RUMAH PAPA YANG BARU rumah baru 2 - Terkait Tampilan penuh

RUMAH PAPA YANG BARU

Oleh: Daviatul Umam

 

 

Assalamu’alaikum, Pa. Iroh datang.”

 

Kalimat itu selalu kuucapkan setiap pijak kaki menyentuh pelataran rumah Papa yang baru. Rumah berupa segunduk tanah yang mana bagi sebagian orang tidak berarti apa-apa. Sehingga terkadang dengan enteng mereka melangkahi, menginjak, menduduki, bahkan menggusurnya.

 

Ini hari ketiga Papa tinggal di rumah barunya. Ia pasti begitu betah. Kerap kubayangkan ia tidur pulas dan puas di ranjang empuk penuh wewangian beragam bunga mekar nan segar. Bangun tanpa beban sedikitpun di kepala, disambut burung-burung berbulu emas yang kicaunya tiada banding dengan burung-burung di sekitarku, di ranting-ranting pohonan itu. Papa tak lagi masuk ke kamar mandi yang airnya berbaur butiran debu. Melainkan langsung mencemplung ke dalam genangan air kolam yang sangat jernih kebiru-biruan, di mana cahaya segala jenis permata berpendaran dari dasarnya. Habis itu ia sarapan di tepinya dengan aneka lauk gurih dan renyah, yang tidak akan pernah ditemui di restoran mewah manapun di dunia. Oh, sempurna! Dan itu semua bukan sebatas khayalan belaka. Aku yakin, Papa sungguh merasakan kenikmatan luar biasa tersebut.

 

Gundukan tanah masih basah oleh belaian hujan semalam. Bidang dadanya bertambah basah oleh semangkuk air komkoman yang kusiramkan, bersamaan dengan jatuhnya setetes-dua tetes air mata. Tiga rangkaian kembang yang saling menjaga jarak di atasnya mulai mengisut. Hanya daun pandannya sedikit lebih kelihatan bugar. Seperti hari sebelumnya, sore ini aku kembali menghadiahi Papa sepucuk fatihah dan tiga untai yasin. Berharap, ia mendapat tambahan nikmat dari Sang Penguasa Alam. Lalu kuakhiri dengan doa ziarah kubur, diiringi irama sedu-sedan yang teramat berat untuk kutahan.

 

“Papa masih hidup, Nak.”

 

Aku terperanjat bukan main. Sontak tubuhku bergidik. Pelan-pelan aku menoleh ke belakang, asal munculnya suara yang persis suara Papa. Anehnya tidak ada siapa-siapa. Padahal aku mendengarnya dengan sangat jelas. Terlalu gegabah jika harus dikatakan halusinasi semata. Kurasa hal ini benar-benar nyata. Sayangnya tidak akan ada seorang pun mempercayaiku. Karena bagaimanapun, mustahil orang yang sudah berumah dalam liang tanah bisa kembali ke atas kulit tanah. Apalagi sampai bicara dan mengatakan dirinya masih hidup seperti yang baru saja kualami. Jadi percuma walaupun aku tetap bersikeras menguatkan cerita yang seolah konyol itu. Atau…

 

Mungkinkah kejadian itu memang halusinasi yang disebabkan ketidakrelaanku atas kepergian Papa? Maafkan aku, Pa. Maafkan aku, batinku teriris. Aku jadi teringat nasihat Firman, kekasihku, di hari meninggalnya Papa usai kusampaikan kabar duka itu padanya, “Jangan banyak menangis, Sayang. Ikhlaskan Papa. Kalau kamu terlalu bersedih hati, Papa tidak akan tenang di Sana.” Barangkali karena kesedihanku yang berlebihanlah suara gaib tadi datang. Suara yang sengaja Tuhan turunkan untuk menenteramkan hatiku demi menenangkan hidup Papa di sisi-Nya. Akan tetapi, bagaimana mungkin aku bisa menghapus kesedihan ini? Bagaimana mungkin aku dapat membendung lelehan luka ini?

 

Bagiku, laki-laki di dunia cuma ada satu. Papa. Bahkan kedudukannya di hatiku lebih tinggi daripada seorang ibu. Maka tak ayal jika aku memastikan, tidak ada yang bisa menggantikan posisi Papa dalam hidupku, meskipun beberapa kali Firman berujar lewat pesan singkat, “Masih ada aku.” Sejujur-jujurnya aku membalas, “Apa bisa disamakan?” Bukan hanya Firman. Kerabat-kerabatku juga berupaya melipurku dengan perkataan yang sama, “Masih ada Kakak. Masih ada Mbak. Masih ada Nenek. Masih ada Kakek. Masih ada…” Ah, tidak ada siapa-siapa! Semuanya tidak akan bisa menggantikan Papa. Dengan lain kata, kasih-sayang mereka tidak akan mampu menyerupai kasih-sayang Papa kepadaku. Termasuk Ibu sekalipun.

