Akankah Radio Terus Mengudara? Siaran radio (Illstrasi) - Terkait Tampilan penuh

Akankah Radio Terus Mengudara?

Pada Senin (11/12/2017) jagad dunia maya dihebohkan dengan tagar #RadioGueMati. Hestek tersebut muncul lantaran masyarakat dikagetkan dengan saluran radio yang mendadak tidak bisa diakses. Hanya keheningan yang terdengar, tidak ada suara penyiar yang biasa cuap-cuap atau alunan lagu yang umum diputar. Rupanya, radio yang tiba-tiba tidak bisa dinikmati merupakan kesengajaan. Ini adalah bagian kampanye untuk menguatkan kembali eksistensi radio di tengah-tengah masyarakat.

Lantas tentu timbul rasa penasaran di benak masyarakat mengenai akankah radio terus mengudara? Sebenarnya, pertanyaan tersebut bisa langsung terjawab lewat respon yang ditunjukkan warganet. Warganet seolah menuntut dikembalikannya salah satu kebahagiaan mereka, yakni mendengarkan siaran radio.

Radio yang senantiasa menemani aktivitas harian warganet membuktikan keberadaannya yang tidak tergilas perkembangan. Radio masih tetap dibutuhkan sebagai teman setia masyarakat. Radio tetap memiliki ruang di hati para penikmatnya.
Zaman yang telah pesat berubah turut mempengaruhi cara menikmati radio. Kini, orang tak perlu repot menenteng fisik radio yang besar dan mencolokkannya ke sumber listrik. Cukup dengan menggenggam ponsel pintar yang telah dilengkapi aplikasi radio, maka senandung siaran telah bisa disesap isinya. Pada November 2016, Nielsen Indonesia meluncurkan hasil riset tentang radio. Empat dari sepuluh orang pendengar radio memanfaatkan perangkat pribadinya yakni telepon seluler untuk mendengarkan radio.

Fakta ini tidak terlepas dari masifnya dampak internet merasuk dalam kehidupan manusia di era global. Internet belum secara signifikan menggeser penggemar radio. Media radio cenderung bermain pada pendengar lokal. Bahkan, terdapat kenyataan baru yang terungkap. Di Yogyakarta, Bandung, Banjarmasin, Makassar, dan Palembang penggunaan radio mengalahkan pengakses internet. Sekarang, radio juga tak melulu menyiarkan berita dengan gaya membosankan. Ada berbagai segmen acara yang memantik pendengar untuk tetap asyik dengan saluran radio yang dipilih.

Radio juga memperkaya kemampuan masyarakat dalam hal mendengarkan. Lahirnya konflik berpangkal pada hambatan saat mendengarkan. Konsentrasi yang menurun dan menghilang kerap dituding mempelopori masalah saat mendengarkan seseorang berbicara. Kita harus sadar bahwa mendengarkan merupakan salah satu cara pokok untuk menggapai pengetahuan, kebijakan, dan beragam hal di dunia ini. Apa yang kita dengarkan harus kita perhatikan dan amati sebaik-baiknya agar pesan yang dipetik sejalan dengan maksud pembicara. Pembicara senang dan konflik teredam.

Keunggulan Radio

Kekuatan radio terletak pada keefektifannya dalam menyampaikan pesan ke masyarakat. Radio mampu menghapus batas antar masyarakat. Siarannya bisa menyasar ke semua elemen masyarakat, sebab luasnya jangkauan. Masyarakat merasa dekat dengan radio sebab radio mempunyai beragam fungsi yang berdampak positif kepada kehidupan. Alat penghibur, penyebar informasi, dan sarana penyampai edukasi menjadi sederet manfaat radio. Era multimedia tidak lantas meminggirkan posisi radio. Pelan-pelan radio merebut kembali kejayaannya yang sempat redup beberapa tahun lalu. Radio pernah menduduki puncak kepopuleran pada awal kemerdekaan, era demokrasi terpimpin, hingga permulaan tahun 1990-an.

