Topbar widget area empty.
Sayap Ibu Lumpuh Satu sayap ibu Tampilan penuh

Sayap Ibu Lumpuh Satu

Oleh: Agus Salim

 

 

Malam itu, sampai pukul satu, aku tak bisa tidur. Sepasang mataku seperti tak punya lelah, terus terbakar. Panas oleh api amarah dalam tubuhku. Andai tak ada hukum, malam itu juga aku lenyapkan laki-laki itu.Dengan pisau, atau benda tajam apa saja. Tetapi Ibu, ah, dia memang luas sabarnya. Dia seperti air tenang yang dipukul. Hanya ada gelombang sunyi, kemudian tenang lagi. Atau jangan-jangan dia sudah lama pasrah? Tak tahulah.

 

Dalam posisi terduduk di lantai kamar, kedua kaki berselonjor, tatapan mataku menancap dalam-dalam pada dinding. Entah kenapa, sebentar kemudian, seolah ada kekuatan luar biasa yang tidak aku tahu dari mana sumbernya, aku terserap dan menembus dinding, keluar dari kamar dan pindah ke tempat lain, lengang, hanya ada langit dan bumi, tak ada pohon, dan terang-benderang oleh cahaya matahari. Di tempat itulah aku melihat Ibu.

 

Ya, aku melihat Ibu. Dia keluar dari lubang cangkang besar. Menggeliat, merentangkan kedua lengan, seolah baru bangun dari tidur panjang. Selepas itu, aku melihat dua sayap tumbuh,lalu pelan-pelan mengembang di punggungnya. Dia menatapku, tersenyum sebentar, dan kemudian terbang pelan-pelan. Dua sayapnya berkepak-kepak kuat-kuat, mengangkat tubuh tambunnya ke udara.

 

“Lihat aku, Gus! Aku bisa terbang!” teriak Ibu dari udara.

 

Lalu dia turun pelan-pelan, hinggap tepat di depanku. Aku terkesima. Tanpa bicara apa-apa, dia raih tanganku, lantas membawaku terbang, menembus awan, dan terbang lurus menuju entah. Setelah jauh terbang, Ibu membawaku menukik. Awan tersibak oleh kepakan dua sayap Ibu. Kami turun di sebuah taman yang megah.

 

“Mari, kita hampiri ayahmu,” kata Ibu kemudian, dan aku hanya bisa menuruti saja, karena memang tidak bisa berbuat apa-apa.

 

Setelah jauh berjalan, aku pun melihat Ayah sedang duduk di bangku panjang, di bawah pohon besar berdaun rimbun dan berbuah lebat. Saat sudah dekat, aku baru bisa memastikan pohon itu berbuah apel.

 

Dua sayap Ibu lenyap. Dia menyuruhku duduk di samping kanan tubuh Ayah. Dia duduk di samping kanan tubuhku. Untuk beberapa jenak, kami hanya duduk. Sama-sama memandangi hamparan bunga warna-warni,tak jauh dari tempat kami duduk. Tiba-tiba Ayah merangkulpundakku.

 

“Bagaimana kabarmu, Gus?” tanya Ayah. Suaranya sangat lembut.

 

Aku rasa pertanyaan itu tidak tepat ditanyakan waktu itu. Sebab dua hari sebelumnya kami duduk berdua nonton televisi yang menyiarkan berita pesta demokrasi yang amburadul, dan menelan korban. Entahlah, aku tak tahu, apakah dia hanya pura-pura, atau benar-benar lupa. Aku heran, kenapa tiba-tiba suaranya begitu lembut, tidak kasar dan kerap membuat telinga mendengung dan jantung berdebar-debar? Tapi aku tidak bertanya tentang itu.

 

“Baik, Ayah,” jawabku. “Tempat apa ini?” tanyaku kemudian.

 

Aku lihat Ayah tersenyum. Senyum yang menurutku langka tumbuh di bibirnya.

 

“Ini tempatku dan ibumu kelak.Karena kami saling mencintai sungguh-sungguh,” jawab Ayah.