 

Ya, termasuk Ibu. Ibu yang terpaksa harus kukatakan, tidak dapat dijadikan tempatku bersandar. Buktinya, kini aku menangis sendirian. Selama masih ada Papa, Papalah satu-satunya tempatku mengaduh. Dan saat ini Papa sudah tiada. Lantas kepada siapa aku mesti melabuhkan jeritan jiwa, kecuali kepada orang tua yang tersisa? Ibu. Ibu yang berlama-lama di ibu kota, bekerja keras dengan suami barunya dan sekarang sudah menimang anak perempuan barunya. Sampai di sini pembaca sekalian tentu paham, kedua orang tuaku pecah-belah. Benar, peristiwa paling menyesakkan dada itu terjadi kurang-lebih empat tahun silam. Kemudian Papa menikah lagi, Ibu pun demikian.

 

Alih-alih ingin membahagiakanku. Alih-alih agar aku sama dengan anak-anak tetangga dalam hal berjajan, berpakaian dan berpendidikan. Namun nyatanya, Ibu tidak membuktikannya padaku. Walau sesungguhnya, buat aku semua itu tidak perlu. Tidak perlu. Aku cuma butuh kehadirannya di sisiku untuk menunjukkan bahwa yang namanya pangeran katon benar-benar ada. Ingin sekali aku dikunjungi Ibu ke pesantren seperti dulu sebelum bercerai dengan Papa. Ingin sekali sepulang dari pondok kala liburan, aku disambut Ibu di rumah dan aku mencium punggung tangannya. Tapi sayang sekali keinginan-keinginan itu tidak kudapatkan.

***

 

Assalamu’alaikum, Pa. Iroh datang.”

 

Betapa senangnya aku andai ada suara lagi yang persis suara Papa menjawab salamku. Setidaknya akan sedikit meringankan nyeri sanubari. Seketika angin berembus. Menerpa lembar-lembar daun pisang yang memberi kesejukan bagi pelataran rumah baru Papa. Apakah jawaban salam dari Papa dilontarkan melalui desauan ini?

 

Ini hari kelima Papa tinggal di rumah barunya. Gundukan tanah kering sudah. Kembang-kembang di atasnya telah layu kecokelatan, serupa kembang nurani yang gugur menemui kemarau berkepanjangan. Setelah kusiramkan air komkoman, ritual baca surah yasin tiga kali segera kutunaikan seperti biasa dalam duduk yang kuupayakan khusyuk. Sebisa mungkin kuteguhkan hati supaya tidak lagi terisak-isak di hadapan Papa. Jangan sampai Papa kurang bergairah mencicipi ganjaran luar biasa nikmatnya, gara-gara gelisah memikirkan diriku yang terus-terusan meratap. Meski tak dapat dimungkiri, bagaimanapun jiwa tetap merintih.

 

Memasuki bacaan yasin untuk ketiga kalinya, tiba-tiba…

 

“Papa masih hidup, Nak.”

 

Lagi-lagi aku terperanjat bukan main. Spontan seluruh bulu roma merinding. Suara persis suara Papa itu kembali jelas kudengar. Suara nyata yang muncul tepat di depanku. Membuatku menghentikan bacaan. Perlahan kepala kuangkat. Mataku terbelalak dengan kedua belah bibir sedikit terbuka. Sosok Papa berdiri tegap berpakaian serba putih. Sarung putih, baju putih, kopiah putih, serta serban putih yang mengalungi leher sampai ke dadanya. Papa menyungging senyum sebentar. Belum sempat kubalas senyuman khas itu, secepat kilat lalu lenyap. Udara menyergap. Aku mengucek mata. Sosok wibawa itu menghilang begitu saja. Air mata pun meluap begitu saja. Menangis sejadi-jadinya merupakan satu-satunya pilihan untuk melampiaskan perasaanku yang entah bagaimana, antara harus senang dan sedih. Bagian kain kerudung yang kugunakan menutup muka, kuyup-basah. Tanpa kusadari majmu’ lathif yang belum kututup di tangan juga basah.

