JIKA WAKTU
Puisi-puisi Tjahjono Widarmanto dan Nuriman S Bayan
MUSIK-MUSIK HITAM
Oleh: Tjahjono Widarmanto
katakan rahasia apa di dalam peti matimu
: helai rambut yang mempurba atau larik puisi yang tak selesai?
nafas telah jadi tuba seperti perahu yang karam
di sebuah laut di satu musim yang celaka
requim itu melengking-lengking
musik-musik hitam yang bising
berdebam-debam di ruang hampa tanpa celah
riwayatmu membusuk
jari-jari memanjang jadi batang asing
mata menghisap pasir
mulut mengulum belatung
musik-musik hitam terus berdebam
telinga pekak disumpal ribuan semut
kaki gemetar menginjak batu bara menyala
kaulah pesakitan itu!
kemana akan berlari dari lengking musik-musik hitam itu
istri, anak-anak dan saudara, pacar dan selingkuhanmu
berdiri berjajar bersama orang-orang bermantel abu-abu
tangannya menggenggam tanah liat.mendesis: ini bekalmu.
musik-musik hitam melengking-lengking bising
semuanya beranjak pergi bergegas menuju pesta,
Ngawi, Margomulyo
DI DEPAN SEBUAH KUBURAN
Oleh: Tjahjono Widarmanto
orang-orang selalu salah terka kalau dalam lahat bisa menafsir sepi
mereka tak pernah tahu dalam seribu bisu kau bisa menghikmati hiruk pikuk
padahal suara-suara itu begitu lantang justru saat membentur dinding lahat
melebihi para mahasiswa berebut jadi pahlawan demonstrasi di jalan-jalan
bagaimana orang-orang menerka dalam liang itu bisa menemu sepi
padahal suara-suara akan bergemuruh menuding-nuding mulut dan kelaminmu
orang-orang selalu salah terka kalau tubuh sudah dibujur ke utara
ia akan bisa menerka mana barat mana timur, itu selatan atau tenggara
padahal segala arah telah kehilangan batas dan liang itu telah jadi tempurung
gelap dan kau katak yang berbaring di dalamnya, menggeram dengan pilu
orang-orang selalu salah terka kalau dalam lahat udara panas berkeringat
padahal angin bersiutan seperti badai menerka arah mana kafanmu berkibar
dan kau kehilangan kafan yang telah di sobek jadi serpihan oleh belatung
ah, selalu saja orang-orang merasa pintar saat melayat mayatnya sendiri!
_geneng, saat takziah-
PERJALANAN SUCI
Oleh: Tjahjono Widarmanto
guru, di api mana aku bisa mencuci diri?
jalan ini tak pernah susut sedang tubuhku kian kusut terlunta
menerka peta sambil memegang kitab sajak-sajak rahasia
segala otak kubedah segenap warung dan rumah jalang kutandang
selalu saja cuma jadi penyair yang keliru menafsir semiotika
sampai ujung lidah kelu mengeja aksara dan menerka bilangan
guru, sungguh ajaranmu mengutukku!
segala simpang telah menuju ke tempat yang sama
surga yang sama neraka yang sama seperti teka-teki
mana yang suci mana yang hina
seperti cemas melindap di sela ajal dan cinta
jalan ini menuju bahaya ataukah harapan?
atau menuju perkampungan orang-orang bisu
pemukiman mulut-mulut menganga meramal makna
guru, di mana masa silam,di arah mana masa depan?
sepanjang jalan telah kutulis puisi-puisi
namun selalu saja khilaf mencuri dan sembuyikan makna
menjadi mimpi kosong tanpa tanda baca
sepanjang jalan kewarasan telah coba kupingit
dari segala aroma sangit ceruk birahi
namun tak semua bisa kutampik
juga khuldi yang kau sembunyikan
guru, kitab pengetahuanmu tanpa kamus!
:aku tahu, kau diam-diam menyepakku, maka kutendang pula pintu bilikmu!