“Bagaimana kalian bisa bersama kelak?” tanyaku kepada Ayah. “Sedangkan aku tahu, kauselalu berbuat kasar kepada Ibu. Kau tidak pernah mencintai Ibu. Kau hanya mencitaimu dirimu sendiri,” lanjutku.

 

Aku tidak tahu, kenapa mulutku tiba-tiba tak terkontrol,sehingga melepaskan kalimat macam itu. Padahal, aku, selalu takut pada Ayah.

 

Ya, aku memang selalu takut pada Ayah, karena dia selalu kasar. Kalau tak salah, tak ada satu pun kenangan baik tentang sikap Ayah tersimpan di kepalaku. Jika tak pandai menahan diri, aku dan dia pasti akan sering berkelahi. Bahkan, kalau perlu, sampai mati. Kalau Ayah marah padaku, dia selalu mengacungkan pisau ke mukaku. Seolah ingin menampakkan kalau dirinya masih mampu berkelahi, tak mudah dikalahkan, meski sudah tua.

 

“Kau pindahlah tempat duduk,” perintah Ibu kepadaku. “Aku ingin berdekatan dengan ayahmu,”imbuhnya.

 

Aku bangkit dan pindah tempat duduk. Kini Ayah merangkul pundak Ibu dan berkata-kata lembut kepadanya. Sangat ganjil dan, bahkan, terlihat memuakkan. Ayah jarang merangkul pundak Ibu. Kalau pun merangkul, pasti berbuntut tak enak. Pasti Ayah ada maunya, yang kemudian, mau tidak mau, Ibu harus mengorbankan uang.

 

“Bagaimana, kau senang tinggal di sini bersamaku?” tanya Ayah kepada Ibu.

Anehnya Ibu malah menjawab,“Iya, aku senang sekali.”

 

Tak habis pikir, benar-benar tak habis pikir. Aku tercengang melihat Ibu menjadi lunak, dan percaya pada laki-laki kasar yang suka menipunya dengan berpura-pura baik.

 

“Kau tak usah lagi membenci ayahmu lagi, Nak,” kata Ibu kepadaku.

“Kenapa, Bu? Bukankah dia selalu jahat kepadamu? Kenapa aku tidak boleh membencinya?” aku balik menyerangnya dengan tiga pertanyaan.

“Kau tidak tahu apa-apa tentang dia. Yang kau lihat hanya yang tampak saja, Nak. Kau tidak tahu apa-apa,” jawab Ibu.

“Maksud Ibu?” tanyaku lagi.

“Kau hanya melihat ayahmu memukul tubuhku. Sedang kau tak melihat apa yang terkandung dibalik pukulannya itu,” jawab Ibu, semakin membuat aku tidak mengerti.

“Maksud Ibu?” tanyaku lagi.

“Dia memang suka kasar. Bahkan dia juga pernah menyakiti tubuhku. Tapi, aku tahu, itu bukan karena benci. Tetapi karena dia sangat mencintaiku. Dia hanya ingin menjaga hati ibu, biar tetap bersih, tidak terkotori dengan cinta yang lain.”

“Apakah itu berarti hati Ibu pernah mencintai laki-laki lain?”

Ibu diam. Ayah melirikkepadaku dan berkata:

“Ibumu memang pernah beberapa kali terpancing mencintai laki-laki lain dan ingin pergi dari hidupku, Gus. Mungkin itu karena dia bosan hidup denganku yang selalu kasar kepadanya. Sebenarnya dia tidak salah. Aku yang salah. Tapi, aku harus melakukan tugasku sebagai suami, agar dia tetap menjadi istriku.”

 

Aku tidak suka ucapan Ayah. Membenarkan dirinya sendiri atas perbuatannya kepada Ibu. Bagiku, hanya laki-laki pengecut yang berani memperlakukan istrinya (perempuan) dengan cara-cara main tangan.Kalau semua laki-laki (suami) berpikiran sama seperti Ayah, maka betapa menderitanya semua perempuan di muka bumi ini. Apapun alasannya, segala macam kekerasan kepada perempuan tidak dibenarkan.