 

“Aku tidak kuat, Pa. Ini terlalu cepat,” desahku di sela-sela tangisan. Kepergian Papa terasa memang terlalu cepat. Tuhan terlalu tergesa-gesa memanggilnya. Belum puas dan mungkin tidak akan ada puasnya aku bermanja-manja kepada Papa. Bahkan kenangan-kenangan bersama Papa selama ini terasa singkat dan belum cukup tebal seandainya kuabadikan ke dalam buku harian. Termasuk keindahan-keindahan masa lalu sejak aku masih bocah. Terlalu cepat!

 

Aku masih ingat betul saat-saat Papa menikmati pekerjaannya menjadi tukang becak. Tak pernah absen aku diajak ke kota, tempat ia ke sana-ke mari menjalankan tugas sebagai anak buah. Dibopongnya tubuh mungilku ke kursi becaknya. Papa naik di belakang dan mengayuh kendaraan roda tiga itu dari halaman rumah hingga ke kediaman sang mandor, di kecamatan kota, yang jaraknya sekitar 30 kilometer. Jarak sejauh itu ia tempuh tanpa kesah. Justru lebih banyak mengajakku bicara di tengah-tengah perjalanan. Sesekali juga bernyanyi atau menembangkan pantun-pantun Madura. Angin mengelus-elus pipi dan rambut. Di pinggir kiri-kanan jalan raya terhampar luas sawah nan hijau. Pohon-pohon asam yang rindang seakan menyapa kami dengan riang. Suasana yang sangat istimewa. Sesekali pula aku menoleh ke arah Papa. Wajah dan lehernya dialiri keringat. Kaos di bagian dadanya basah. Ia raih salah satu ujung handuk yang menggantung di kedua pundaknya dan mengusap cairan kuning penuh nilai juang itu.

 

Sesampainya di rumah mandor, kembali Papa membopong lalu menitipkanku kepada Mbak Cicik, anak kepala becak yang begitu baik padaku. Sesudahnya Papa pamit lalu naik lagi ke becaknya guna mencari penumpang ke tempat-tempat ramai. Kaos bagian punggungnya ternyata lebih basah ketimbang bagian depan. Papa mengayuh dan terus mengayuh, hingga melesap di kelokan. Mbak Cicik menuntunku ke dalam kamarnya. Waktu itu usia dia mungkin tak jauh beda dengan usiaku saat ini. 22 tahunan. Diajarinya aku menyanyikan lagu-lagu yang cocok buat anak seusiaku kala itu, saban hari. Aku sangat terhibur. Itu sebabnya aku tidak pernah menangis setiap ditinggal Papa bekerja sampai senja tiba. Sedangkan malam harinya aku tidur dikeloni Papa di ruang khusus anak buah. Begitulah kehidupan kami di sana.

 

Biasanya, setelah lima-enam hari di sana, kami pulang ke kampung. Biasanya Mbak Cicik mencium kening dan kedua pipiku sebelum becak Papa jalankan. Dan biasanya kami mampir dulu ke pasar untuk membeli rambutan. Aku suka sekali buah itu. Dalam perjalanan, aku mengunyahnya satu-persatu di antara irama tembang Papa yang syahdu.

 

Dua-tiga hari di kampung, Papa meluangkan waktunya mengajar dan bertani. Tak pernah absen pula aku dibawanya ke sekolah. Pokoknya, ke mana pun Papa akan pergi, pasti aku diajak. Kecuali sedang sakit. Itulah keistimewaan Papa bagi anak kecil yang ingin selalu dimanja. Maha pengertian, bukan? Sebelum Papa bergegas ke ruang kelas siswa yang harus ia didik, ia menitipkanku kepada ibu guru TK, sebagaimana dilakukannya kepada Mbak Cicik sebelum berangkat mencari nafkah. Aku yang belum disekolahkan, otomatis juga bisa dibilang sekolah, lantaran ikut bergabung bersama bocah-bocah lain di dalam kelas. Kendatipun yang kuikuti pelajarannya cuma satu. Menyanyi. Aku lumayan lancar bernyanyi pada lagu-lagu tertentu berkat bimbingan Mbak Cicik, jika kebetulan lagunya sama dengan yang diajarkan Mbak Cicik.

 

Dalam hal bertani, aku pun sering ikut Papa ke sawah. Duduk asyik di saung sembari memperhatikan gerak-gerik Papa dan Kakek mencangkul tanah di bawah terik matahari. Tapi terkadang dilarang oleh Ibu saat tanaman padi kian meninggi. Ibu menakut-nakutiku, “Banyak ular. Nanti kamu digigit.” Perihal itu pernah kuutarakan kepada Papa. Papa memang luar biasa. Ia menanggapi keluhanku dengan jujur, “Memang ada ular di sawah. Tapi maunya cuma memakan hama. Kalau sama pemilik sawahnya mereka takut. Termasuk kepada Iroh.”

