebagai proses perubahan bisa mengalami pengurangan (penciutan), penambahan (perluasan), dan perubahan dengan sejumlah variasi.

 

Selain perubahan atau transformasi bentuk, dari novel ke film, ekranisasi juga merupakan transformasi hasil kerja. Novel, dalam proses penciptaannya, merupakan hasil karya individu atau perseorangan, hasil karya yang melibatkan pemikiran, pengalaman, dan ide pengarangnya. Sedangkan film merupakan hasil kerja tim atau kelompok. Proses pembuatan sebuah film pasti melibatkan kerja sejumlah unsur atau profesi. Unsur-unsur yang dominan dalam proses pembuatan sebuah film antara lain produser, sutradara, penulis skenario, penata kamera, aktor dan aktris, dan lain-lain.

 

 

Rantauprapat Film Festival adalah sebuah festival film independen yang diinisiasi oleh Apajake Media Rantauprapat bersama Sineas Film Documentary Medan dengan kekhususan pada film pendek ekranisasi cerita pendek. Cerita pendek yang dialihwanakan adalah cerpen yang pernah dimuat dalam kolom Sastra apajake.id. dan juga Buku Antologi Cerpen yang diterbitkan Apajake: Bahagia Tak Mesti Dengan Manusia (2017) dan Biarlah Pasir Mencetak Jejak dan Ombak Menghapusnya (2019). Festival film ini memiliki tujuan:

  1. Ruang apresiasi bagi penulis dan peminat sastra di Indonesia di mana karyanya lebih dikenal dan menjangkau lebih banyak wahana dan audiens.
  2. Ruang publik untuk melihat film alternatif yang berbeda dari jenis referensi film yang biasanya ditonton di bioskop maupun televisi.
  3. Menambah kegaraman film Indonesia dan merangsang munculnya pembuat film baru.
  4. Menambah kecintaan literasi dalam bentuk, gaya, dan bahasa film.

 

Berbeda dengan festival-festival film lainnya yang diselenggarakan oleh komunitas film lokal di kota-kota tertentu, Rantauprapat Film Festival berangkat dari komunitas sastra. Karena itu genre ekranisasi cerpen menjadi pembeda utama festival ini. Festival ini akan dibagi dalam dua kategori yaitu Pelajar dan Umum. Kategori Pelajar terbuka bagi seluruh pelajar di Sumatera Utara dan Kategori Umum untuk seluruh WNI di wilayah Republik Indonesia.

 

Rantauprapat Film Festival sebagai sebuah festival film, akan menggelar sejumlah kegiatan antara lain:



  1. Workshop & Bedah Film (Kampus AMIK STIEKOM Sumut, 3 Maret 2019)
  2. Peluncuran Buku Antologi Biarlah Pasir Mencetak Jejak dan Ombak Menghapusnya (Kampus Univa Labuhanbatu, Maret 2019)
  3. Sosialisasi dan Pendaftaran Peserta Festival Film (Feb-Maret 2019)
  4. Pengumpulan dan Pengunggahan Film (Maret-Juni 2019)
  5. Penjurian Film (Juni-Juli 2019)
  6. Pemutaran Film Nominasi (Juli 2019)
  7. Pameran dan Diskusi Film (Juli 2019)
  8. Malam Anugerah Film (Juli 2019)

 

Kami menyadari bahwa festival film ini tidak mudah untuk diselenggarakan dikarenakan sejumlah keterbatasan sumberdaya yang dimiliki juga pembatasan genre dan materi film. Kami yakin dan berupaya untuk mensukseskan gelaran pertama ini, karenanya kami membukan kerjasama dengan sejumlah komunitas, institusi, sponsorship dan donatur.  Rantauprapat Film Festival diharapkan dapat terlaksana dengan baik dan bermanfaat bagi pelaku sastra dan film serta masyarakat. Semoga festival ini bisa berlanjut secara regular dan membuka kemungkinan untuk diselenggarakan secara bergantian oleh komunitas sastra dan film di berbagai kota di Indonesia tentu saja dengan sejumlah modifikasi dan inovasi.

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

[wpw_follow_author_me author_id = "5"]