Ngawi, 2017
Tjahjono Widarmanto, Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Meraih gelar sarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, sedangkan studi Pascasarjananya di bidang Linguistik dan Kesusastraan diselesaikan pada tahun 2006, saat ini melanjutkan studi di program doktoral Unesa. Buku puisi terbarunya PERCAKAPAN TAN dan RIWAYAT KULDI PARA PEMUJA SAJAK (2016) menerima anugerah buku hari puisi Indonesia tahun 2016. Bukunya yang terbit terdahulu : PENGANTAR JURNALISTI;Panduan Penulis dan Jurnalis (2016), MARXISME DAN SUMBANGANNYA TERHADAP TEORI SASTRA: Menuju Pengantar Sosiologi Sastra (2014) dan SEJARAH YANG MERAMBAT DI TEMBOK-TEMBOK SEKOLAH (2014). Selain menulis juga bekerja sebagai Pembantu Ketua I dan Dosen di STKIP PGRI Ngawi, serta menjadi guru di beberapa SMA. Sekarang beralamat di Ngawi. E-Mail: [email protected]
PEREMPUAN YANG HILANG SESUDAH OMBAK
Oleh: Nuriman N. Bayan
Aku telah jauh meninggalkan dodola, meninggalkan bisoa
beranjak menemui pantai. Dari nukila aku melihat bulan
di barat berayun-ayun tanpa payung dan laut begitu tenang.
Aku melayari udara seperti melayari dada ibu yang damai
di ciputat aku belajar banyak sabar banyak tabah dari suatu
kemacetan yang maha seksi. Semalam istiqlal menjadi saksi
rusuk-rusuk penantian patah menunggu kedatangan yang macet.
Aku menatap lampu seperti ombak menatap halmahera
selepas memukul teluk barat. Gelisah dan doa-doa beradu
seperti nasib orang-orang yang kutemui di sepanjang jakarta
sungguh aku kembali pecah dari sebuah peluk yang tak juah teluk.
Ciputat, 6 Juni 2018.
FESTIVAL GALO-GALO
Oleh: Nuriman N. Bayan
Alangkah bahagia jika aku menjadi laut hari ini
perahu-perahu lepas dan dengan iba aku berkata pada angin
berhentilah sejenak, kekasihku. Kita masih punya banyak waktu
untuk bercinta. Kau bisa datang kapan saja setelah perayaan ini berakhir
setelah perahu-perahu kembali menemui kekasihnya, di galo-galo.
Alangkah bahagia jika aku menjadi angin hari ini
perahu-perahu lepas dan aku turun berlahan-lahan
berbisik pada laut, tenanglah sayang, tak perlu cemas
hari ini tak ada hasrat meminta menciptakan ombak
telah kupastikan untuk duduk dan menunggu di dodola
hingga kau benar-benar lega menjembatani perahu-perahu itu.
Bila malam nanti kau telah bersedia,
aku cuma ingin menciummu pelan-pelan.
Morotai, 05 Agustus 2018.
Dodola dan Galo-galo: nama pulau atau pemukiman warga yang terletak di depan pulau (besar) Morotai.
JIKA WAKTU
Oleh: Nuriman N. Bayan
Jika waktu
menjelma gergaji
memisahkan
kita berdua
jangan berkata,
aku pergi darimu,
atau kau pergi dariku
tidak ada kepergian
dari setiap perpisahan
kita hanya pulang
ke dalam diri masing-masing.
01 Januari 2018.
Nuriman N. Bayan atau lebih dikenal dengan Abi N. Bayan, lahir di desa Supu Kec. Loloda Utara, Kab. Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Anak dari Hi. Naser Dano Bayan dan Rasiba Nabiu. Karya-karyanya dipublikasikan di media daring dan terbit di beberapa surat kabar serta tergabung dalam antologi bersama di antaranya: Kita Halmahera (2017), Mengunyah Geram, (2017), Negeri Bahari (2017), Senyuman Lembah Ijen (2017), Kunanti di Kampar Kiri, Antologi Multatuli: Kepada Toean Dekker (2018). Kini tinggal di Morotai (sebagai guru MA Nurul Huda Gotalamo). Email: [email protected] Facebook : Abi N. Bayan