 

Tatkala aku sudah beranjak remaja, entah sebab apa Papa berhenti jadi tukang becak. Ia fokus mengajar dan bertani saja. Dan pada akhirnya diangkat menjadi aparat desa oleh Pak Lurah. Yang membuatku makin bangga dari diri Papa, pertanian tetap pilihan paling utama. Di hari minggu, tak enggan aku dititahnya agar menjaga sawah, apabila ia akan pergi atas tugas yang diembankan Pak Lurah. Dengan senang hati aku menyanggupi. Di sawah aku bernostalgia bersama gemulai tarian padi beserta umbul-umbulnya. Mengusir burung-burung dari saung melalui tarikan ujung tali yang membentang ke tiap sudut wajah sawah. Plastik-plastik bermacam warna serta kaleng-kaleng bekas yang bergelantungan ke tali tersebut melambai-lambai dan bergerincing.

 

Sementara dewasa ini, Papa lebih banyak berjuang demi pendidikan kedua putrinya di pesantren. Aku dan Nuri—anak tiri Papa dari ibu tiriku—sama-sama mengabdi di satu pesantren di sebuah desa terpencil. Berhubung uang jajan kami tidak habis secara bersamaan, maka sudah menjadi kebiasaan Papa bolak-balik ke pesantren itu, hampir dua kali dalam sepekan. Belum lagi kalau salah satu di antara kami ingin pulang lantaran sakit atau alasan lain. Papa harus menjemput dan mengantar. Begitu seterusnya. Hingga kunjungan terakhirnya melawan deras hujan dengan mengenakan mantel, seminggu sebelum ia menetap di rumah yang baru.

 

Perlu pembaca sekalian tahu. Papa yang maha pengertian dalam memenuhi beribu permintaan kami, terlebih aku, satu kali pun tidak pernah mengeluhkan masalah uang yang dikeluarkannya. Malah ia selalu menjawab, “Tidak tahu. Lupa,” setiap kali kutanyakan berapa jumlah pengeluaran yang telah ia gunakan membeli barang-barang kebutuhanku. Papa memang tidak pernah hitung-hitungan. Atau sekadar mengingatkan, “Jangan banyak-banyak,” misalnya, juga tidak pernah. Segala kebutuhan yang kusebutkan tinggal ia catat, membelikan, lalu menyerahkannya padaku tanpa sambatan secuilpun. Hanya saja ia akan marah bilamana aku memilih telat balik ke pondok karena hal tertentu. Dalam menjaga peraturan-peraturan pesantren, sulit memang ia memberiku kelonggaran. Apapun alasannya.

***

 

 

Assalamu’alaikum, Pa. Iroh datang.”

 

Ini hari ketujuh Papa tinggal di rumah barunya. Rasanya baru kemarin kami berpisah. Rasanya baru kemarin aku dan Nuri dijemput Pak Lurah ke pondok malam-malam, memberitahukan bahwa Papa terserang penyakit darah tinggi. Padahal setahu kami Papa tidak sakit apa-apa. Keesokan harinya dari malam mengerikan itu semestinya Papa menepati janji untuk mengunjungi kami. Tapi alangkah malang, justru kamilah yang mengunjunginya dan mendapatinya sudah tidak bernyawa. Seolah-olah semesta juga kehilangan nyawanya. Gelap dan pengap sekali.

 

“Sekali lagi, ini terlalu cepat, Pa. Padahal cuma tinggal selangkah anak kebanggaanmu ini akan membuatmu menepuk-nepuk dada.

Skripsiku sudah selesai, Pa. Sebuah tugas akhir yang dengan besar kepala kupersembahkan untukmu seorang.

Beberapa bulan lagi aku wisuda, Pa. Orang pertama yang bakal kuajak berfoto adalah engkau.

Aku janji, Pa. Aku pasti…”



 

“Papa masih hidup, Nak. Papa selalu ada!”

 

Sumenep, 22-24 April 2019.

 

Daviatul Umam, lahir di Sumenep, 18 September 1996. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa sekaligus mantan ketua umum Sanggar Andalas. Sebagian karyanya dipublikasikan di sejumlah media cetak dan online, antologi bersama, serta memenangi lomba penulisan tingkat lokal maupun nasional. Berdomisili di Poteran, Talango, Sumenep, Madura.

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

[wpw_follow_author_me author_id = "5"]