 

Aku tidak mengerti, kenapa Ibu tiba-tiba berubah pikiran. Aku masih belum lupa, dulu dia pernah menginginkan Ayah mati duluan. Biar segera bertemu malaikat. Biar segera dapat ganjaran. Biartahu bagaimana rasanya jika tubuhnya disakiti.

 

“Kadang manusia terlambat merasakan kehadiran cinta yang sesungguhnya. Seperti aku ini. Kalau dulu aku pernah berkata aku ingin ayahmu mati duluan, itu hanya di mulut saja. Tidak sungguh-sungguh. Ketika aku merasakan cinta itu menguasai tubuhku, aku tidak ingin kehilangan dia. Biar pun tubuh ini dia siksa sesuka hatinya,” kata Ibu, seolah bisa membaca isi pikiranku. Dan, apa yang dia katakan benar. Ketika cinta sudah menguasai manusia, apa pun bisa dikorbankan. Termasuk nyawanya sendiri.

“Aku rasa sudah cukup. Mari, aku bawa kau kembali ke tempatmu,” kata Ibu kemudian kepadaku.

 

Dia beranjak. Aku juga beranjak. Dia menuntun tanganku. Kami melangkah menjauhi Ayah. Dua sayap membentang lagi di punggung Ibu. Dan kami pun terbang kembali.

 

Tetapi, belum lama terbang, tiba-tiba ada sesuatu menimpa tubuh Ibu, menimpa sayap ibu. Entah apa itu. Ibu oleng. Aku juga ikut oleng. Kami sama-sama menukik menuju bumi.

 

 

Gedebuk!

 

Kami jatuh. Entah di mana. Aku pingsan. Aku tidak tahu bagaimana nasib Ibu. Tak lama dari itu, ada suara agak lantang memanggil namaku. Suara itu membangunkan aku dari pingsanku. Dan dinding kamar memuntahkan aku seperti bayi yang keluar dari kemaluan perempuan.

 

“Gus, cepat turun. Sesuatu telah terjadi pada ibumu.”

 

Aku sudah bisa mendengar suaraitu dengan jelas. Itu suara Ayah. Aku segera bangkit dan berlari menuruni anak tangga. Sesampai di lantai bawah, aku berlari lagi, menuju kamar Ibu yang ada di sebelah dinding rumahku. Mataku seketika memerah saat melihat Ibu terkapar di kasur. Membujur miring menghadap lemari baju, memeluk guling. Mataku dan mata Ibu beradu. Aku melihat pancaran sepasang mata yang menyimpan rahasia penderitaan.

 

“Ibu kenapa?” tanyaku kepada Ibu.

“Separuh tubuhku tak bisa bergerak,” jawab Ibu, lemah.



“Yang mana?” tanyaku lagi.

“Bagian kiri. Dari tangan sampai kaki,”jawab Ibu, lemah.

 

Aku mendekat. Lalu mengangkat tangan Ibu yang sebelah kiri. Tangan itu lembek. Saat aku lepaskan genggaman, tangan itu jatuh serupa benda kenyal yang tidak memiliki struktur penyangga di dalamnya. Ya, sayap Ibu lumpuh satu. Sampai sekarang aku masih sedih, dan marah kepada Ayah.

 

Apa yang aku alami itu adalah semacam petunjuk dari Tuhan atau bukan, aku tidak tahu. Yang jelas, aku benar-benar mengalaminya. Apakah Ibu mengalami seperti itu disebabkan karena beban pikiran setelah pertengkarannya dengan Ayah, atau karena sihir yang dilepaskan tetangga yang pernah dicurigai Ibu, aku juga tidak tahu. Yang jelas, baik Ayah atau orang yang dicurigai Ibu, aku membenci keduanya. Dan aku masih akan datang kepada seorang Kiai, yang sudah mukasyafah, untuk menemukan jawabannya. Bukan kemudian untuk balas dendam, tapi untuk mencari jalan keluarnya, biar Ibu lekas sembuh.

 

Asoka, 2019

Agus Salim
Ditulis oleh Agus Salim

Lahir di Sumenep tanggal 18 Juli 1980. Tinggal di jalan Asoka Pajagalan Sumenep Madura-Jawa Timur. Bergiat di Komunitas Rumah Literasi Sumenep