MARS Indonesia mengeluarkan angka tentang pendengar setia radio. Persentasenya sebesar 37 persen, itu dialami pada tahun 1990-an. Waktu itu, posisi radio sempat tidak aman lantaran merebaknya tayangan dari stasiun televisi swasta. Tampilan visual dari televisi dianggap lebih menarik. Radio tidak berhasil menyajikan itu ke masyarakat.

Penggiat dunia radio pun memutar akal untuk mengundang kembali para pendengarnya. Radio masih disukai masyarakat di tengah kesibukannya. Para karyawan yang menggunakan mobil menuju kantor umumnya mengisi waktu dengan mendengarkan radio. Radio juga tetap memikat masyarakat di wilayah pelosok. Radio Republik Indonesia (RRI) menjadi rujukan utama bagi warga di daerah terpencil atau perbatasan. RRI memaparkan fakta bahwa 85 persen warga di Ende, Nusa Tenggara Timur rutin mendengarkan radio. Sedangkan di Bangka Belitung, 90 persen warganya juga mendengarkan RRI.

Radio tetap eksis di tengah gempuran dunia daring dan digital lantaran keunikan dan kelebihannya. Radio mengusung prinsip unique usage characteristic. Maksud dari pernyataan tersebut yakni radio memiliki ciri eyes-free dan hand free. Kefokusan pendengar radio terhadap fisik radio tidak terlalu diperlukan. Pasalnya indera penglihatan tidak dilibatkan dalam proses mendengarkan radio. Mendengarkan radio bisa diselingi dengan kegitan lagi. Mendengarkan radio bisa disambi, sembari berkegiatan lain. Sehingga pendengar radio layak disematkan sebagai pekerja multitasking. Radio tetap enak didengar meski dibarengi dengan memasak, menyetir mobil, atau menyelesaikan tugas. Imajinasi para pendengar turut dibentuk melalui siaran radio yang bersifat audio. Relasi dan emosi penyiar dan pendengar turut terhubung. Radio membangun kesan bahwa pendengar memang tengah bertatap muka dengan penyiar.

Radio tetap memiliki nilai jual tinggi dalam dunia bisnis. Radio mengubah julukan, bukan lagi sebagai institusi broadcasting. Sebagai bentuk penyesuaian, radio menyasar segmen yang lebih sempit. Radio kini mematok pada niche atau peluang khusus dari pihak tertentu. Radio membidik sasaran narrowcasting. Pasarnya tidak seluas dulu, namun selalu menawarkan keuntungan yang menggiurkan.



Radio akan tetap mengudara selama para pelaku yang berkecimpung di dalamnya melakukan pembenahan sebagai adaptasi. Hal baik dari dunia digital bisa diadopsi. Misalnya kegiatan buzzing. Langkah ini dilakukan dalam rangka mempromosikan acara beserta tema yang akan dibahas dalam siaran radio ke sosial media. Untuk menarik pendengar digunakan juga earcatcher dan voxpop. Earcatcher adalah ilustrasi atau pemaparan singkat dari tema atau topik yang bertujuan untuk menciptakan daya tarik pendengar akan tema yang akan dibahas. Sedangkan voxpop merupakan media polling yang dilakukan untuk mengetahui reaksi masyarakat atau kecenderungan sikap mereka terhadap suatu masalah aktual.

Tag:
Ditulis oleh Shela Kusumaningtyas

    Saya mendefinisikan diri saya sebagai seorang yang gemar membaca, menulis, berenang, dan jalan-jalan. Menulis menjadi sarana saya untuk mengabadikan berbagai hal. Menulis juga melatih saya untuk mengerti arti konsistensi dan pantang menyerah. Tulisan saya seperti puisi, opini, dan feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Detik, Kompas, Suara Merdeka, Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.

    1 Comments

    • Hendra Gotara on

      Radio akan tetap mengudara selama para pelaku yang berkecimpung di dalamnya melakukan pembenahan sebagai adaptasi……

      Jadi ingat motto RRI “Sekali di Udara, Tetap di Udara” 🙂

    Komentar ditutup.